Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
ingin memiliki nya


__ADS_3

flash back


"Tuan selamat atas pernikahan nya." ucap kolega yang baru saja datang dan tahu kabar itu dari rekannya yang sudah menyapa Bara.


"Terima kasih." ucap Bara.


"Dimana istri anda? Apa anda tidak mengajak nya? Saya kira anda datang kemari dengan istri anda." ucapnya melihat Bara tidak bersama dengan seorang wanita.


Bara pun menoleh ke samping kiri dan kanan mencari keberadaan Tari istrinya itu, namun tidak ada.


"Ah sebentar, mungkin istri saya sedang pergi ke toilet." kilah Bara beralasan.


"Oh seperti itu, ya sudah sambil menunggu bagaimana jika kita minum saja." tawar nya dengan menuangkan segelas minuman beralkohol. Karena mereka adalah orang asing hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan mereka.


"Ah terima kasih. Saya membawa mobil sendiri." ujar Bara menolak dengan halus.


"Ayok lah sedikit saja, ini tidak akan memabukkan." ajaknya lagi seraya terus menyodorkan gelas yang sudah berisi minuman itu.


Dengan terpaksa Bara pun menerima gelas itu. "Cheers..." ucapnya kolega asal luar negeri itu mengajak Bara untuk bersulang.


Bara pun mengikuti arah Mr. Syam itu dan semua orang yang berada dengan nya pun bersulang dengan minuman yang sudah berada di tangan mereka masing-masing.


"Cheers...!" mereka berteriak dengan mengacungkan gelas mereka ke atas lalu meminumnya dengan tertawa.


Bara merasa tidak nyaman di tenggorokan nya saat meminum minuman alkohol itu, namun ia menahannya, namun saat ia sedang bersulang dengan rekan nya itu ia melihat Tari istrinya tengah berduaan dengan seorang laki-laki yang sangat ia waspadai dan di sana terlihat Tari tersenyum manis dan lembut saat berhadapan dengan laki-laki itu membuat Bara akhirnya memilih untuk menghampiri Tari untuk bergabung bersamanya.


Ya memang tadi dia yang salah karena melupakan Tari yang menemaninya saat ia di ajak untuk bertemu orang-orang penting di sana.


Lalu dengan cepat Bara pun memeluk pinggang Tari saat Tari bersama laki-laki itu sedang asyik mengobrol.


*


*


*


"Kamu berani ya berbicara dengan laki-laki itu di saat tidak bersama saya!" bisik Bara dengan geram. "Saya sudah katakan kepada kamu jadilah istri saya yang baik dan jaga nama baik saya. Tapi sepertinya kamu tidak mendengar apa yang saya katakan!" kesal nya lagi.


"Maaf, kami tidak sengaja berbicara di sana." jawab Tari.


"Sengaja atau tidak seharusnya kamu mengacuhkan dia, bukan berarti malah semakin dekat seperti itu. Saya melihat sepertinya obrolan kalian begitu asyik sehingga tidak menyadari jika saya memperhatikan kalian. Masih mending saya yang memperhatikan kalian, bagaimana jika para wartawan yang memperhatikan gerak-gerik mu, dan membuat saya malu." ucap Bara terlihat sangat marah.


"Bisa tidak kita tidak bertengkar di tempat umum seperti ini, malah ini akan memperburuk nama baik mu!" ucap Tari sepelan mungkin saat menyahuti ucapan Bara. Dengan tatapan mata mengarah pada mata Bara yang memerah.


"Apa kamu mabuk?" tanya Tari menyadari merah nya mata Bara.


Bara membuang mukanya dengan segera saat di todong sebuah pertanyaan seperti itu.


"Jawab!" tanya Tari dengan tegas.


"Hanya sedikit." jawab Bara dengan ekspresi datarnya.


Tari mendengus kesal. Ia tahu jika Bara tidak akan kuat meminum minuman seperti itu, karena lambung yang sudah bermasalah.


"Jangan mengalihkan pembicaraan." kesal Bara bisa-bisanya dia di omeli oleh Tari.

__ADS_1


"Hah terserah lah." balas Tari dengan sengit.


"Ayok kita bergabung di sana, jangan jauh-jauh dari saya!" ucap Bara dengan menarik tangan Tari untuk mengikutinya.


Sedangkan Leo ia masih tidak percaya dengan apa yang ia ketahui. Tak percaya jika perempuan yang ia cintai adalah istri dari Bara Antoni, pengusaha kaya yang selalu berjaya dan memiliki kekuasaan yang sangat kuat di dunia bisnis.


Menatap kepergian Tari dengan tatapan nanar nya Leo pun menarik nafasnya panjang dan dalam. "Aku sungguh terkejut ternyata suami mu adalah dia. Aku mungkin kalah dalam bisnis usaha dengan nya, tapi jika dia memperlakukan mu dengan buruk, aku lah orang pertama yang akan berhadapan dengan dia secara langsung." gumam Leo penuh dengan tekad yang kuat.


"Pak Leo apa anda baik-baik saja?" tanya sang sekretaris melihat bos nya diam saja menatap ke depan dengan tatapan yang sulit di ketahui.


"Ya, tidak apa-apa." sahut nya tanpa mengalihkan perhatian.


"Mari pak kita bergabung di sana bersama orang-orang penting yang hadir dalam acara ini." ajaknya dan Leo pun mengikuti nya.


Satu meja bersama Bara, Leo pun melihat ke arah Tari yang berada di samping Bara. Bara yang melihat Leo terus memperhatikan Tari pun merasa kesal dan juga marah, karena Leo begitu berani melihat dan memperhatikan istrinya secara terang-terangan seperti itu.


Tatapan Bara sangat tajam menatap ke arah dimana Leo duduk. "Berani sekali dia." batin Bara seraya menyesap minuman beralkohol itu sedikit demi sedikit.


Tari mengambil gelas yang ada di tangan Bara itu dengan tatapan lembut nya. Mencegah Bara agar tidak terus meminumnya, karena berbagai alasan.


"Maaf, suamiku tidak boleh begitu banyak minum, karena malam ini dia harus menyetir." ucap Tari dengan lembut menatap ke semua orang yang hadir di sana. Bara diam saja, karena memang ada benarnya ucapan Tari itu, ia hampir saja lupa karena tidak enak untuk menolak nya apalagi merasa kesal nya kepada Leo membuat Bara tidak menyadari banyak nya minuman yang ia tenggak.


Leo menyeringai dengan senyuman lembut nya. "Jika tuan Bara tidak mampu menyetir mobilnya sendiri, saya dengan senang hati mengantarkan anda nona Mentari." balas Leo menatap ke arah Tari.


Bara menggertakkan gigi nya, Leo sudah membuat dirinya marah dan sekarang dia berani berbicara seperti itu kepada istrinya. "Saya masih mampu untuk menyetir, jadi Terima kasih atas penawaran anda itu tuan Leo." balas Bara dengan seringai dingin di wajahnya.


"Ah ya, saya ke sini bersama sopir dan juga sekretaris saya, jadi tidak masalah jika kita minum sampai mabuk, sopir saya akan mengantar anda tuan Bara. Bagaimana?" kembali Leo pun membuat Bara semakin kesal karena terus saja ingin mengantarkan Tari untuk pulang dengan beralasan seperti itu.


"Emh tuan tuan, ini sudah malam dan sepertinya istri saya sudah mengantuk, jadi kami akan berpamitan pulang saja. Kalian tahu kan jika kami masih pengantin baru." ucap Bara dengan santai, ia sebenarnya malas berurusan dengan Leo ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya karena emosi nantinya.


Tari tersenyum malu dengan wajahnya yang memerah karena ucapan Bara itu, terdengar seperti ia adalah seorang anak kecil dan 'pengantin baru'.


Tari merasa malu karena ia tahu ucapan itu mengarah kemana. "Bukan seperti itu maksud suami saya." Tari pun mencoba mencari alasan lain.


"Istri saya selalu tidur tepat waktu, karena ia menjaga kecantikannya, supaya kulit nya di pagi hari selalu fresh saat bangun di pagi hari." Bara pun beralasan secara logis melihat Tari yang malu di goda oleh para tamu.


"Ok selamat tidur pengantin baru hahaha." para tamu pun menggoda Bara.


"Ayok sayang kita pulang dan beristirahat di tempat tidur." ucap Bara lembut, dengan tatapan menajam ke arah Leo yang sedang memperhatikan mereka dengan sorot mata permusuhan segera di mulai.


***


Di dalam mobil Bara yang memijat pelipisnya yang terasa berat membuat Tari yang melihatnya pun sedikit ragu apa dia bisa menyetir atau tidak.


"Apa kamu yakin bisa menyetir dengan keadaan kamu seperti itu?" tanya Tari langsung.


"Bisa, bahkan berbalapan di sirkuit saja saya bisa." tantang Bara dengan percaya diri.


Tari membuang muka malas. "Saya tidak mau mati gara-gara orang yang sedang mabuk." ujar nya sinis.


"Kamu meragukan saya? Saya tidak mabuk, tadi hanya sedikit minum." jawabnya.


"Terserah lah apa katamu." lelah Tari untuk menjawabnya.


"Pasang sabuk pengaman mu dengan baik." titah nya seraya menyalakan mobil itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai dengan selamat, dan itu membuat Tari merasa lega, pembawaan mobil tadi oleh Bara membuat Tari merasa takut selain Bara terlihat mabuk dia juga membawa mobil dengan kecepatan yang lumayan tinggi bagi Tari.


"Kamu benar-benar mabuk dan sudah gila Antoni!" geram Tari seraya keluar mobil dengan cepat dan menutup pintu mobil itu dengan keras.


Bara hanya diam saja, karena ia merasakan perutnya yang tidak nyaman, ia pun dengan cepat melangkahkan kakinya dengan segera untuk memuntahkan isi perutnya yang sudah tidak nyaman itu.


Tari hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan laki-laki itu. Ia pun mengikuti Bara yang sudah sampai terlebih dulu masuk ke dalam kamar.


"Sok Sok an minum minuman seperti itu." sindir Tari seraya melepaskan aksesoris yang menempel.


Bara keluar dari kamar mandi dengan matanya yang merah dan menatap Tari dengan tatapan yang sulit Tari untuk mengerti.


"Kenapa kamu memperhatikan saya seperti itu?" heran Tari saat Bara menatapnya dengan begitu intens, ntah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


Tari tidak mempedulikan tatapan Bara kepada nya walaupun sebenarnya Tari sedikit takut akan tatapan nya itu.


"Boleh minggir! Saya mau mandi." ucap Tari karena tubuh Bara menghalangi pintu kamar mandi namun Bara diam saja tidak bicara ataupun menggerakkan tubuhnya.


Tari menarik nafasnya dalam-dalam mencoba untuk bersabar dan tidak memperdulikan Bara, ia mencoba mendorong tubuh Bara agar ia bisa masuk ke dalam kamar mandi namun sedikit pun tubuh itu tidak bergeser.


"Saya sedang tidak mau bercanda tuan Antoni! Mmmminggir..." ucap Tari seraya terus mendorong tubuh berat itu.


Namun Bara malah menatap Tari dengan tatapan nya seraya terus membuat Tari mundur untuk menghindari nya. Mundur, mundur terus mundur membuat Tari pun tidak bisa mundur lagi karena tertahan oleh ranjang di belakangnya. Bara menyeringai dengan terus mendekati Tari dan semakin dekat dan dekat terus dekat membuat Tari pun semakin panik.


"Apa yang akan kamu lakukan Antoni!" kesal Tari.


Tanpa menghiraukan kekesalan Tari, Bara terus mendekat dan Tari tidak bisa diam saja atau pasrah ia pun mencoba melarikan diri dari samping tubuh Bara.


Grep... Bara menarik tangan Tari dengan sigap sampai Tari tertarik ke dalam pelukannya sehingga Bara memeluk erat tubuh Tari lalu Bara menghempaskan tubuh mereka ke atas ranjang nya sehingga mereka pun kini saling berpelukan di sana.


"Lepaskan Antoni! Kamu benar-benar mabuk." Tari pun mencoba melepaskan pelukan itu namun nihil.


"Semakin kamu tidak bisa diam seperti itu, semakin ada sesuatu yang bangun dalam tubuh ku." ucap Bara setengah sadar. "Apa kamu mau menidurkan nya." goda Bara dengan mata yang merah.


Tari langsung diam, kejadian ini mengingatkan Tari akan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dan itu membuat nya takut, apalagi dalam kondisi Bara saat ini, sama-sama terpengaruh dengan minuman memabukkan itu.


"Lepaskan, saya mohon." lirih Tari mengiba.


"Kenapa harus saya lepaskan, terasa nyaman seperti ini. Lagi pula kita suami istri yang sah, tidak akan ada yang melarang kita melakukan ini bahkan lebih dari ini." ucap Bara seraya menatap kedua mata Tari dengan begitu dekat.


"Kamu mabuk!" Tari sangat yakin Bara dalam pengaruh minuman itu ia tidak sadar melakukan hal ini kepada nya.


"Ya aku mabuk, benar-benar sangat mabuk." balas Bara dengan lembut. 'mabuk karena cintamu.' batin Bara. Ia memang minum tadi, tapi ia masih sadar saat ini bahkan ia merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.


"Lepaskan Antoni, kamu tidak sadar, lebih baik kamu tidur saja sekarang, agar mabuk mu bisa kamu kendalikan." ujar Tari mulai waspada.


"Saya akan tidur, tapi kita sepertinya harus menyelesaikan ini dulu terlebih dahulu." goda Bara dengan tatapan nakal nya.


Tari semakin mengerti saat ini Bara sedang dalam gairah yang kuat dan itu membuat Tari semakin takut.


"Jangan! Lepaskan saya. Saya tidak mau, kamu jangan gila Antoni. Ingat kita hanya menikah sementara jangan lakukan itu lagi. Saya mohon..." ucap Tari memohon namun tidak di hiraukan oleh Bara setengah sadar dan setengah mabuk itu.


Semakin Tari memohon dan berniat untuk melarikan diri, semakin Bara tidak bisa mengendalikan diri nya untuk melakukan itu kepada Tari.


Tari yang terus memberontak pun membuat Bara dengan cepat menindih tubuh Tari dan menahan tangan Tari dengan satu tangan ke atas kepala Tari, sehingga membuat Tari pun sulit untuk bergerak.

__ADS_1


"Jangan Bara!" teriak Tari menolak Bara yang akan mencium bibir nya. Namun Bara dengan sabar, ada cara lain yang akan membuat seorang perempuan diam dan tidak akan menolak.


Dengan cepat Bara menarik paksa gaun yang di pakai Tari dengan gigi nya di bagian dada Tari di bantu oleh tangan satunya lagi sehingga membuat gaun itu terbuka dan menampilkan sesuatu di dalam sana dan di sanalah titik sensitif seorang perempuan sebelum semuanya di mulai.


__ADS_2