
"Tari apa yang telah terjadi?" tanya Omah Mayang khawatir setelah melihat Tari pulang.
Tari menduduki sofa yang ada di sana, sebelum ia menceritakan bagaimana kronologi kejadian yang menimpa nya itu, Tari menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu setelah ia merasa sudah siap ia pun menceritakan kejadian itu.
"Ah Tari, omah khawatir sekali saat kamu terlambat pulang, tapi syukurlah kamu tidak apa-apa." ujar omah begitu lega mendengar cerita Tari.
"Ya untung saja ada dia yang menolong aku omah." sahut Tari penuh kelegaan.
"Dia? Dia siapa Tari?" tanya omah penasaran.
"Laki-laki itu, ayah kandung dari anak-anak ku." lirih Tari.
Omah terkejut. "Jadi laki-laki yang sudah menolong kamu dan kamu bilang tertusuk saat menolong kamu itu adalah tuan Bara?" tanya Omah tidak menyangka.
Ken yang baru saja bangun dan akan membawa minum tidak sengaja mendengar pembicaraan itu dengan terkejut. "Daddy...? gumam Ken dengan menutup mulutnya.
Tari mengangguk lemah. "Iya Omah."
"Omah, aku bingung harus bagaimana sekarang, aku masih sangat membenci laki-laki itu dan ingin sekali menghindari nya, tapi... setelah dia menolong ku, aku harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan padaku. Aku sungguh sangat berterima kasih pada Tuhan karena ada yang menolong ku di saat kejadian itu, namun kenapa harus laki-laki itu yang menolong ku." lirih Tari tidak berdaya.
Omah mengusap punggung Tari dengan lembut, Omah paling tahu bagaimana perasaan Tari yang sebenarnya. "Tari... Mungkin Tuhan sedang merencanakan sesuatu untuk kamu, bersabar lah Tari, semua itu akan kamu lewati. Percayalah kamu pasti bisa melewati ini semua dengan baik." ujar Omah menenangkan.
"Setiap aku bertemu dengan nya, mengingat kan aku pada rasa sakit yang pernah aku rasakan dulu." ucap Tari pelan dengan tatapan menerawang ke masa lalu yang ia lewati.
"Ya, omah mengerti dengan perasaan kamu Tari, tapi sebenci apapun kamu terhadap nya dia tetap ayah dari ketiga anak kembar mu." ucap omah lembut.
"Ya aku mengerti omah, tapi aku belum siap jika laki-laki itu tahu yang sebenarnya, apalagi dengan kebohongan yang telah aku lakukan." balas Tari resah.
Deg... jantung seseorang yang tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Tari dan omah membuat nya semakin terkejut dengan pernyataan lain yang ia dengar kembali dari mulut keduanya. "Jadi... ibu memiliki anak kembar tiga?" batin nya. "Berati aku memang anak ibu, aku, Bintang dan juga Langit adalah saudara kembar." gumamnya pelan. "Berati benar dugaan ku, aku adalah anak ibu Tari." gumamnya dengan senyuman menyungging.
"Aku harus bertemu dengan Daddy, aku ingin tahu bagaimana keadaannya. Walaupun Daddy tidak peduli padaku tapi aku sangat menyayangi nya." lirih Ken dengan sendu.
"Tapi bagaimana aku bisa bertemu dengan Daddy, aku yakin Langit pasti ada di rumah, aku akan mencoba menelpon bibi Milah." batin Ken.
"Langit!" panggil Tari dengan terkejut, ia takut jika Langit mendengar pembicaraan dirinya dengan omah tadi. "Ka... kamu sudah lama di sana?" tanya Tari cemas.
Ken yang sama terkejut seperti Tari pun menjawab dengan gugup. "A... aku baru kok ibu." kilah Ken. "Ibu baru pulang ya?" tanya Ken cepat.
Tari menghela nafasnya dengan lega karena ia percaya jika anaknya baru melihat dirinya pulang. "Iya sayang, maaf ibu tidak ada di rumah semalam, kamu dan Bintang baik-baik saja kan?" tanyanya.
"Ibu tidak usah khawatir, aku dan Bintang baik-baik saja kok kan ada omah juga. Bintang sedang di kamar, siap-siap untuk berangkat sekolah." jelas Ken.
"Emh baiklah kalau begitu. Ibu ke kamar dulu ya." ucap Tari seraya beranjak pergi.
"Tunggu Bu." cegah Ken cepat.
"Ada apa sayang?" tanyanya.
"Emh. A..aku boleh tidak pinjam handphone ibu sebentar saja." pintanya hati-hati.
"Untuk apa nak?" tanya Tari heran.
"A...aku cuma mau telpon teman ku." jelas Ken.
"Teman? Siapa?" tanya Tari lagi.
"Emh... Edo." jawabnya cepat.
"Oh. ini." serah Tari menyerahkan sebuah handphone pada Ken.
Ken pun langsung dengan cepat meraih handphone itu. "Ya sudah ibu ke kamar dulu untuk siap-siap mengantar kalian ke sekolah." ijin Tari.
"Iya, aku pinjam sebentar ya Bu handphone nya." ucap Ken dan di angguki oleh Tari.
Setelah Tari pergi, Ken merasa lega, ibunya tidak curiga, untung saja ia ingat teman Langit yang bernama Edo itu.
Ken pun melangkahkan kakinya ke luar untuk menelpon ke nomor bibi Milah. "Kemana sih! Kenapa tidak di angkat!" kesal Ken saat panggilan telepon nya tidak di jawab-jawab.
"Hallo bi Milah!" ucap Ken cepat saat panggilan nya di jawab.
"Ini siapa ya?" tanya bibi Milah di sebrang sana.
"Emh... Aku teman Ken, bisa bibi panggilkan sebentar." ucap Ken hampir lupa jika dirinya sekarang sedang menjadi Langit.
"Teman den Ken?" tanyanya bingung, karena setahu bi Milah anak majikannya itu tidak memiki seorang teman.
__ADS_1
"Ah iya aku lupa kalau tidak pernah memiliki seorang teman." batin Ken merasa sedih. "Aku iri dengan mu Langit." sambung nya merasa sedih.
"Hallo. Hallo." bibi Milah memanggil-manggil.
"Ya... ya hallo. Katakan saja aku ingin bicara dengan nya sebentar." ucap Ken.
"Oh maaf, saya tidak di perbolehkan untuk sembarangan orang berbicara dengan majikan saya, maaf." ucap bi Milah.
"Bilang saja aku Langit, teman Ken. Ayok lah bi bantu aku. please..." pintanya penuh harap.
"Maaf, rapi den Ken sedang menjalani hukuman dari tuan Bara, Daddy-nya." ucap bibi Milah.
"Di hukum kenapa?" tanya Ken cepat.
"Ah maaf saya tidak bisa menjelaskan itu semua." tolak bibi.
"Oh ya ampun, pasti dia di hukum Daddy karena kemarin melarikan diri." gumam Ken pelan.
"Apa ya, saya tidak bisa mendengar pembicaraan anda tadi." sahut bibi Milah.
"Tidak ada, bibi tolong lah aku ingin bicara sebentar dengan Ken." pinta Ken tidak sabar.
"Ya sudah sebentar saya akan ke kamar den Ken terlebih dahulu." ucapnya.
Tak lama Langit yang bingung dengan siapa yang mencarinya pun menerima panggilan dari Ken.
"Hallo." ucap Langit.
"Hallo La...Langit." balas Ken merasa kaku mendengar suara yang mirip dengannya.
"Kamu siapa? Kenapa mencari ku?" tanya Langit dengan bingung.
"Aku Ken, saudara kembar mu." ucap Ken tanpa basa-basi.
"Saudara kembar? Apa maksudnya? Saudara kembar ku seorang perempuan." jelas Langit tidak terima. "Oh jangan-jangan kamu yang mirip dengan ku, gara-gara kamu aku jadi tidak bisa keluar dari rumah mu, Daddy mu menghukum dan mengurung ku karena dia pikir aku adalah kamu!" kesal Langit.
"Sepertinya kita harus bertemu." ucap Ken.
"Bagaimana bisa kita bertemu?!" tanya Langit dengan kesal, untuk kabur dari rumah besar ini saja dia tidak bisa karena masih dalam masa hukuman yang jelas tidak ia mengerti sama sekali.
"Ah iya kamu sedang di hukum oleh Daddy ku." gumam Ken baru mengingat. "Coba kamu cari cara apa saja yang bisa membuat kamu di ijinkan untuk keluar." ujar Ken.
"Ayolah cari cara, aku ingin bertemu dengan Daddy, aku dengar dari ibu kalau Daddy ku tertusuk oleh orang saat Daddy menolong ibu." jelas Ken merasa khawatir.
"Tuan galak itu tertusuk? Aku tidak tahu hal itu terjadi." balas Langit tidak tahu.
"Begini saja, bagaimana jika kita bertukar kembali, ya walaupun aku lebih senang menjadi kamu dari pada menjadi aku yang sebenarnya." tawar Ken pada Langit.
"Oh aku kesal pada mu, gara-gara wajah kita yang mirip membuat aku terkurung seperti burung, dan Daddy mu sangat galak sekali. Kita memang harus bertukar kembali dengan kehidupan kita masing-masing." ucap Langit tidak sabar.
"Hei Daddy ku galak juga Daddy mu sendiri. Dan ya jelas kita mirip, aku dan kamu itu saudara kembar. Begini saja kamu minta ijin pada asisten Daddy untuk melihat Daddy di rumah sakit, terserah bagaimana caranya kamu agar kita bisa bertemu di sana, aku tunggu di rumah sakit tempat Daddy di rawat." ucap Ken cepat dan langsung memutus panggilan telepon itu, karena ibunya sudah memanggil namanya.
"Sayang apa kamu sudah selesai menelpon?" tanya Tari.
"Ah i...iya sudah, ini Bu handphone nya." serah Ken pada Tari dengan gugup. "Terima kasih ibu." sambung nya.
"Ok. Ayok siap-siap, kita akan berangkat sekolah." ajak Tari.
Sedangkan Langit yang berada di kamar Ken tampak bingung dengan apa yang katakan oleh orang yang menelponnya itu, apa dia harus percaya atau tidak. Tapi Langit benar-benar merindukan keluarganya, karena ia bukan Ken yang mengaku sebagai saudara kembarnya.
"Kembar? Mana mungkin aku kembar dengan Ken." ucapnya seraya menatap foto yang sangat mirip dengannya. "Tapi memang aku sangat mirip dengannya. Apa maksudnya ini?" Langit semakin bingung dengan apa yang di katakan oleh Ken tadi saat di telpon.
"Ah nanti saja aku akan cari tahu, yang paling penting sekarang aku harus keluar dari istana yang terasa penjara ini." gumam Langit dengan semangat. "Aku harus bicara dengan asisten tuan galak itu, dan meminta dia mengantarkan ku ke rumah sakit dimana tuan galak itu di rawat." sambung Langit.
Langit pun mencari nomor asisten Bara di handphone pembantu nya itu dan disana ada nomor pak Alvaro dan Langit yakin jika itu nomor asisten tuan Bara.
Beberapa saat telpon pun terjawab, Alvaro sempat terkejut saat ia berbicara dengan tuan mudanya itu, karena dari mana anak tuan nya tahu apa yang terjadi pada tuan Bara, namun dengan penjelasan Langit yang begitu cerdas mencari alasan tanpa ada kegugupan akhirnya Alvaro pun mengijinkan nya untuk datang menjenguk tuan Bara setelah mendapatkan ijin dari nya, akhirnya Langit pun di antar oleh pak Bakri sopir pribadinya.
"Akhirnya aku bisa keluar juga." batin Langit merasa senang.
"Den Ken, dari mana den Ken tahu jika tuan Bara masuk ke rumah sakit?" tanya pak Bakri heran.
"Pak Bakri ingin tahu aja apa ingin tahu banget?" goda Langit.
"Ekhemm hehe bapak heran aja, karena bapak dan bi Milah tidak memberi tahu Aden kan?" jelas nya.
__ADS_1
"Sudahlah antarkan saja aku ke rumah sakit." balas Langit datar.
"Maaf den." ucap pak Bakri tidak enak.
***
Sesampainya di rumah sakit, Langit langsung di bawa ke ruangan dimana Bara di rawat, dia harus berperan baik sebagai Ken pada tuan galak nya itu, agar tidak ada ke curigaan.
"Selamat pagi tuan, saya mengantarkan den Ken." ucap pak Bakri sesaat ia melihat tuan nya yang tengah terbaring lemah.
"Ya, bawa Ken kemari." titah nya.
Langit pun memasuki ruangan rawat Bara, ia masuk dengan perlahan. Hal yang pertama Langit lihat adalah tuan galak nya itu.
"Da... Daddy." panggil Langit dengan pelan, ini kali pertamanya ia memanggil Bara dengan panggilan Daddy. Canggung yang kini Langit rasakan. Jika memang apa yang di katakan oleh Ken itu benar ia sangat bahagia di dalam hatinya karena ia bisa bertemu dengan ayah kandungnya, walaupun laki-laki yang ada di hadapannya itu begitu galak dan keras.
Bara tersenyum tipis menatap ke arah Langit yang ia sangka adalah Ken putranya, pandangan nya begitu berbeda, ntah apa yang kini Bara rasakan di dalam hatinya. "Sini nak." ucapnya.
Langit pun melangkahkan kakinya menghampiri Bara untuk mendekat. "Kenapa kamu ke sini? Kamu kan sedang Daddy hukum. Kamu tidak berniat untuk melarikan diri lagi kan?" tanya Bara dengan tatapan penuh.
Mendengar ucapan Daddy-nya Langit sedikit sebal, namun melihat kondisinya yang lemah dan ia tahu jika laki-laki yang ada di hadapannya itu telah menolong ibunya, Langit pun merasa kasihan dan merasa terenyuh, walaupun sifat nya yang arogan tapi hatinya masih ada rasa saling tolong menolong.
"Apa aku tidak boleh menengok Daddy yang sedang sakit?" cebik Langit. "Kenapa kejadian ini bisa terjadi?" tanya Langit, padahal dirinya sudah tahu hanya saja berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Ah sudahlah Ken, Daddy tidak apa-apa, ini hanya luka kecil." ucap Bara dengan sombongnya.
Langit menghela nafasnya, laki-laki yang menjadi Daddy nya itu benar-benar sombong. Padahal itu mungkin kebetulan penusukan itu tidak sampai dirinya meninggal. Tapi ngomong-ngomong jika memang Daddy-nya itu menolong ibunya berarti mereka sudah saling bertemu, lalu kenapa laki-laki di hadapannya itu terlihat seperti biasa saja, ah masalah orang dewasa sungguh rumit dan membuat dirinya begitu pusing.
Langit terus menatap kearah wajah Bara dengan analog yang ada di dalam pikirannya, membuat Bara yang melihat putranya terus menatapnya dengan tatapan kosongnya melipatkan keningnya bingung apa yang tengah di pikirkan oleh putra nya itu.
"Ken are you Ok?" tanya Bara, namun Ken diam saja. "Ken." panggil Bara lagi. Panggilan yang ketiga Bara pada Ken baru ia menyadari nya.
"Ah iya Daddy panggil aku?" tanya Langit tersadar.
"Are you Ok?" tanya Bara kembali.
"Aku baik-baik saja." sahut Langit cepat.
"Sepertinya hukuman yang Daddy berikan pada kamu membuat kamu sedikit berubah." ucap Bara sedikit menyindir.
"Ma... maksud Daddy?" tanya Langit gugup ia takut jika Bara akan menyadari jika dua bukanlah Ken.
"Ya kamu terlihat lebih manis sekarang." puji Bara. "Apa kamu sudah menyadari jika Daddy begitu sayang padamu?" tanya nya lagi.
Langit terdiam dengan ucapan Bara, dia bingung harus menjawab apa.
Langit pun melihat jam di tangan nya. "Apa Ken sudah sampai ke sini? Aku tidak bisa menghubungi nya." keluh Langit dalam hatinya.
Bara semakin menatap lekat pada putranya itu. "Kamu sedang memukuli apa Ken? Jangan bilang kalau kamu akan pergi lagi?" telak Bara.
"Daddy tenang saja aku tidak akan melarikan diri lagi, aku akan menjaga Daddy sampai benar-benar sembuh." ujar Langit dengan cepat karena mulai di curigai.
"Bagus lah jika kamu paham, jangan membuat Daddy marah dan kesal." ucap Bara dengan tegas.
Langit tersenyum. "Baik Daddy." ucapnya patuh.
"Emh Daddy aku ingin minum, aku ijin ke kantin untuk membeli minuman boleh?" pintar lembut.
Bara memicingkan matanya mengarah pada wajah lalu pada mata putra nya. "Yakin kamu hanya pergi ke kantin?" sergah nya.
"I...iya Daddy, aku janji tidak akan kabur lagi." ucapnya seraya mengacungkan kedua jari nya untuk berjanji.
"Baiklah, tapi pak Bakri dan dua pengawal yang akan menemanimu." titah Bara dengan tegas.
"Aduh gawat, bagaimana bisa pak Bakri dan pengawal menemaniku, bisa ketahuan jika aku berbohong." batin Langit.
"Daddy tidak mau ada penolakan dari kamu Ken, Daddy tidak mau kejadian kemarin sampai terulang kembali. Pengawal juga akan terus mengikuti kamu kemana pun kamu pergi." jelas Bara tidak mau di bantah, melihat Ken yang hanya diam saja membuat Bara berjaga-jaga.
"Baiklah." ucap pasrah. "Sebelum aku pergi, boleh aku memeluk Daddy?" ijin Langit pada Bara membuat Bara sedikit heran.
"Ya tentu." balas Bara dengan senang jika anaknya berubah, walaupun di hati sungguh sangat bingung.
Langit pun langsung memeluk tubuh Bara dengan erat sebelum ia bertukar kehidupan nya dengan Ken yang asli, Langit ingin merasakan terlebih dahulu memeluk ayahnya yang sama sekali belum pernah ia rasakan kehangatan nya.
Ada rasa yang tidak bisa ia ungkapkan, namun dia benar merasakan begitu nyaman dan merasa terlindungi saat ia memeluk tubuh Bara. "Tuan, aku bahagia jika memang anda adalah ayah kandungku, ini pertama kalinya aku memeluk seorang ayah." batin Langit dengan sendu dan mengeluarkan air mata membuat baju yang Bara pakai basah oleh air mata Langit.
__ADS_1
"Kenapa kamu nangis?" tanya Bara pada putranya yang masih memeluk nya. "Tenang saja Daddy baik-baik saja, Daddy kuat." ucapnya seraya mengusap punggung Langit. Bara mengira jika putranya menangis karena dirinya sedang sakit.
"Jaga diri Daddy baik-baik, aku pergi." ucap Langit dengan cepat tanpa menoleh kembali pada Bara.