Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
bumbu cinta


__ADS_3

Keesokan pagi nya Tari terbangun lebih dulu dengan bergumam merasa nyeri dan terasa lelah pagi hari ini.


"Aww." ringis Tari mendesis dengan bergumam pelan.


Walaupun bukan yang pertama, namun Tari sudah tidak pernah melakukan hal seperti semalam tadi, jadi kelenturan nya tidak seperti perempuan yang sering melakukannya, apalagi semalam durasi nya lumayan lama.


Saat ia membuka kedua matanya lalu melihat ke arah samping dimana Bara masih terlelap dari tidur nya. Ntah jam berapa Tari maupun Bara tidur setelah apa yang terjadi pada mereka semalam.


Ada rasa malu bercampur marah pada laki-laki yang ada di sampingnya itu, saat mengingat malam panjang mereka. Tanpa berpikir panjang lagi Tari langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum Bara terbangun dari tidurnya.


Di dalam kamar mandi Tari langsung berdiri di depan cermin kamar mandi dan menatap tubuh nya lekat, kejadian malam itu membuat dirinya tidak mengerti kenapa Bara melakukan hal itu padanya.


"Kamu benar-benar bodoh Mentari..." geram Tari dalam hatinya. "Kenapa semalam kamu menikmati sentuhan dia!" kesalnya tidak habis pikir.


Tari menarik nafasnya dalam-dalam, melihat bagian tubuhnya penuh dengan tanda. "Ya ampun bagaimana bisa aku sampai tidak menyadari jika dia sampai meninggalkan bekas seperti ini!" cebik Tari.


Mengingat hal itu membuat Tari malu dengan kelakuan yang sangat gila karena tidak bisa menolak dengan tegas.


"Semoga saja dia lupa kejadian semalam itu, karena dia dalam kondisi mabuk." gumam Tari. "Tapi... bagaimana jika dia mengingat nya? Ah aku benar-benar malu betapa murahan nya aku membiarkan laki-laki itu menyentuh ku tadi malam." sesal Tari terus menggelengkan kepalanya dengan kesal.


"Tapi aku memang menikmati nya tadi malam. Ah kenapa aku begitu pasrah saat dia menyentuh ku, kenapa malam tadi begitu berbeda." gumam Tari semakin tidak mengerti, pasal nya 10 tahun yang lalu, dulu saat kejadian itu terjadi Tari sangat marah dan sangat membenci Bara, tapi tadi malam Tari sungguh menikmati sentuhan lembut yang Bara berikan kepadanya.


"Tenang Mentari, dia suami mu sekarang berbeda dengan dulu, kamu tidak mengenal nya sama sekali. Dan sentuhan nya itu sangat lembut tidak seperti dulu ya sangat kasar." Tari mencoba menenangkan diri nya yang ntahlah apa yang ia rasakan saat ini, sensasi nya sangat berbeda. "Dan dia juga tadi malam sedang dalam kondisi mabuk, kemungkinan besar dia tidak akan mengingat apa yang terjadi semalam." yakin Tari dengan sangat.


"Ya dia sedang mabuk dan tidak ingat sama sekali." ucap Tari berkali-kali dengan terus menarik nafasnya dalam-dalam agar ia tidak terus memikirkan hal ini, setelah itu ia bersiap untuk mandi.


Tak lama Tari pun selesai membersihkan dirinya. Lalu ia pun beranjak dari sana untuk bersiap. Setelah berpakaian yang tertutup karena ingin menutupi tanda-tanda ukiran yang di lakukan oleh Bara.


Melihat Bara yang masih tertidur Tari pun menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia sungguh sangat malu saat ini, lebih ke malu sekarang namun ada rasa kesal karena kenapa Bara tidak memintanya dengan lembut jangan bersikap kasar saat meminta nya, bahkan cenderung memaksa Tari walaupun pada akhirnya mereka saling menikmati nya.


"Sudah bangun." terdengar suara parau terdengar oleh Tari yang sedang menatap wajahnya ke arah cermin membuat Tari terkejut.


"Sudah." sahut nya tanpa menatap, seraya menghias wajah nya agar terlihat segar di tempat duduk meja riasnya. Tari sungguh sangat malu pagi ini, malu dan canggung yang kini ia rasakan.


Berpura-pura tidak terjadi apa-apa, Tari menyibukkan dirinya di dalam kamar itu sebelum dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


Bara tersenyum dengan memandang Tari yang sangat sibuk di dalam kamar nya. Bara mengingat dengan sangat jelas kejadian malam itu. Ah sungguh Bara ingin mengulang kembali adegan malam tadi.


"Apa semalam terjadi sesuatu?" Tutur Bara menggoda Tari.


"Tidak tahu, saya lupa." sahut Tari ingin segera menyelesaikan dandanan nya.


"Apa kamu yakin?" tanya Bara dengan seringai di wajahnya.


"Semalam kamu mabuk." jawab Tari dengan cepat.


"Kenapa saya sampai telanjang seperti ini, apa kamu yang melakukan nya?" Bara pun semakin senang melihat bagaimana Tari terus berpura-pura tidak ingat dengan kejadian tadi malam padahal Bara mengingat dengan jelas dan mendengar dengan jelas malah masih sangat jelas saat Tari terus memanggil nama di saat malam itu terjadi.


'ah Antoni...' racau Tari yang sangat jelas di telinga nya, dan itu kata yang Bara sukai keluar dari mulut Tari.


"Antoni apa kamu semakin gila! Untuk apa saya menelanjangi mu! Ya itu pasti kerjaan kamu sendiri." cebik Tari dengan kesal karena di tuduh.


"Ya... saya kan tidak ingat, kamu bilang saya mabuk." balas Bara semakin membuat Tari malu.


"Apa saking mabuknya, semalam saya mendengar suara wanita yang memanggil nama saya dengan suara yang lembut. Seperti ini 'Ah Antoni'." goda Bara dengan suara mendesah, sehingga Tari memerah wajahnya karena sungguh sangat malu, ia ingat jika dirinya tidak sadar terus memanggil nama laki-laki ini.


Tari menggigit bagian bawahnya, dengan wajahnya yang sangat merah, ya semalam ia meracau terus memanggil nama Antoni.


"Saya tidak mengerti maksud kamu apa!" berpura-pura tidak paham apa yang di bicarakan Bara saat ini.


"Hahaha, apa sebenarnya semalam itu yang mabuk itu kamu bukan saya, sepertinya." goda Bara kembali.


"Hah saya tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Tari pun dengan sangat cepat pergi dari kamar itu dengan rasa malu yang sangat besar.


Tari melenggang pergi, sungguh sangat memalukan. "Dia benar-benar membuat ku malu, ah Tari kamu benar-benar di permalukan oleh nya!" cebik Tari dengan menggerutu kesal.


"Kenapa dia ingat kejadian semalam, apa jangan-jangan dia sebenarnya tidak mabuk?" gumam Tari semakin memerah saja.


"Dan ah sungguh aku sangat menyesali nya." Tari pun semakin frustasi di buatnya.


***

__ADS_1


Saat Tari tengah menyiapkan sarapan untuk anak-anak, Bara pun melangkahkan kakinya menuruni tangga menuju dimana anak-anaknya tengah duduk di meja makan. Dengan siulan dan wajah nya yang terlihat sangat bahagia. Tari semakin kikuk saat melihat penampilan Bara hari ini yang sedikit berbeda, wajah nya terlihat sangat cerah secerah Mentari di pagi hari.


"Pagi anak-anakku." sapa Bara kepada tiga anak kembar nya itu, membuat ketiga anak kembarnya memandang Bara dengan penuh keheranan.


"Kenapa kalian menatap Daddy seperti itu? Apa Daddy membuat kalian tersinggung?" tanya Bara dengan tatapan bingung.


"Apa Daddy salah minum obat?" ledek Bintang yang paling berani.


"Memang Daddy sakit?" Bara pun mengernyit dengan pertanyaan dari anaknya itu.


"Ibu sepertinya memberikan obat yang baik untuk Daddy." Bintang pun mengarah pandangan pada Tari. "Daddy sekarang terlihat lebih segar dan wajah nya begitu cerah.


"Ya, ibumu memberikan obat terbaik untuk Daddy." sahut Bara dengan sedikit godaan kepada Tari.


"Ya ibu memang the best." Bintang pun mengacungkan jempol nya tanda setuju.


"Sudah kalian jangan terlalu banyak bicara, ayok makan!" titah Tari salah tingkah.


Ketiga anak-anaknya pun makan dengan tenang, sedangkan Bara terus tersenyum melihat bagaimana tingkah laku Tari yang meliriknya dengan tatapan sebalnya.


Bara berdiri setelah menyelesaikan sarapan nya. "Daddy mau kemana?" tanya Bintang si bawel.


"Daddy sudah selesai sarapannya, Daddy mau ke ruang kerja sebentar." jawab nya.


"Daddy tidak lupa kan dengan janji Daddy yang akan mengantarkan kami ke sekolah." Bintang pun mengingatkan.


"Ya sayang, Daddy tidak lupa, Daddy ke ruangan kerja hanya sebentar saja mengambil file untuk di bawa ke kantor.


"Ok kami tunggu Daddy di sini."


Ketika mereka tengah menikmati sarapannya, dan Bara tengah berada di dalam ruangan kerja, seorang pelayan di sana datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Tari dan juga anak-anak.


"Nyonya ada tuan besar datang, beliau sudah berada di depan." ucapnya memberi tahu.


"Tuan besar, siapa?" Tari penasaran.


"Kakek kita, ayahnya Daddy." sahut Ken dengan cepat.


"Ya." Ken pun mengangguk.


"Ya sudah beri tahu tuan Bara, dia sedang ada di ruangan kerja nya." titah Tari kepada pembantunya itu lalu dia pun dengan cepat melangkahkan kakinya menuju dimana Bara berada


Sejenak Tari terdiam apa yang harus ia lakukan sekarang, lalu ia menatap lembut kepada tiga anak kembar nya itu. "Ya sudah cepat selesaikan sarapan kalian." Tari pun dengan perasaan yang tidak menentu mencoba untuk tetap tenang, ini kali pertamanya ia bertemu dengan ayah dari suami kontrak nya. Tari bingung untuk menjawab apa jika nanti ayah nya Bara bertanya tentang keberadaan dirinya.


Tari pun bergegas untuk membersihkan piring yang bekas dan juga Bara sedangkan ketiga anaknya masih menyantap sarapan nya.


Tiba-tiba tuan besar berstatus ayah dari Bara menghampiri mereka saat sedang di meja makan. Ada keterkejutan di wajahnya yang terlihat berwibawa itu saat ia melihat ketiga anak yang berada di meja makan dan mereka terlihat sangat mirip.


Tuan besar itu menatap satu persatu pada ketiga anak kembarnya itu dengan secara bergantian.


"Hallo kakek." sapa Ken dengan datar, karena Ken masih belum bisa berhubungan baik dengan kakek nya itu. Tapi Ken maupun kedua saudara kembarnya dengan cepat beranjak untuk menyalami tangan kakeknya itu dengan penuh kesopanan. Kakek nya itu pun mengulurkan tangannya untuk di salami oleh ketiga anak yang wajahnya sangat mirip.


Tuan besar diam tidak menjawab sapaan dari Ken. Sebenarnya dia sudah menerima sedikit-sedikit dengan kehadiran Ken, apalagi dia mengetahui baru-baru ini jika Ken yang pernah membantu menghacker kembali perusahaannya itu.


"Selamat pagi tuan." sapa Tari dengan senyuman yang lembut menatap pada laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Pagi. Ka... kamu?" tanya nya dengan mengerutkan keningnya.


"Saya Mentari tuan." jawab Tari memperkenalkan.


"Anda mencari Bara tuan? Bibi Milah sedang memanggilnya." lanjut Tari saat mertua nya itu membuka mulutnya, Tari takut jika dia akan bertanya macam-macam tentang dirinya, biarkan saja Bara yang akan menjawabnya nanti.


"Ayah." panggil Bara melihat ayahnya sudah berada di ruangan makan bersama istri dan juga ketiga anak-anaknya.


"Bara, ayah ingin meminta penjelasan mu tentang kabar pernikahan mu itu." jelas ayah dengan nada terdengar marah.


"Aku akan jelaskan pada ayah di ruang kerja ku." ucap Bara mengajak ayahnya, dia tidak mau anak kembarnya mendengar pembicaraan mereka dan ayah nya pun mengangguk pelan.


"Anak-anak, seperti nya Daddy belum bisa mengantarkan kalian ke sekolah hari ini, karena Daddy ingin berbicara dengan kakek kalian dulu, kalian bisa mengerti kan?" ucap Bara dengan lembut dan penuh pengertian.


"Tidak apa-apa Daddy, kami mengerti." sahut mereka dengan paham.

__ADS_1


"Terima kasih ya." Bara pun tersenyum lembut lalu mengusap kepala mereka dengan bergantian, dan perhatian itu tidak luput terlihat oleh sang ayah yang memperhatikan nya. "Kalian bisa berangkat bersama sopir saja dulu hari ini " lanjut Bara dan di angguki mereka dengan cepat.


"Kami pergi dulu Daddy, ibu dan kakek." pamit mereka menyalami satu-persatu.


"Hati-hati ya." ucap Tari dengan lembut.


"Tunggu!" cegah tuan besar dengan suara berat nya menghentikan ketiga anak kembar itu.


Menatap satu persatu kembali pada wajah mereka secara bergantian. "Ya sudah kalian bisa pergi." ucapnya datar membuat ketiga anak itu bingung.


Setelah kepergian ketiga anak kembarnya itu Tari yang akan melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana pun di perintahkan untuk mengikuti mereka ke ruangan kerja Bara.


"Apa mereka kembar?" tanyanya dengan suara berat nya saat ini sudah di dalam ruangan.


"Ya." jawab Tari pelan.


"Sejak kapan kalian menikah?" tanya nya dengan nada terdengar dingin menatap tajam dengan sorot matanya.


"Ayah." panggil Bara karena merasa terintimidasi.


"Kalian tahu, semua berita sedang memuat informasi tentang pernikahan kalian itu, kabar kamu Bara, sudah tersebar kemana-mana, tapi kamu terlihat santai saja, ada apa dengan pikiran mu itu?!" terdengar penuh kekecewaan dengan penuh kekesalan.


"Ya biarkan saja, aku lajang tidak memiliki istri sebelumnya jadi tidak masalah kan ayah." jawab Bara dengan santainya.


"Ya kamu memang lajang, dan sekarang baru saja menikah tapi kamu sudah memiliki tiga anak yang sudah berusia 8 tahun, bagaimana cara kamu untuk menjelaskan pada semua orang? Bagaimana jika ada kabar miring tentang keluarga kita dan itu akan membuat harga saham menurun karena berita ini tersebar, jika dulu kamu pernah berbuat tidak senonoh pada seorang wanita dan menghasilkan tiga anak sekaligus. Apa yang akan kamu lakukan?" terdengar penuh kekecewaan dan kekesalan.


Bara pun bingung harus berbuat apa namun ia bisa menarik nafasnya dalam-dalam terlebih dahulu. "Aku yang akan mengurus masalah ini." jawab Bara dengan tenang.


Tuan Bara hanya bisa menahan kekesalan nya pada putranya itu. Lalu ia kembali menatap kepada Tari dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti.


"Kamu wanita yang Bara hamili?" tanya nya.


Tari mengangguk pelan dengan wajah menunduk. "Ya." jawabnya.


Tuan besar itu pun mendekat ke arah Tari dan memperhatikan nya. Lalu terdengar helaan nafasnya. "Bara, seharusnya kamu bertanggung jawab kepadanya dari dulu." ucap tuan besar. "Ceritakan semuanya kenapa kamu lebih menghindari pertanggungjawaban Bara daripada memintanya untuk bertanggung jawab?" pintanya dengan suara yang berat.


Tari mengangkat wajahnya menatap tuan besar itu dengan tatapan bingung. "Ceritakan bagaimana kamu yang menghilangkan jejak dan tidak mau meminta Bara untuk bertanggung jawab." ucap tuan itu dengan kegelisahan Tari yang tidak ingin bercerita bagaimana terjadinya proses ketiga anak kembar nya hadir.


Lalu Tari pun menceritakan semuanya, kecuali pernikahan sementara nya dengan Bara, mendengar semua penuturan Tari, Bara menjadi tahu alasan kenapa Tari tidak mau meminta tanggung jawab Bara.


Sedangkan ayahnya Bara yang mendengar cerita Tari ia hanya mampu menghela nafasnya panjang, semua salah putranya yang mabuk berat saat kejadian itu terjadi, namun Bara pun tidak sebenarnya salah karena dia tidak sadar saat melakukan nya bersama Tari, dan Bara pun memang akan bertanggung jawab jika pada saat itu Tari langsung menemui nya saat ia hamil.


"Ibu mu pasti akan marah besar, karena pernikahan kalian ini, tanpa ibumu ketahui seperti ini." ucap tuan besar itu menatap Bara. "Ya sudah lah urus masalah kalian berdua, ayah akan urus bagaimana ibumu nanti tidak marah dan kecewa." lanjutnya dengan helaan nafas berat lalu melenggang pergi.


Setelah ayah sekaligus mertua bagi Tari itu melenggang pergi Tari menatap Bara dengan tatapan tidak suka nya.


"Kenapa?" Bara pun gatal ingin bertanya.


"Ini semua salahmu!" ketus Tari menarik dan membuang nafas nya secara kasar.


"Apa salahnya." sahut Bara santai.


"Kita itu hanya menikah untuk sementara, kenapa kamu katakan kepada ayahmu seakan akan kita akan berumah tangga selamanya. Dan itu semua gara-gara mu karena kamu membuat semua orang tahu dengan pernikahan kita melalui rekan kerja mu itu, otomatis media tahu lalu menyebar dan sekarang ayah mu juga tahu!" kesal Tari berapi-api.


"Memang apa salahnya, kita kan memang suami istri sah secara agama dan hukum." balas Bara dengan sangat santai membuat Tari semakin kesal.


"Sudahlah berdebat dengan mu di pagi hari membuat saya pusing." balas Tari memutuskan perdebatan mereka.


"Saya punya obat supaya kamu tidak pusing seperti itu, dan sepertinya kamu membutuhkan nya sekarang." Bara pun menyahut dengan kedua alisnya ia mainkan secara santai.


"Apa memang?" Tari pun terjebak karena rasa penasarannya.


"Kita lakukan hal seperti tadi malam." bisik Bara di tepat di telinga Tari membuat Tari melototkan kedua matanya.


"Dasar laki-laki cabul!" umpat Tari dengan tangannya yang siap mencubit seluruh tubuh Bara yang dekat dengannya.


"Saya tidak mau!" teriak Tari dengan terus mencubit bagian tubuh Bara sampai ia meringis.


"Ah Antoni..." desah Bara mempraktekan untuk menggoda Tari yang sudah memerah di pipinya menjadi semakin merah karena ucapan Bara mengingatkan ia pada kejadian malam.


"Dasar mesum!" teriak Tari malu seraya meninggalkan Bara untuk menghindari Bara yang terus saja menggodanya. Terdengar gelak tawa dari Bara saat Tari meninggalkan nya sendirian.

__ADS_1


__ADS_2