
Saat Tari keluar dari ruangan dokter ia pun bergegas pulang, namun ia masih bimbang apa Bara harus mengetahui kehamilannya atau jangan. Kehamilan ini ntah anugerah atau musibah bagi nya.
"Aku harus bagaimana ya? Jika mungkin kita memang saling mencintai dengan tulus kehamilan ini membuat ku bahagia, tapi jika Antoni hanya setengah hati padaku kehamilan ini akan membuat ku sulit, aku bukan tidak ingin hamil kembali, masalah nya aku belum begitu mengetahui bagaimana aslinya Antoni." batin Tari dalam kebimbangan.
Tari melangkahkan kakinya dengan langkah pelan, namun ia tidak tahu seseorang sudah mengikutinya.
Tanpa berpikir macam-macam lagi Tari terus melangkahkan kakinya untuk segera kembali ke toko kue lagi.
"Sun sun awas!" teriak Leo dengan sangat keras sehingga membuat Tari membalikkan tubuhnya dan ia melihat seorang laki-laki bertopi dan memakai masker mencoba untuk menusuk nya dengan pisau kecil namun tajam ke arah perutnya.
Saat melihat benda tajam yang laki-laki itu bawa, Tari pun segera menghindari nya. Namun laki-laki itu pun menyerang kembali pada Tari tapi Leo yang berada di sana pun segera menarik pakaian laki-laki itu dari belakang agar tidak terus menyerang Tari.
Laki-laki itu pun menjadi menyerang Leo dan saling memukul.
"Kak Leo hati-hati!" teriak Tari merasa takut terjadi apa-apa.
"Tolong..." Tari pun melonglong meminta bantuan dengan berteriak.
"Aaaaa.... kak Leo..." teriak Tari terkejut melihat Leo sudah terkapar dengan perutnya yang sudah tertusuk pisau tajam itu, sedangkan laki-laki itu melarikan diri dengan para penjaga yang sudah mengejarnya.
"Suster..." teriak Tari. "Kak Leo tahan kak." ucap Tari pada Leo yang menahan rasa sakitnya.
Para suster datang menghampiri untuk membawa Leo ke ruangan gawat darurat. Leo tidak mau melepaskan pegangan tangan nya pada Tari.
"Kak Leo." lirih Tari melihat keadaan Leo saat ini.
Pegangan tangan mereka pun terlepas saat Leo di bawa masuk oleh para suster untuk di tangani. Tari menuggu di luar ruangan dengan rasa cemasnya karena Leo tertusuk karena berniat untuk menolongnya.
"Semoga kak Leo baik-baik saja." gumam Tari begitu cemas.
"Siapa laki-laki itu? Kenapa dia ingin menusuk ku?" ucap Tari dengan rasa takut nya.
Tari terduduk diam, ia benar-benar merasa heran sekaligus merasa takut jika ia mengingat kejadian tadi, jika tadi Leo tidak menolong nya mungkin sekarang dia yang pasti sedang di tangani oleh dokter di dalam sana. Melirik ke arah ruangan gawat darurat, Tari semakin merinding, apa tujuan orang itu, bahkan Tari tidak mengenali laki-laki tadi.
Dering telepon mengagetkan Tari yang sedang memikirkan kejadian tadi dengan tatapan kosong nya.
"Hallo." tanpa melihat siapa yang menelepon nya Tari menjawab panggilan itu dengan suaranya yang pelan dan lemas.
"Hallo apa kamu masih di toko?" tanya Bara yang kini sedang menelpon Tari.
"Tidak." jawab Tari dengan pelan.
"Lalu kamu sekarang dimana? Apa kamu baik-baik saja?" terdengar suara Tari yang sedih membuat Bara merasa cemas.
"Aku di rumah sakit sekarang. A...aku aku sedang menunggu kak Leo yang sedang di tangani oleh dokter." jawab Tari dengan tidak semangat.
"Apa? CK laki-laki itu lagi, aku sudah pernah katakan jangan menemui dia lagi, kenapa kamu masih saja melakukan nya, aku tidak suka!" ujar Bara dengan kesal.
"Ada sesuatu yang terjadi, tapi aku tidak bisa jelaskan lewat telpon." balas Tari dengan pelan ia malas untuk berdebat saat ini.
"Kamu tidak pernah mendengar apa yang aku katakan!" kesal Bara seraya menutup panggilan itu tanpa bicara apa-apa lagi.
Tari menarik nafasnya dalam-dalam. "Dia pasti marah sekali. Tapi maaf Antoni, aku berhutang nyawa pada kak Leo. Dia berkali-kali menolong ku tapi aku tidak pernah membalas kebaikannya. Setidaknya aku menunggu bagaimana keadaan nya saat ini, aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu, tapi tolong untuk saat ini kamu harus mengerti." gumam Tari merasa bingung namun sebagai manusia ia tahu akan balas budi.
"Semoga kak Leo baik-baik saja Tuhan. Aku benar-benar merasa cemas dengan kejadian yang menimpa nya, jika dia tidak menolongku tadi, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa nya." ucap Tari menatap ruangan dimana Leo berada.
***
Dokter keluar setelah ia menyelesaikan tugasnya. Tari yang melihat dokter keluar ia langsung beranjak menghampiri dokter itu.
"Bagaimana dokter dengan keadaan kak Leo?" tanya Tari dengan cepat.
"Apa anda keluarganya?" tanya dokter melihat pada Tari.
"Saya sahabatnya, keluarga mungkin sebentar lagi akan datang." jawab Tari.
Dokter itu pun mengangguk. "Keadaan pasien sekarang baik-baik saja setelah melewati masa kritisnya."
"Syukurlah. Apa saya sudah bisa menjenguknya?" tanya Tari.
"Silahkan, tapi jangan lama-lama dia membutuhkan istirahat, karena kami mengangkat salah satu ginjal pasien karena penusukkan itu mengenai ginjalnya. Jadi anda sebagai orang terdekat dengan pasien harus mengingatkan dia untuk selalu menjaga kesehatan nya yang hanya menggunakan satu ginjal nantinya." jelas dokter itu.
"Kak Leo sampai kehilangan ginjal?" kejut Tari tidak menyangka penusukan itu berakibat fatal bagi Leo, dan itu membuat Tari semakin merasa bersalah.
"Ya, dan sangat rentan bagi orang-orang jika hanya memiliki satu ginjal di dalam tubuhnya. Pasien harus benar-benar menjaga kesehatannya." terang dokter itu lagi.
"Baik dok saya mengerti." balas Tari lemas.
Dokter itu pun pergi meninggalkan Tari, Tari tak mampu mengatakan apapun dia benar-benar merasa sangat berhutang nyawa pada Leo. Leo harus benar-benar menjaga kesehatan nya.
Tari pun mencoba untuk bertemu dengan Leo, Leo pasti akan syok karena kini dia hanya memiliki satu ginjal di tubuhnya.
"Kak Leo." panggil Tari dengan lembut seraya masuk ke dalam ruangan dimana Leo sudah di pindahkan.
Leo tersenyum tipis. "Sun sun kamu masih di sini?" tanyanya dengan wajah yang terlihat sangat pucat.
Tari mengangguk. "Hemmm, bagaimana keadaan kak Leo sekarang?" tanya Tari.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." jawabnya dengan senyuman membuat Tari semakin tidak enak.
"Maaf kak Leo, gara-gara kakak mau menolong ku kak Leo harus masuk ke rumah sakit seperti ini." ucap Tari tidak enak hati. Leo tersenyum.
"Aku juga minta maaf karena kejadian ini, membuat kak Leo..." ucap Tari ragu.
"Membuat aku kehilangan salah satu ginjal ku begitu maksud kamu?" ucap Leo santai melihat Tari yang merasa bersalah.
Tari terdiam sejenak. "Kak Leo sudah tahu?"
Leo tersenyum. "Aku harus tahu dengan keadaan tubuh ku, karena tidak mudah hidup dengan satu ginjal di tubuh, aku harus benar-benar menjaga kesehatan ku, aku pun tidak boleh bekerja terlalu lama, padahal aku sudah terbiasa bekerja." dengan santai Leo berkata.
"Aku akan baik-baik saja Sun sun, kamu tidak perlu merasa bersalah, mungkin ini memang sudah takdir ku harus menjalani hidup dengan satu ginjal di dalam tubuh ku." ucap Leo menguatkan dirinya.
"Maafkan aku kak Leo, ini semua gara-gara aku." lirih Tari merasa berat di hati nya mendengar Leo yang begitu pasrah dan tidak menyalahkan Tari.
"Sudah tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Tidak apa-apa, aku akan menjaga kesehatan ku lebih ekstra nantinya. Ya walaupun tidak akan ada yang mengingatkan aku akan hal itu, karena orang yang berati dalam hidup ku ternyata bukan untukku." ucap Leo menatap wajah Tari dengan tatapan sendu nya membuat Tari yang mengerti siapa yang Leo maksud pun semakin merasa bersalah.
Tari tersenyum pahit, jika saja dia tidak menikah dengan Bara, mungkin Tari akan menerima cinta Leo, namun sekarang berbeda kini ia sudah menjadi istri Bara.
"Kak Leo laki-laki baik, lembut dan juga penuh kasih sayang. Aku yakin suatu saat nanti kak Leo akan menemukan seseorang yang akan mencintai kak Leo dengan tulus." ucap Tari dengan lembut.
Leo tersenyum tipis tanpa menjawab ucapan Tari. Orang akan mudah mengucapkan seperti itu karena tidak merasakan nya sendiri.
'tapi yang aku inginkan adalah kamu Sun sun hanya kamu yang selalu memenuhi ruang hati ku.'
"Apa suami mu tahu kamu ada di sini?" tanya Leo.
Tari mengangguk. "Ya dia tahu. Dia harus tahu." jawab Tari.
Leo tersenyum. "Sepertinya hubungan kalian sekarang sudah berbeda, apa kamu sudah mulai nyaman dengan dia?" tanya Leo dengan nada yang lembut.
"Ya kami sudah lebih baik sekarang, layak nya suami istri pada umumnya." jawab Tari dengan santai.
Leo tersenyum dengan jawaban Tari itu, namun dalam hatinya ia merasa sakit dan ia pun mengepalkan tangannya dengan kuat di balik selimutnya itu.
"Sun sun pulanglah, ini sudah malam, nanti tuan Bara akan marah karena kamu terlalu lama berada di sini, ini akan membuat kesalahpahaman nantinya." ucap Leo.
"Tapi bagaimana dengan kak Leo?"
"Sebentar lagi keluarga ku akan datang, jadi kamu bisa pulang. Tidak apa-apa di sini banyak dokter dan juga perawat." ujar Leo.
"Baiklah, aku akan pulang, besok aku akan datang menjenguk kak Leo lagi." ucap Tari.
"Hemmm. Terima kasih Sun sun perhatian mu berarti untukku." ucap Leo dengan sorot matanya yang lembut.
Setelah berpamitan untuk pulang Tari pun keluar bergegas untuk pulang ke rumah, Leo masih menatap kepergian Tari dengan tatapan yang sulit orang ketahui.
Senyum menyeringai tersinggung di bibirnya, ntah apa yang di rencanakan Leo saat ini. Yang pasti rencana ini harus tertutup dengan rapi. Tiba-tiba dokter yang menangani Leo datang memberikan senyuman yang sama seperti Leo.
*
*
*
Sesampainya di rumah hari sudah gelap karena sudah malam, menunggu Leo di rumah sakit membuat Tari tidak sadar jika hari sudah sangat larut.
Tari memasuki kamar karena di rumah sangat sepi, mungkin anak-anak sudah tertidur, bersyukur karena Tari tidak harus menjawab pertanyaan dari anak-anak.
Di kamar pun sama tidak ada orang membuat Tari bertanya-tanya.
"Kemana dia?" gumam Tari mencari suaminya.
"Ah sudahlah aku mandi saja dulu, tubuh ku lelah dan lengket sekali." akhirnya Tari memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi, Tari masih belum melihat Bara, ia pun mencarinya karena ia ingin menjelaskan apa yang terjadi dan Bara harus mengerti.
Di semua ruangan tidak ada, tinggal satu ruangan yaitu ruangan kerja Bara, namun sebelum kesana Tari membuat kopi kesukaan Bara.
Tari mengetuk pintu ruang kerja Bara namun tidak terdengar suara di sana, dengan memberanikan diri Tari membuka pintu itu dengan perlahan.
Terbukalah pintu itu dan hal yang pertama Tari lihat adalah suaminya yang tengah sibuk dengan laptop yang ada di depan nya, dan satu lagi Bara yang kini memakai kacamata berbingkai emas yang menampakkan Bara terlihat sangat tampan membuat wajah Tari memerah karena suami nya begitu tampan, di bandingkan dengan Leo ketampanan Bara jauh sekali, Bara lebih tampan, namun Leo memiliki kelembutan sebagai laki-laki.
"Boleh aku masuk?" ijin Tari dengan ragu.
Bara tidak menjawab ia kesal pada istrinya itu. Tari menyadari jika suaminya sedang marah padanya.
Tari menyimpan kopi itu karena suaminya diam saja seperti itu membuat Tari bingung.
"Antoni ini kopi kesukaan mu." ucap Tari namun Bara masih diam seribu bahasa.
"Antoni kenapa kamu diam saja? Apa aku mengganggu pekerjaan mu?"
"Jika kamu sadar itu kenapa mesti bertanya." ketus Bara tanpa menatap ke arah Tari.
Tari menarik nafasnya Bara sedang marah saat ini karena ia menunggu Leo sampai malam seperti ini.
__ADS_1
"Baiklah, maaf aku sudah mengganggumu." ucap Tari seraya keluar dari ruangan itu.
Bara membuang nafas nya secara kasar ia kesal kenapa istrinya itu tidak mengerti keinginan nya.
Sudah larut malam Bara belum kembali ke kamar. Tari yang menunggu pun merasa lelah namun ia tahan saja karena Tari ingin bicara dan menjelaskan pada Bara tentang hari ini.
Tak lama Bara masuk ke kamar Tari pun langsung menyambut Bara dengan memeluk tubuh Bara dari belakang.
Bara mematung tidak menolak atau pun membalas pelukan Tari.
"Maafkan aku Antoni." lirih Tari di belakang dengan masih memeluk tubuh Bara.
"Jangan diamkan aku seperti ini, aku memiliki alasan kenapa aku menunggu kak Leo di rumah sakit." jelas Tari tanpa mau melepaskan pelukannya.
Bara masih diam, mau marah ia sudah berjanji tidak akan marah kepada Tari namun hatinya benar-benar kesal.
"Ada seseorang yang ingin menusuk ku di rumah sakit, aku tidak tahu siapa, untung saja kak Leo menolong ku tadi, jika tidak mungkin aku sekarang sudah berbaring di rumah sakit atau bahkan nyawa ku sudah tidak ada." terang Tari dengan bergetar.
Bara terkejut mendengarnya. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Tari yang sedang menunduk itu.
"Apa itu benar?" tanya Bara dengan nada khawatir.
Tari mengangguk membenarkan. "Aku juga terkejut dengan kejadian tadi siang, aku benar-benar merasa tidak memiliki musuh, tapi seseorang ingin menusuk ku. Dia sengaja atau tidak aku tidak tahu." terang Tari dengan ketakutan.
Bara memeluk Tari. "Aku akan mencari tahu siapa orang yang berani mencoba untuk menyakiti mu." ucap Bara dengan mengusap punggung Tari. "Tunggu! Untuk apa kamu ke rumah sakit?" Bara pun penasaran.
'apa aku harus memberi tahu tentang kehamilan ku padanya.'
"Untuk apa kamu ke rumah sakit dan kenapa ada laki-laki itu di sana? Apa jangan-jangan kalian sudah janjian?" Bara pun menjadi kesal kembali mengingat kenapa mereka bisa bertemu.
"Sebentar." ucap Tari melepaskan pelukannya ia harus menjelaskan sejelas-jelasnya pada Bara agar tidak salah paham.
Tari pun mengambil hasil USG dan surat tanda jika dia sedang hamil untuk di berikan kepada Bara, terserah bagaimana nantinya Bara yang terpenting saat ini tidak ada kesalahpahaman di dalam hubungan mereka.
"Ini lihatlah." ucap Tari menyerahkan nya.
Bara menerima nya dengan bingung. "Apa ini?"
"Lihat saja. Kamu ingin tahu kan kenapa aku ke rumah sakit siang tadi." ujar Tari.
Bara melihat hasil rumah sakit dan USG itu. Lalu menatap Tari dengan tatapan bahagia nya.
"Ka...ka... kamu hamil?" tanya Bara gagap.
"Seperti yang kamu lihat di sana." sahut Tari santai.
"Hahaha yes akhirnya... hahaha." tawa Bara menggema di sana.
"Kenapa kamu malah tertawa?" sebal Tari.
"Aku bahagia." jawab Bara dengan senang ia pun jadi mengingat pil yang di tukar itu.
"Untung saja aku menukar pil itu." celetuk Bara tidak sadar.
"Pil apa maksud mu?" sarkas Tari dengan tatapan tajam.
"Hemm tidak." kilah Bara dengan santai.
"Apa yang kamu lakukan hah?" tatap Tari tepat pada wajah Bara.
"Aku menukar pil KB yang akan kamu minum dengan pil suplemen makanan." terang Bara dengan santai.
"Jadi kamu yang....? Hah benar-benar."
"Kenapa? Kamu berani berniat untuk menunda kehamilan tanpa seijin dari ku, kamu tidak tahu aku ini siapa, berani sekali!" sebal Bara mengingat itu.
"Hehehe maaf Antoni, aku kan belum siap untuk hamil kembali, apalagi aku belum merasa yakin jika kamu benar-benar mencintai ku." ucap Tari dengan lemah.
"Apa yang membuat mu tidak yakin hah?!" kesal Bara. "Aku tulus mencintaimu, dan satu lagi jangan bertemu lagi dengan laki-laki itu!"
"Tapi Antoni..." sela Tari.
"Ayok kita tidur! Ibu hamil harus banyak istirahat." ajak nya tanpa mau mendengarkan ucapan Tari itu. Bara terus saja menarik tangan Tari agar mengikuti nya.
"Tapi..." ucap Tari lagi.
Tanpa berkata apa-apa lagi Bara menarik tubuh Tari ke dalam pelukannya menyelusupkan kepalanya ke dalam dadanya dan ia peluk dengan erat.
"Antoni..." panggil Tari dalam dekapan Bara itu.
Bara tidak menjawab. "Antoni..." lirih Tari kembali.
Cup satu kecupan pada bibir Tari. "Tidur sudah malam!" ucapnya lembut namun terdengar tegas tak mau terbantahkan. Dengan memejamkan matanya Bara memeluk kembali Tari, namun Bara kembali terjaga.
"Aku berjanji kehamilan mu ini aku akan memberikan apa yang kamu butuhkan.'' batin Bara mengingat kehamilan pertama Tari ia tidak pernah melakukan hal yang membuat Tari bahagia namun kini ini kesempatan baginya untuk membayar apa yang dulu belum pernah ia lakukan.
"Siapa yang ingin mencoba menyakiti istri ku, apa dia Tania? Atau?" batin Bara dengan geram.
__ADS_1