
Keluar nya Al dari ruangan nya, Bara jadi semakin diam memikirkan apa yang terjadi selama ini.
"Perempuan itu benar-benar membuat ku muak! Kenapa bisa kejadian seperti ini terjadi padaku." gumam Bara tidak habis pikir.
"Ah aku sangat bodoh, dan dia membodohi ku. Pantas saja saat pertama kali aku bertemu dengan nya, dia seperti sangat terkejut dan sangat membenciku!" lanjutnya bergumam saat Bara mengingat mereka bertemu saat pertama kalinya. Yaitu saat dia berurusan dengan ibu tua yang menabraknya pada waktu itu.
"Aku harus bertemu dengan nya, dan membicarakan masalah ini." pikir Bara.
"Tunggu! Tidak! Jangan! Aku harus berpura-pura belum mengetahui dia adalah ibu dari putraku. Aku ingin lihat sampai kapan dia bertahan untuk membohongi ku!" sinis Bara dengan tatapan penuh kemenangan.
"Sepintar-pintarnya bangkai di tutupi, baunya tetap tercium juga." ucap Bara dengan tatapan tajam penuh kebencian kepada Tari.
"Sepertinya jika aku menikahinya akan lebih menarik, aku akan membuat dia menikah dengan ku lalu aku akan membuat dia menderita karena sudah membodohi ku karena kebohongan ini. Perempuan itu sangat angkuh selama berhadapan dengan ku, aku akan membuat dirinya tunduk di hadapanku suatu saat nanti." tekad Bara penuh dengan dendam.
"Emh Bintang!" Bara tiba-tiba mengingat pada gadis kecil yang membuat dirinya bahagia. "Siapa ayah dari gadis kecil itu? Apa perempuan itu pernah menikah dan memiliki Bintang bersama saudara kembarnya?" gumam Bara mengingat Bintang pernah mengatakan jika ayahnya sudah meninggal dunia.
"Ah berengsek!" umpat Bara dengan kesal. "Kenapa kepala ku menjadi pusing gara-gara memikirkan masalah ini. Dasar perempuan kurang ajar!" marah Bara semakin tidak terkendali.
*
*
*
"Ken kamu tidak pulang?" tanya Tari melihat putranya masih betah saja di rumah Tari bersama kedua saudaranya.
"Ibu tidak suka dengan keberadaan ku di sini?!" cebik Ken tidak suka mendengar ucapan ibunya.
"Bu...bukan begitu sayang. Bagaimana jika Daddy mu mencari mu?" khawatir Tari.
"Daddy sibuk Bu, dia tidak akan sadar jika aku tidak ada di rumah, yang penting nanti sore aku pulang." terang Ken membuat Tari mengelus sayang kepala Ken.
"Aku masih betah Bu di sini. Beri aku waktu sampai sore nanti. Aku akan pulang tidak akan bermalam di sini." jelas Ken seraya terus menyelusup kan kepalanya pada perut ibunya yang terasa nyaman.
"Baiklah, ibu tidak akan melarang kamu untuk tinggal di sini sampai sore. Kamu sabar ya ibu akan mencari cara agar kamu bisa selalu bersama ibu." tekad Tari sangat bulat.
"Ibu apa ibu tidak menikah saja dengan Daddy, jika itu terjadi kita akan berkumpul dan aku akan selalu bersama ibu serta kedua saudara ku." pinta Ken.
"Itu tidak mungkin Ken, ibu dan Daddy mu tidak saling mengenal." jawab Tari.
Ken bingung dengan jawaban Tari. "Jika ibu tidak mengenal Daddy lalu kenapa bisa ibu melahirkan aku dan juga saudara kembar ku?" tanya Ken tiba-tiba.
"Uhuk..." Tari terbatuk-batuk mendengar ucapan Ken. "Itu..." Tari bingung harus menjelaskan apa kepada Ken yang sangat penasaran.
Ken memberikan minum pada Tari melihat ibunya terbatuk-batuk. "Ibu baik-baik saja?" tanya Ken khawatir.
"Ibu baik-baik saja." jawab Tari setelah meminum minuman yang di berikan putranya itu.
"Ibu, aku harap ibu memikirkan nya untuk menikah dengan Daddy, karena aku, Langit dan juga Bintang membutuhkan keluarga yang utuh dan bahagia." lanjut Ken dengan serius.
Tari tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar perkataan Ken. Ya, Tari akui jika anak-anaknya membutuhkan kasih sayang dari ibu dan ayahnya. Namun itu tidak mungkin terjadi banyak hal yang harus di pikirkan, banyak tentangan diantara mereka dan banyak sekali perbedaan di antara Tari dan juga Bara.
__ADS_1
Jika saja kejadian pada masa lalu tidak pernah terjadi Tari dan Bara tidak akan terikat seperti ini, bahkan mengenal pun tidak akan mungkin.
Kini Tari hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama ketiga anak kembar nya tanpa ada laki-laki dalam hidupnya, hati Tari seakan mati dan malas untuk mencari pendamping hidup, di dalam hati dan pikiran nya tujuannya hanya satu yaitu mendapatkan kembali Ken agar bisa berkumpul dengan dua saudaranya sampai tumbuh dewasa nanti.
Namun semua itu tidaklah mudah sekarang, banyak yang harus Tari selesaikan mengingat karena banyak kebohongan yang ia tanam.
*
*
*
Seperti biasa, hari ini Tari berbelanja stok untuk bahan kue nya. Tidak di sangka ia berpapasan dengan orang yang selama ini ia hindari, yaitu Bara Antonio laki-laki angkuh dan arogan itu. Ntah sedang apa ia ada di sana, sial bagi Tari karena harus bertemu dengan nya.
"Saya mau lewat! Kenapa anda menghalangi jalan saya?!" kesal Tari karena Bara sengaja menghalangi langkah jalan Tari yang akan melewati nya. Tari ke kiri Bara ikut ke kiri, Tari ke kanan Bara pun ikut ke kanan, ya seperti bocah SMA yang kini Bara lakukan membuat Tari merasa kesal.
"Awas! Minggir!" titah Tari dengan ketus.
"Saya ingin bicara dengan mu!" ucapnya dengan tatapan mata yang tajam.
"Saya rasa kita tidak saling mengenal dan tidak memiliki urusan, jadi menyingkir lah!" ucap Tari acuh.
Bara tersenyum sinis, perkataan Tari membuat dia semakin ingin berbalas dendam dengan perempuan di hadapannya itu, namun Bara harus sabar karena ia tidak mau jika Tari mengetahui apa yang sudah ia ketahui.
"Perempuan ini!" geram Bara dalam hatinya.
Karena Bara terlihat diam saja namun masih menatap ke arah Tari dengan tatapan tajamnya, membuat Tari mencoba untuk melarikan diri dari sana dengan melangkahkan kakinya untuk melewati laki-laki arogan itu, namun dengan cepat Bara meraih pergelangan tangan Tari untuk menghentikannya.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang tadi saya ucapkan? Saya ingin bicara dengan kamu!" ucapnya mengulang apa maksud dia kepada Tari.
"Bagaimana jika saya tidak mau melepaskan nya?!" ancam Bara.
"Saya akan teriak dan bilang pada semua orang jika anda orang jahat!" Tari pun mengancam balik.
"Hahaha, siapa yang akan percaya jika penampilan saya tidak seperti orang jahat! Coba saja jika kamu memang berani!" titah nya mengancam.
"Jangan pikir saya takut kepada anda ya?!" marah Tari.
"Lakukan saja!" ucap Bara santai.
"Tolooooong...." teriak Tari. "Tolong saya, dia akan menyakiti saya." teriak Tari. "Tolooooong siapapun, tolong aku."
Bara terkejut karena Tari berteriak seperti itu membuat pengunjung yang ada di sana mulai berkumpul.
"Lepaskan dia tuan." ucap salah satu pengunjung.
"Saya suaminya, kami sedang bertengkar. Jangan salah paham!" ucap Bara dengan dingin.
"Dia bohong! Jangan percaya saya bukan istrinya!" jelas Tari menggebu-gebu.
"Tidak, dia yang berbohong dia memang istri saya." ucap Bara.
__ADS_1
"Bohong, tolong saya pak, dia bukan suami saya, anda bisa tanyakan bukti jika saya istrinya . Saya yakin dia pasti tidak bisa membuktikan nya!" Tari menantang Bara, dan Tari yakin Bara tidak akan bisa membuktikan dan jika kejadian kemarin ketika Bara mencium nya Tari tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.
"Ya, nona ini benar, mana buktinya jika anda adalah suami dari nona ini?" tanya salah satu pengunjung di sana yang akan menolong Tari.
"Ya mana buktinya!" teriak dari beberapa pengunjung lainnya.
"Lepaskan! Anda mau mendapatkan masalah, dan saya tidak akan pernah membantu anda!" ucap Tari dengan seringai senyum licik nya.
Merasa sedang terpojok dan melihat ekspresi Tari yang tersenyum seperti itu, membuat Bara kesal. Namun dengan santai nya ia memasukkan tangannya ke dalam saku jas yang ia pakai dan mengeluarkan dua buah kartu berwarna hijau dan berwarna merah.
"Ini buktinya." ucap Bara seraya mengacungkan dua kartu itu di hadapan para pengunjung.
Tari menarik tangan nya yang masih di pegang erat oleh Bara dengan mudah karena Bara sedang fokus menunjukkan sebuah kartu, lalu Tari pun merebut dua kartu itu dan dengan cepat membuka nya. "Apa?" kejut Tari. "Ini tidak mungkin! Ini pasti salah dan palsu." terang Tari begitu sangat terkejut di buatnya karena di sana ada nama dan foto dirinya. "Ini tidak..."
Bara pun menyela perkataan Tari. "Kami baru saja menikah, dan ada kesalahpahaman di antara kami. Saya akan membawa istri saya pulang sekarang." jelas Bara cepat.
"Coba kami ingin melihat kartu itu." pinta para pengunjung dan Bara pun memberikan salah satu akte pernikahan yang ia pegang di tangan nya.
"Ini sih asli, ya mereka memang suami istri." ucap para pengunjung itu.
"Itu palsu, jangan percaya! Orang ini jahat!" tegas Tari tidak terima.
"Sayang, aku sedih kamu menyebutkan aku orang jahat. Aku akan jelaskan semuanya pada kamu, kamu hanya salah paham saja padaku." Bara pun mencoba bersabar dalam bersikap agar orang-orang percaya pada nya. "Kamu hanya sedang cemburu ya kan sayang." goda Bara dengan senyuman licik mengarah kepada Tari membuat Tari mendelik kesal dengan tatapan Bara padanya.
"Ya nona, maafkan saja suami anda itu, apalagi kalian baru saja menikah. Seharusnya nya kalian sedang berbulan madu bukan bertengkar seperti ini." orang-orang pun mulai membela pada Bara.
"Selesaikan saja permasalahan kalian di rumah, silahkan bawa pulang istri anda tuan." salah satu pengunjung pun terus berbicara.
Perlahan-lahan para pengunjung pun meninggalkan tempat dimana Bara dan Tari bersitegang.
"Anda benar-benar laki-laki licik!" ucap Tari dengan nada marah nya.
Bara tersenyum sinis. "Seharusnya saya yang bilang seperti itu, kamu perempuan licik!"
Tari menautkan kedua alisnya. "Apa maksud anda tuan?" heran yang kini Tari rasakan.
Bara masih menampilkan siluet yang santai namun misterius. "Anda memalsukan akte nikah ini, dan saya akan melaporkan ini semua supaya anda bisa di hukum!" ujar Tari dengan kesal.
"Silahkan! Saya tidak takut." jawab nya santai.
"Saya tidak merasa menikah dengan anda ya tuan, jadi jangan bohongi semua orang. Saya akan membuktikan jika anda sudah salah membuat akte nikah palsu dan saya akan membuat anda menyesal!" ucap Tari dengan geram malah sangat geram rasanya ingin mencakar wajah Bara yang terlihat sangat menyebalkan.
"Ini asli nona Tari, kamu bisa tanyakan kepada ayahmu yang sudah menikahkan kita dan menjadi wali di pernikahan kita ini." jelas Bara.
"Ayok ikut saya, saya akan menjelaskan semuanya." Bara pun mengajak Tari untuk sedikit berdamai.
"Saya tidak memiliki urusan dengan anda." tolak Tari dengan tegas. Ia tidak akan percaya begitu saja.
"Baiklah jika kamu tidak mau mengikuti apa yang saya inginkan. Asal kamu tahu nona, jika kamu tidak menerima pernikahan kita ini saya akan mencari seorang ibu untuk Ken putraku yang belum tentu menyayangi dia dengan tulus dan sepenuh hati nya." terang Bara membuat Tari bingung kenapa si batu Bara menyebalkan itu berkata seperti demikian.
"Apa maksud anda tuan? Jika memang anda mau menikah silahkan saya tidak akan peduli!" elak Tari cepat.
__ADS_1
"Apa kamu yakin?" tanya Bara dengan seringai nya. "Ya sudah kalau begitu." Bara pun melangkahkan kakinya melenggang pergi dengan senyum licik nya itu, ia yakin Tari tidak akan tega melihat putranya di asuh oleh orang lain.
Tari terdiam sejenak syok dengan semua kejadian ini. Begitu banyak hal yang terjadi padanya, pernikahan ini juga, hah Tari pun di buat frustasi oleh nya, dia harus bertanya kepada ayahnya apa benar dia menikah kan dirinya dengan laki-laki arogan itu, dan jika benar itu terjadi hidup Tari sebentar akan mendapatkan kesengsaraan tiada tara.