
Akhirnya Tari memutuskan untuk tinggal kembali di Indonesia, dengan rayuan kedua anaknya dan melihat ayahnya yang sedang sakit seperti itu membuat Tari pun tidak tega dan berpikir secara keras untuk tinggal di Indonesia. Apalagi melihat perlakuan ibu tirinya yang sangat tega kepada ayahnya yang sedang sakit.
"Aku sebenarnya tidak apa-apa untuk tinggal di Indonesia karena aku adalah orang Indonesia, tapi... yang aku takutkan adalah bertemu dengan laki-laki yang sangat aku benci yang selama ini ingin aku kubur dalam-dalam." batin Tari dengan nafas yang terasa sesak jika mengingat laki-laki itu. "Tapi aku kasihan melihat ayah." lirih nya dalam hati seraya menatap wajah ayahnya yang pucat.
"Kamu tinggal di sini ya nak, agar ayah bisa dekat dengan kalian." pinta ayah lembut.
"Maaf ayah, sepertinya aku dan juga anak-anak akan tinggal bersama omah Mayang, aku tidak mau jika ibu nanti tidak akan suka jika aku tinggal di rumah ini, tapi Tari janji, Tari akan setiap hari melihat ayah dan menjenguk ayah kesini. Aku janji akan merawat ayah dengan baik sampai ayah sehat kembali." ucap Tari tulus yang membuat hati ayahnya merasa tersentuh dan sangat menyesali akan perbuatannya dulu pada Tari.
Ayah tiba-tiba meneteskan air matanya. "Ayah sungguh sangat menyesal Tari, ternyata anak yang ayah usir dari rumah adalah anak yang baik, ayah sungguh malu..." ucapnya dengan sesegukan.
"Sudah ayah, lupakan kejadian itu, sekarang adalah Sekarang tidak perlu mengingat masa lalu. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan ayah." balas Tari mengusap lengan ayahnya agar ia tenang.
"Baiklah Tari ayah tidak apa-apa jika kamu tidak mau tinggal di sini, asalkan kamu tidak pergi dan tinggal di luar negeri lagi, bagi ayah sudah melihat kamu sekarang ayah sudah sangat bahagia." ujar ayah lirih.
Tari tersenyum lembut. "Terima kasih ayah, aku janji aku akan merawat ayah, dan setiap hari akan datang kesini." ujar Tari.
Setelah merasa cukup bertemu dengan ayahnya, Tari dan kedua anaknya pun pamit untuk pulang, dan ayahnya pun mengijinkan nya.
Saat melewati ruang tamu ada ibu tirinya dan juga Tania yang sedang menatapnya dengan tajam kepada Tari, namun mereka melihat kedua anaknya yang menatap mereka dengan penuh ancaman membuat Tania yang sudah merasakan lengan nya yang sakit teringat akan kejadian tadi, kedua anak Tari begitu berbeda dengan anak-anak yang lain, mereka seperti dua elang ketika saat menatap Tania dan juga ibunya.
"Kami pamit Bu, tapi besok kami akan datang kembali untuk melihat keadaan ayah." pamit Tari dengan sopan kepada ibu tiri nya.
"Terserah!" balas ibu tiri tidak peduli.
Tari menghela nafasnya panjang. "Baiklah kami pergi." ijinnya seraya pergi dengan mengajak kedua anaknya untuk keluar dari rumah ayahnya itu.
Sedangkan kedua anak Tari masih menatap kedua wanita berbeda generasi itu dengan tatapan permusuhan dan menunjukkan kedua mata nya dengan jari nya dan memperagakan seolah-olah mereka akan menggorok leher mereka.
Kedua wanita yang di anggap Langit dan Bintang seperti nenek sihir itu pun bergidik ngeri tanpa ada ucapan apapun.
"Ibu lihat kan, bagaimana anak-anak Tari, mereka masih kecil tapi membuat ku takut saja." ucap Tania saat Tari dan kedua anaknya sudah menjauh.
"Kamu masa sama anak sekecil itu takut! Eh tapi ya anak-anak Tari itu tampan dan cantik, apa laki-laki yang menghamili Tari dulu laki-laki yang tampan?" tanya ibunya penasaran.
"Iya ya Bu aku baru sadar, mereka itu memiliki wajah yang sangat tampan dan cantik, tidak seperti wajah orang biasa yang memiliki ketampanan dan kecantikan yang biasa. Aku tidak tahu laki-laki seperti apa yang sudah menghamili Tari." sambung Tania menjadi penasaran juga.
*
*
*
Dan pada akhirnya Tari kini tinggal kembali bersama omah Mayang, omah Mayang begitu senang mendengarnya saat Tari meminta ijin untuk tinggal bersamanya sebelum ia memiliki rumah sendiri, namun omah Mayang bersikeras agar Tari dan kedua anaknya tinggal bersama nya. Tari memiliki uang dari hasil penjualan kue nya di luar negeri, ya dia akan pergunakan uang itu untuk membuka toko kue di Indonesia.
Setiap hari Tari selalu menjenguk ayahnya di rumah ayah dan ibu tirinya. Tari dengan begitu telaten merawat ayahnya yang sedang sakit itu, kaki nya yang lumpuh membuat ayahnya tidak bisa berjalan dan ia selalu menggunakan kursi roda nya.
Hari ini Tari sudah mendapatkan sebuah ruko untuk ia jadikan toko kue nya, tempat nya kecil namun strategis, ruko itu berada di pinggir jalan dekat dengan perkantoran dan juga jalanan ramai. Tari akan membuat toko kue kecil-kecilan dahulu, ia juga akan membuat kue yang di sukai orang-orang Indonesia dan ia juga akan menjual kue yang selalu di buat di luar negeri tempat ia kemarin tinggal, siapa tahu kue itu akan laris manis di Indonesia.
"Tari kamu sudah mendapatkan toko yang kamu cari?" tanya omah saat mereka sedang menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Sudah omah, sebuah ruko kecil tapi lumayan biaya sewanya, mungkin karena tempat nya di pinggir jalan dan strategis." jawab Tari antusias.
"Ya sekarang kecil, siapa tahu kue mu laris manis dan kamu bisa membuat toko kue yang kamu inginkan suatu saat nanti, toh kue buatan kamu itu enak, di luar negeri saja mereka bisa menerima kue buatan kamu apalagi di Indonesia, omah yakin orang-orang di sini pasti suka kue buatan kamu." puji omah dengan jujur.
Tari tersenyum. "Ya aamiin semoga ya omah, aku berharap seperti itu." ujar nya.
"Lalu kapan kamu akan mulai berbelanja kebutuhan untuk bahan-bahan kue nya dan pasti nya juga alat-alat kue nya juga." tanya omah.
"Besok, aku akan pergi ke mall untuk berbelanja kebutuhan jualan ku nanti, besok aku titip anak-anak ya Omah, karena aku akan pergi sendiri saja." ucap Tari pada Omah dan di iyakan oleh omah nya itu.
"Baiklah Tari omah akan menjaga mereka, kamu tenang saja saat berbelanja, pastikan kebutuhan berbelanja untuk berjualan kue bisa kamu beli semua, supaya buka toko kue mu bisa secepatnya kamu buka." ujar omah.
"Ya makanya aku titip anak-anak supaya aku tidak repot saat berbelanja." sahut Tari cepat.
*
*
*
Keesokan harinya Tari sudah bersiap untuk pergi ke mall terbesar di kota dimana Tari dahulu dan sekarang tinggal. Ia berniat membeli peralatan untuk membuat kue dan juga bahan-bahan yang akan di perlukan untuk ia memulai usahanya.
Kini Tari sudah di depan mall terbesar itu, mall yang dulu masih belum begitu ramai dan sekarang sangat di padati oleh banyak orang, dari orang tua, remaja dan juga anak-anak.
Anak kembar Tari ia tinggal, mereka juga mengerti jika ibunya akan berbelanja untuk usaha kue mereka.
Tari pun melangkahkan kakinya menuju toko-toko dimana ada barang yang akan ia beli, setelah ia mendapatkan apa yang ia butuhkan ia pun membeli nya, dan toko itu pun akan mengantarkan semua barang-barang yang sudah Tari beli ke rumah oleh toko tersebut setelah Tari memberikan alamat rumah nya.
"Ah akhirnya selesai juga." gumam Tari setelah ia mengecek barang-barang yang ia butuhkan dan sudah ia beli semua. "Sekarang aku tinggal pulang dan menunggu pesanan ku datang, anak-anak sedang apa ya?" gumam Tari dengan senyum nya serta buah tangan yang ia bawa untuk kedua anaknya dan juga Omah di rumah.
Saat Tari sedang melangkah untuk segera pulang dengan hati yang sedang bahagia, ia di kaget kan oleh orang yang berteriak keras seperti marah. Tari pun penasaran dengan apa yang terjadi, di saat Tari penasaran ia melihat seorang ibu tua sedang tersungkur di bawah lantai dengan terus meminta maaf pada seorang laki-laki yang mungkin tadi berteriak keras, Tari tidak melihat wajah laki-laki itu karena ia tertutup oleh kerumunan orang yang berada disana tanpa ada yang mau menolong ibu tua itu.
Tari melihat ibu tua tersungkur itu merasa tidak tega, ia seakan melihat ibunya yang sedang di perlakukan seperti itu, walaupun memang itu bukan urusan dirinya, Tari hanya ingin menolong ibu tua itu.
Tari pun menghampiri ibu itu di dalam kerumunan yang semakin banyak orang yang melihat namun tidak satu orang pun yang membantunya, walau hanya sekedar membangunkan ibu tua dari lantai mall yang mengkilap itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih, sampai orang itu tega berbuat kasar padanya!" gumam Tari merasa geram seraya terus masuk ke dalam kerumunan.
Setelah di depan ibu tua yang tersungkur berada Tari langsung membantu ibu itu untuk berdiri, tubuh ibu itu bergetar hebat mungkin saat ini ia sedang ketakutan atau merasa malu karena banyak sekali orang yang menyaksikan.
"Ibu tidak apa-apa?" ucap Tari bertanya keadaan ibu tua itu.
"Saya tidak apa-apa." sahut nya dengan dengan nada suaranya yang bergetar.
"Heh nona apa dia orang tuamu? Jaga dia baik-baik jangan sampai membuat ku malu dan merugikan ku!" ucapnya dengan suara berat penuh emosi.
Tari belum melihat laki-laki kurang ajar itu karena posisi Tari saat ini sedang membelakangi laki-laki itu.
Mendengar ucapannya membuat Tari merasa geram dan marah, ia mendengar ucapan laki-laki itu begitu angkuh dan sombong.
__ADS_1
Tari akan memberikan laki-laki itu sebuah pelajaran, ia tidak takut dengan apa yang akan terjadi padanya nanti, yang pasti Tari tidak menyukai orang-orang yang sudah menyakiti orang tua dengan kasar seperti tadi, sungguh Tari tidak terima, walaupun ibu tua yang ia tolong bukan siapa-siapa nya.
Tari memutarkan tubuhnya untuk melihat wajah laki-laki yang arogan yang ada di belakangnya itu, saat Tari memutar dan langsung melihat laki-laki itu dengan refleks tubuhnya mundur sampai terhuyung, ia terkejut bukan main saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya itu, dengan matanya yang sedikit melotot ke arah nya.
"La...la...la laki-laki itu!" batin nya gagap dengan nafas merasa tercekat. "Itu tidak mungkin!" gumamnya seraya mundur satu langkah. "Apa dia akan mengenaliku?" batinnya penuh ketakutan seraya mencoba menutupi wajahnya dengan melihat ke arah lain.
"Hei nona kenapa anda diam saja hah?!" teriak nya kesal membuat Tari tersadar.
Tari menghirup nafas nya lega. "Ternyata dia tidak mengingatku." batin nya lega.
"Hei tuan anda bisa tidak jangan berbuat kasar kepada ibu itu, apa anda tidak mempunyai hati dan perasaan sampai tega berbuat kasar seperti itu!" geram Tari kesal.
"Apa dia keluarga anda hah?!" tanya nya ketus.
"Dia bukan keluarga saya tapi saya tidak tega melihat anda memperlakukan nya seperti itu!" ucap Tari marah.
Laki-laki yang bernama Bara yang Tari ingat itu pun berkata. "Apa urusan anda kalau begitu, jika dia bukan keluarga anda nona jangan ganggu urusan saya!" bengis nya seraya menunjuk ke arah ibu tua yang sedang ketakutan itu.
"Saya tidak terima anda memperlakukan orang seperti itu, apa sih kesalahannya sampai anda semarah itu?! Anda bisa kan bicara dengan baik-baik, bukan memperlakukan ibu itu secara kasar." ucap Tari masih kesal.
"Sudah nona tidak apa-apa, ini memang kesalahan saya pada tuan itu, karena saya sudah mengotori pakaian mahalnya." jelas ibu tua itu dengan lirih.
Bara menatap dengan sinis ke arah Tari. "Dengar kan apa yang dia ucapkan, dan lihat apa yang dia lakukan pada pakaian ku!" jelas Bara merasa menang.
Tari tersenyum sinis. "Jadi, hanya karena ibu itu mengotori pakaian anda ini, sampai anda tega mendorongnya sampai ibu itu terjatuh ke lantai?!" Tari semakin geram akan apa yang ia ketahui masalah nya.
Bara melangkahkan kakinya mendekati Tari ketika dia mendengar ucapan Tari itu. "Hanya?! Anda tahu nona? Berapa kerugian yang saya alami dengan kejadian ini?" tanyanya seraya menatap kedua mata Tari yang berwarna coklat itu dengan tatapan mata Bara yang penuh dengan amarah.
"Tapi anda tidak seharusnya melakukan hal jahat seperti itu! Apapun alasannya!" ucap Tari tidak mau kalah dengan terus menatap mata Bara dengan kilatan penuh kebencian. Sebenarnya dia takut pada Bara namun sudah terlanjur, karena Tari tidak tahu dari awal bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang selama ia benci dan ia hindari, tapi untungnya dia tidak mengenali Tari atau pun mengingat nya.
Bara yang lebih dulu memutus tatapan mata mereka, ia merasa ada sesuatu yang mengingatkan nya, ntahlah dia tidak bisa mengingat nya.
"Kalau saja anda bukan wanita, saya akan membuat anda tidak akan bisa bernafas saat ini juga." ujarnya penuh emosi yang ia tahan.
Tari tersenyum sinis. "Kenapa jika saya seorang wanita, tadi saja anda tega menyakiti ibu itu, kenapa sekarang tidak anda lakukan saja pada saya!" ucap Tari menantang Bara.
Bara yang merasa di tantang itu pun langsung melayangkan tangan ke atas untuk menampar ke arah wajah Tari, Tari yang tahu apa yang akan dilakukan laki-laki itu pun memejamkan kedua matanya dengan cepat dengan ekspresi yang sangat takut.
Bara tersenyum sinis melihat wajah Tari yang seperti ketakutan, melihat ekspresi wajahnya Bara pun menyunggingkan senyuman licik nya. "Mana keberanian yang anda tunjukan tadi nona!" batin Bara.
Bara semakin menyeringai licik di wajahnya, ia akan memberikan pelajaran pada wanita berani yang ada di hadapannya ini. Sedangkan Tari ia masih memejamkan kedua matanya menunggu pipinya yang akan di tampar oleh laki-laki arogan ini, ia sudah menyiapkan dirinya untuk menerima apa yang akan di lakukan nya.
"Cup" Tari melototkan kedua matanya terkejut dengan perbuatan laki-laki itu, sebuah ciuman yang di berikan oleh Bara dan tidak hanya sekilas saja namun Bara mencium bibir Tari dengan sedikit mengisap bibir itu dengan lembut. Tari mendorong tubuh besar, tinggi dan tegap itu dengan kedua tangan nya sekuat mungkin agar bisa terlepas dari pangutan bibir laki-laki berengsek itu.
Semua orang yang berada di sana menyaksikan apa yang di lakukan Bara pada Tari. Semua orang bersorak berteriak melihat mereka yang tengah berciuman itu.
Bara melepaskan ciumannya itu dan menatap wajah Tari seraya mendekatkan bibirnya pada telinga Tari. "Itu pelajaran untuk anda nona, karena sudah berani menantang ku!" bisik nya sengit.
Plak... Sebuah tamparan mendarat cantik pada pipi Bara yang penuh dengan bulu halus. "Laki-laki berengsek!" ucapnya marah seraya pergi meninggalkan Bara dan menghapus bibirnya dengan tangan nya, ia merasa jijik sangat jijik.
__ADS_1