
Pagi hari Ken yang sudah terbangun dari tidurnya pun langsung menuruni tangga untuk turun ke bawah menuju dapur, ia berniat menanyakan kue yang ia sukai itu pada pembantunya. Namun bibi yang ia cari dan kue nya tidak ia temukan membuat Ken menjadi kesal karena nya.
"Bi mana kue yang kemarin aku suruh bibi untuk menyimpan nya? Bibi simpan dimana?" teriak Ken saat pembantu nya datang menghampiri nya.
"Di sana den." jawab bibi seraya menunjuk ke arah meja di dekat lemari es.
"Mana?" lagi-lagi Ken berteriak secara tidak sabar. "Lihat! Tidak ada kan?!" kesal Ken setelah apa yang di carinya tidak ia temukan.
"Maaf den Ken semalam bibi simpan kue itu di atas meja ini kok, tapi kemana ya?" tanya bibi dengan bingung seraya mencoba mencari kembali paper bag berisi kue.
"Lihat kan tidak ada! Jangan-jangan bibi makan lagi!" tuduh Ken menatap pembantu nya dengan tajam.
"Bibi berani bersumpah den, bibi gak makan kue itu, bibi yakin semalam kue itu masih ada di dalam paper bag nya." jelas nya jujur.
Ken mendengus kesal. "Lalu kemana?" tanya nya marah.
Bibi pun tidak bisa menjawab karena dia pun bingung kenapa paper bag berisi kue itu tidak ada, lalu bibi pun memindai seluruh ruangan, ia takut jika semalam lupa menaruh nya dimana, namun hatinya sangat yakin jika ia simpan di atas meja dekat lemari es.
"Apa itu bi?" tanya Ken tiba-tiba saat ia melihat sebuah paper bag di atas meja makan seraya mendekat untuk meyakinkan bahwa apa yang ia lihat benar.
"Ia den Ken itu." sambung bibi pun.
Dengan cepat Ken memeriksa paper bag itu dengan membuka nya, namun ia kecewa kue itu habis tidak tersisa membuat Ken semakin kesal lalu mengamuk dengan melemparkan paper bag kosong itu ke lantai membuat bibi pun terkejut karena majikannya itu melemparkan seraya berteriak dengan kesal.
"Ini kosong bi!" teriak nya kesal.
"Maaf den Ken bibi gak tahu siapa yang memakan kue itu sampai habis." ucap bibi lirih.
"Aku kan sudah bilang tolong simpankan dan jangan sampai ada yang memakannya!" ucap Ken mengingatkan apa yang ia perintahkan pada bibi pembantunya itu.
"Maaf den Ken bibi yang salah." ucap bibi merasa bersalah.
Di saat Ken sedang kesal pada pembantu nya itu, Bara yang mendengar keributan di bawah pun langsung menuruni tangga.
"Ada apa pagi-pagi seperti ini sudah ribut dan berisik?" tanya Bara dengan nada kesal seraya menuruni tangga dan sudah bersiap untuk berangkat.
"Apa Daddy yang memakan kue ku semalam?!" tuduh Ken secara langsung dengan menatap tajam ke arah Bara.
Melihat Ken sedang kesal dan merasa langsung tertuduh Bara pun menjadi gelagapan saat di tuduh seperti itu. "Ku...kue apa maksud kamu Ken?" tanyanya berpura-pura tidak mengerti.
"Kue kesukaan ku habis di makan seseorang yang aku gak tahu, apa Daddy yang memakannya atau jangan-jangan Daddy membuangnya?" Ken pun kembali menuduh Daddy-nya dengan ekspresi marah.
Bara berdehem karena tenggorokannya tiba-tiba merasa kering. "Ekhemm. Ya... Daddy membuang kue itu!" jawab nya tanpa menatap wajah Ken yang semakin kesal, Bara mencoba menyembunyikan kebohongannya di depan Ken.
"Kamu tahu kan, Daddy sudah melarang kamu jangan makan makanan sembarangan, itu tidak baik untuk kesehatan tubuh kamu." lanjut nya.
"Aku benci Daddy!" teriak Ken dengan penuh amarah dengan berlari menuju kamarnya. Ken merasa kecewa dan juga tidak terima akan larangan Daddy nya yang tidak masuk akal, hanya makan kue saja sampai ada larangan seperti itu.
"Ken!" panggil Bara secara berteriak. "Kamu harus nurut apa kata Daddy, jika kamu sakit karena makan sembarangan Daddy tidak akan mau mengobati mu!" Bara pun menjadi kesal karena sikap putra nya yang tidak menurut.
Brug... suara pintu kamar Ken tertutup dengan keras membuat Bara menghela nafasnya panjang.
"Jaga Ken dengan baik bi, saya berangkat sekarang." ucapnya memerintah.
"Baik tuan." jawab bibi.
Bara pun berangkat ke kantor seperti biasa dengan di antar oleh seorang supir. Di perjalanan menuju kantor nya Bara jadi mengingat Ken yang begitu marah ketika ia memakan kue kesukaannya itu, ya walaupun Bara tidak mengakui jika dia memakan kue itu dan Ken tidak tahu jika dirinya yang menghabiskan kue, tapi melihat emosi Ken kehilangan kue itu seakan dia kehilangan apa yang ia sayangi, padahal dia bisa membeli kue itu kembali tanpa harus semarah seperti tadi.
"Apa Ken marah karena aku melarangnya untuk tidak memakan kue itu?" batin Bara heran dengan sikap Ken. "Sesepesial itukah kue itu untuk nya?" tanya Bara semakin tidak mengerti dengan Ken. "Apa karena aku yang kurang perhatian padanya?" sambung nya dengan menatap ke arah jalanan dengan ingatan bagaimana kesalnya Ken padanya.
__ADS_1
***
"Apa kalian sudah siap?" tanya Tari pada kedua anak nya yang akan berangkat ke sekolah.
"Ready mom." canda mereka berdua begitu semangat di pagi hari.
"Ibu sayang, no mom." larang Tari tidak suka jika di panggil mom oleh putra putrinya.
Langit dan Bintang tertawa melihat ibunya merajuk. "Maaf ibu kami hanya bercanda."
Tari hanya menghela nafasnya sebentar. "Ayok kita berangkat, ibu juga akan berangkat ke toko." ucapnya.
Mereka pun berangkat bersama, Tari mengantarkan kedua anaknya ke sekolah, karena mereka masih kecil Tari tidak akan membiarkan mereka untuk berangkat berdua saja. Kedua anak Tari di sekolah kan untuk mereka bersosialisasi dengan orang lain dan temannya, karena jika melihat kecerdasan mereka tidak perlu diragukan lagi, mereka sering mendapatkan pujian dari para pengajar atau pun temannya yang lebih tua dari mereka, karena kedua anak Tari ia masukan ke sekolah khusus anak-anak yang melebihi kepintaran anak pada umumnya, pergaulan kedua anaknya itu lebih suka bergaul dengan anak dewasa, maka dari itu Tari harus bisa membuat kedua anaknya selalu mengarah ke jalur yang positif.
Setelah dari sekolah kedua anaknya Tari pun menuju ke toko kue nya. Seperti biasa sesampainya di toko Tari menyapa kedua karyawan nya, dan langsung membuat adonan kue pesanan para pelanggannya.
Siang harinya Tari pun menjemput kedua anaknya ke sekolah karena mereka telah selesai.
"Sayang apa kalian baik-baik saja?" tanya Tari melihat kedua anaknya terlihat diam saja.
Bintang langsung memeluk tubuh Tari saat mereka berada di dalam mobil. "Ibu... perasaan aku tidak enak sekali." ucap Bintang pelan terus menyelusup dengan manja, sedangkan Langit hanya memeluk tubuh samping ibunya itu.
"Iya Bu, perasaan aku juga tidak enak." sambung Langit.
"Apa kalian sakit?" tanya Tari merasa khawatir dengan mereka seraya menyentuh kening keduanya secara bergantian.
Mereka menggelengkan kepala secara bersamaan dengan menatap ibunya. "Lalu kalian kenapa?" tanya Tari heran.
"Aku tidak tahu ibu, hati aku merasa sakit, seperti ada yang menyakiti perasaan aku." jelas Langit.
"Sama Bu aku juga merasakan seperti itu." sambung Bintang.
***
Seminggu berlalu, Ken yang masih kesal pada Daddy terus saja menampilkan wajah yang tidak bersahabat dengan Daddy nya itu.
"Pagi Ken." sapa Bara yang melihat putranya yang baru saja menuruni tangga.
"Pagi." sahut nya tanpa ekspresi membuat Bara sebagai ayah menghela nafasnya panjang.
Setelah kejadian ia yang memakan kue kesukaan Ken dan sama sekali tidak mengakui dirinya lah yang menghabiskan kue itu, bahkan dengan sangat tegas melarang Ken untuk membelinya lagi, membuat jarak antara Ken dan Bara sebagai ayah dan putranya semakin jauh dan semakin terasa merenggang.
Bara menatap putranya itu saat mereka sedang sarapan pagi, tidak ada obrolan atau sapaan hangat keluar dari bibir Ken kepada ayahnya, yang ada hanyalah wajah yang mengajak permusuhan, padahal mereka saling berhadapan.
Bara sudah sering mencoba mengajak putra nya itu untuk berbicara, namun Ken selalu menghindari nya, mungkin masih ada rasa kesal padanya atas kejadian kue itu.
"Daddy sudah selesai, kamu habiskan makanan mu." ucap Bara seraya berdiri dari tempat duduknya. "Daddy berangkat." tambah nya lagi.
Tak ada niat untuk menjawabnya, Ken masih diam menikmati sarapannya lalu melirik sekilas pada tubuh Daddy yang pergi berlalu.
Setelah Daddy nya keluar, Ken pun menyimpan makanan nya lalu Ken menarik nafasnya dan menunduk sedih, ia hanya ingin dibujuk atau di kasihhani oleh orang yang selalu ia panggil Daddy.
"Apa aku anak kandung Daddy? Tapi aku tidak pernah merasakan kasih sayang nya, apa Daddy memang tidak menyayangi ku." lirihnya merasa pilu.
...
Di dalam mobil Bara terdiam membuat sopir pribadinya dengan hati-hati bertanya. "Tuan, apa anda sedang ada masalah?" tanya nya sopan.
Bara tanpa melihat ke arah sang sopir pribadi pun berucap. "Pak, harus bagaimana saya bisa dekat dengan Ken, putraku?" tanyanya penuh keseriusan.
__ADS_1
Sang sopir pun melirik ke arah spion melihat tuan nya yang sedang berbicara serius. "Mungkin, tuan bisa memberikan sesuatu yang den Ken suka atau memberikan sesuatu yang den Ken inginkan." jawab sang sopir.
Bara menarik nafasnya panjang. "Saya tidak tahu apa yang Ken inginkan." sahut nya. "Apa bapak memiliki ide atau apa yang harus saya berikan?" tambah nya bertanya.
"Maaf tuan saya tidak tahu apa kesukaan den Ken. Bagaimana jika nanti saya akan tanyakan dan cari tahu dulu apa yang den suka atau den Ken inginkan pada bi Milah? Bi Milah kan orang yang paling sering berinteraksi dengan den Ken putra tuan." ucapnya.
Bara mengangguk. "Baiklah." balas Bara seraya menyandarkan punggungnya pada kursi mobil.
Kembali ke Tari, mereka tengah berbincang di meja makan sambil menikmati sarapannya. "Ibu tiga hari lagi aku dan kak Langit berulang tahun, apa kami boleh meminta sesuatu pada ibu?" tanya Bintang hati-hati.
Tari mengerutkan keningnya mencoba berpikir. "Emh... memang kalian meminta apa?" tanya Tari menatap kedua anaknya dengan serius.
Kedua anaknya tersenyum dan saling pandang satu sama lain membuat Tari takut akan permintaan kedua anaknya. "Tunggu! Jangan meminta yang aneh-aneh, ibu tidak akan mengabulkan!" ucap Tari secara tegas.
"Kami tidak akan meminta yang aneh-aneh kok Bu." sahut Langit.
"Lalu apa yang akan kalian pinta?" tanya Tari dengan serius.
"Kami akan meminta nya, saat di hari ulang tahun kami." ucap Bintang dengan tersenyum.
"Ok..." jawab Tari cepat. "Sekarang, ayok kita berangkat sekolah." ajaknya.
Sesampainya di toko kue, Tari langsung melihat persediaan bahan kue untuk kue-kue yang ia buat, apalagi 3 hari lagi anak kembarnya akan berulang tahun. Tari selalu membuat kue untuk anak kembarnya, perayaan nya hanya di adakan secara sederhana, hanya menyiapkan kue ulang tahun dan tiup lilin berserta keluarga dekatnya saja.
"Sepertinya bahan-bahan kue masih cukup untuk beberapa hari, emh sebaiknya sekarang aku siapkan kue pesanan yang lebih dulu." gumam Tari seraya bersiap diri. Lalu ia pun memulai membuat pesanan kue nya dengan di bantu kedua karyawatinya.
Selain kue kering Tari pun mencoba membuat kue cake untuk acara ulang tahun atau untuk kue pernikahan juga, itu atas ide kedua anaknya, dan syukur nya pembuatan kue ulang tahun atau kue untuk pernikahan pun sering banyak yang memesan.
*
*
*
"Tuan, saya sudah menanyakan tentang apa yang den Ken inginkan dan den Ken suka." ucap sopir pribadi Bara saat akan mengantarkan majikannya ke kantor.
"Apa?" tanya Bara tidak sabar, sebenarnya Bara tinggal bertanya saja pada Ken namun kurang nya kedekatan antara dirinya dan Ken membuat Bara lebih nyaman bertanya pada sopir pribadinya yang sudah lama bekerja dengan nya.
"Den Ken menyukai kue yang ada di toko triplets cake, den Ken sering sekali merasa senang bila bibi Milah membawakan nya." ujar sopirnya itu.
Bara mendesah tidak suka, ia ingat dengan nama toko kue yang pernah ia makan. "Kue itu lagi!" ucapnya kesal.
"Maaf tuan, bibi Milah memberi tahu kepada saya, jika den Ken sangat suka sekali dengan kue itu, lalu di saat tuan melarang untuk membeli dan memakannya den Ken sangat sedih sekali." jelas sang sopir. "Maaf kalau saya lancang tuan, sebaiknya jika tuan ingin mencoba lebih dekat dengan den Ken, sebaiknya tuan memperbolehkan den Ken untuk membeli atau memakan kue itu, lagi pula kue yang di makan juga tidak berbahaya." ujar sang sopir dengan sangat hati-hati agar tuan nya itu tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Lalu saya harus bagaimana? Agar Ken bisa memaafkan saya?" tanya Bara bingung.
"Bi Milah juga mengatakan pada saya, besok den Ken akan berulang tahun yang ke 8 tahun, apa tuan mengingat nya?" tanyanya pelan.
Bara sedikit terkejut lalu ia mendesah pelan, ia hampir melupakan hari ulang tahun putra nya, ia benar-benar tidak mengingat nya sama sekali.
"Saya benar-benar lupa." ucap Bara menyesal kan. "Saya harus memberikan kejutan pada Ken ini kesempatan untuk meminta maaf pada putraku." sambungnya bergumam.
"Ya ini kesempatan anda tuan, untuk memulai hubungan yang baik dengan putra anda." ucap sang sopir dengan tersenyum karena tuan nya ingin berubah. "Emh bagaimana kalau tuan pesankan kue ulang tahun untuk den Ken, lalu membeli kue di toko yang menjual kue kesukaan den Ken?" sopir yang bernama Bakri itu pun menyarankan dengan penuh semangat.
"Kenapa harus kue itu? Masih ada toko kue langganan keluarga besar saya, dan mereka menjual berbagai macam kue yang sangat enak." jelas Bara masih tidak mau Ken memakan kue itu karena Bara belum begitu percaya dengan toko yang bibi pembantunya beli.
"Tapi akhir-akhir ini, den Ken begitu sangat menyukainya, bahkan hampir setiap harinya kue itu ia makan." ujar pak sopir.
Bara mulai berpikir kembali. "Hemmm baiklah, ayok kita kesana, pesan kue kesukaan Ken dan sekalian pesankan kue untuk ulang tahun nya." titah Bara dengan pasti.
__ADS_1
"Baik tuan." ucap sopir merasa senang, tuan nya benar-benar ingin anaknya bahagia.