
"Sun sun ayok keluar, kita selesaikan masalah mu ini. Jangan terlalu lama kamu berendam tubuh mu di kamar mandi. Nanti kamu bisa sakit." teriak Leo seraya menggedor pintu kamar mandi yang telah di kunci oleh Tari dari dalam.
"Tidak apa-apa, ini lebih baik kak, tubuh ku panas sekali aku tidak kuat menahannya." sahut Tari dari dalam.
"Aku akan mengantarkan mu ke rumah sakit, ini akan bahaya untuk tubuh mu nanti." Leo pun terus mencoba untuk membuat Tari keluar, ia merasa khawatir pada Tari yang masih ada di dalam kamar mandi.
"Lebih baik kak Leo bantu aku pesankan satu setel pakaian untuk ku, karena baju yang aku pakai sekarang basah." pinta Tari dengan suara bergetar kedinginan.
"Baiklah Sun sun aku akan memesankan pakaian untuk mu." ujar Leo di balik pintu.
"Terima kasih kak." ucap Tari.
Berjam-jam Tari merendamkan tubuh nya dengan air dingin, wajah nya pucat dan bibirnya berwarna biru, membuat Tari sangat lemas saat ia keluar dari kamar mandi setelah mendapatkan pakaian yang Leo berikan.
"Kamu baik-baik saja Sun sun?" tanya Leo khawatir melihat bagaimana keadaan Tari saat ini.
"Kak Leo masih di sini?" kejut Tari saat melihat Leo masih berada di kamar hotel dimana ia berada.
"Aku mengkhawatirkan mu Sun sun, jadi aku tidak bisa meninggalkan mu begitu saja." ucap Leo terdengar dengan nada cemasnya.
"Maaf kak Leo aku merepotkan mu." ucap Tari tidak enak hati.
"Aku tidak merasa di repotkan, bagaimana sekarang keadaan mu, apa lebih baik?" tanya Leo.
"Aku merasa lebih baik, tubuh ku sekarang tidak panas lagi." jelas Tari dengan suara bergetar.
"Ayok aku akan mengantarmu pulang." tawar Leo menatap Tari dengan tatapan lembut nya.
"Tidak perlu kak, aku bisa pulang sendiri." tolak Tari dengan lembut.
"Dalam keadaan seperti ini, aku khawatir jika sesuatu terjadi padamu di jalan, aku akan antar kamu sampai depan, nanti setelah dekat rumah mu, kamu bisa menggunakan taksi jika memang kamu takut jika suami mu akan mengetahui kita." ucap Leo yang tahu jika Tari menjaga jarak dengan nya. "Lagi pula tubuh kamu sangat lemas." lanjut Leo.
"Baiklah." Tari menerima tawaran Leo itu.
Mereka pun keluar dari hotel lalu naik pada mobil yang Leo bawa.
"Tidak perlu khawatir suami mu tidak akan tahu jika kita bertemu hari ini, aku tidak akan memberi tahu padanya." terang Leo menenangkan kegelisahan Tari karena Tari terlihat diam saja.
Tari mengangguk pelan. "Terima kasih kak, karena kak Leo sudah menolong ku, maaf juga atas sikap ku tadi, aku benar-benar tidak menyadarinya." ucap Tari sedikit malu mengingat begitu rakusnya saat ia mencium bibir Leo. Ini kali pertamanya Tari mencium laki-laki dengan begitu berani.
"Tidak apa-apa Sun sun aku mengerti, aku hanya kaget saja ketika kamu..."
"Ekhemm." Tari berdehem. "Turunkan aku di sini saja kak." sela Tari dengan cepat, ia sungguh malu jika membahas tentang kejadian tadi.
*
*
*
"Dari mana saja kamu?" suara bariton terdengar menggema ketika Tari memasuki rumah.
"Apa toko tutup sampai malam seperti ini?" tanyanya dengan nada terdengar marah dan tatapan mata yang tajam.
"Apa kamu sengaja tidak menjawab panggilan telepon ku, berapa kali aku mencoba untuk menelpon mu!" kesal nya.
"Maaf." lirih Tari dengan pelan, hanya itu yang bisa Tari ucapkan saat ini, dia memang salah, dia juga lelah, lemas, pusing dan juga kedinginan.
"Untung saja anak-anak tidak kesal menunggu mu, jika hal ini terulang kembali, aku akan membakar toko kue mu itu." ancam Bara tidak main-main.
Tari menundukkan kepalanya ia merasa bersalah, ia juga menyesal karena bertemu dengan Tania, bisa-bisanya Tania menjebaknya seperti itu, apa tujuan dia, apa salahnya pada dia.
Bara masih menatap Tari dengan sorot mata yang marah, ia kesal karena Tari seperti tidak takut dengan ancaman nya.
__ADS_1
"Kamu istri ku, keluyuran malam-malam begini, bagaimana jika ada hal yang membuat mu dalam bahaya, apalagi kamu tidak memberikan ku kabar kemana kamu pergi." omel Bara dengan marah namun di hati nya ia sungguh mengkhawatirkan Tari.
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulangi nya lagi." lirih Tari dengan pelan seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar saja, ia tidak mau Bara tahu tentang kejadian ini, apalagi pertemuan dia dengan Leo di hotel itu akan membuat kesalahpahaman.
"Aku belum selesai bicara." teriak Bara melihat kepergian Tari.
Tari mengehentikan langkah nya, lalu membalikkan tubuhnya. "Aku lelah, aku ingin istirahat." ucapnya lemas.
"Tapi aku belum selesai bicara Mentari!" kesal nya. "Sekarang jawab kamu pergi kemana hari ini sampai pulang malam seperti ini?" tanyanya dengan nada kesal nya.
"Aku..." belum sempat menjawab Tari pun ambruk jatuh dengan tubuh lemas nya.
"Nyonya Tari..." teriak bibi Milah saat melihat Tari terjatuh.
Bara dengan cepat berlari mendekat ke arah Tari lalu meraih tubuh Tari yang sudah tergeletak di lantai, terasa panas dan menggigil saat Bara menyentuh tubuh Tari. Bara pun dengan cepat menggendong tubuh Tari lalu membawanya ke kamar.
"Cepat bawa kompresan!" titah Bara ketika bi Milah mengikuti nya.
Bara meniduri Tari di kasur dengan sangat pelan dan hati-hati.
Tari tidak sepenuhnya pingsan, dia hanya lemas dan pusing.
Tari membuka matanya dengan sayu, wajah nya yang pucat dan bibirnya yang terlihat membiru membuat Bara khawatir dan cemas. "Sebenarnya kamu pergi kemana? Apa yang kamu lakukan sampai wajah mu sepucat ini?" tanya Bara pelan. Tari tidak menjawab ia malas jika untuk berbohong.
"Aku akan memanggil dokter untuk memeriksa mu." ucap Bara seraya berdiri untuk menelpon dokter pribadinya. Namun saat Bara akan beranjak Tari meraih tangan Bara dengan suhu tangan ia yang panas.
"Tidak perlu, aku hanya perlu minum obat penurun panas dan istirahat saja." cegah Tari menyekal tangan Bara itu dengan suara yang pelan dan lembut.
"Tubuh mu panas dan kamu juga menggigil seperti itu, aku harus memanggil dokter." ucap Bara terdengar sangat cemas.
"Tidak usah, tolong selimuti tubuh ku saja." pinta Tari dengan dengan suara bergetar.
Bara dengan cepat menyelimuti seluruh tubuh Tari sampai setengah leher. Lalu ia mengusap kepala Tari dengan lembut membuat Tari merasa tersentuh, karena Bara memperlakukan nya dengan begitu lembut.
"Minum dulu obat ini, agar tubuhmu tidak demam." ucap Bara seraya memberikan obat di tangan nya untuk Tari minum.
Bara mendudukkan tubuh Tari agar bisa meminum obat dengan baik. Tari meminum nya.
"Terima kasih Antoni." ucap Tari berterima kasih.
Bara mengangguk menatap pucat nya wajah istrinya itu, ia penasaran apa yang terjadi padanya. Bara dengan lekat memandangi wajah Tari dengan duduk di samping Tari. Tari langsung memeluk Bara dengan erat dan menyelusupkan kepalanya ke dalam dada Bara, ia butuh seseorang untuk menguatkan hati, ia sungguh takut mengingat kejadian hari ini, dia butuh seseorang yang melindunginya, Tari sungguh menyesal karena bodoh nya mempercayai Tania yang memang sangat membenci nya, ntah apa yang membuat Tania begitu membenci nya sampai ia melakukan hal seperti tadi, jika saja Leo tidak datang tepat waktu, Tari tidak tahu apa yang terjadi padanya saat ini.
Bara membalas pelukan Tari yang membuat nya semakin penasaran apa yang terjadi pada istrinya itu. Namun untuk bertanya saat ini ia merasa tidak tepat waktu nya, karena melihat Tari yang begitu terlihat rapuh tidak seperti Tari yang selalu menantangnya.
"Kamu membasahi pakaian ku." bisik Bara yang merasa baju yang ia pakai basah karena mendengar Tari terisak di dadanya.
Tari mendorong tubuh Bara itu dengan malu. "Pergi sana, aku tidak membutuhkan mu!" usir Tari dengan wajah malu nya.
"Ini bukan toko kue mu, ini kamarku jadi kamu tidak bisa mengusir ku seperti saat kamu mengusir ku tadi pagi." balas Bara dengan tatapan serius.
Tari mencebik sebal. Bara mengusap air mata Tari yang masih membasahi pipinya itu oleh tangan nya dengan lembut.
Tari menundukkan wajahnya, ia malu. "Aku akan istirahat saja." ucapnya dengan merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku akan memelukmu kalau begitu." balas Bara ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh Tari yang masih terasa panas dan dingin.
Tari menerima pelukan Bara dengan pasrah, ia butuh ketenangan dan kekuatan, dan ternyata memeluk tubuh Bara membuat dirinya nyaman dan merasa terlindungi.
*
*
*
__ADS_1
Keesokan harinya. Bara terbangun lebih dulu, ia melihat wajah Tari yang tampak masih pucat lalu Bara menempelkan tangannya pada kening Tari untuk mengetahui bagaimana suhu tubuhnya sekarang ini.
"Syukur lah sudah tidak panas." gumam Bara merasa lega. "Aku akan mencari tahu apa yang terjadi semalam sehingga keadaan nya seperti ini. Kemarin karyawan nya mengatakan jika Tari bertemu dengan saudaranya, bukankah mereka tidak akur? Aku yakin saudara tiri Tari temui pasti artis murahan itu!" batin Bara sangat yakin.
Saat Bara mengusap pipi Tari yang putih pucat, Tari memegang tangan Bara dengan mata perlahan terbuka. Bara terkejut sekaligus malu mengetahui jika Tari sudah terbangun saat ia mengelus nya.
"Su... sudah bangun?" gelagapan Bara bertanya.
"Terima kasih." ucap Tari tulus.
"Aku melakukan ini karena aku tidak mau anak-anak merasa khawatir karena ibunya sakit." jelas Bara cepat dengan kecanggungan nya.
"Apapun alasan mu, terima kasih." ucap Tari dengan senyum lemas nya. Bara terdiam ia bingung harus berkata apa saat seperti ini selalu ada kecanggungan, padahal ia dalam hati sungguh sangat mengkhawatirkannya.
Tari mencoba bangkit dari tidurnya, lalu mengulurkan kakinya ke lantai.
"Mau kemana?" heran Bara.
"Aku mau mandi, lalu menyiapkan sarapan untuk mu dan juga anak-anak." jawab Tari dengan tatapan serius.
"Tidak perlu, kamu masih sakit, istirahat saja!" titah Bara.
"Tapi..." sela Tari.
"Anak-anak sudah tahu kamu sedang sakit jadi mereka pasti mengerti, anak-anak kita adalah anak-anak yang baik." ucap Bara meyakinkan Tari.
Tari mengangguk. "Baiklah, tapi bolehkan aku mandi." ijin Tari.
"Ya sudah, pakai air hangat saja, aku akan siapkan untuk mu." Bara dengan cepat pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk Mentari.
Tari tersenyum melihat sikap baik Bara hari ini, searogannya Bara ternyata dia masih peduli saat dirinya sedang sakit. Tari senang, apa jika sakit terus apa Bara akan memperlakukan nya dengan baik terus?
"Kenapa melamun?" tanya Bara tiba-tiba ada di hadapannya ketika Tari sedang melamun.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Bara kembali.
"Hemmm tidak ada. Apa air nya sudah siap?" Tari pun mengalihkan perhatian nya.
"Aku dari tadi sudah memberi tahu mu jika air mandi nya sudah siap, tapi sepertinya kamu sibuk dengan lamunan mu itu." terang Bara dengan melipat kedua tangannya di dada.
Tari tersenyum kikuk. "Maaf, ya sudah aku akan mandi sekarang." ujar nya.
***
Di kantor kini Bara berada. Ia memerintahkan Al untuk mencari tahu kemana kemarin Tari pergi. Namun sebelum Al mencari ia sudah terkejut saat mendapatkan sebuah kabar dari unggahan Video yang berdurasi 1 menitan.
"Tuan, apa anda sudah tahu kabar tentang nona Mentari?" ucap Al saat mereka ada di ruangan Bara.
"Kabar apa?" Bara tidak tahu kabar itu.
Al menyerahkan handphone nya pada Bara, di sana ada seseorang sudah menyebar luaskan video mesra antara seorang laki-laki dan perempuan. Bara terkejut sekaligus marah karena perempuan itu adalah istrinya sendiri dengan Leo yang sedang berciuman dengan sangat mesra dan begitu menikmati.
Semakin kesal Bara saat ia melihat pakaian yang Tari pakai, ia mengenal pakaian itu, pakaian itu Tari pakai kemarin dan saat pulang Tari sudah berganti pakaian. Jadi kemungkinan kejadian ini terjadi kemarin saat Tari pulang sampai malam dengan kondisi seperti itu, apa saking asyiknya mereka melakukan hal itu sampai Tari demam dan sakit. Bara melemparkan handphone Al yang ia pegang itu, dadanya naik turun menahan amarahnya, kepalanya menjadi panas akibat melihat Vidio itu, sungguh dia merasa bodoh karena semalam ia mengkhawatirkan keadaan Tari, padahal istrinya itu sudah berselingkuh dengan kekasih masa lalunya, terlihat dari ciuman Tari pada Leo yang sungguh sangat liar.
"Berengsek!" umpat Bara dengan berteriak dengan emosi yang memuncak.
"Perempuan murahan!" teriaknya lagi.
"Bodoh kamu Bara!" kesal nya.
Al melihat sikap tuan nya itu sangat marah, sungguh dia sangat menyesal karena memberi tahu kejadian itu, tapi merasa kasian juga jika tuan nya itu tidak mengetahui kejadian ini. "Tenang tuan, mungkin ini ada kesalahpahaman." ujar Al menenangkan Bara.
"Kesalahpahaman apa, ini sudah jelas mereka telah berselingkuh dan perempuan itu menyelingkuhi ku!" kesal nya.
__ADS_1
"Aku akan memberikan pelajaran kepada perempuan itu, dia pikir aku main-main dengan ancaman ku!" ucapnya dengan sangat marah.