
Namun tidak ada pilihan lain selain mengiyakan apa yang di perintahkan oleh tuan galak itu.
Pada akhirnya Langit di temani oleh pak Bakri, namun bukan Langit jika masalah sekecil itu tidak bisa ia tangani.
Setelah Langit mulai tidak lagi sedih dengan perpisahan antara dia dan Bara, Langit pun mulai cari ide bagaimana ia bisa terlepas dari pengawasan dari orang yang di perintahkan oleh Daddy-nya itu.
"Emh pak aku ke toilet sebentar ya." ijin Langit setelah mereka sudah memesan minuman.
"Saya akan temani anda tuan muda." sambar salah satu pengawal dengan cepat.
"Tidak usah aku hanya sebentar saja kok." cegah Langit cepat.
"Saya akan tetap menemani anda." kekeh nya.
"Baiklah, tapi kamu hanya menunggu di luar toilet saja. Aku sudah besar masa iya ke toilet harus di jaga juga." kesal Langit namun ia harus pasrah.
"Baik tuan muda." sahut nya menunduk.
Langit menarik nafasnya kasar. "Tuan muda tuan muda." gerutu Langit kesal kebebasannya terbatas. "Pantas saja Ken berniat melarikan diri, hidupnya terbatas seperti ini!" sambung nya dalam hati.
Sesampainya di depan toilet, Langit pun menghentikan langkahnya lalu menatap kearah para pengawal yang menjaga nya. "Sudah kalian tunggu di sini!" titah nya. "Jangan masuk!" lanjutnya.
"Baik tuan muda." jawabnya patuh.
Langit pun masuk ke dalam toilet itu, lalu saat dia masuk tiba-tiba tangan kanannya ada yang menarik nya sehingga ia terhuyung ke dalam.
"Lama sekali sih kamu!" kesal nya.
"Heh kamu siapa?" tanya Langit heran karena ia tidak mengenali bocah yang wajah nya tertutup dengan masker dan juga topi itu.
Di bukalah semua atribut yang menghalangi wajah nya itu di hadapan Langit. "Aku Ken." ucapnya cepat.
Langit begitu terkejut melihatnya, karena wajah nya 100% mirip sekali dengan nya. "Kamu Ken?" tanya nya seraya mengelilingi tubuh Ken karena ingin memastikan.
"Iya aku saudara kembar mu." jelas nya.
"Kamu yakin kita saudara kembar?" tanya Langit memastikan.
Ken mengangguk cepat. "Aku yakin." ucapnya mantap.
"Apa buktinya?" Langit masih tidak percaya dengan ucapan Ken itu.
"Hah." Ken tidak langsung menjawab ia menarik nafasnya dalam-dalam. "Sudahlah nanti aku jelaskan, sekarang kita bertukar saja, ayok buka bajumu kita tukeran!" titah nya cepat. "Kita tidak punya banyak waktu banyak.
"Baiklah, tapi kamu harus menjelaskan itu semua padaku, aku penasaran." ujar Langit.
"Iya." sahut Ken cepat.
Mereka pun menukar pakaian yang mereka pakai. "Ah benar kita mirip sekali, sampai pakaian kita saja cukup seperti ini." gumam Langit saat dia tengah bercermin di depan cermin yang ada di toilet itu.
Ken hanya menggelengkan kepalanya heran dengan kembaran nya itu, masih saja tidak percaya jika mereka adalah kembar.
"Lebih baik kamu yang duluan keluar, dua pengawal sedang menunggu di depan toilet." jelas Langit.
"Ok, aku duluan. Langit terima kasih sudah mau menggantikan aku. Next time hidup kita harus bertukar kembali." ucap Ken sebelum ia pergi.
"Ok." balas Langit cepat, tidak bisa ia pungkiri jika ia senang menjadi Ken karena bisa berdekatan dengan ayah kandungnya jika memang benar tuan yang dia anggap galak itu adalah ayahnya.
Ken pun pergi meninggalkan Langit di dalam toilet, ia langsung menuju kamar Daddy-nya dengan dua pengawal yang mengikuti nya.
"Ya ampun Daddy semakin ketat menjaga ku, aku semakin terbatas. Aku harus bisa membuat Daddy percaya padaku supaya aku lebih mudah untuk mengunjungi ibu nantinya." batin Ken dengan terus melangkahkan kakinya.
Ken pun bertemu dengan Bara, ia pun langsung memeluk tubuh Bara dengan rasa cemasnya membuat Bara semakin heran dengan sikap putranya hari ini.
Saat Ken berada di dalam ruangan Bara, tiba-tiba sebuah ketukan pintu membuat Ken melepaskan pelukan pada ayah nya itu.
"Masuk." ucap Bara seraya menatap ke arah pintu.
Dan masuk lah Tari yang berniat untuk menjenguk Bara karena rasa tidak enaknya pada Bara.
Bara, Ken dan juga Tari terkejut saat mereka berpapasan dalam satu ruangan.
Bara terkejut dengan kehadiran Tari karena kedatangannya, ada rasa sedikit canggung padanya, sedangkan Ken terkejut karena dia bertemu dengan ibunya yang tadi baru mengantarkan ia ke sekolah sedangkan Tari terkejut melihat Ken karena ia rasa baru pertama kalinya bertemu dengan Angkasa anaknya yang ia berikan pada Bara.
Mereka bertiga saling menatap, Tari yang berada di depan pintu menatap pada Ken, sedangkan Bara yang terbaring lemah menatap ke arah Tari, lalu bagaimana dengan Ken, Ken berpura-pura tidak mengenali Tari dan menatap ke arah Daddy-nya.
Tari mematung menatap wajah Ken, ia sungguh sangat merindukan Angkasa, jika saja dia bisa memeluknya Tari akan merasa sangat bahagia.
"Ekhemm." Bara berdehem melihat Tari hanya mematung.
Tari menyadarkan dirinya dari lamunannya, lalu ia pun segera menetralisir kan hatinya yang harus berpura-pura tidak ada hubungan apa-apa dengan kedua laki-laki yang ada di hadapanku itu.
"Emh maaf tuan, saya sudah menggangu waktu anda." ucap Tari tidak enak hati namun dengan sesekali mencuri pandang melirik ke arah Ken yang berdiri di samping Bara.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." ucap Bara masih tidak ramah.
"Perkenalkan dia putraku." ucap Bara memperkenalkan Ken pada Tari, karena Tari dari tadi melihat ke arah Ken.
"Oh, hallo nak." ucap Tari dengan ramah seraya mengulurkan tangannya pada Ken.
Ken dengan tenang meraih tangan Tari. "Halo tante, salam kenal." ucap Ken dengan berpura-pura tidak mengenali Tari.
"Ya salam kenal." ucap Tari pun dengan senyum lembut nya. "Tante? Aku ibumu nak." lirih Tari dalam hatinya dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca.
Lalu Tari pun menatap ke arah Bara. "Bagaimana keadaan anda tuan?" tanya Tari dengan sopan.
"Seperti yang anda lihat." jawabnya datar tanpa ada senyuman sedikit pun, terlihat sangat dingin.
Tari tidak bisa berkata apa-apa lagi, jawaban laki-laki yang ada di depan nya itu terlihat sangat tidak menyukai kehadirannya di sini.
"Kalau saja dia terbaring di rumah sakit bukan karena menolong ku, dan kalau saja dia bukan ayah dari anak-anak ku, aku tidak mau datang menjenguk nya, dia mau mati pun aku tidak akan pernah peduli dengannya!" batin Tari begitu tidak suka dan geram nya dengan laki-laki itu.
Tak lama dua suster masuk ke dalam ruangan dimana Bara di rawat, memecah keheningan diantara Tari dan Bara. Tari menarik nafasnya lega.
"Emh maaf nyonya dokter akan memeriksa tuan Bara terlebih dahulu, nyonya bisa menunggu di luar." ucapnya sopan.
"Baik, ayok Ken kita tunggu di luar saja." ucap Tari mengajak Ken dengan lembut, Tari tidak sadar jika Bara menatap tidak suka.
Ken tersenyum. "Ayok tante." balas Ken dengan riang.
"Ayok." Tari pun mengulurkan tangannya pada Ken dan di sambut hangat oleh Ken, Tari merasa tidak canggung dan tidak peduli dengan Bara yang tidak suka padanya, walaupun Ken tidak mengetahui Tari sebagai ibunya tapi dia adalah putra kandung nya.
Tari pun mengajak Ken jalan-jalan sekitar rumah sakit, dan di sana ia melihat sebuah mainan yang cocok untuk Ken, Tari pun menoleh ke arah Ken dan terlihat jika Ken sepertinya tertarik pada mainan itu membuat Tari tersenyum.
"Apa kamu mau mainan itu?" tawar Tari lembut.
Ken tersenyum malu-malu. "Emh... ti... tidak." elaknya cepat padahal dari dalam hatinya Ken sungguh sangat menginginkan.
"Hemmm. Ayok ikut tante!" ajak Tari seraya menarik tangan Ken untuk mengikutinya.
Ken pun mengikuti Tari yang menarik tangan nya dengan terus menatap tangan Tari yang memegang nya dengan erat.
"Ayok ambil mainan yang kamu inginkan!" tawar Tari pada Ken.
"Emh tidak usah tante, aku tidak menginginkan mainan itu kok." tolak Ken dengan lembut.
"Ayok lah Ken, jangan menolak. Tante akan sedih jika kamu menolak nya." ucap Tari sendu.
"Nah begitu dong, tante senang bisa membelikan mainan itu pada kamu." ujar Tari dengan mengelus kepala Ken dengan sayang.
"Terima kasih tante." ucap Ken merasa senang, ini kali pertama Ken mendapatkan pemberian dari Tari, ibu kandungnya.
Beberapa menit kemudian Tari dan Ken pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Bara, mungkin pemeriksaan nya sudah selesai.
"Daddy." ucap Ken terlihat sangat senang dengan mainan yang ia bawa di tangan nya.
"Kamu dari mana saja?" tanya Bara dengan sikap dinginnya.
"Lihat Daddy tante Tari membelikan aku mainan ini, bagus ya Daddy." ucap Ken dengan semangatnya.
Bara melirik pada mainan yang Ken bawa, lalu menatap dengan dingin ke arah dimana Tari berdiri di samping Ken. "Seharusnya anda tidak usah membelikan mainan pada putraku!" ucap Bara.
"Tidak apa-apa tuan, saya senang kok memberikan mainan itu pada Ken." ucap Tari berkata lembut.
"Tapi saya tidak suka! Saya mampu membelikan Ken berbagai mainan yang dia suka." ucap Bara tidak suka.
"Emh maaf tuan, jika saya membuat anda tidak suka." ucap Tari merasa tidak enak.
"Daddy kenapa Daddy berkata seperti itu?!" kesal Ken menatap ke arah Bara.
"Ken seharusnya kamu jangan menerima pemberian dari orang yang sama sekali tidak kamu kenali!" Bara memarahi Ken. "Jika kamu menginginkan sesuatu kamu mintalah pada Daddy, Daddy akan membelikan nya!" sambung Bara masih dengan ekspresi yang tidak ramah.
"Emh tuan, jangan memarahi Ken, dia tidak salah tapi saya yang memaksa." ucap Tari menengahi perdebatan di antara Ken dan juga Bara.
"Anda jangan ikut campur!" ucap Bara dengan sikap arogan nya.
"Maaf." ucap Tari pelan. "Sepertinya kedatangan saya kesini membuat anda terganggu, kalau begitu saya permisi." ucap Tari merasa sakit akan ucapan Bara tadi padanya. Namun Tari menatap Ken sebelum dia pergi. "Ken maaf ya sudah membuat Daddy kamu marah. Tante permisi." ucap Tari seraya memutarkan tubuhnya untuk pergi.
"Sepertinya anda lupa dengan pertanggungjawaban anda terhadap saya." sindir Bara ketika melihat Tari melangkahkan kakinya untuk pergi dan akan membuka pintu kamar nya.
Mendengar sindiran Bara membuat Tari mengehentikan langkah kakinya lalu berbalik menatap Bara. "Tenang saja tuan, saya tidak akan melarikan diri dari tanggung jawab saya kepada anda. Asisten anda pak Alvaro sudah menyimpan nomor saya. Saya permisi!" ucap Tari lekas pergi dia tidak tahan berlama-lama di sana.
"Lihat Daddy ucapan Daddy membuat tante Tari pergi dari sini!" kesal Ken.
"Biarkan saja, memang dia siapa?!" balas Bara tidak suka putra nya lebih memilih Tari.
"Seharusnya Daddy tidak boleh bersikap seperti itu!" Ken pun semakin tidak suka dengan sikap ayahnya.
__ADS_1
"Ken kalau kamu kesini hanya untuk membuat Daddy kesal dan membuat kesehatan Daddy semakin memburuk, lebih baik kamu pulang saja!" kesal Bara.
Ken menarik nafasnya dalam-dalam. "Ok aku akan pergi dari sini, aku hanya cemas pada Daddy setelah tahu apa yang terjadi pada Daddy. Tapi sepertinya Daddy tidak suka ada aku di sini. Baiklah aku pulang sekarang!" ucap Ken dengan menahan kekesalannya.
Namun sebelum ia pergi ia memeluk tubuh Bara dengan erat. "Aku sayang Daddy." ucapnya membuat Bara diam mematung.
Ken melepaskan pelukannya lalu pergi dari ruangan Bara dimana ia terbaring. Bara hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam seraya menatap punggung putranya yang keluar dari kamar inapnya.
Sedangkan Tari ia masih menunggu sebuah taksi online yang belum dapat dengan hati yang sangat kesal atas sikap Bara pada nya.
Ken yang baru saja keluar dengan di ikuti oleh pak Bakri untuk mengantarkan ia pulang pun berteriak memanggil Tari saat ia melihat ibunya masih menunggu di depan rumah sakit.
"I... eh tante Tari..." teriak Ken seraya berlari menghampiri Tari yang sedang berdiri di sana dan menatap nya.
"Tante..." ucap Ken terengah-engah karena ia berlari.
"Ken kenapa kamu harus berlari-lari." ucap Tari seraya mengusap punggung Ken yang sedang menunduk membuang nafasnya karena lelah.
"Aku tadi melihat tante, takut tante keburu pergi." jawabnya masih terengah.
"Tari tersenyum. "Ken...Ken...Ken."
"Kenapa Tante masih di sini?" tanya Ken.
"Tante sedang menunggu taksi." jawab Tari.
"Belum dapat?" tanya Ken dan Tari pun mengangguk.
"Kalau begitu bagaimana kalau aku antar tante pulang." tawar Ken.
"Tidak usah Ken, tante pasti akan segera dapat taksi kok." ujar Tari menolak dengan lembut.
"Ayok lah tante jangan menolak, aku tidak keberatan." rengek Ken sedikit memaksa.
"Hemmm baiklah." jawab Tari pasrah.
Mereka pun naik ke mobil, Ken dan Tari duduk bersebelahan di bagian belakang.
"Pak kita antarkan dulu tante Tari ke jalan xxx." titah Ken pada pak Bakri.
"Baik den Ken." sahutnya.
Tari yang mendengar titahan Ken pada sopirnya nya pun mengerutkan keningnya heran.
"Ken. Kenapa kamu tahu arah jalanan rumah tante?" tanya Tari menatap heran pada Ken.
Ken kikuk ia lupa jika dirinya sedang berpura-pura tidak mengenali ibunya. "Emh memang benar ya jalanan itu arah jalan ke rumah tante?" tanya Ken gugup dan berpura-pura sok tahu.
"Iya." jawab Tari.
"Oh kebetulan sekali ya tante, padahal aku tadi cuma asal sebut." elak Ken dengan senyum kaku nya.
"Iya mungkin kebetulan ya." balas Tari tidak berpikir kemanapun, karena ia yakin jika Ken mana mungkin tahu tempat dimana ia tinggal.
"Aduh hampir saja ibu curiga." batin Ken menatap ke arah luar jalanan.
Tari menatap intens ke arah samping Ken, ia terus memandangi Ken, wajah nya yang sama persis dengan Langit membuat dirinya tersenyum lembut saat menatap Ken, ya mereka mirip sangat mirip tidak ada bedanya, tapi setelah dia menatap Ken dengan begitu lama ia tersadar ada perbedaan di antara Ken dan juga Langit, yaitu Ken memiliki tahi lalat kecil di pipi putihnya sedangkan Langit dia bersih tidak ada tahi lalat di wajahnya.
"Angkasa ternyata kita di pertemukan oleh Tuhan dengan mudah, ibu merindukan mu nak, rasanya ibu ingin sekali memeluk mu dengan erat." lirih Tari di dalam hatinya.
Ken yang merasa di tatap oleh Tari pun menoleh membuat Tari yang sedang memandang tiba-tiba berdehem dan menghapus air mata yang tiba-tiba terjatuh membasahi pipinya, dengan cepat Tari menoleh ke samping mobil melihat ke arah luar seraya dengan cepat menghapus air matanya.
"Tante kenapa tadi tante menatap ku, aku jadi malu." ucap Ken dengan malu-malu.
Tari tersenyum lembut lalu menatap wajah Ken. "Tante memiliki anak sebesar kamu, mereka kembar, satu laki-laki dan satu perempuan." ujar Tari.
"Wah seru sepertinya jika mereka kembar pasti tidak akan kesepian." ujar Ken menyembunyikan perasaannya.
"Ya, di saat berdekatan mereka akan terus bertengkar tapi saat mereka berjauhan mereka akan saling merindukan." jelas Tari mengingat sikap kedua anaknya.
"Senang sekali menjadi mereka, tidak seperti aku yang selalu kesepian." lirih Ken dengan menundukkan kepalanya.
Tari yang melihat mimik muka Ken yang sedih membuat Tari merasakan apa yang di rasakan Ken. "Kenapa kamu bisa kesepian? Di rumah kamu kan ada Daddy dan juga ibu kamu." Tari mencoba menenangkan Ken.
"Aku hanya tinggal bersama Daddy, tante dan juga para pelayan yang bekerja. Daddy sibuk dengan pekerjaan nya dan Daddy juga belum menikah. Aku sangat kesepian di rumah." ujar Ken menceritakan.
Mendengar ucapan Ken membuat hati Tari semakin sakit. "Kesepian, sendiri di rumah hanya dengan para pelayan, sungguh membuat ku semakin bersalah." lirih Tari di dalam hatinya.
"Apa Daddy kamu selalu memarahi mu seperti tadi saat tante membelikan mainan untuk kamu?" tanya Tari penuh selidik. Ken mengangguk membenarkan membuat Tari semakin tidak suka pada laki-laki itu.
"Ya terkadang aku ingin kabur saja dari rumah. Daddy selalu melarang apa yang aku suka." cebik Ken.
"Jangan sayang, Daddy kamu memarahi kamu karena dia sayang, Daddy tidak mau kamu sampai berbicara dengan orang asing, itu sikap yang baik sebagai orang tua, lain kali kamu jangan sembarangan berinteraksi dengan orang yang sama sekali belum kamu kenal, itu sangat berbahaya." ucap Tari tegas, ia tidak mau jika Ken membenci ayah kandungnya, walaupun Tari sangat geram dengan nya.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus mengambil Ken dari laki-laki itu, aku sebagai ibunya merasa tidak terima jika dia memperlakukan putraku seperti itu!" geram Tari di dalam hatinya. "Tapi... bagaimana caranya?"...