
"Tolong...." teriak Tari terus menerus dengan lelah ia terus berlari dan berteriak dan memang sangat sepi di jalanan itu.
"Tuan apa anda mendengar suara perempuan yang meminta tolong?" tanya pak Bakri kepada tuannya yang sedang sibuk memeriksa sebuah laporan yang di berikan oleh Alvaro asistennya.
Bara baru saja selesai dari beberapa agenda yang menguras tenaga serta pikiran nya. Bara memerintahkan pak Bakri untuk mencari jalan yang tidak macet agar sampai rumah dengan cepat. Sedangkan Alvaro ia masih dinyatakan tugaskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, jadi jalanan yang mereka lewati pun berbeda arah.
"Mana ada seorang perempuan di jalanan sepi seperti ini." jawab Bara tanpa mengalihkan pandangan ia masih fokus dengan laporan yang ada di tangan nya.
"Apa saya salah dengar ya." gumam pak Bakri. "Apa jangan-jangan suara itu suara perempuan jadi-jadian." pak Bakri pun bergidik ngeri dan beberapa kali mengusap lehernya yang bulu nya tiba-tiba meremang.
"Pak Bakri masih percaya saja dengan hal seperti itu." sahut Bara dengan gelengan kepala nya.
"Tapi ya ngeri saja tuan, apalagi jalanan ini sangat sepi dan pencahayaan nya juga kurang." ujar pak Bakri semakin meremang.
"Aaaa." teriak Tari ketika dua penjahat itu mendapatkan nya.
"Tolong... lepaskan! Saya mohon lepaskan." teriak Tari semakin ia keraskan volume suaranya siapa tahu ada yang mendengar teriakannya. Walaupun Tari tidak begitu yakin karena di sana sangat sepi. Tari sungguh sangat menyesal ia tidak besok saja menemui pelanggan yang ingin membeli kue nya jika tahu akan begini.
"Tuan teriakan nya semakin kencang." ucap pak Bakri menjadi penasaran.
Bara tidak menghiraukan walaupun ia sedikit m mendengar teriakan seorang perempuan.
Para penjahat itu pun berniat membawa Tari ke tempat yang paling sepi. "Diam elu, kita akan ajak elu bersenang-senang setelah elu menyenangkan kita hahaha." goda para penjahat itu membuat Tari semakin takut.
"Saya sudah memberikan harta benda yang saya miliki kenapa kalian membawa saya." Isak Tari.
"Elu tahu apa kesalahan elu? Karena elu itu sangat cantik dan sayang kan kalau kita biarkan kecantikan elu untuk tidak kita nikmati malam ini." ucap para penjahat itu.
"Tolong lepaskan saya... saya mohon..." ucap Tari dengan memohon agar di lepaskan.
"Terus lah merengek, semakin elu merengek semakin kita tidak akan melepaskan elu begitu saja!" ancam nya membuat Tari langsung terisak ketakutan.
Mereka pun menyeret Tari dengan paksa. "Tolong.... siapa pun tolong saya..." teriak nya.
"Percuma elu teriak di sini gak akan ada yang mendengar teriakkan elu!" ucap sangat puas.
"Sepertinya elu bukan orang sini ya, selain elu cantik kayak artis elu juga berani jalan sendiri di jalanan seperti ini." ucap salah satu penjahat.
Niat hati setelah taksi yang ia tumpangi mogok, Tari yang ingin sekali cepat pulang tidak sabar untuk mencari kendaraan, namun sayang Tari kemalaman dan ia tidak begitu tahu kondisi jalanan sepi seperti ini.
"Tolong..." dengan sekuat tenaga Tari berteriak dan mencoba melepaskan diri dari para penjahat itu namun tenaganya yang kecil melawan dua laki-laki yang sangat kuat membuat Tari tidak bisa terlepas dari mereka.
"Mau kabur! Jangan mimpi!" ejeknya.
"Tolong..." dengan sisa suara yang ia miliki Tari terus berteriak.
"Tunggu pak!" seru Bara seraya mendengar sayup-sayup suara perempuan yang meminta tolong.
"Sepertinya memang ada perempuan yang meminta tolong, hentikan mobil nya!" titah Bara cepat.
Mobil pun pak Bakri hentikan, lalu mereka mencari arah suara itu dan semakin jelas memang terdengar.
"Tuan itu! Dua orang memegang perempuan itu di tempat gelap seperti ini. Mereka pasti akan berbuat jahat pada perempuan itu." ucap pak Bakri melihat ke depan dan terlihat dari orang-orang itu membelakanginya.
Bara melihatnya. "Iya seperti nya mereka akan berbuat jahat, saya akan memberikan mereka pelajaran!" geram Bara sangat kesal melihat kejahatan di depan matanya, namun Bara tidak tahu jika perempuan itu adalah Tari.
"Tuan yakin?" tanya pak Bakri.
"Kenapa, ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Lebih baik hubungi polisi agar cepat datang kesini." titah Bara cepat.
"Baik tuan, anda harus berhati-hati melawan penjahat itu." ucap pak Bakri merasa khawatir ada apa-apa dengan tuannya sedangkan dirinya memang sudah berumur tidak sanggup jika untuk berkelahi.
Pak Bakri langsung menghubungi polisi, sedangkan Bara ia langsung menghampiri para penjahat itu.
"Tolong..." Tari masih berteriak karena ia sempat melihat sebuah cahaya mobil yang akan melintasi jalan ketika ia di tarik paksa oleh para penjahat itu.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan!" suara bariton Bara terdengar begitu keras membuat para penjahat itu menghentikan langkahnya.
"Bedebah!" umpat nya kesal. "Siapa yang berani mengganggu kesenangan kita!" ucapnya geram.
Mereka berputar mengarahkan tubuh mereka dan Tari yang mereka pegang menghadap ke arah dimana suara itu berada.
"Kalian memang benar-benar bejad!" ucap Bara dengan tatapan kesal.
"Tolong saya tuan." ucap Tari memelas.
Bara menatap perempuan yang meminta pertolongan nya. "Perempuan itu!" kejut nya. "Kenapa dia berada di sini?" tanyanya dalam hati.
"Lepaskan perempuan itu!" ucap Bara dengan tegas dan tidak ada rasa takut.
"Apa lepaskan?! Langkahi dulu mayat kita berdua!" tantang nya.
Bara menatap tajam ke arah para penjahat itu.
Lalu para penjahat itu pun menyerang Bara dengan pisau tajam yang mereka bawa.
Bara pun tidak tinggal diam ia pun mencoba menghindari pisau tajam itu, sekali dua kali Bara bisa menghindarinya, namun saat ketiga kalinya Bara yang sedang melawan satu lawan dua dengan para penjahat itu mendengar teriakkan Tari.
"Awas tuann! Di belakang anda..." teriak Tari saat ia melihat salah satu penjahat itu akan menusuk belakang tubuh Bara, namun terlambat Bara yang sedang melawan penjahat satunya di depannya membuat Bara tidak bisa menghindari penusukan itu. Dan Blep satu tusukan pisau tajam mengenai pinggang Bara dan itu sangat tajam.
"Rasakan!" ucap penjahat itu tidak ada belas kasih.
"Tuannn." Tari sangat terkejut melihatnya.
Suara mobil polisi datang ke sana, polisi yang sedang berpatroli di daerah sana jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk datang, namun terlambat karena Bara sudah tertusuk pisau tajam.
Dua penjahat itu akan kabur melarikan diri setelah ia mencabut pisau tajam yang tadi ia tusukan pada bagian pinggang Bara.
"Kejar mereka!" suara polisi menginterupsi, dua orang polisi itu pun berlari mengejar dua penjahat itu. Sedangkan polisi satunya melihat keadaan korban.
Tari berlari menghampiri Bara yang tergeletak di tanah dan darah mengalir di bagian tertusuk itu. "Tuan." lirih Tari dengan takut.
"Ayok kita bawa ke rumah sakit!" ucap pak Bakri.
"Anda bisa membawa korban?" tanya polisi itu pada pak Bakri.
"Bisa pak." jawabnya dengan cepat.
"Baik saya akan memanggil ambulance." ucapnya.
"Tidak usah pak saya sopir pribadinya, jika menunggu ambulance datang itu terlalu lama." tolak nya sopan karena ia melihat tuannya bersimbah darah.
"Tuan." panggil Tari dengan suara bergetar.
"Ayok saya bantu." tawar pak polisi itu dengan cepat membawa Bara ke dalam mobilnya.
"Nona ayok ikut saya, anda duduk di belakang tolong jaga tuan saya." ucap pak Bakri.
"Baik." jawab Tari cepat naik ke dalam mobil dan membuka pintu mobil itu agar Bara bisa mereka masukan kedalam mobil.
Dengan pelan Bara pun masuk ke dalam mobil, ia masih bisa jalan namun dengan pelan karena darah yang keluarkan begitu banyak membuat dirinya lemas.
Bara setengah sadar namun ia begitu lemas membuat dirinya tidak bisa duduk, lalu Tari yang duduk di sampingnya mengarahkan tubuh Bara agar tidur dengan kepala nya di atas paha Tari sebagai bantalan.
Bara menahan luka tusukan yang begitu dalam dengan tangan nya agar darah tidak terus keluar, dengan matanya yang terpejam.
"Tuan anda harus kuat." ucap Tari seraya membuka cardigan berbahan lembut itu untuk menutup darah yang terus keluar dari luka tusukan itu.
"Tuan bertahan lah." gumam Tari pelan penuh dengan ke khawatiran nya.
Tari terus mengusap kepala Bara dengan tangan kirinya dengan lembut agar Bara selalu sadar walaupun begitu lemah, sedangkan tangan kanannya Tari menahan luka yang terus merembes pada cardigan yang ia korbankan. Kepala Bara dengan posisi menghadap pada perut Tari membuat dirinya nyaman tanpa ia sadari kepalanya menelusup lebih dalam pada perut Tari.
__ADS_1
"Pak bisa cepat sedikit!" ucap Tari dengan panik.
"Sebentar lagi sampai, nona." balas pak Bakri ia juga merasa panik.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit, dan Bara pun dengan cepat di bawa oleh para medis untuk segera di tangani.
Tari mondar-mandir, ia khawatir terjadi sesuatu pada laki-laki itu, bukan tanpa sebab, sebagai orang yang sudah menolong nya dan Bara adalah ayah biologis anak kembarnya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Bara, Ken akan hidup bersama siapa dan Tari akan merasa bersalah karena dirinya lah penusukan ini terjadi akan dia berniat menolong Tari.
"Emh pak, apa saya boleh meminjam handphone bapak, saya mau mengabarkan keluarga saya di rumah." ujar Tari saat ia mengingat jika dirinya belum mengabarkan pada Omah Mayang. "Handphone saya di bawa para penjahat tadi." tambah nya.
"Oh silahkan." ucapnya seraya memberikan handphone itu dengan cepat.
Tari meraih handphone itu lalu memanggil nomor yang ia hapal di luar kepala. Setelah panggilan itu di jawab Tari langsung berbicara. " Hallo omah, ini aku Tari." Tari menceritakan tentang kejadian yang menimpanya dan membuat omah Mayang begitu terkejut sekaligus khawatir.
"Titip anak-anak ya Omah, berikan pengertian pada mereka." ujar Tari.
Setelah selesai menelpon Tari pun mengembalikan handphone itu pada pak Bakri.
"Terima kasih pak." ucapnya.
"Sama-sama nona." jawab pak Bakri dengan kerutan di keningnya melihat perempuan di hadapannya itu begitu khawatir pada Bara tuan nya.
Tak lama para polisi menghampiri Tari dan pak Bakri di sana yang sedang menunggu.
"Selamat malam pak, nona. Kami sudah menangkap kedua penjahat yang sudah berbuat jahat kepada anda, dan kami menemukan tas ini dari para penjahat itu. Apa ini tas anda nona?" tanya pak polisi itu dengan sopan.
Tari menerima tas dari pak polisi itu, di lihatnya isi tasnya masih utuh tidak kurang satu pun. "Iya pak, ini tas saya." aku Tari membenarkan.
"Baik kalau begitu kami akan meminta Anda sebagai saksi atas kasus perampokan anda, pencobaan pemerkosaan dan kasus penusukan atas tuan Bara. Mereka akan mendapatkan hukuman berlapis karena perbuatan mereka." jelas pak polisi itu.
"Baik pak saya mengerti." jawab Tari mengangguk.
"Bagaimana keadaan tuan Bara sekarang?" tanya pak polisi.
"Masih dalam perawatan dokter dan tim medis." jawab pak Bakri cepat.
"Baik, nanti setelah tuan Bara sudah bisa di ajak bicara kami akan kembali untuk meminta informasi sebagai bukti." ujarnya pak polisi.
"Baik pak nanti akan saya sampaikan pada tuan Bara dan asisten nya." jawab pak Bakri.
Para polisi itu pun mengangguk mengerti. "Kalau begitu kami permisi." pamitnya dan di angguki oleh keduanya.
Saat Tari dan pak Bakri saling terdiam. Dokter yang menangani Bara pun keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana Dok?" tanya Tari dengan cepat menghampiri dokter itu.
"Apa anda istri dari tuan Bara?" tanya dokter itu.
"Emh... sa... saya rekan nya." jawab Tari ambigu.
"Oh saya kira nona istri tuan Bara. Maaf." ucap nya tidak enak. "Mohon maaf saya ingin berbicara dengan keluarga pasien." sambung nya sopan.
"Tidak apa-apa dok." seru Tari tersenyum kaku.
"Dimana keluarga tuan Bara?" tanya dokter itu.
"Saya. Saya asisten tuan Bara." teriak Al dengan berlari kecil menghampiri dokter.
"Oh, mari ikut ke ruangan saya." titah nya.
"Emh baik." jawab Al sekilas melirik ke arah Tari yang berpakaian penuh dengan darah. Al merasa wajah perempuan di hadapannya itu tidak begitu asing.
"Tenang saja, tuan Bara akan baik-baik saja." ujar pak Bakri pada Tari yang terlihat sangat mengkhawatirkan tuan nya itu.
Tari tersenyum tipis. "Semoga tuan Bara baik-baik saja dan cepat pulih." doa Tari penuh harap.
__ADS_1
"Aamiin." balas pak Bakri dengan tulus.