Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
sah secara hukum dan agama


__ADS_3

Tanpa berlama-lama lagi Tari mendatangi rumah kediaman ayah dan juga ibu tirinya untuk menanyakan hal yang membuat dirinya sangat terkejut sekaligus penasaran itu.


"Ayah." panggil Tari lembut walaupun ia kesal pada ayahnya tapi Tari sangat mencintai ayahnya yang sedang sakit itu.


"Nak." balas ayah juga dengan lemah.


"Bagaimana keadaan ayah sekarang?" tanya Tari dengan lembut.


"Ayah lebih baik nak, seperti yang kamu lihat sekarang." jawab nya membuat Tari tenang.


Tari tersenyum lembut. "Syukurlah jika ayah lebih baik, aku ikut senang melihat kondisi ayah seperti ini." ucap Tari.


"Ada apa nak?" tanya ayah yang tahu ketika anaknya terlihat murung.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada ayah." ujar Tari dengan kedatangannya ke sini.


"Iya, apa itu nak?" tanya ayah penasaran karena Tari anaknya begitu serius.


"Apa benar ayah menikahkan ku dengan Bara Antonio?" tanya Tari tanpa embel-embel.


"Oh jadi itu yang ingin kamu tanyakan nak." ucap ayah dan Tari mengangguk dengan cepat.


"Iya ayah sudah menikah kan kamu dengan laki-laki yang bernama Bara Antonio." jelas ayah tanpa beban.


"Ayah!" kejut Tari benar-benar tidak menyangka sama sekali.


"Memang kenapa? Dia pacar kamu kan? Ayah melihat dia laki-laki yang baik dan sopan. Dia juga akan bertanggung jawab atas kamu dan juga anak kamu nanti nya." terang ayah Tari.


Tari mundur terhuyung, kakinya lemas tidak berdaya. "Kenapa ayah melakukan hal itu tanpa ada keputusan dariku terlebih dahulu?!" kesal Tari kepada ayahnya.


"Dia laki-laki yang sangat mencintai kamu Tari, dan dia juga tahu jika kamu memiliki anak. Sungguh sulit bagi seorang perempuan di terima oleh laki-laki jika perempuan itu sudah memiliki seorang anak." ayah membela Bara secara tidak langsung.


"Ayah juga terkejut saat dia datang untuk menemui ayah dan berniat menikahi kamu tanpa kehadiran kamu waktu itu. Tapi dia sangat meyakinkan hati ayah dan ayah begitu yakin jika dia memang laki-laki baik."


Tari mendesah frustasi. "Bagaimana caranya dia meyakinkan ayah dengan mudah, dasar laki-laki licik!" batin Tari dengan emosi nya.


"Sudahlah Tari, terimalah pernikahan kamu dengan dia, lagi pula ayah sudah tua, ayah juga sakit-sakitan. Mungkin tidak akan lama lagi ayah akan menyusul ibumu." ucap ayah dengan sendu.


"Tapi ayah ini salah seharusnya ayah memberi tahu aku dulu sebelum ayah menikahkan aku dengan dia, bagaimana pun ini sebuah pernikahan aku tidak mau main-main. Dan ayah jangan mengatakan hal itu lagi! Aku yakin ayah akan sembuh seperti dulu, aku akan terus memberikan pengobatan yang bagus untuk ayah." tekad Tari dengan serius.


"Pernikahan kamu sah secara agama dan hukum karena ayah sebagai ayah kandungmu dan ada dua saksi yang menyaksikan ketika ijab Kabul di lakukan, walaupun tanpa ada kamu saat itu, namun secara agama dan hukum itu boleh di lakukan." terang ayah menjelaskan. "Ayah sudah sakit, walaupun ayah sembuh ayah tidak akan seperti dulu lagi Tari. Ayah ingin ada laki-laki yang menjaga kamu untuk menggantikan ayah nanti jika ayah sudah tidak di samping kamu lagi."


"Ayah sudah! Jangan bicara seperti itu lagi!" cegah Tari tidak mau mendengar ucapan tentang kematian orang yang ia sayangi.


"Maka dengarkanlah ucapan ayah ini. Ini permintaan ayah. Ayah hanya ingin melihat kamu bahagia bersama suami dan juga anak-anak mu." ucap ayah lagi.


"Anak-anak? Ayah apa ayah mengatakan jika aku memiliki anak kembar?" tanya Tari mulai panik.


"Ya, dia memang sudah tahu jika kamu memiliki anak kembar. Tapi sepertinya dia tidak tahu cerita kamu hamil di luar nikah. Karena dia mengatakan jika ayah dari anak-anakmu sudah meninggal." terang ayah membuat Tari merasa lega. "Dan itu alasan dia ingin menikah dengan mu, karena dia ingin menjadi ayah dari anak-anak mu." lanjut ayah memberi tahu apa alasan Bara kepada ayah untuk menikahi Tari.


"Apa dia juga mengatakan atau membicarakan yang lain lagi selain itu ayah?" Tari pun penasaran di buatnya.


"Tidak ada hanya itu, karena dia terlihat terburu-buru, dia akan pergi ke luar negeri, itulah yang membuat dia ingin segera menikah dengan mu." jelas ayah.


"Untung saja dia masih menganggap ayah dari anak-anakku sudah meninggal, itu berarti untuk saat ini aku aman, bagaimana pun dia tidak boleh tahu wajah Langit, karena dia akan menyadari jika aku sudah melahirkan tiga bayi." gumam Tari pelan.


"Kamu bicara apa nak, ayah tidak mendengar nya." ucap ayah.


"Tidak ada ayah." kilah tari cepat.


Selama ini ayahnya tidak tahu jika Tari melahirkan tiga bayi, pada waktu itu yang tahu hanya Omah Mayang yang selalu ada saat Tari menderita.


Tari pun menghela nafas panjang. Ia harus menerima kenyataan nya ini dengan berat hati. Dia harus cari cara agar tidak lagi ada hubungannya dengan tuan batu Bara itu secepat mungkin, dan ayah nya jangan sampai tahu apa rencana Tari selanjutnya, dia hanya akan berurusan dengan laki-laki arogan itu yang kini telah sah menjadi suaminya.


*


*


*


"Hallo, bisa kita bertemu sekarang!" ucap Tari dengan ketus saat ini ia sedang menelpon Bara.


"Wow, apa sekarang kamu mulai merindukan ku?" goda Bara di sebrang sana.

__ADS_1


"Jangan gila, itu tidak mungkin!" balas Tari dengan muak.


"Hahaha akhirnya, saat seperti ini yang saya tunggu." balas Bara terdengar penuh kemenangan.


"Saya akan menunggu anda di cafe ceria." balas Tari tidak mau berbasa-basi.


"Jika saya tidak mau, bagaimana?" lagi Bara pun menggoda Tari.


Terdengar helaan nafas Tari membuat Bara tersenyum simpul. "Jika anda tidak mau, saya tidak akan membuat anda hidup dengan tenang!" ancam Tari terdengar serius.


"Wooow. Itu sangat menakutkan." balas Bara dengan tawa nya meledek. "Baiklah saya takut dengan ancaman mu itu, jadi saya akan datang. Tunggu saja." goda Bara semakin senang di buatnya.


"Dasar bajingan!" umpat Tari kesal seraya menutup teleponnya dengan cepat.


Bara tersenyum sinis menatap layar handphone nya itu setelah Tari memutuskannya secara sepihak. "Aku yang bajingan apa dia yang munafik!" geram Bara penuh kebencian. "Lihat saja kamu akan menderita setelah nanti kamu tinggal di rumah ku, aku akan membuat mu sangat menyesal karena sudah membodohi ku!" lanjutnya dengan tatapan menyeramkan.


***


Tari pun dengan tidak sabar untuk bertemu dengan Bara pun datang lebih dulu ke cafe dimana mereka janji temu. Bukan tidak sabar untuk bertemu Bara karena perasaan cinta namun ingin segera menanyakan apa maksud dia sampai meminta ayahnya untuk menikahi nya.


Banyak sekali yang harus di tanyakan pada Bara, sungguh sangat mengesalkan, memiliki suami yang sama sekali tidak ada rasa cinta di dalam hatinya. Bagaimana bisa jalani sebuah rumah tangga seperti itu.


Tari melihat pergelangan tangannya untuk memastikan jam yang ia pakai berputar dengan cepat, namun tidak ternyata jam yang ia lihat begitu lambat ketika ia sadari.


Tari mendesah panjang secara frustasi, otak dan pikiran nya saat ini benar-benar sangat kacau balau.


"Ayah..." gumam Tari memanggil ayahnya secara frustasi. "Kenapa ayah begitu saja percaya dengan perkataan laki-laki berengsek itu!" umpat Tari kesal mengingat Bara.


Di saat Tari sedang menunggu Bara yang tak kunjung datang, tiba-tiba seorang wanita cantik datang dengan anggun masuk ke dalam cafe itu.


"Nona Tania selamat datang." sapa seorang manager di cafe tersebut.


"Ya terima kasih." balas Tania dengan ramah.


"Saya senang, seorang artis muda dan cantik ini datang ke cafe saya. Mari silahkan nona, pilih dimana anda ingin duduk, saya dan karyawan di sini siap untuk melayani anda sebaik mungkin." ucapnya menawarkan dengan ramah seperti penjilat.


"Terima kasih sebelumnya, saya tadi sedang syuting di daerah sini, mumpung sedang break jadi saya putuskan untuk mampir ke sini." aku Tania mencoba untuk ramah karena dia seorang publik figur.


"Ah kebetulan sekali ya."


"Oh silahkan nona."


Tania pun menyapu semua tempat duduk VIP yang ada di cafe itu, lalu saat ia mencari tempat duduk pun pandangan matanya tertuju pada tempat duduk dimana Tari berada. Namun Tari tidak mengetahui jika di dalam sana sedang ada Tania adik beda ibu itu.


"Saya ingin duduk di sana!" tunjuk Tania dengan mengarahkan telunjuknya ke arah Tari yang duduk berada di luar cafe dengan suguhan pemandangan yang indah di depannya.


"Emh maaf nona, di sana sudah ada yang menempati, bagaimana jika nona duduk di sana saja." tunjuk nya di bagian dalam cafe.


"Saya tidak mau! Saya ingin duduk di sana!" Tania pun kekeh dengan keinginannya. "Kalau tidak, saya akan menyebarkan jika pelayanan cafe ini sangat buruk!" ancam Tania dengan wajah sinis nya.


"Baik-baik, saya akan pastikan anda duduk di sana." ucap sang manager panik.


"Bagus!" sahut Tari merasa senang.


Manager cafe itu pun menghampiri Tari yang masih menunggu Bara yang belum datang.


"Maaf nona, seseorang sudah memesan kursi yang anda duduki, bisakah anda duduk di kursi pengunjung yang lain." ucap sang manager dengan hati-hati.


"Saya sudah lama duduk di sini, kenapa anda baru memberi tahu saya?!" heran Tari dengan nada kesal nya, hatinya yang sedang kesal di tambah dengan kedatangan sang manager membuat Tari pun kesal di buat nya.


"Maaf saya lupa jika kursi ini sudah ada yang memesan." jelas nya meminta maaf.


"Saya malas untuk pindah, saya sedang menunggu teman saya di sini. Saya akan bayar tempat duduk ini!" Tari pun enggan dan malas.


"Tapi nona." ucap sang manager ragu.


"Bagaimana pak, apa saya sudah bisa duduk di sini?" tanya Tania tiba-tiba datang menghampiri manager cafe dan Tari yang sedang berdebat itu.


"Ta... Tania." panggil Tari terkejut melihat Tania ada di sini.


"Jangan sok akrab!" desis Tania dengan sombong.


"Tania, apa kamu lupa padaku? Aku adalah saudara mu." ucap Tari.

__ADS_1


"Aku tidak memiliki saudara seperti mu, minggir aku sudah pesan tempat duduk ini." ujarnya seraya duduk di kursi dengan angkuh.


"Nona sebaiknya anda pindah saja, nona Tania ini langganan cafe saya dan dia juga seorang artis terkenal, tolong jangan membuat keributan di sini." ucap sang manager memihak kepada Tania.


"Sombong sekali kamu Tania." geram Tari melihat arogan nya sikap adik nya kepada Tari.


"Usir dia pak, saya tidak mau melihat perempuan ini." jijik seakan Tari adalah sampah seraya mendorong tubuh Tari dengan sangat kuat.


Namun saat Tari di dorong oleh Tania sampai akan terjatuh ke belakang dan Tari pun tak mampu menahan tubuhnya, tiba-tiba seseorang menangkap tubuh nya yang hampir terjengkang sampai lantai itu dengan sigap dan menahannya dengan kuat.


Seperkian detik Tari menatap wajah yang ada di depan nya itu dengan tubuhnya yang masih tertahan oleh laki-laki yang menolong nya itu, dan laki-laki itu pun sama seperti Tari sama-sama sedang menatapnya.


Hembusan nafas mereka saling beradu dan menyapu wajah mereka.


'Bibir itu' batin Bara melihat bibir Tari yang sedikit terbuka saat ini.


Ya laki-laki yang menolong Tari adalah Bara, laki-laki yang sedang ia tunggu saat ini.


Tari tersadar lalu mencoba bangun untuk berdiri, terasa tidak nyaman saat tubuh nya begitu dekat dengan tubuh Bara saat ini.


Melihat laki-laki tampan yang menolong Tari, Tania pun berdehem melihatnya dengan salah tingkah, Tania tidak tahu jika laki-laki itu sudah menjadi kakak iparnya, karena pada saat Bara menikahi Tari pada saat itu, hanya ada ayahnya saja yang hadir, ntah kemana ibu tiri dan adiknya itu pergi yang jelas mereka tidak mengetahui Tari menikah dengan Bara.


Tari terus menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia kesal pada Tania yang mendorong nya sampai akan terjatuh, jika saja Bara tidak datang tepat waktu mungkin Tari akan kesakitan sekaligus rasa malu karena perlakuan Tania pada nya.


Tania benar-benar jahat, padahal Tari dan Tania itu adalah adik satu ayah, tapi kenapa dia seperti orang lain yang sangat membencinya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bara menatap Tari.


Tari tidak menjawab pertanyaan Bara, ia sudah sangat kesal dengan hari ini, dan kesal juga karena Bara datang dengan terlambat membuat Tari harus menunggunya dan mendapatkan masalah dengan Tania.


"Kamu...!" ucap Tari dengan geram seraya menunjuk dengan jarinya pada wajah Tania dengan kesal.


Tania menatap ke arah wajah Tari seakan ia menantang dengan tatapan sinis nya.


Tari yang malas berdebat dengan adiknya itu pun langsung meraih tasnya lalu melenggang pergi untuk pergi dari cafe itu, tanpa mempedulikan Bara yang sudah datang ke sana untuk menemui nya.


"Tuan apa anda ingin duduk bersama ku?" tawar Tania dengan cepat kepada Bara yang tampan itu.


"Tidak terima kasih." tolak Bara dengan cepat.


"Kenapa?" tanya Tania dengan kecewa yang terdalam.


"Saya sudah memiliki janji dengan seseorang." jawabnya dingin lalu pergi meninggalkan Tania yang menatapnya dengan tatapan kekagumannya.


"Pak manager apa anda tahu siapa laki-laki itu?" tanya Tania penasaran.


"Maaf nona saya tidak mengetahui nya." jawab sang manager karena Bara tidak selalu menampilkan kekayaan nya di depan publik, lebih banyak Al asisten nya yang terlihat di depan layar ketimbang Bara sebagai big bos.


"Anda yakin?" tanya Tania dengan serius.


"Ya saya yakin, mungkin dia hanya pelanggan baru kami." jelas nya.


"Dia laki-laki mempesona." gumam Tania dengan memuji Bara penuh dengan ketertarikannya.


***


"Mentari... tunggu Mentari!" panggil Bara memanggil Tari dengan suara berat nya.


Tari terdiam menghentikan langkahnya yang cepat itu. Dan ia juga merasa asing seseorang memanggil namanya dengan lengkap, ini kali pertamanya juga Bara memanggil namanya.


"Kamu mau kemana, kenapa malah pergi?" tanya Bara heran.


"Satu jam saya menunggu anda. Apa anda tidak merasa bersalah, saya sudah lama menunggu tapi anda seakan merasa tidak memiliki dosa terhadap saya!" geram Tari keceplosan dengan ucapan nya.


Bara tersenyum sinis. "Apa kamu menunggu saya?" goda Bara.


Tari menatap jengah ke arah wajah Bara yang terlihat tengil itu. "Jika saja saya tidak ada urusan penting dengan anda, saya tidak mau bertemu apalagi harus menunggu anda sampai selama itu!" ucap Tari dengan menahan emosi nya yang sedang memuncak.


Plak... Tamparan keras mendarat di pipi Bara sebagai pelampiasan Tari akan kekesalan nya itu.


Bara diam menahan rasa malunya akibat tamparan Tari pada nya itu dengan tatapan yang sulit di artikan oleh orang-orang.


"I hate you!" teriak Tari seraya pergi meninggalkan Bara yang masih berdiri di sana.

__ADS_1


"Ini tamparan yang kesekian kalinya, Mentari. Lihat saja apa yang akan aku lakukan nanti padamu!" batin Bara masih menatap tajam kepergian Tari yang semakin menjauh.


Di tunggu like dan komentar nya ya, biar author nya semangat 😁😁😁😁


__ADS_2