
"Hallo." sapa Bara menelpon Tari saat dirinya kini tengah berada di kantor.
"Apa kamu akan pulang nanti siang?" tanya Tari memastikan jika suaminya itu akan makan siang bersama.
"Emh sepertinya tidak, hari ini aku ada meeting dengan orang penting, jadi aku tidak bisa pulang siang ini, kamu tahu sendiri kan jika aku sudah pulang ke rumah aku suka malas pergi lagi ke kantor." ujar Bara.
"Kenapa malas pergi lagi?" heran Tari yang belum mengerti apa perkataan Bara itu.
"Ya karena aku hanya ingin menempel padamu." jelas Bara tanpa malu dan ragu lagi.
"Sekarang kamu sudah bisa bicara seperti itu, apa kamu tidak malu!" ketus Tari.
"Hahaha ntahlah kenapa aku jadi begini. Rasa malu ku jadi hilang setelah aku bahagia bersamamu." jawabnya tanpa jeda.
"Hemmm baiklah karena kamu sedang sibuk, lanjutkan saja pekerjaan mu." ucap Tari akan memutuskan panggilan mereka.
"Tunggu!" cegah Bara dengan cepat. "Kamu bawakan makanan siang untuk ku ke kantor ya, aku akan menunggu mu di depan." pinta nya.
"Aku titip saja pada pak sopir ya." ucap Tari enggan untuk datang ke kantor Bara, apalagi dia belum pernah kesana.
"Aku mau istriku sendiri yang mengantarkannya, aku ingin makan siang bersama mu. Lagi pula kamu sebagai istri harus tahu bagaimana suamimu bekerja." imbuh nya dengan nada yang terdengar kecewa.
Tari menarik nafasnya panjang. "Baiklah, aku akan kesana untuk membawakan mu makanan." Tari pun mengalah pada akhirnya, toh apa salahnya juga, ia juga sedikit penasaran bagaimana kantor yang Bara miliki.
"Ok, nanti kamu akan di jemput sopir untuk membawa mu kesini." balas Bara dengan semangat.
"Hemmm." jawab Tari.
***
Siang ini Tari sudah menyelesaikan masakannya dengan berbagai hidangan yang menggiurkan. Untuk anak-anak Tari sudah siapkan.
Tak lama sopir pribadi Bara pun datang ke rumah, Tari pun langsung bergegas membawa makanan itu dan masuk ke dalam mobil.
Ini kali pertamanya Tari untuk pergi ke kantor Bara. Tak lama Tari sampai di gedung yang sangat tinggi dan itu adalah kantor milik Bara suaminya. Tari tidak menyangka memiliki suami seperti Bara.
"Mari Nyonya saya antar, tuan Bara sudah menunggu anda di lobi." ujar sang sopir sangat sopan.
"Baiklah." balas Tari.
"Nyonya, tuan sekarang ada di lobi depan, silahkan saya akan pergi dulu karena masih ada pekerjaan lain." ucapnya dengan sopan.
"Ya, terima kasih." ucap Tari dengan lembut, sang sopir hanya mengangguk dengan sopan sebagai jawaban.
***
Sedangkan di saat Bara tengah menunggu Tari datang dengan sesekali sibuk dengan handphone nya, seseorang memanggil namanya tepat di depan tubuhnya.
"Mas Bara." panggil nya dengan suara perempuan terdengar oleh nya.
Bara mendongakkan wajahnya melihat siapa pemilik suara perempuan yang memanggil namanya itu.
Terkejut saat Bara tahu siapa perempuan yang ada di hadapannya itu, namun ia tidak memperlihatkan ekspresi terkejut nya itu, malah wajah yang dingin yang ia perlihatkan pada perempuan itu.
"Mas Bara apa kabar?" tanyanya lembut dengan senyum seperti dulu, senyum yang membuat hati Bara meleleh saat pertama kalinya mereka bertemu.
"Saya sibuk tidak ada waktu." jawabnya dingin.
"Sebentar saja." ucap perempuan itu dengan pelan dan lembut.
Saat Bara tengah seperti berbicara dengan seorang wanita yang tinggi langsing dan pasti cantik membuat Tari yang melihatnya sedikit minder dan penasaran siapa wanita itu karena selama ia hidup dengan Bara, Tari tidak pernah melihat Bara dengan perempuan selain dirinya.
"Siapa dia?" gumam Tari ada rasa tidak nyaman saat Bara dengan perempuan lain apalagi melihat tubuh wanita itu seperti model tidak seperti dirinya yang bertubuh mungil namun berisi.
Bara memberikan pesan pada Tari menanyakan dirinya masih berada dimana, namun Tari tidak membalas dan itu membuat Bara sedikit kesal, karena perempuan di hadapan itu tidak pergi juga. Namun saat mendongak kembali Bara melihat Tari yang sedang melangkahkan kakinya menuju padanya.
"Mas Bara aku ingin bicara dengan mu sebentar saja, a...aku a...aku." ucapnya agak ragu namun sedikit memaksa.
"Sayang lama sekali kamu datang, aku sudah lapar ingin makan masakan mu." teriak Bara tiba-tiba seraya menatap Tari lalu memeluk Tari dari samping.
"Maaf, aku sedikit bingung dengan tempat ini." jawab Tari agak malu.
"Ya sudah tidak apa-apa."
"Ini siapa?" tanya Tari saat melihat perempuan yang sedang bersama dengan Bara itu, benar dia sangat cantik bak model.
"Perkenalkan ini istri saya." ucap Bara memperkenalkan Tari kepada perempuan yang masih berdiri di dekat nya.
__ADS_1
Tari mengulurkan tangannya pada perempuan itu. "Hallo aku Mentari." ucap Tari memperkenalkan diri.
Perempuan itu menerima uluran tangan Tari. "Aku Salsa." ucap perempuan itu dengan sorot matanya yang sulit Tari tebak.
Tari terdiam, ia terkejut dengan perempuan yang ada di hadapannya itu, lalu ia menatap Bara sekilas.
"Ayok sayang kita ke ruangan ku saja." ajak Bara tidak ingin jika Salsa akan bicara yang macam-macam pada Tari. Meraih tangan istrinya yang membawa makanan mereka berjalan bergandengan tanpa mempedulikan Salsa.
"Mas Bara..." panggil nya dengan suara keras.
"Mas kita perlu bicara." teriaknya lagi namun Bara tidak mempedulikan nya.
Salsa pun berdesis sebal lalu menarik nafasnya dalam-dalam dengan tatapan tidak suka nya, sakit hatinya saat Bara yang mencintai nya dulu begitu dingin sekarang.
"Dia siapa Antoni?" tanya Tari dengan tatapan tajam nya setelah mereka sampai di ruangan Bara.
"Siapa?" Bara berpura-pura.
"Salsa." jawab Tari dengan cepat.
"Aku tidak kenal." balas Bara dengan malas.
"Dia mantan tunangan yang meninggalkan mu saat kamu akan menikah dengan nya kan?!" tebak Tari tidak sabar.
Deg.... Bara terdiam ia terkejut darimana Tari tahu jika Salsa adalah wanita yang dulu meninggalkan nya dan kejadian menghamili Tari pun terngiang-ngiang saat mengingat nya.
"Kenapa? Kamu kaget karena aku bisa tahu?" tuntut Tari.
"Ya, kamu tahu dari mana tentang hal itu?" Bara menatap Tari dengan serius.
"Apa kamu tidak ingat, saat malam kamu merenggut kehormatan ku, kamu meracau memanggil namanya." ujar Tari mengingatkan Bara akan kejadian dulu deh ekspresi kesal nya.
Bara menarik nafasnya. "Aku tidak ingat, dan aku tidak mau mengingat nya." tegas Bara.
"Kenapa? Apa kamu masih memiliki perasaan padanya?" Tari pun dengan santainya.
"Tidak!" jawabnya dengan cepat.
"Lalu kenapa dia datang dan bertemu dengan mu di kantor ini? Apa kamu menyuruh ku datang kesini karena kamu ingin memperkenalkan dia padaku?" ucap Tari dengan cemberut.
"Oh aku tahu, kamu menyuruh ku datang kesini agar aku tahu wanita seperti apa yang dulu kamu cintai, begitu kan?" lanjut Tari masih belum puas.
Tanpa menjawab Bara langsung menarik tubuh Tari ke dalam pelukannya. "Aku senang melihat mu cemburu seperti ini." ucapnya seraya menunduk menatap wajah Tari dengan begitu dekat.
"Siapa bilang aku cemburu?!" kilah Tari tidak mau mengakuinya.
"Ekspresi mu memperlihatkan begitu jelas, jika kamu saat ini sedang cemburu." goda Bara. "Ah aku bahagia bisa melihat mu cemburu, jadi seperti ini ya ketika kamu sedang cemburu. Menggemaskan sekali." Bara terus saja menggoda Tari.
"Ah sudahlah lepaskan aku!" sebal Tari. "Itu makan siang mu, aku akan pulang saja!" kesal nya seraya mencoba untuk melepaskan pelukan Bara padanya.
"Hemmm sepertinya aku ingin memakan mu saat ini." ucap Bara dengan nadanya yang nakal seraya menggendong tubuh Tari dan membawanya ke ruangan tempat istirahat Bara ketika dia lelah di kantor.
"Antoni mau bawa kemana aku ini." teriak Tari memberontak.
"Aku akan mengajakmu bermain sebentar, kita harus merasakan bagaimana sensasi bermain di sini." jawab Bara dengan menutup pintu menggunakan kakinya.
"Ini kamar? Kenapa ada sebuah kamar di ruangan kantor mu?" heran Tari melihatnya.
"Hahaha ini tempat khusus untuk ku beristirahat dan jika aku merindukan mu dan tidak bisa pulang kamu bisa datang kesini kapan pun kamu mau." jawab Bara.
"Jangan gila kamu Antoni! Ini masih siang dan ini ruangan kantor, bagaimana jika ada orang yang masuk kesini." ucap Tari terus mencoba melepaskan diri.
"Tidak akan ada yang berani masuk ke ruangan ini. Hanya untuk kita saja." jawab Bara dengan tergesa.
Bara melemparkan tubuh Tari pada kasur empuk yang ada di sana, dan Bara langsung mengunci tubuh Tari yang akan melarikan diri itu.
"Kamu tidak akan bisa lari sayang." ucapnya nakal.
"Aaaaa...."
Setelah puas bermain Bara pun langsung bangkit dari tidurnya, karena ia ingat setengah jam lagi ia harus meeting dengan orang penting siang ini.
Melihat Bara bangkit dari tidurnya dan melepaskan pelukannya pada tubuhnya, Tari pun dengan sebal pun angkat bicara.
"Mau kemana?" tanya Tari sebal.
"Aku mau mandi." jawab Bara santai.
__ADS_1
"Huh setelah dapat apa yang kamu mau, aku di tinggal begitu saja!" cebik Tari dengan kesal.
Cup... Satu kecupan pada bibir Tari yang sedang cemberut mendarat. "Aku tidak akan meninggalkan mu, kamu tahu kan sebentar lagi aku akan meeting dengan orang penting, dan aku juga belum makan siang. Perut ku lapar sekali, apalagi tenaga ku baru saja terkuras. Terima kasih sayang, kamu membuat ku segar kembali. Meeting ku akan berjalan dengan lancar jika kamu memberikan aku asupan seperti ini." ujar Bara dengan menggoda Tari.
Tari mencubit perut Bara dengan sebal karena ucapannya yang selalu menggodanya itu. "Sudah sana mandi, aku akan siapkan makan siang untuk mu."
"Terima kasih Mentari ku." ucap Bara dengan mencolek dagu Tari.
*
*
*
Karena Bara pergi meeting Tari pun pergi ke toko kue nya, setelah mendapatkan ijin dari suaminya itu.
"Kamu dari mana?" tanya Tari pada salah satu karyawan nya.
"Eh mbak Tari. Aku habis dari market mini depan mba, beli pembalut. Maaf mbak aku gak ijin sama mbak soalnya si merah tiba-tiba datang dan aku takut langsung deras, jadi aku buru-buru beli ini." jelasnya dengan mengacungkan sebuah pembalut.
"Oh. Gak apa-apa, ya udah sana cepat pakai nanti banjir di sini berabe lagi." ucap Tari.
"Hehe makasih mbak, aku ijin dulu ya ke kamar mandi." pamitnya dan di angguki Tari.
"Hemmm dasar ada-ada saja." gumam Tari melihat karyawan nya itu. "Eh tunggu!" tiba-tiba Tari teringat sesuatu dan dengan cepat ia melihat kalender yang ada di sana. Ia menghitung tanggal di kalender itu.
"Ya ampun 15 hari." kejut Tari. "Aku tidak sadar terlambat datang bulan sampai 15 hari. Ya ampun tidak biasanya aku seperti ini, apa ini efek dari pil KB yang aku minum ya, secara aku secara rutin meminum pil itu, kemungkinan besar aku tidak akan akan hamil." gumam Tari meyakinkan hatinya yang tiba-tiba saja ketakutan.
"Tenang Tari ini pasti efek pil itu, bukan karena kamu hamil." gumam Tari mencoba untuk tenang. "Aku tidak mungkin hamil, ya aku tidak mungkin hamil." ucapnya dengan mantap.
"Tapi aku harus cek ke poli kandungan, agar aku yakin apa aku hamil atau tidak." ucapnya lagi dengan hatinya yang benar-benar takut.
***
Setibanya di poli kandungan, Tari pun mendaftarkan diri. Ia pun menunggu nya, dan setelah lama menunggu akhirnya nama dia pun terpanggil.
"Selamat siang dok." sapa Tari ketika ia sudah berada di ruangan seorang dokter.
"Ya selamat siang, apa anda nona Mentari, istri tuan Bara?" tanyanya saat Tari duduk tepat di depannya.
Tari tersenyum tipis. "Mungkin hanya mirip." balas Tari menyembunyikan identitasnya.
Dokter itu pun memperlihatkan foto Bara dan juga Tari. "Saya sangat yakin, ini anda kan nona?" tanyanya memastikan bahwa dia tidak salah lagi.
Tari tersenyum malu. "Emh ya." gumamnya mengiyakan, malu sekaligus merasa senang karena ternyata suaminya begitu di kenal orang.
"Saya senang bisa bertemu dengan anda nona, mari saya periksa anda sekarang." ucapnya dengan ramah.
Tari mengikuti apa yang di perintahkan oleh dokter perempuan itu.
"Bagaimana dokter, apa yang terjadi pada saya?" tanya Tari tidak sabar setelah pemeriksaan itu selesai.
Dokter itu pun tersenyum hangat. "Selamat ya nona, anda sedang hamil saat ini." ucapnya.
"A...apa dok? Sa...sasaya hamil?" tanya Tari dengan rasa terkejut nya.
Dokter itu mengangguk membenarkan. "Ya, kehamilannya baru menginjak 6 Minggu." jawabnya.
"Bagaimana saya bisa hamil, saya selalu minum pil KB." imbuh Tari tidak percaya.
"Ini hasil USG nya, membuktikan jika anda memang sedang hamil saat ini." terang dokter itu.
"Tapi saya tidak merasa mual sama sekali dan kenapa saya bisa kebobolan." ucap Tari semakin tidak percaya.
"Apa saya bisa melihat pil yang anda minum." pinta dokter itu.
"Sebentar dok." ucap Tari seraya mengambil obat itu di dalam tasnya. "Ini." serah Tari.
Dokter itu pun melihat obat yang di berikan Tari, lalu ia tersenyum. "Ini bukan pil KB tapi hanya suplemen makanan biasa." jelasnya.
"Maksudnya?" Tari tidak mengerti.
Dokter itu pun menjelaskan ketidaktahuan Tari, dan setelah Tari tahu dia begitu syok karena dia merasa di bohongi.
Setelah lama berkonsultasi dan meminta dokter untuk merahasiakannya jika Tari minum pil KB, Tari pun keluar dari ruangan dokter itu. Ia terus menarik nafasnya dalam-dalam, karena kini dia tengah hamil lagi, anak dari laki-laki arogan yang sekarang sudah mulai berbeda, namun ke khawatiran Tari kembali menakutinya, ia takut jika Bara tiba-tiba meninggalkan nya karena kini ia sudah mendapatkan Tari, ia takut jika baik nya Bara saat ini adalah hanya rasa penasarannya saja pada dirinya.
Dan satu lagi ke khawatiran Tari saat ini, mengingat perempuan yang tadi bertemu dengan Bara, perempuan yang menjadi masa lalu suaminya, perempuan yang dulu pernah menjadi kekasih suaminya, ia takut kehadiran mantan tunangan suaminya itu akan membuat Bara kembali berhubungan dengan mantan nya itu.
__ADS_1
"Apa itu akan terjadi?" lirih Tari mengingat ketakutan yang ada dalam hatinya saat ini seraya mengelus perutnya yang masih rata itu.