
"Ayok makan lagi." ucap Bara seraya menyuapi makanan ke arah mulut Bintang.
Bintang mendorong makanan yang di sendok itu. "Aku sudah kenyang om." tolak Bintang mendengus kesal. "Aku mau minum om." pintanya lagi.
"Oh kamu mau minum?" tanyanya lalu meraih gelas berisi air putih dan ia berikan pada Bintang dengan menggunakan sedotan.
"Bagaimana sudah lebih baik?" tanya Bara menatap lembut ke arah Bintang.
Bintang tersenyum. "Sudah om, terima kasih." ucapnya pelan.
"Sama-sama nak." balas Bara dengan lembut selalu lembut bila berhadapan dengan anak gadis manis dan imut itu.
Saat mereka sedang bercanda gurau layaknya seorang ayah dan anak gadis, ntah kenapa di antara mereka berdua seperti tidak ada jarak yang menghalanginya, Bintang yang biasa selalu menjaga jarak dengan orang asing terasa nyaman dan seperti tidak ada rasa takut pada Bara dan sedangkan Bara yang biasanya tidak begitu peduli dengan seorang anak kecil bahkan dengan Ken sana seperti ada jarak, namun dengan gadis cilik ini ia merasa sangat senang bila melihat nya tertawa bahagia. Gadis cilik itu hampir mirip dengan Tari, mungkin wajah Tari masih kecil seperti ini, anak perempuan kembar Tari lebih dominan terlihat seperti wajah ibunya.
Mungkin karena darah lebih kental dari pada air seperti itulah hubungan mereka walaupun mereka tidak tahu sama sekali jika keduanya adalah ayah dan anak kandung.
"Bintang ibu datang..." panggil Tari seraya membuka pintu kamar inap dimana Bintang berada. Kedua orang di dalam sana menoleh pada Tari bersamaan.
Namun Tari terkejut melihat pemandangan di dalam ruangan itu. "Tu...tuan sedang apa anda di sini?" kejut Tari dengan kewaspadaannya pada laki-laki didepannya itu.
Bara mendengus kesal. "Untuk apa lagi jika seseorang datang ke rumah sakit? Jika selain menjenguk pasien!" jawabnya dengan ketus.
"Tapi anda tidak perlu repot-repot." balas Tari bingung, mau marah tapi dialah yang mendonorkan darah untuk anaknya, jika dia lemah laki-laki itu membuat Tari selalu darah tinggi.
Tari melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Bintang yang duduk di ranjangnya. Lalu memeluk Bintang dengan posesif, Tari takut dengan kedatangan Bara.
Bara mengerutkan keningnya melihat Tari yang seperti takut padanya. "Saya tidak repot. Memang apa salahnya saya ingin melihat gadis kecil ini." ucapnya lembut menatap ke arah Bintang dengan senyum lembutnya.
"Emh Bintang kamu harus istirahat nak, dokter kan sudah bilang kamu harus banyak istirahat." ucap Tari penuh penekanan agar Bara merasa tersindir dengan kata-kata nya barusan.
"Iya Bu, tapi Bintang bosen sendirian di sini, untung saja ada om Bara yang menemani aku saat ibu pergi." balas Bintang tidak bisa di andalkan.
"Tapi kamu seharusnya tidur, ibu hanya sebentar meninggalkan kamu. Sekarang kamu tidur ya." ucap Tari lembut.
Bintang cemberut namun dia melakukan apa yang di perintahkan Tari padanya.
Lalu Tari menatap ke arah Bara. "Tuan sepertinya putri saya membutuhkan istirahat yang cukup, terima kasih sudah menjenguk putri saya. Dan lain kali tidak usah datang untuk menjenguk Bintang." ujar Tari tegas.
Bara menatap wajah Tari dengan tidak senang, apalagi dengan kata-katanya barusan. Kesal dan kecewa karena sepertinya Tari tidak menyukai kehadirannya di sini.
"Saya kesini hanya ingin melihat Bintang baik-baik saja, tidak ada maksud apa-apa!" ucapnya kesal lalu ia pun melenggang pergi.
Tari menarik nafasnya lega setelah kepergian Bara, lalu melihat ke arah Bintang yang sedang menatapnya dengan tajam. "Kenapa kamu menatap ibu seperti itu?" tanya Tari.
"Kenapa ibu terlihat kesal pada om Bara, padahal dia baik ibu..." rengek Bintang.
"Kamu itu baru saja kenal, jangan terlalu percaya pada orang asing!" tegas Tari berucap.
"Tapi om Bara tadi telaten suapi aku, lihat habis kan!" ucapnya dengan mengarahkan pandangannya pada mangkuk bubur. "Om Bara juga ajak ngobrol aku." jelas Bintang masih kekeh.
"Kamu ngobrol apa saja sama dia?" ucap Tari ketakutan.
"Banyak." jawab Bintang.
"Tentang apa yang kamu bicarakan?" Tari semakin takut.
"Lebih banyak tentang ibu. hehe." jawab Bintang cengengesan.
"Ibu?" tanya Tari kesal dan di angguki Bintang dengan senyum merasa bersalah nya.
"Kamu menceritakan apa saja tentang ibu hah?" Tari dengan marah nya.
"Banyak, aku malas menceritakan ulang pada ibu." ucapnya cuek tanpa ada rasa takut pada ibunya yang sedang marah.
"Bintang...!" geramnya dengan sikap anaknya itu. "Ayok istirahatlah agar tubuh kamu cepat pulih!" titah nya tegas. "Jangan memuji terus orang itu!" kesal Tari.
"Tidak apa-apa Bu, om Bara tampan dia juga baik padaku." puji Bintang seraya mencoba memejamkan kedua matanya untuk beristirahat.
Tari memutar matanya dengan malas mendengar si batu Bara itu di puji oleh putri kecilnya. "Dia sudah meracuni anakku dengan apa sampai Bintang memuji nya seperti itu." kesal Tari di dalam hatinya.
"Aku harus segera membawa Bintang pulang dari rumah sakit ini, agar dia tidak bisa menemui Bintang anakku!" ucap Tari dalam hatinya dengan waspada.
"Hah." Tari membuang nafas nya kasar. "Bagaimana aku mau mendekati nya agar dia menikahi ku. Bertemu saja dengan-nya aku sudah muak!" geram Tari mengingat wajah arogan nya. "Sepertinya rencana untuk menikah dengannya harus aku batalkan." sambung nya.
"Ken... seandainya ibu tidak memberikan kamu pada ayah mu itu, ibu tidak mau berurusan dengannya, ibu sungguh menyesal apa yang ibu perbuat pada mu waktu kecil." lirih Tari sungguh amat menyesal.
"Tapi Kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali bertemu dengannya dan dia juga sering menolong ku. Apa jangan-jangan dia sudah curiga padaku?" pikir Tari. "Ah tidak mungkin dia curiga, toh dia tidak pernah bertemu dengan Langit, jadi tidak mungkin dia curiga padaku." Tari meyakinkan dirinya sendiri.
*
*
*
__ADS_1
Beberapa hari setelah Bara menjenguk Bintang ia terus saja memikirkan bagaimana kondisi gadis cilik itu.
"Ken, kamu sedang apa?" tanya Bara mencoba lebih dekat dengan putranya itu.
"Biasa Daddy, sesuatu yang tidak Daddy sukai." jawab Ken dengan ekspresi datarnya.
Bara menghela nafasnya. "Ken apa Daddy salah jika berharap sesuatu yang baik untuk kamu nantinya? Daddy tidak melarang kamu untuk melakukan apa pun yang membuat kamu senang, hanya saja Daddy tidak suka kamu yang selalu tidak mau bersosialisasi dengan orang. Daddy tahu kamu adalah anak yang cerdas hanya dengan melihat dan mendengar kamu pasti dengan cepat memahami nya, tapi Daddy mau kamu pergi ke sekolah dan memiliki teman di sana agar kamu bisa bercerita dengan teman kamu nantinya." ujar Bara menawarkan agar putranya tidak hanya diam di kamar saja.
"Aku tidak butuh seorang teman, yang aku butuhkan hanya seorang ibu." ucapnya serius.
Bara menarik nafasnya dalam-dalam. "Ken kamu tahu, mencari seorang istri dan akan menjadi ibu mu itu tidaklah mudah bagi Daddy yang sudah memiliki anak." ucapnya.
"Oh jadi aku adalah penghalang bagi Daddy karena Daddy tidak mau menikah sampai saat ini?!" ketus Ken merasa kecewa dengan alasan daddy-nya.
"Bukan seperti itu Ken!" timpal Bara sulit. "Kamu bukan penghalang bagi Daddy, banyak alasan kenapa Daddy tidak segera menikah dan memberikan ibu untuk kamu." ucap Bara menjelaskan. "Daddy tidak mau jika wanita yang akan menjadi istri dan ibu kamu tidak bisa menyayangi kamu dengan tulus." sambung Bara. "Itu alasan Daddy, Daddy tidak mau hanya Daddy yang dia cintai tapi kamu juga sebagai putra Daddy." tambah nya.
Ken terdiam hatinya sedikit terenyuh dengan ucapan Daddy-nya. "Apa benar yang di katakan Daddy itu?" tanya Ken penuh telisik.
"Apa ada kebohongan di mata Daddy?" tanya Bara balik.
Ken menatap mata Bara. "Aku tidak tahu, tapi sebagai bukti aku ingin meminta sesuatu pada Daddy agar aku percaya pada ucapan Daddy itu." jelas Ken meminta sebuah bukti.
"Oke, apa itu?" tanya Bara tidak sabar sekaligus penasaran.
"Aku akan mencarikan Daddy seorang istri yang baik dan ibu yang cocok untuk aku dan pastinya sayang padaku." ujar Ken penuh keyakinan.
"Siapa?" tanya Bara penasaran.
"Nanti Daddy akan tahu, jika tiba saatnya." ucap Ken dengan simpul di bibir nya.
"Jangan sembarangan Ken, Daddy juga ingin perempuan yang Daddy cintai bukan hanya mencintai kamu saja!" rajuk Bara tidak terima.
"Tenang saja Daddy, aku yakin Daddy pasti akan jatuh cinta padanya." balas Ken mantap dengan seringai senyum di bibirnya.
Bara mengerutkan keningnya. Lalu menghela nafasnya pasrah. "Terserah kamu Ken, tapi jika Daddy tidak cocok, maka Daddy tidak akan menerima calon ibu pilihan kamu itu!" seru nya penuh penekanan.
Bara sebenarnya malas untuk mencari seseorang untuk menjadi istrinya, rasa trauma akan kejadian yang di berikan oleh mantan nya membuat Bara tidak berminat untuk mencari istri. Namun karena permintaan putra nya dan memang kedua orang tuanya yang selalu memaksa untuk menikah membuat Bara mau tidak mau menerima tawaran dari Ken, setidaknya jika Ken yang memilih ibu untuk dirinya dia tidak begitu kecewa tidak seperti pilihan dirinya. Bahagia atau tidak bagaimana nanti saja.
"Ya sudah Daddy pergi dulu, jika kamu bisa menerima tawaran Daddy untuk bersekolah di sekolah yang Daddy rekomendasikan, Daddy akan lebih bahagia." jelas Bara meyakinkan Ken.
"Ok, akan aku pikirkan." balas Ken cepat, ia pikir bersekolah bareng dengan Langit akan menyenangkan untuk nya nanti. Seringai senyum terbit di wajah nya.
Sedangkan Bara yang tadinya akan pergi ke kantor saat dia melewati sebuah rumah sakit tempat dimana gadis kecil itu di rawat, ia langsung teringat padanya.
"Pak kita ke rumah sakit dulu!" titah Bara.
Lalu pak Bakri pun langsung membelokkan putaran mobil nya ke halaman rumah sakit.
"Apa anda akan memeriksa keadaan anda tuan?" tanya pak Bakri.
"Tidak, saya ingin menjenguk seseorang." jawab nya.
"Siapa tuan?" tanyanya kepo.
"Pak Bakri tidak usah tahu!" jawab Bara kesal.
"Maaf tuan." jawabnya tidak enak.
Pak Bakri pun tidak bertanya lagi karena mulut nya yang lancang membuat tuan nya terdengar kesal.
Pak Bakri langsung memarkirkan mobilnya dan setelah mobil terparkir dengan baik, Bara langsung turun dan masuk ke rumah sakit tersebut, setelah ia memerintahkan sopirnya untuk menunggu.
Saat Bara sedang berjalan menuju dimana Bintang di rawat, seorang perempuan berlari menuju ke arah nya.
"Mas tolong saya mas." pintanya dengan bergelayut di lengan Bara sedikit menarik tangan Bara yang terbalut jas yang ia pakai.
Bara melepaskan lengannya yang di pegang perempuan itu dengan paksa karena dia begitu risih di pegang oleh perempuan yang sama sekali tidak ia kenali.
"Tolong aku mas..." pintanya lirih.
"Lepas!" ucap Bara kesal. Bukan tidak mau menolong hanya saja tidak perlu untuk memegang lengan bahkan bergelayut manja di tangannya.
"Tolong mas." ucapnya.
"Tolong apa? Tidak usah memegang lengan saya!" tegasnya tidak suka.
"Heh kamu siapa?" tanya seseorang yang terlihat sangat marah dan kesal menatap Bara dengan tatapan tajamnya.
"Saya? Seharusnya saya yang bertanya siapa anda, datang dengan amarah seperti itu?!" kesal Bara heran dengan laki-laki di hadapannya itu kenal pun tidak.
"Anda berani marah setelah merebut istri saya hah?!" geram dengan penuh amarah.
"Maksud anda apa?" tanya Bara bingung.
__ADS_1
"Dia istri saya!" ucapnya dengan menarik tangan perempuan yang meminta tolong padanya dengan kasar.
"Jangan menuduh saya! Saya bahkan tidak kenal dengan dia!" ucap Bara menunjuk perempuan itu dengan ketus.
"Anda jangan mengelak ya! Sudah jelas istri saya berselingkuh dan anda pasti laki-laki selingkuhan nya!" tuduh nya dengan amarah.
Bara tersenyum sinis. "Saya tidak akan melakukan hal serendah itu!" ucap Bara dengan ekspresi dingin.
"Alah sudah ketahuan jangan mengelak lagi!" paksa laki-laki itu membuat Bara malu.
"Untuk apa saya melakukan hal itu, istri saya lebih cantik daripada istrimu ini!" aku Bara berbohong demi harga dirinya. Saat ini banyak orang yang menyaksikan.
"Mana istri mu? Bahkan anda terlihat sendirian di sini. Jangan bohongi saya!" ketusnya.
"Istri sa...saya se... sedang pergi membeli sesuatu." elak Bara gelagapan.
"Anda pasti bohong! Cepatlah mengaku saja! Atau mungkin pihak kepolisian yang akan memeriksa anda. Anda tidak tahu malu merebut istri orang!" tuduh nya yang membuat Bara semakin geram.
"Jangan menuduh ya!" kesal Bara berucap ingin sekali menghajar laki-laki gemuk yang ada di hadapannya itu.
"Saya tidak akan menuduh jika anda bisa membuktikan anda memiliki istri dan membawa nya kesini sekarang!" ancam nya.
"Bagaimana ini aku terjebak, bagaimana aku memperkenalkan seorang istri jika aku tidak memiliki istri." batin Bara bingung.
"Sial! Pagi-pagi sudah mendapatkan masalah seperti ini!" kesal Bara dalam hatinya seraya mencari cara agar terbebas dari masalah ini.
Sementara Tari kini tengah melangkahkan kakinya menuju dimana ruangan Bintang. "Bintang pasti suka donat ini. Hari ini aku akan meminta dokter agar Bintang bisa pulang." gumam Tari dengan senyum mengembang dengan menenteng donat di dalam bungkus bingkisannya. Bintang hari-hari ini sudah mulai membaik kondisinya jadi Tari akan segera meminta dokter mengijinkan anaknya untuk meninggalkan rumah sakit.
Saat terjebak dalam masalah ia melihat Tari melangkahkan kakinya tepat ke arah nya. Senyuman lega agar ia bisa menolong dirinya membuat Bara menyunggingkan senyuman tipis nya.
"Itu dia istri saya!" tunjuk Bara ke arah Tari, sesaat Tari hampir melewati nya, Tari tidak sadar dengan orang-orang yang ramai di depannya, ia fokus pada kesehatan Bintang.
Semua orang yang sedang berkumpul termasuk laki-laki yang tadi menuduh nya pun langsung melihat ke arah dimana Tari yang sedang berjalan.
Tari terkejut melihat tatapan orang padanya, dengan heran namun tidak peduli Tari terus saja melangkahkan kakinya.
Melangkahkan kakinya Bara menghampiri Tari dan mendekati nya. "Sayang kamu lama sekali sih." ucap Bara lembut namun dengan tinggi nya agar terdengar oleh orang-orang, bodo amat dengan harga dirinya pada Tari, hanya dia yang bisa menolongnya. Apa salahnya juga jika Tari membantu nya saat ini toh Bara sering menolong Tari.
Tari terkejut sekaligus menatap tidak mengerti pada Bara. Namun Bara yang di peloti menatap Tari dengan tatapan serius lalu mendekatkan dirinya pada telinga Tari. "Bantu saya!" bisiknya dingin di telinga nya membuat Tari sedikit kesal, meminta tolong namun tetap arogan.
"Ini istri saya! Lihat cantik kan!" tunjuk nya memamerkan Tari pada orang-orang.
"Apa?" ucap Tari terkejut dengan pengakuan Bara lalu menatap nyalang pada Bara.
Bara yang menyadari polotan tidak suka dari Tari langsung merangkul erat pada pinggang nya Tari dan menarik nya untuk lebih dekat dengannya.
Tari semakin tidak suka dengan sikap perlakuan Bara yang seperti itu.
"Kamu mau balas Budi? Diam, bantu saya!" bisik nya lagi membuat Tari langsung terdiam dan Bara semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Tari.
"Benar anda istrinya?" tanya laki-laki gemuk itu dengan menatap pada Tari dengan sebelahnya istrinya yang membuat Bara dalam masalah.
Tari diam tidak menjawab membuat Bara merangkul bahu Tari dengan kuat sebagai ancaman.
"I...iya, saya istrinya." jawab Tari terbata-bata.
"Mana buktinya?! Surat nikahnya!" pintanya dengan paksa membuat Bara dan Tari saling tatap menatap.
Bara memotong tatapan matanya. "Memang nya saya membawa akte nikah setiap saat?!' kesal Bara. "Bukti lain saja!" ucapnya kesal.
"Cium istri anda!" titah nya cepat.
"Apa?!" kejut Bara dan Tari bersamaan.
"Cium bibir istri anda di depan saya dan orang banyak ini agar menyaksikan, ini sebagai bukti anda jika memang anda benar." jelas nya. "Tidak masalah kan jika wanita yang ada di samping anda adalah istri anda." tambah nya.
Bara menelan ludah nya secara kasar, mungkin dulu dia pernah mencium Tari karena tidak sadar saat Tari membuat nya marah namun sekarang pikiran Bara sedang sadar dan sedang tidak kesal kepada Tari.
"Cepatlah saya ingin tahu jika dia adalah istri anda, jika anda berbohong saya akan membawa anda ke polisi karena berselingkuh dengan istri saya!" ancam nya.
"Baik. Saya akan mencium bibir istri saya yang cantik ini." ucap Bara cepat menyanggupi.
Tari menatap Bara dengan panik, dia tidak senang di panggil cantik oleh Bara. "Eh jangan!" teriak Tari mencegah nya.
"Kenapa? Anda istrinya dia kan?" tanya laki-laki gemuk itu dengan heran.
"Sa...saya." ucapnya gugup.
"Sayang tolong ya ikuti apa maunya dia, dia menuduh ku berselingkuh dengan istrinya, padahal kan istrinya dengan kamu lebih cantik kamu sayang." rayu Bara dengan cepat merendahkan diri sendiri pada Tari dengan ucapan penuh ancaman.
"Tapi..." ucap Tari terbungkam karena Bara langsung mencium bibir nya dengan bibir Bara dengan cepat agar Tari tidak terus menolak.
Bara yang sedang sadar mencium bibir Tari merasakan ada sedikit gelenyar aneh yang membuat sesuatu yang ia punya menegang walaupun dia di perhatikan oleh orang-orang nya di sana.
__ADS_1
Ciuman Bara tidak kasar namun sedikit lembut walaupun Tari hanya diam saja tidak membalas ciuman Bara padanya. Tapi Bara adalah laki-laki normal dan Tari perempuan cantik banyak laki-laki yang tergoda oleh Tari yang sudah mulai semakin matang di usianya.
Tidak biasanya Bara merasakan itu, setelah terakhir kalinya ia membuat seseorang mengandung putranya. Bara selalu menyibukkan dirinya untuk menekan rasa hasrat nya dan sekarang Bara merasakan itu kembali, rasa dimana dirinya seakan ingin seperti muda dulu bersama mantan calon istrinya yang kabur.