
"Hallo." sapa Tari ketika dia menerima sebuah telepon dari nomor telepon berbeda.
"Hallo Sun sun apa kabar?" tanya Leo di sebrang sana.
Tari melihat pada layar handphone nya. 'Kak Leo.' gumam Tari dengan pelan.
"Ini aku Leo, bagaimana kabarmu Sun sun?" tanya Leo kembali karena tidak ada sahutan dari Tari.
"Baik." jawab Tari dengan pelan.
"Ini nomor baruku, sepertinya kamu memblokir nomor ku, aku tidak bisa menghubungi mu." terang Leo dengan rasa kecewanya.
"Maaf kak aku tidak tahu nomor kak Leo terblokir." jawab Tari sekenanya dia bahkan belum tahu nomor Leo tidak bisa menelepon nya, mungkin ini ulah Bara suaminya.
"Sudah lupakan saja, aku menelpon mu karena aku khawatir dengan keadaan mu, karena semenjak aku berada di rumah sakit kamu tidak pernah menelpon ku." ucap Leo dengan lembut.
"Maaf kak Leo, aku... aku... sibuk di toko kue ku." kilah Tari menutupi alasan kenapa Tari tidak mau bertemu dengan Leo, walaupun dia merasa tidak enak karena tidak menjenguk Leo yang sedang sakit.
"Tidak apa-apa aku bisa mengerti dengan kesibukan mu itu, mungkin karena memang aku bukan orang yang special untuk mu juga, tidak apa-apa." jawabnya terdengar sedih membuat Tari pun semakin tidak enak terhadap Leo.
"Kak Leo bukan seperti itu, aku hanya tidak mau membuat ibu mu marah karena kedatangan ku kesana. Sebenarnya aku ingin sekali menjenguk mu, tapi... aku tidak mau membuat kak Leo bertengkar dengan Tante Mira gara-gara aku." jelas Tari dengan helaan nafasnya.
"Mamaku sudah kembali ke kediamannya karena papa ku tidak biasa di tinggal, aku sendiri di sini, di rumah sakit." ujar Leo sengaja menekankan kata sendiri.
"Apa kak Leo belum bisa pulang ke rumah?" tanya Tari dengan ke khawatiran nya.
"Belum, aku baru saja menjalani operasi pengangkatan salah satu ginjal ku, dokter menyarankan ku agar aku beristirahat terlebih dahulu sebelum nantinya bekerja kembali." ujar Leo dengan lirih agar Tari mengasihaninya.
"Kak Leo, aku merasa berhutang nyawa padamu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika kak Leo sakit seperti itu. Aku... minta maaf sebesar-besarnya karena kejadian itu membuat kek Leo harus kehilangan salah satu organ tubuh kak Leo. Aku benar-benar minta maaf." ucap Tari penuh rasa bersalah.
"Sun sun, aku tidak apa-apa, jika memang aku harus mengorbankan nyawa ku aku akan rela melakukannya, tapi aku harap kamu tidak menjauhi ku, aku tahu suami mu pasti melarang mu untuk tidak berdekatan dengan ku kan?" ucap Leo.
Tari terdiam ia bingung harus berkata apa. "Tidak perlu kamu jawab, aku sudah tahu jawabannya." sela Leo dengan diamnya Tari.
"Emh bagaimana dengan kabar anak-anakmu, apa mereka baik-baik saja?" tanya Leo untuk mengalihkan perkataan nya sekaligus mencari tahu kabar terkini.
"Anak-anak ku baik, tapi mereka saat ini sedang trauma dengan kejadian yang menimpa pada mereka kemarin." jawab Tari dengan nada terdengar sedih.
"Kenapa? Apa yang terjadi pada mereka?" Leo semakin penasaran dengan keadaan anak-anak Tari.
"Mereka trauma karena kemarin mereka hampir mengalami kecelakaan mobil yang cukup tragis, tapi untung saja mereka selamat karena Daddy nya yang menolongnya." ujar Tari menceritakan kejadian yang menimpa anak-anaknya.
Leo terdiam dengan ucapan Tari, tatapan nya tidak suka mendengar cerita Tari tentang anak-anaknya dan Bara.
"Kenapa dia tidak langsung menabrak semua yang ada di dalam mobil itu." gumam Leo dengan geram dan tanpa sadar mengingat pekerjaan anak buahnya. "Dasar bodoh." gumamnya mengumpat.
"Apa kak Leo? Maaf ucapan kak Leo tidak begitu jelas." sahut Tari.
"Hah....! Aku tidak mengatakan apa-apa." gugup Leo dengan menutup mulutnya yang tidak sengaja bergumam.
"Oh mungkin aku yang salah dengar." ucap Tari.
"Sun sun bagaimana jika kamu mempertemukan aku dengan anak-anak mu, aku ingin sekali berkenalan dengan mereka. Aku ingin sekali akrab dengan anak dari sahabat ku sendiri." pinta Leo dengan lembut meyakinkan Tari.
"Emh bagaimana nanti saja ya kak, aku pikir mereka sekarang masih dalam trauma, mereka tidak mau pergi keluar untuk saat ini." tutur Tari memang begitu adanya.
"Oh baiklah, aku mengerti. Baiklah Sun sun aku tutup dulu teleponnya, maaf aku yang sedang bosan di bangsal ku sudah mengganggu waktu mu." ucap Leo penuh penekanan.
__ADS_1
"I...iya." sahut Tari dengan pelan.
Leo memutus panggilan dan menatap layar handphone itu. "Percuma aku berada di rumah sakit dan berpura-pura kehilangan ginjal ku, jika perempuan yang aku cintai saja tidak peduli." gumam Leo dengan geram dan penuh kebencian.
"Aku harus menghilangkan satu persatu penghalang ku untuk bisa mendapatkan hati mu Sun sun, apa pun caranya dan bagaimana pun caranya, aku tidak akan rela melihat kamu bahagia dengan laki-laki lain, kamu harus bahagia dengan ku." tekad Leo dengan tatapan dingin nya.
Seorang dokter datang ke bangsal Leo ketika Leo menyuruhnya, memang Leo menjalani operasi saat penusukan itu terjadi, namun kehilangan ginjalnya itu adalah sebuah kepura-puraan dia untuk membuat Tari merasa semakin bersalah, dia dan dokter yang menangani luka nya bersekongkol untuk memberikan sebuah data palsu karena mereka memiliki jalinan teman dan sama-sama saling menguntungkan.
"Apa yang terjadi tuan Leo?" tanya dokter itu ketika dia sudah berada di ruangan Leo.
"Kapan aku bisa pulang dari sini?" bukan menjawab Leo malah balik bertanya.
"Tubuh anda sebenarnya sudah pulih. Besok anda bisa pulang, luka di bagian perut anda pun sudah mengering." jelas dokter itu tanpa basa-basi, karena mereka hanya berdua saja di dalam ruangan itu.
"Apa orang tidak akan curiga jika aku besok pulang, dengan cerita ku yang berpura-pura kehilangan ginjal ini?" Leo pun memastikan jika rencananya tidak akan ada yang mengetahui nya.
Dokter itu tersenyum tipis untuk meyakinkan Leo. "Tidak akan tuan, saya jamin rahasia anda akan aman di tangan saya." jawabnya dengan sangat yakin.
"Baiklah atur semua nya, aku ingin sekali cepat pulang, di sini sungguh sangat membosankan." ujar Leo dengan ******* panjang nya.
"Baik saya akan mengatur semuanya." jawabnya.
*
*
*
Saat malam pun tiba, Bara pun datang dengan tubuh yang lelah karena pekerjaan dan kasus yang menimpa pada keluarga nya, kasus ini belum terselesaikan dan Bara belum menemukan titik terang karena orang yang menjadi pelaku penabrakan mobil itu telah mati padahal dia lah orang yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya itu, dan yang ingin Bara tanyakan padanya adalah kenapa dia sampai menabrak mobil yang jelas-jelas terparkir di tempat yang seharusnya.
Apa karena pelaku sedang mabuk, ngantuk atau memang ada kesengajaan di balik semua itu. Sayang sekali pelaku mati di saat dia sedang di tangani di rumah sakit.
Pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan cepat karena sudah begitu malam.
Setelah selesai Bara menghampiri Tari yang masih terlelap itu, namun sepertinya posisi tidur nya sudah berubah, dari miring sekarang menjadi telentang.
Bara menghela nafasnya kala melihat bagaimana cara Tari tidur. Ia melihat Tari malam ini begitu cantik padahal Tari tidak memakai pakaian tidur yang seksi, namun tubuh yang terlihat sedikit berisi itu membuat Bara menelan ludah nya secara kasar dan tenggorokan nya panas seakan terbakar.
Bara mendekati tubuh Tari yang masih terlelap itu tanpa menyadari jika Bara sudah pulang. Memikirkan semua yang terjadi akhir-akhir ini membuat Bara lelah namun untuk kebutuhan biologis nya mungkin Bara butuhkan saat ini agar ia bisa berpikir lebih fres saat pagi nanti.
Tubuhnya yang mudah lelah membuat Tari tidur lebih cepat, apalagi ia sudah tahu jika suaminya akan pulang terlambat.
Matanya yang sulit terbuka namun ia merasakan mimpi yang begitu indah yang ia rasakan saat ini.
Sesuatu yang membuat dirinya melayang jauh ke awan, oh sungguh ini seperti bukan sebuah mimpi, tapi mata yang masih terpejam menandakan dia memang sedang bermimpi saat ini.
Merasakan ada yang menyedot bibir nya saat ini membuat Tari pun semakin di buai oleh mimpi itu.
Mimpi itu semakin terasa nyata, sehingga membuat Tari mengalungkan tangannya dan menikmati sentuhan itu, namun mata masih terpejam tak mampu untuk membuka.
Terasa berat pada tubuhnya dan seakan di tekan oleh sebuah batu besar pada dadanya membuat Tari berusaha untuk membuka mata dan bangun dari tidurnya yang indah.
Saat membuka kedua mata secara perlahan hal yang pertama ia lihat adalah mata sayu dari suaminya dengan bulu matanya yang panjang bergetar, senyuman tipis dan menggoda membuat Tari terkejut.
"Antoni!" kejut Tari langsung mendorong tubuh suaminya yang menekan tubuh dan dadanya.
"Maaf sayang aku membangunkan mu." suara serak Bara pun berucap.
__ADS_1
Dalam keadaan linglung karena nyawanya belum terkumpul semua, membuat Tari terdiam dalam keadaan wajah yang memerah, mengingat tadi bukan mimpi, tapi sebuah kenyataan.
"Kamu cabul Antoni, aku sedang tidur kamu memanfaatkan aku yang sedang tertidur untuk melakukan hal itu." ujar Tari sedikit sebal.
Bara tersenyum menggoda. "Aku melihat mu tertidur seperti itu terlihat sangat manis, jadi aku sebagai laki-laki normal pun tergoda." ujar Bara tanpa malu.
Plak! sebuah pukulan kecil pada lengan Bara membuat Bara tergelak apalagi melihat wajah Tari yang sudah memerah karena ulah nya itu.
"Aku merasa tidur seperti biasa, dasar kamu tidak tahu malu!" sebal Tari menahan rasa malu, ntah kenapa berbicara begitu intim dengan Bara masih membuat dirinya malu.
"Tapi kamu sepertinya tadi menikmatinya, sampai kamu mengalungkan tangan mu pada leher ku." jelas Bara dengan santai.
"Mana ada." kilah nya gugup. "Lagi pula aku merasa itu sebuah mimpi, jadi aku tidak sadar melakukan nya." sarkas nya.
Dengan cepat Bara pun berkata. "Mentari, aku sedang menginginkan nya saat ini, untuk melupakan sedikit kesibukan ku akhir-akhir ini." ucapnya dengan suaranya yang serak namun dengan nada yang lembut membuat Tari pun seakan tersihir dan ucapan Bara seakan mampu untuk membuat Tari tidak boleh menolaknya apa yang dia inginkan.
Dengan tatapan sayu nya, Bara menatap manik mata Tari dengan cahaya yang temaram. "Bolehkah?" ucap Bara dengan pelan terasa seperti berbisik.
Dengan patuh Tari mengangguk dan itu membuat Bara tidak butuh lama lagi untuk segera menjalankan aksinya itu.
***
Pada pagi harinya Bara yang lebih dulu terbangun setelah malam panjang mereka, yang membuat Bara saat ini terasa segar karena sudah mendapatkan servis memuaskan dari istrinya itu. Walaupun harus menjaga ritme karena Tari sedang hamil muda.
Tari membuka matanya perlahan, melihat pada jam dinding. "Oh ya ampun ini sudah siang." gumam Tari terkejut karena kesiangan dan harus menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Bahkan suaminya pun sudah terbangun lebih dulu karena tidak ada di samping nya.
Pintu terbuka membuat Tari menghentikan gerakan yang sedang menggulung tubuh nya dengan selimut.
"Mau kemana sayang, sudah duduk saja di tempat." larang Bara saat melihat istrinya sedang sibuk dengan selimut.
Dengan pakaian yang sudah rapi dan rambut yang juga tertata rapi membuat Bara begitu tampan dan segar saat Tari melihatnya, sedangkan dia baru bangun dengan rambut yang masih acak-acakan dan itu mempermalukan dirinya.
"Aku membawa makanan untuk mu." ucap Bara seraya melangkahkan kakinya menghampiri Tari dengan membawa nampan berisi makanan di tangan nya.
"Ada apa sayang?" melihat bagaimana tatapan Tari padanya. "Kenapa kamu menatap ku seperti itu, apa dandanan ku salah?" tanya nya karena saat ini Bara memakai pakaian rapi namun santai.
"Tidak! Tidak apa-apa." ucap Tari terbata karena gugup.
"Makanlah, ini sudah siang. Perut mu pasti lapar." ujar Bara dengan lembut.
"Kenapa kamu tidak membangunkan ku? Bagaimana dengan anak-anak, apa mereka marah karena aku tidak sempat membuat sarapan untuk mereka?" rentetan pertanyaan dari bibir Tari pun terlontar.
"Tenang saja, anak-anak sudah sarapan, aku sudah bicara pada mereka jangan terlalu bergantung padamu karena kamu sedang hamil sekarang." jawab Bara dengan santai, namun ada helaan nafas berat terdengar. "Namun sepertinya Bintang tidak mau menerima jika saat ini kamu sedang hamil, dia marah sekarang dan mengunci diri di dalam kamar. Dia juga tidak mau bertemu dengan ku saat ini, padahal tadinya aku ingin merayunya agar tidak marah." ujar Bara.
"Kamu beri tahu anak-anak aku hamil? Ya ampun kenapa kamu tidak menunggu aku yang akan menceritakan tentang kehamilan ini pada anak-anak. Apa kamu tidak ingat jika Bintang tidak mau memiliki adik?" desah Tari merasa kesal karena suaminya tidak sabaran.
"Maaf aku lupa jika Bintang tidak mau memiliki adik. Aku hanya ingin mereka tahu dan tidak membuat mu lelah karena mereka selalu ingin di buatkan sarapan, atau pun pekerjaan lainnya yang membuat mu lelah, aku ingin anak-anak kita terbiasa karena kamu nanti akan sibuk dengan bayi kita dan adik kecil mereka." jelas Bara.
"Tadi nya aku akan memberi tahu mereka secara perlahan, agar tidak ada yang tersakiti dan anak-anak terutama Bintang akan menerima adik baru nya nanti." terang Tari dengan lembut.
"Maaf aku tidak tahu. Aku hanya ingin mereka merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan." ucap Bara merasa bersalah.
"Sudahlah tidak apa-apa, aku akan jelaskan lagi pada anak-anak nanti." ucap Tari melihat Bara yang terlihat merasa bersalah. Bara mengangguk pelan.
maaf ya aku baru up hihi karena sedikit sibuk di dunia nyata
makasih untuk para readers yang masih setia menunggu cerita ku ini.
__ADS_1
salam hangat 😊😊😊