Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
jahatnya seorang Tania


__ADS_3

"Mentari... Mentari, kamu mencoba untuk membodohi ku! Kamu salah, aku tidak akan bisa kamu bodohi. Lihat saja, aku ingin lihat bagaimana reaksi mu saat suatu hari nanti kamu mengandung anak ku lagi, kamu akan terkejut karena itu." gumam Bara dengan seringai jahat di senyum nya. "Aku akan terus meminta pada mu untuk melayani ku, dengan begitu kamu akan cepat hamil kembali." lanjutnya. "Minum saja pil itu sebanyak apapun yang kamu inginkan, kamu tidak akan bisa mencegah kehamilan mu nanti, karena aku sudah mengganti pil itu dengan pil suplemen makanan." ucapnya merasa puas.


"Untung saja aku memerintahkan seseorang untuk mengikuti mu, karena kecurigaan ku padamu membuat ku harus mengintai mu dari jarak jauh. Aku tidak akan melepaskan mu Mentari, apa pun yang akan kamu lakukan untuk menjauh dari ku, aku tidak akan melepaskan mu begitu saja." ucapnya dengan menarik nafasnya dalam-dalam.


"Kenapa begitu sulit untuk membuat mu jatuh cinta padaku, apa kekurangan ku, aku tampan, aku kaya dan aku bisa memuaskan mu. Tapi kenapa kamu selalu melakukan apa yang membuat ku kesal." rasa kecewa menyelimuti Bara saat ini.


Tak lama Mentari datang ke toko kue nya, ia terkejut melihat siluet tubuh Bara ada di sana sedang menatapnya ke arah nya dengan tatapan yang sulit Tari mengerti.


"A...a... Antoni?" gumam Tari gugup.


Ya, kini Bara sedang berada di toko kue Mentari, setelah ia mendapatkan kabar dari para anak buahnya, Bara langsung pergi ke toko kue yang Tari miliki.


"Dari mana kamu? Bukannya sejak tadi pagi kamu berangkat untuk ke sini, kenapa malah aku yang lebih dulu datang kemari?" tanyanya dengan sorot penuh isyarat. Bara menghentikan para anak buahnya untuk mengikuti Tari, karena takut Tari akan mencurigai nya.


"Emh a... aaaaku dari apotik." jawab Tari jujur, Bara sedikit mengernyit apa istrinya akan berkata jujur.


"Dari apotik? Untuk apa kamu kesana?" Bara pun semakin penasaran apa yang akan di jawab oleh Tari.


"Ya untuk membeli obat." gugup ketika Tari menjawab.


"Obat apa?" Bara semakin tidak sabar apa istrinya akan berkata dengan jujur.


"Aku kan sedikit flu, jadi aku membeli obat flu untuk mengurangi rasa pusing ku." jawab Tari dengan cepat.


Bara menatap Tari dengan mata nya yang tajam. 'ternyata dia berbohong padaku, ok aku akan kuak kebohongan mu itu, sampai kapan kamu bisa membohongi ku.' batin Bara dengan kesal.


"Aku ingin lihat, obat flu yang kamu beli itu." pinta nya penuh intimidasi.


"Hanya obat flu biasa, apa kamu tidak percaya dengan ku?" Tari merasa gugup di buatnya.


"Untuk memastikan jika kamu memang tidak membohongi ku." ucap Bara dengan tatapan dingin nya.


"Bohong apa? Aku tidak berbohong." kilah Tari masih mencoba untuk menyangkal nya.


"Jika kamu memang merasa tidak berbohong, perlihatkan obat itu padaku!" titah Bara dengan tegas.


Tari menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu ia pun mengambil obat flu yang ada di dalam tasnya. "Ini." serah Tari memberikan obat flu itu pada Bara. Untung saja tadi dia membeli obat flu ketika dia berada di apotik.


Bara menerima obat itu dari tangan istrinya. Ia pun mengeceknya apa benar obat itu obat flu. 'ternyata benar, ini obat flu, dia menyembunyikan kebohongannya dengan sangat baik.' batin Bara dengan membolak-balik obat itu.


"Ok, ini memang obat flu biasa." ucap Bara berpura-pura yakin jika Tari tidak membohongi nya. "Ingat jangan berbuat yang macam-macam dan yang aneh-aneh yang membuat ku marah, kamu tahu kan apa akibatnya jika aku marah." ujar Bara penuh penekanan.


"Ya, aku tahu, aku tidak akan bisa bertemu dengan anak-anak." lirih Tari dengan sendu.


Mendengar nada sedih Tari, Bara menghela nafasnya panjang. Masalah pil pencegah kehamilan itu Bara maafkan karena ia bisa mengetahui nya dan mengganti pil itu dengan vitamin tanpa Tari ketahui.


Bara menarik tubuh Tari untuk ia dekap dalam pelukan nya. "Jadilah istri ku yang baik, dan jangan membuat ku marah." ucap Bara dengan lembut seraya mengelus kepala Tari dengan rasa sayangnya, Tari mengangguk pelan lalu melepaskan pelukannya.


"Diam!" ucapnya lembut namun tegas.


"Aku malu, ini di tempat umum." Tari pun mencoba untuk meminta Bara melepaskan nya dengan baik-baik.


"Oh jadi kamu mau di dalam kamar saja kita seperti ini? Sekarang aku tahu dengan keinginan mu itu." goda Bara dengan suaranya berbisik.


Tari mendorong tubuh Bara sehingga ia terlepas dari pelukannya dengan wajah yang cemberut. "Sudah pergi sana dari toko ku!" usir nya dengan kejam.


"Kamu mengusir ku?" tatap Bara dengan lekat.


"I...iya." gugup Tari dengan wajah memerah.


"Berani!" ancam Bara.


"Ini toko kue ku, kenapa aku tidak berani mengusir mu dari sini?" ancam Tari dengan melototkan kedua matanya terlihat lucu. "Lagi pula untuk apa kamu berada di sini, kenapa kamu tidak pergi bekerja?"


"Aku bos nya, tidak akan ada yang bisa memecat ku. Lagi pula aku sudah memiliki uang yang banyak." terang nya dengan sombong.


"Sepertinya kamu belum pernah merasakan menjadi orang miskin!" cebik Tari dengan kesal.


"Tidak, aku memang terlahir kaya semenjak kecil." jawabnya angkuh.


"Ah sudahlah pergi sana, aku lelah berdebat dengan mu." kesal Tari.

__ADS_1


"Aku juga akan pergi, tapi... ada satu permintaan." ucap Bara dengan serius.


"Apa?" penasaran Tari pun bertanya.


"Beri aku sebuah ciuman." pinta nya dengan nakal.


"Antoni apa kamu sudah gila!" kesal Tari dengan suaranya yang tertahan.


"Haha, aku hanya bercanda, aku pikir kamu akan mengikuti apa yang aku pinta itu, tapi sayang sekali." kecewa yang kini Bara rasakan.


"Sudah pergi sana!" usir Tari seraya mendorong tubuh Bara yang tinggi itu dengan sekuat tenaga.


"Dasar gila!" umpat Tari pelan namun tersungging senyuman di bibir nya. "Aku yang gila jadinya bila terus berdebat dengannya." gumam Tari mengingat dia tersenyum sendiri.


***


Siang hari ketika Tari tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba sebuah panggilan telepon berdering. Tari mengerutkan keningnya saat ia melihat nomor yang ada di layar nya itu. "Tania?" gumam nya. "Tumben sekali dia menelepon ku." lanjut Tari merasa heran.


Lama tidak ia jawab saat telpon itu terus berdering. Namun karena panggilan itu terus memanggilnya, mau tidak mau Tari pun menerima panggilan itu.


"Ya ada apa Tania?" kesal dengan panggilan itu.


Tania yang mendengar nada Tari yang malas menerima panggilan itu pun merasa kesal, namun ia tahan agar rencana yang ia rencanakan sukses tanpa Tari curigai.


"Kak Tari, maaf aku mengganggu mu, apa kita bisa bertemu hari ini?" pintanya dengan lembut.


"Untuk apa kita bertemu? Aku tidak memiliki urusan dengan mu." jawab Tari dengan kesal.


Tania mengepalkan tangannya karena kesal dengan sikap Tari yang sombong itu, jika saja ia tidak memiliki rencana, dia tidak mau melakukan hal ini.


"Ayok lah kak Tari... please..." pinta nya dengan merengek. "Aku ingin meminta maaf atas kesalahan ku, dan aku hanya ingin bicara sebagai adik dan kakak." ujar Tania meyakinkan Tari agar dia percaya.


"Sudah lama kita tidak bicara, aku adalah adik mu kak, aku ingin bisa mengobrol dengan kamu, dari hati ke hati." ucapnya lagi membuat Tari berpikir apa salahnya jika bertemu.


"Dimana kita bertemu?" tanya Tari dengan cepat.


Seringai licik muncul dari bibir Tania di seberang sana. "Di hotel Pelita." jawab Tania.


"Kak, aku artis semua orang mengenaliku, aku tidak mau ada yang mengganggu obrolan kita saat kita nanti bertemu. Aku ingin memiliki waktu yang panjang dengan kakak." jelasnya masuk akal.


"Baiklah, aku akan kesana." Tari tanpa ragu dan tanpa curiga menyanggupi untuk bertemu dengan Tania, toh apa salahnya jika mereka bertemu, agar persaudaraan mereka bisa menjadi hubungan yang baik kembali.


Tari pergi setelah mendapatkan telpon dari Tania itu, ia pun berpesan kepada karyawannya untuk menjaga toko kue nya, ia akan sebentar untuk bertemu dengan saudara tirinya.


Di perjalanan, Tari tanpa ada kecurigaan di dalam hatinya, ia tersenyum bahagia karena Tania sudah berubah, ia bisa menerima dirinya sebagai kakak, dan Tania juga tadi berbicara dengan lembut padanya, itu adalah hal yang sangat membuat Tari bahagia.


Sesampainya di dalam hotel, Tari mencoba menelpon Tania, lalu Tania pun memberi tahukan nomor kamar hotel yang ia tempati.


Tanpa ragu tari melangkahkan kakinya menuju kamar hotel yang Tania beritahukan.


"Kak Tari, ayok masuk!" ajak Tania saat ia membuka pintu kamar hotel nya dan di sana Tari berdiri.


Tari mengikuti langkah Tania yang menarik tangan nya untuk masuk ke dalam. Suasana hotel itu sangat sepi.


"Kamu sendirian di sini?" tanya Tari melihat sekitar tidak ada satu orang pun.


Tania mengangguk. "Iya, aku harus pindah kamar hotel satu ke hotel lainnya, untuk menghindari dari wartawan yang selalu mengikuti ku, kakak tahu kan apa yang sedang terjadi pada karierku." ucap Tania dengan sendu.


"Ya, aku tahu, kakak harap kamu bisa menyelesaikan masalahmu itu dengan cepat." ucap Tari dengan bijak.


Tania tersenyum pahit, namun dalam hatinya ada kebencian yang sangat dalam kepada Tari. 'ini semua gara-gara mu!' batin nya.


"Ya, semoga saja kak." ucap Tania dengan sendu. "Emh sudah ya jangan bahas masalah ku, aku mengajak kak Tari bertemu untuk bicara tentang kita saja." ucap Tania seraya membawa minuman yang sudah ia siapkan sebelum Tari datang.


"Ini kak minumannya, silahkan di minum." ucapnya dengan santai.


Tari melirik ke arah minuman tanpa langsung ia minum. "Kamu tidak perlu repot-repot." ucap Tari.


"Tidak apa-apa kak, aku sudah pesankan minuman kesukaan kak Tari, karena kakak mau datang kesini." ucapnya masih santai tidak ada yang mencurigakan.


"Ayok kak di minum, minuman ini masih minuman kesukaan kakak kan?" tanya nya tidak sabar karena Tari tidak meminum nya.

__ADS_1


"Atau kakak mau ganti minuman nya, nanti aku pesankan minuman yang lain." tawar nya.


"Tidak perlu, ini saja." ucap Tari menolak, seraya mengambil minuman yang tersedia itu untuk ia minum.


Saat Tari meminum nya Tania menatap Tari dengan senyuman lembut nya namun ada niat jahat di balik senyuman itu. Minuman yang Tari minum itu sudah Tania bubuhkan sebuah obat yang berbahaya dan Tania pun tidak main-main saat ia membubuhkan obat itu, bahkan tanpa aturan. Obat itu akan bereaksi beberapa menit kemudian.


"Tania kakak boleh pinjam kamar mandi kamu." ijin Tari.


"Oh silahkan kak." jawab Tania.


Tari masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Tania dengan cepat memasang kamera kecil di ruangan hotel nya itu, ia langsung pergi dari kamar hotel itu meninggalkan Tari di sana sendirian.


"Sepertinya obatnya sudah mulai bereaksi, kak Tari... kamu memang bodoh!" ejek Tania dengan jahat di wajahnya.


"Lihat apa yang akan terjadi saat kamu keluar dari kamar mandi, hahaha surga dunia akan kamu rasakan!" seringai senyum licik di bibir Tania.


"Hahaha pasti dia sedang merasakan panas di seluruh tubuh nya." ucap Tania dengan sangat puas.


Tari yang sedang berada di kamar mandi itu pun merasakan panas di seluruh tubuhnya, ia merasa tidak enak dan tidak nyaman di bagian tubuhnya.


"Ah kenapa tubuh ku panas sekali." gumam Tari mengusap bagian tubuhnya yang merasakan tidak nyaman.


Tari keluar dari kamar mandi itu untuk meminta obat kepada Tania, namun saat ia keluar ia melihat ada 3 orang laki-laki sedang menatapnya dengan penuh minat.


"Kalian siapa?" kejut Tari dengan keberadaan mereka di sana. "Mana Tania?" tanya nya.


Seringai senyuman mereka saat menatap Tari yang cantik itu. "Si bos memang luar biasa, santapan kita hari ini wanita yang sangat cantik." puji nya dengan menggoda nakal.


"Apa yang kalian katakan?!" kejut Tari dengan ketakutan.


"Sudah jangan banyak bertanya, kami akan memuaskan mu, supaya kamu bisa terbebas dari panas yang kamu rasakan di tubuh mu itu." jelasnya.


Tari menggelengkan kepalanya ia harus keluar dari kamar hotel itu. "Kamu tidak akan bisa keluar dari sini, tenang saja kami akan memuaskan mu."


Tiga laki-laki itu pun mendekat ke arah Tari, namun sebisa mungkin Tari menghindari nya. "Jangan mendekat, aku akan berteriak!" ancam Tari dengan gemetar karena menahan rasa yang luar biasa, sesuatu yang ingin ia tuntaskan saat ia melihat lawan jenis di hadapannya, namun akal sehat Tari masih berfungsi dengan benar.


"Jangan mendekat!" teriaknya dengan mendesah.


"Ayok sayang, jangan galak seperti itu kami tahu kamu membutuhkan sentuhan kami." para laki-laki itu terus menggoda Tari.


"Jangan mendekat, sialan!" umpat Tari kesal, ia baru sadar jika dirinya di tipu oleh Tania.


Seseorang dari ketiga laki-laki itu menyentuh tangan Tari, Tari mendesah namun sebisa mungkin dia dengan kuat agar pikiran nya tidak kalah dengan nafsu yang ia rasakan.


"Tolong... tolong..." teriak Tari meminta pertolongan.


"Percuma kamu berteriak, kamar ini kedap suara hahaha." mereka tertawa dengan sangat puas. "Ayok kita main sayang, kami akan memuaskan mu."


Brug... Pintu terbuka dengan lebar seorang laki-laki datang dengan cepat meninju para ketiga laki-laki yang tengah mencoba melecehkan Tari.


"Berengsek kalian!" umpat nya bug bug bug, dengan brutal ia memukul nya.


Tari terdiam ia semakin tidak tertahankan dengan rasa yang ia rasakan saat ini. Akal sehatnya hampir kalah dengan rasa yang ada di tubuhnya itu.


Ketiga laki-laki itu pergi dengan cepat dengan wajah lebam mereka.


Ia menatap perempuan yang ada di hadapannya itu, dengan wajahnya yang memerah dan tatapan mata yang sayu, laki-laki yang melihatnya akan tergoda.


"Sun sun apa yang terjadi?" mendekati Tari yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh minat.


"Kak Leo." panggil nya dengan mendesah.


"Sun sun apa kamu baik-baik saja?" tanya Leo seraya menyentuh Tari membuat Tari merasakan gelenyar aneh yang ingin lebih dari itu. Sentuhan laki-laki yang kini Tari inginkan malah lebih dari itu.


Tanpa menjawab Tari langsung mencium bibir Leo dengan rakus dan penuh gairah. Leo menerima serangan itu dengan heran kenapa Tari sangat berani menciumi nya dan dengan rakus seperti itu. Leo pun membalas ciuman panas Tari itu, ia menikmati ciuman itu karena Tari memang begitu sangat liar saat mencium nya apalagi Leo masih mencintai perempuan yang mencium bibir nya itu.


Namun tiba-tiba, Tari memfokuskan pikirannya agar ia tersadar, segera setelah tersadar Tari melepaskan ciumannya itu.


"Kak Leo, maafkan aku. Tubuh ku panas sekali, seseorang membubuhkan obat perangsang pada minuman ku." terang Tari dengan cepat. "Aku harus berendam dengan air dingin." ucapnya seraya berlari menuju kamar mandi.


Leo menatap kepergian Tari dengan bingung. Ya pasti ada sesuatu dengan apa yang di lakukan Tari saat ini, karena tidak mungkin Tari akan melakukan hal seperti itu, walaupun Leo sedikit merasa kecewa karena Tari kuat mempertahankan dirinya untuk tidak melakukan hal lebih jauh dengan nya.

__ADS_1


Tari merendam dirinya dengan air dingin dengan pakaian yang masih ia kenakan di tubuhnya.


__ADS_2