Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kerapuhan Tari


__ADS_3

Pagi ini dari semalam Tari mendiamkan Bara, karena ia masih kesal dan merasa sakit hati akan ucapannya kemarin.


"Ayok anak-anak cepat makanan itu kalian makan, nanti kalian akan terlambat masuk sekolah!" titah Tari di depan anak-anak dan juga Bara. Makanan mereka biasa Tari lah menyiapkan nya, namun tidak dengan Bara, Tari tidak mempedulikan keberadaan Bara ia hanya fokus saja pada anak-anaknya.


"Ibu kenapa ibu tidak menyiapkan sarapan untuk Daddy?" Si manja Bintang pun berceloteh tanpa ragu melihat Daddy-nya hanya makan sarapan yang ada.


"Daddy mu tidak cocok makan makanan buatan ibu." jawab Tari santai. "Lagi pula Daddy mu sudah dewasa, dia tahu mana makanan sehat mana makanan tidak sehat." sambung Tari cuek.


Bara menatap sinis kepada Tari yang sibuk mengurus ketiga anak-anaknya.


"Kalian sudah selesai kan? Ayok berangkat!" Tari pun mempersiapkan ketiga anak-anaknya untuk berangkat ke sekolah, dia pun sudah siap akan pergi ke toko.


"Ibu tidak ikut dengan kami? Kita bisa berangkat bersama." ajak Ken karena melihat Tari akan pergi juga.


"Tidak, kalian saja yang berangkat, jika ibu ikut nanti kalian akan terlambat." kilah Tari.


"Tapi kan bisa kita terlebih dahulu yang di antarkan setelah itu ibu bisa di antarkan oleh sopir." sambung Langit yang ingin ibunya bisa di antarkan.


"Tidak perlu sayang, ibu bisa berangkat sendiri." tolak Tari dengan lembut, Tari tidak mau memakai segala macam pasilitas yang di berikan Bara kepada anak-anaknya karena Tari sadar diri Bara tidak menginginkan nya, yang Bara inginkan adalah anak-anaknya.


"Baiklah kalau begitu kami berangkat ya Bu." pamitnya seraya mencium dan memeluk Tari seperti biasanya, dan tak lupa juga kepada Daddy nya mereka melakukannya hal yang sama, hanya Langit lah yang tidak mencium.


Tari dan Bara masih di depan pintu melihat kepergian anak-anak mereka berangkat ke sekolah sampai benar-benar tidak terlihat.


Setelah tidak tampak lagi, Tari yang lebih dulu pergi membuat Bara melirik.


Tari meraih tasnya ia dengan cepat melangkahkan kakinya, Tari malas berhadapan dengan Bara yang terus menyakiti hati dan perasaannya.


Dengan berjalan kaki Tari pun terus melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah.


Bara pun hari ini sudah lebih baik, dan dia akan pergi ke kantor.


"Tuan, sepertinya wanita yang sedang berjalan itu nona Mentari." ucap Alvaro sang asisten pribadi nya melirik kearah spion melihat istri tuan nya sedang berjalan kaki dan memberitahu tuannya itu. "Apa anda ingin memberikan tumpangan?" tambahnya lagi.


"Tidak perlu!" jawab Bara dengan nada dan ekspresi dinginnya. "Dia tidak akan mati gara-gara berjalan kaki seperti itu." lanjutnya.


"Tapi tuan, dari rumah ke jalan depan itu cukup lumayan jauh, apa tidak kasihan." ucap Al hati-hati.


"Kamu mau membantah perintah saya?" ucapnya marah. "Saya tidak peduli dia mau kelelahan atau tidak. Jangan pedulikan perempuan itu, kendarai saja mobil ini dengan baik!" titah nya dengan kesal.


"Baik tuan, maafkan saya." ucap Al dengan patuh.


Sedangkan Tari yang sedang berjalan, ia tahu jika mobil yang baru saja melewati nya itu adalah mobil laki-laki yang berstatus suami sahnya.


Tari hanya melirik saja dengan ekor matanya saat mobil melaju tanpa menawari dia untuk naik.


"Laki-laki egois! Laki-laki arogan! Pergi sana, tidak usah kembali sekalian!" umpat Tari menggerutu kesal.


Uhuk... uhuk ... uhuk Bara terbatuk-batuk. "Ah gatal sekali tenggorokan ku." gumam Bara seraya melonggarkan dasi yang ada di kerah nya itu. "Sepertinya ada yang sedang mengumpat ku." gumamnya lagi membuat Alvaro yang sedang menyetir pun melirik ke arah belakang melalui spion.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" khawatir Al.


"Tidak, tidak apa-apa." sahut nya dengan berdehem.


*


*


*


"Pagi mba Tari." sapa salah satu karyawan di toko.


"Pagi juga." balas Tari dengan ramah.


"Kita langsung buat adonan saja ya, soal nya nanti siang mba berniat membagi-bagikan brosur kue-kue mba, siapa tahu kue kita ini akan banyak pembeli baru." terang Tari penuh semangat.


"Kue kita kan sudah banyak yang suka mba, karena kue itu buatan mba." balas nya.

__ADS_1


"Ya sih, tapi apa salahnya kita mencoba, mba lagi butuh uang banyak hehe." Tari pun mencoba santai di tengah hatinya yang sedang perih.


"Gak cuma mba aja kali yang butuh uang banyak kami juga hihi." balasnya dengan bercanda. "Ayok mba nanti kita bantu mba." ucapnya lagi.


"Tidak perlu, kalian di sini saja, biar mba saja yang bagi-bagi brosur nya. Lagian cuaca sedang panas juga." larang Tari dengan pengertian.


"Gimana mba aja, kami nurut aja mba, kalau mba butuh bantuan kita, kita siap kok." ucapnya dengan semangat.


Tari tersenyum. "Terima kasih ya, kalian memang adik-adik mba yang baik." puji Tari lembut.


"Wah kita adik mba nih? Asyik kita punya mba yang cantik dan baik hati seperti mba Tari..." ucapnya senang. Tari hanya tersenyum melihat tingkah laku karyawan nya itu.


"Ya sudah mari kita berjuang!" ucap Tari dengan semangat membawa para karyawan nya itu untuk membuat adonan kue.


*


*


*


Siang hari Tari sudah siap dengan membawa brosur di tangan nya. Siang ini Tari benar-benar mau membagikan brosur penjualan kue nya agar semakin di kenal oleh orang.


Dengan menggunakan kemeja putih longgar, celana jeans biru dan topi putih yang akan menutupi wajahnya dari sinar matahari. Tari tampak seperti gadis 20 tahunan karena tubuhnya yang mungil dan kulit nya putih seputih susu serta wajah nya yang begitu cantik, dia tidak terlihat sedikit seperti sudah memiliki suami apalagi anak-anak.


Di tengah kerumunan Tari dengan penuh semangat memperkenalkan kue yang ia jual di dalam brosur itu, ada yang menerima dengan baik ada yang membuang brosur itu tanpa peduli, namun Tari tidak pantang menyerah, jika ingin berhasil harus di awali dengan doa dan usaha. Tari yakin sebuah usaha yang keras tidak akan mengkhianatinya suatu saat nanti.


Saat Tari sedang berkeliling dan membagikan brosur itu tiba-tiba seorang wanita dengan tubuh nya yang semampai datang menghampiri nya membuat Tari menatap nya. Dengan topi dan masker yang menutupi nya.


"Jadi ini pekerjaan kak Tari sekarang? Sungguh memalukan!" ejeknya dengan tatapan sinis nya.


"Memang kenapa? Ini pekerjaan halal." Jawab Tari cepat. Ia tahu jika perempuan itu adalah Tania karena ia mengenali dari suaranya.


"Tapi ini memalukan! Kak Tari memang selalu membuat keluarga kita malu, dari dulu sampai sekarang." Tania terus saja menghina Tari dengan kejam.


"Tania, sebenarnya apa masalah mu dengan kakak, kakak tidak pernah jahat padamu. Kehidupan kamu lebih beruntung, dan pekerjaan mu juga lebih baik, kenapa kamu seperti itu terus kepada kakak?" Tari menguapkan rasa kesalnya pada Tania. "Kenapa kamu selalu iri dengan apa yang kakak lakukan?" lanjutnya lagi.


"Lalu kenapa kamu selalu seperti itu?" Tari pun merasa sudah tidak tahan dengan perlakuan nya.


"Aku dengar kak Leo sudah kembali. Dan kalian sempat bertemu kan? Kalian juga sempat berbincang-bincang." ucap Tania dengan ketus.


"Kak Leo? Ya memang kami sempat bertemu tapi itu tidak sengaja, lagi pula apa salahnya jika kami saling berbicara, kami saling kenal dan itu pertemuan pertama kami saat bertemu lagi." jelas Tari heran.


"Aku benar-benar jijik padamu kak Tari, kamu itu wanita murahan hamil di luar nikah, tapi dengan tidak malu nya kakak mendekati kak Leo." ucap Tania dengan rasa jijik dan marah nya.


Hati Tari terluka kembali, kata-kata wanita murahan selalu saja ia dengar dari perkataan orang-orang dengan sebuah penghinaan.


"Tania, cukup ya kakak hanya bertemu dengan kak Leo karena ketidaksengajaan, itu bukan berarti kakak mendekati kak Leo, aku sadar diri dan aku juga baru tahu jika kak Leo berada di Indonesia." terang Tari menjelaskan.


"Aku tidak percaya!" ucap Tania dengan marah lalu ia mengambil brosur yang Tari pegang di tangan nya dengan paksa dan Tania pun mendapatkan nya lalu brosur itu ia lemparkan ke udara membuat brosur yang Tari miliki berhamburan dan berserakan ke tanah.


"Tania, apa yang kamu lakukan!" kesal Tari berteriak terkejut melihat brosur itu berserakan di jalanan.


"Itu pelajaran untuk mu! Ingat ya kak aku tidak akan mau mengakui mu sebagai kakakku, apalagi keluarga ku, kehidupan mu sungguh membuat keluarga kita malu." ucapnya dengan penuh kebencian.


"Aku juga tidak peduli kamu mau mengakui aku keluarga mu atau bukan." balas Tari dengan geram.


"Wanita murahan!" ucap Tania seraya menginjakkan kakinya untuk menginjak brosur yang Tari miliki.


"Tania." teriak Tari kesal seraya mencoba menyelamatkan brosur-brosur itu.


"Sebenarnya aku tidak puas membuat kakak menderita, tapi sekarang aku adalah seorang publik figur aku tidak boleh mengotori tangan ku begitu saja. Awas ya kak!" ancam nya berlalu dengan terburu-buru karena ia takut ada media yang akan meliputi nya, jika ada orang yang mengetahui dia siapa maka karier nya akan hancur.


Tari mengumpulkan brosur yang berserakan itu karena selain ia masih mau berusaha untuk membagikan kepada orang, juga karena brosur berserakan di jalanan membuat jalanan seperti penuh dengan sampah membuat Tari dengan cepat memunguti nya.


Namun sesekali Tari berhenti, karena air matanya yang tidak bisa ia tahan jatuh begitu saja, walaupun Tari ingin kuat untuk tidak menangis tapi Tari seorang perempuan sekuat-kuatnya seorang perempuan di saat dirinya merasakan sakit air mata akan meleleh begitu saja, bukan karena cengeng tapi untuk ia bisa kembali bersemangat lagi dalam menjalani hidup.


Tari menarik nafasnya dalam-dalam membuang rasa kesal dan sakit di dalam hatinya, dan sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia malu banyak orang yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.

__ADS_1


Lalu Tari pun kembali memunguti brosur itu dengan cepat dia ingin pergi ke toko kembali karena suasana hatinya sudah tidak mood lagi.


Namun saat Tari memunguti brosur itu satu persatu ketika dia akan mengambil satu brosur di bawah nya, saat ia menunduk Tari melihat sebuah kaki dengan sepatu mahal dan mengkilap berdiri di hadapannya. Ia tahu siapa pemilik sepatu itu.


Tari mengusap air matanya dari wajahnya yang masih merah itu.


Tari berdiri di depan nya. "Apa kamu juga akan menghina saya lagi?" ucap Tari dengan sinis namun ia tidak diam dia terus saja memunguti brosur itu agar cepat selesai lalu pergi dari tempat itu.


Bara pun membantu memunguti brosur itu lalu memberikan nya kepada Tari tanpa ada ucapan apa-apa. Bara sudah tahu apa yang sudah terjadi, ia dari tadi melihat Tari yang sedang berbicara dengan seorang perempuan, tapi Bara tidak mengenali nya.


Apalagi saat ini Bara melihat wajah Tari merah dan di bulu matanya masih basah sisa air mata yang dia usap dari tadi membuat Bara tidak mau berkata apapun.


Bara menyerahkan brosur yang ia kumpulkan lalu menyerahkan itu kepada Tari. Tari pun menerima nya dengan kasar. Setelah sudah tidak melihat brosur-brosur di jalanan Tari tanpa permisi pun langsung pergi meninggalkan Bara, Bara mengejarnya.


"Tunggu Mentari!" panggil nya dengan melangkahkan kakinya dengan langkah lebar karena Tari tidak mempedulikan panggilan Bara yang memanggil namanya, Tari lelah untuk berdebat lagi, sekarang-sekarang ini hati nya cukup lelah dengan segala penghinaan terhadapnya.


"Hei tunggu! Saya akan mengantar mu kemana pun kamu pergi." ucap Bara.


Tari terdiam heran kenapa Bara bisa berubah baik secara tiba-tiba. "Tidak perlu!" tolak Tari cepat seraya akan pergi karena ia tidak tertarik dengan penawaran nya.


Namun hal tak terduga Bara lakukan. Ia menggendong Tari dengan paksa membuat Tari terkejut dan memukul-mukul punggung Bara dengan keras namun Bara tidak merasakan sakit sepertinya karena ia tidak melepaskan Tari begitu saja.


"Turunkan saya!" teriak Tari terus memberontak.


"Diam! Semakin kamu berteriak semakin orang-orang menatap ke arah kita. Apa kamu tidak malu?" gertak Bara.


"Turunkan saya! Kamu yang membuat saya malu!" kesal Tari terus memukuli punggung Bara.


Bara membuka pintu mobil dengan tangan sebelah nya lalu ia memasukkan tubuh Tari ke dalam kendaraan nya tanpa melihat bagaimana ekspresi wajah Tari yang menatapnya dengan cemberut dan marah.


Bara masuk ke dalam mobil setelah Tari duduk dengan diam. Lalu setelah itu ia menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan kendaraannya itu dengan perlahan.


Bara melihat wajah Tari dari samping dengan hidungnya yang masih merah akibat tadi ia menangis walaupun wajah nya memang tertutup oleh topi yang sedang ia pakai.


Bara akui ternyata istri sementara nya itu terlihat sangat cantik dan muda, apalagi dengan pakaian yang sedang Tari kenakan saat ini, ia melihat Tari seperti masih anak kuliahan. Ya mungkin jika kejadian dirinya yang sudah menodai Tari tidak terjadi, mungkin saat ini Tari sedang bekerja dan sedang menikmati masa mudanya tanpa ada anak-anaknya, Bara menghela nafasnya tadi ia tidak sengaja melewati jalanan itu tanpa di sengaja juga dia melihat Tari dengan seorang wanita yang terlihat seperti marah kepada Tari. Bara tidak mengetahui siapa wanita itu.


Di kantor, Bara terus saja memikirkan perkataan nya yang sungguh sangat keterlaluan kepada Tari, dan pada akhirnya dia terus saja memikirkan Tari membuat dirinya tidak fokus.


"Sekarang tujuan mu kemana?" tanya Bara di tengah diamnya Tari dengan wajahnya yang terus memandang ke jalanan.


Tari diam tidak menyahut. "Saya akan antarkan kamu kemanapun, apa kamu mau pulang?" tanya Bara kembali seraya melirik ke arah Tari yang masih membeku.


Bara menghela nafasnya pelan. Tidak berani bertanya lagi.


"Kenapa semua orang membenci ku? Kenapa orang tidak menginginkan keberadaan ku? Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup ku, tapi kenapa orang selalu merendahkan ku dengan apa yang tidak pernah aku lakukan. Sehinakah aku di mata orang?" batin Tari terasa sakit jika ia terus mengingat bagaimana penghinaan orang kepada nya.


"Ibu... jika ibu masih ada di dunia ini, mungkin aku tidak akan kesepian seperti ini, mungkin aku tidak akan sesakit hati ini karena penghinaan orang-orang terhadap ku." batin nya lagi. "Jika aku bisa memilih, aku lebih memilih ikut bersama mu ibu." lirih Tari yang sangat merindukan ibunya yang telah tiada.


Dengan tatapan kosongnya Tari, air matanya tiba-tiba keluar begitu saja membasahi pipinya dengan terus menatap ke arah luar.


Bara melihat tatapan kosong Tari walaupun ia hanya melihat wajah samping nya saja. Dan Bara pun melihat jika Tari mengeluarkan air mata nya.


Tari tersadar saat tangan Bara mengusap pipinya yang basah itu. Dengan terkejut Tari pun menepis tangan Bara itu dengan cepat.


Tari mengusap pipinya untuk menghapus air matanya itu. "Turunkan saya di sini!" ucap Tari tanpa ekspresi.


"Kamu mau kemana? Saya akan antar kamu." tawar Bara gugup karena ia tidak sadar mengusap pipi Tari tadi dan merasa malu juga karena tangan nya di tepis oleh Tari, kesal juga sih tapi ia tahan karena menyadari jika perempuan yang ada di dalam mobil nya itu sedang bersedih.


"Tidak perlu!" tolaknya cepat. "Jika kamu tidak menghentikan mobil mu, saya akan melompat!" ancam nya seraya membuka pintu mobil Bara dengan cepat karena ia takut jika Bara mengunci secara otomatis.


"Ok. ok..." Bara pun terkejut dengan aksi nekad yang di lakukan Tari yang akan melompat dari dalam mobil.


Bara menghentikan laju mobilnya, dan Tari dengan cepat turun dari mobil itu tanpa bicara sepatah katapun kepada Bara membuat Bara menatap terus kepada Tari.


Brug. Suara pintu mobil terdengar keras di tutup oleh Tari dengan kesal.


Lalu Tari berjalan kaki setengah berlari, lalu menaiki motor yang terlihat oleh Bara seperti tukang ojek.

__ADS_1


Bara terus menatap Tari dengan hati yang sulit sekali ia mengerti. Ada rasa bersalah kepada perempuan yang sudah melahirkan anak-anak nya itu. Bara mendengus kesal. "Kenapa aku tidak meminta maaf padanya!" kesal Bara merasa bodoh.


__ADS_2