Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kejutan


__ADS_3

"Owwwwh..." teriak para orang-orang yang melihat adegan ciuman antara Bara dan Tari bersorak dengan antusias.


Tari mendorong dada Bara yang masih menempelkan bibirnya pada bibir basah milik Tari. Telinga Tari mulai memerah karena ia malu dan wajah nya juga memerah karena rasa marahnya.


Bara segera melepaskan ciuman mabuknya, ia sadar mereka melakukannya dengan paksa dan mereka melakukannya di depan orang banyak yang menyaksikan.


Namun tidak hanya Tari yang merasa malu dengan kelakuan nya, sama Bara pun begitu malu melakukan nya jika tidak terpaksa. Hatinya begitu berdebar saat dia tengah mencium bibir basah dan kenyal seperti jeli itu namun Bara sebisa mungkin menenangkan hati nya agar tidak semakin malu pada perempuan yang tadi dia cium.


"Bagaimana apa anda percaya?" tanya Bara menatap tajam ke arah laki-laki yang membuat dirinya malu itu.


"Ok saya percaya sekarang." jawab laki-laki gemuk itu.


"Apa anda tidak ingin meminta maaf pada saya karena sudah mempermalukan saya di depan orang banyak!" sarkas nya dengan dingin.


"Saya minta maaf kepada anda dan juga istri anda, maaf karena saya sudah membuat anda malu karena tingkah laku istri saya ini." ujarnya penuh penyesalan.


"Bagus jika anda menyadari nya. Jaga istri anda jangan sampai membuat orang malu lagi!" tegas nya Bara berucap.


"Baik tuan, terima kasih." ucap laki-laki gemuk itu pamit seraya menyeret istrinya yang tidak tahu malu itu.


Semua orang di sana bubar setelah pertunjukan yang di lakukan Bara dan Tari itu.


Tari langsung mendorong tubuh Bara dengan kasar ketika tangan Bara yang masih memeluk nya berada di pinggangnya.


Tari menatap Bara dengan tatapan tidak suka nya lalu mendengus kesal dan dengan gerakan cepat ia melangkahkan kakinya dengan terburu-buru meninggalkan Bara yang masih berdiri di tempat tadi.


Bara tersenyum tipis melihat Tari yang kesal dengan wajahnya yang merah dan dengan daun telinga nya yang memerah membuat Tari terlihat lucu di mata Bara. Bara tidak menyadari jika ada percikan rasa di dalam hatinya yang mulai tumbuh namun belum dia akui.


Bara menatap kepergian Tari yang dengan langkah yang ia hentakan dan kaki nya yang kecil membuat tubuh nya seperti anak gadis yang sedang merajuk. Bara masih tersenyum di bibirnya ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya dan berjalan dengan santai mengikuti langkah Tari yang akan menuju ruangan dimana Bintang berada karena Bara masih ingat dengan tujuannya datang ke rumah sakit ini sebelum masalah yang tadi ia dapatkan.


Menyadari jika Bara mengikuti nya, Tari pun menghentikan langkahnya. "Si batu Bara itu kenapa mengikuti ku!" geram Tari kesal.


Lalu Tari pun berbalik menatap Bara yang melangkahkan kakinya yang semakin dekat ke arah nya.


"Kenapa anda mengikuti saya?!" ketus Tari.


Bara menatap Tari dengan santai dan tangan nya masih berada di sakunya. "Jangan kegeeran, saya tidak mengikuti mu, saya kesini hanya ingin menjenguk Bintang." jelas Bara.


"Bintang anak saya, jadi anda harus mendapatkan ijin dari saya jika untuk menjenguk, dan saya melarang keras anda menjenguk anak saya!" larang Tari keras.


"Kenapa kamu melarang saya, saya hanya ingin tahu kondisi Bintang saat ini." ucap Bara ada rasa khawatir pada Bintang.


"Anda tidak perlu mengetahui bagaimana kondisi anak saya, karena saya ibunya!" Tari pun tegas.


"Apa kamu lupa saya sudah mendonorkan darah untuk Bintang jadi saya hanya minta hak sedikit saja." kilah Bara mencari alasan.


Tari tersenyum kecut. "Apa hak? Hak apa maksud anda? Sudahlah lebih baik anda pergi dari sini, saya tidak mengijinkan anda untuk masuk ke dalam kamar inap Bintang! Saya juga menyesal kenapa harus anda yang selalu menolong saya dan mendonorkan darah untuk Bintang, jika itu tidak terjadi saya tidak mau menolong anda melakukan hal memalukan seperti tadi!" kesal Tari dengan suara pelan takut orang-orang mendengar apa yang mereka bicarakan.


Bara terdiam, ada rasa tidak nyaman di hati nya dengan ucapan Tari barusan. Bara tersenyum sinis. "Saya hanya meminta anda untuk menjadi istri saya di depan pria yang menuduh saya berselingkuh dan anda tidak sampai mengeluarkan darah, sedangkan saya menolong anda pada waktu itu sampai saya harus di larikan ke rumah sakit. Apa anda lupa?!" telak Bara membuat Tari terdiam, ia jadi tidak enak pada Bara ketika ia mengingatkan pada kejadian itu.


"Saya bisa saja membantu anda untuk berpura-pura sebagai istri anda, tapi tidak untuk adegan memalukan seperti tadi itu!" kesal Tari marah dan malu menjadi satu saat dia ingat ketika Bara mencium nya di depan orang-orang.


Bara tersenyum simpul dengan ucapan Tari itu dan ia juga melihat telinga Tari yang memerah kembali seperti tadi, apa dia sedang malu mengingat ia tadi yang berani mencium nya.


"Oh masalah ciuman tadi saya terpaksa melakukannya, kamu dengar sendiri kan pria gemuk tadi meminta kita untuk membuktikan jika kita adalah suami istri." ujar Bara mencari alasan. "Lagi pula kita sudah dewasa wajar jika berciuman seperti itu, dan sepertinya anda juga menikmatinya iya kan? Bagaimana ciumannya memabukkan bukan?" goda Bara dengan seringai senyum di bibirnya.


Tari kesal namun juga malu dan lihatlah telinga nya semakin merah mendengar ucapan Bara yang menggoda nya. "Wajar?! Sungguh anda laki-laki yang sangat menjijikkan!" ucap Tari marah lalu ia pun pergi meninggalkan Bara di sana yang tergelak tawa.


"Lucu sekali dia, terlalu naif!" gumam Bara pelan.

__ADS_1


Tari memasuki ruangan dimana Bintang terbaring dengan hati yang sangat kesal dan mencoba untuk ia tahan karena tidak ingin Bintang mengetahui apa yang telah terjadi.


"Ibu..." panggil Bintang.


"Kenapa anda ke sini sih, saya kan sudah bilang!" geram Tari melihat Bara masuk ke ruangan inap Bintang tanpa mempedulikan ucapan Tari tadi yang melarangnya.


Bara tidak memperdulikan kekesalan Tari, ia langsung melenggang masuk untuk bertemu dengan Bintang.


"Ibu, kenapa lama sekali!" kesal Bintang merajuk melihat ibunya yang berada di sampingnya itu.


"Maaf sayang, tadi banyak sekali pembeli donat yang kamu mau, maaf ya. Ini donat nya sudah ibu dapatkan." serah Tari menyerahkan bingkisan berisi donat itu.


Bara tersenyum kecil mendengar alasan Tari pada Bintang, dan Tari menatap jengah dengan senyuman Bara yang seperti mengejeknya.


*


*


*


"Jadi kalian sebenarnya sudah tahu jika kalian adalah saudara kembar?" kejut Tari menatap satu persatu pada anak kembarnya, Ken, Bintang dan juga Langit.


Mereka bertiga mengangguk membenarkan. "Maaf Bu..." lirih mereka bersamaan.


Tari mulai berkaca-kaca mengetahui apa yang ia baru ketahui.


"Sejak kapan kalian tahu hal ini?" tanya omah yang sama-sama terkejut.


"Sejak aku di bawa oleh ibu di supermarket xxxx." jawab Ken pelan.


Tari menerawang kejadian dimana ia membawa anak-anaknya ke salah satu super market cukup lumayan besar.


Ken dan Langit mengangguk. "Iya Bu." ucap Langit.


Tari membuang nafas nya dengan berat dan matanya yang masih berkaca-kaca menahan air matanya yang akan jatuh itu.


Tari begitu terkejut akan hal ini, dia tidak bisa berkata satu ucap pun karena tenggorokannya seakan tercekat.


Lalu Tari pun kembali menatap ketiga anak kembarnya itu dengan tatapan penuh seakan tak percaya jika ketiga anak kembarnya sudah lengkap.


"Apa kalian juga tahu siapa ayah kandung kalian?" tanya Tari dengan tenggorokannya yang sakit.


Mereka menganggukkan kepalanya. "Kami tahu Bu, dan aku terkejut setelah mereka berdua menceritakan itu semua padaku, apalagi setelah aku lihat wajah ayah kami." sahut Bintang menjelaskan.


"Dan kalian diam saja? Menyembunyikan semua ini dari ibu dan membohongi ibu selama ini?" tanya Tari penuh tatapan kecewa nya.


"Maaf Bu, aku hanya tidak mau terpisah seperti saat aku masih bayi." aku Ken dengan cepat. "Ini salah ku karena memaksa mereka, aku yang salah Bu." lirih Ken dengan sendu.


Tubuh Tari melemas dengan jawaban mereka. "Apa laki-laki berstatus ayah kandung kalian tahu jika kamu, kamu dan kamu adalah anak kandungnya?" tanya Tari takut menunjuk satu persatu.


Mereka menggelengkan kepalanya. "Tidak." ucap mereka kompak.


Tari mendesah lega akan jawabnya terakhir mereka. "Syukurlah." gumam Tari pelan, saat ini Tari bisa bernafas lega untuk sementara, tapi mungkin tidak akan lama lagi jika ketiga anak kembar nya menceritakan itu semua pada Bara laki-laki arogan itu.


Tari menatap ketiga anak kembarnya itu dengan serius. "Karena sekarang kalian sudah tahu jika kalian saudara kembar, ibu minta dengan mohon pada kalian jangan sampai Daddy Kalian tahu tentang ini! Tentang dimana kalian bersaudara kembar. Apa kalian paham?" tanya Tari meyakinkan.


"Paham Bu." ucap mereka serentak.


"Tapi kenapa Daddy tidak boleh tahu tentang kami, Daddy pasti akan senang jika aku memiliki saudara kembar dan Daddy pasti akan senang dengan ibu karena selama ini yang aku lihat perempuan yang paling dekat dengan Daddy adalah ibu. Apa ibu tidak mau kembali pada Daddy?" desak Ken.

__ADS_1


Tari terkejut mendengar ucapan Ken. "Kalian tidak tahu apa yang terjadi pada ibu saat mengandung kalian. Dan untuk saat ini ibu belum bisa menceritakan tentang semua ini kepada kalian, jadi untuk sementara ini ibu mohoooon sekali pada kalian lakukan apa yang ibu perintahkan, alasan ibu hanya belum siap dengan keadaan ini." ujar Tari lembut meyakinkan anak-anaknya.


"Baik Bu kami mengerti." ucapnya patuh.


Flash back


"Langit aku ingin kita bertukar kehidupan lagi, apa kamu mau?" tawar Ken ketika Langit menelpon ke nomor Ken menggunakan handphone Tari yang secara diam-diam.


"Aku tidak mau!" tolak nya cepat tanpa pikir panjang.


"Ayolah Langit." bujuk Ken.


"Aku tidak mau, Daddy kamu galak." cela Langit.


"Hei itu juga Daddy mu!" kesal Ken.


"Tapi dia tidak tahu aku adalah anaknya!" jawab Langit dengan ketus nya.


"Ayok lah Langit, aku merindukan ibu dan rindu dengan pelukannya. Mengertilah aku tidak pernah merasakan kasih sayang ibu jadi aku mohon untuk saat ini kita bertukar untuk sementara." kembali Ken membujur Langit. "Aku juga ingin melihat bagaimana kondisi Bintang sekarang, setelah dia kecelakaan aku belum pernah melihat dan menjenguknya." pinta Ken dengan lembut.


"Emh baiklah." sahutnya di sebrang sana dengan waktu yang cukup lama Ken menunggu.


"Yeay.... Kamu memang saudara kembar ku yang baik." puji Ken dengan semangatnya.


"Tapi ini hanya sementara! Aku tidak mau berlama-lama di sana. Aku tidak nyaman di rumah mu yang seperti istana itu." jelas Langit tidak suka.


"Ok, ini sementara." sahut nya menyetujui permohonan Langit dengan cepat takut berubah pikiran lagi.


Setelah menyetujui apa yang mereka rencanakan, Ken pun akhirnya tinggal di rumah Tari sekarang ini.


Dan saat ini Tari tengah menatap Ken yang ia anggap Langit itu. Akhir-akhir ini Langit berubah di mata Tari yang sedang menyadari bagaimana perbedaan Langit.


Saat ini Tari dan Ken sedang menonton acara di televisi, sedangkan Bintang ia masih harus banyak istirahat setelah ia pulang dari rumah sakit.


Perbedaan Langit sekarang adalah, Langit paling tidak suka menemani ibunya jika sedang menikmati acara televisi, namun sekarang Langit berada di sampingnya menemaninya. Kemarin perbedaannya adalah Langit begitu menyukai olahraga dan lari di pagi hari namun tidak pagi-pagi sebelumnya.


Saat Tari tidak sengaja melihat Langit di arah samping nya, ia melihat tahi lalat tepat di mana tahi lalat Ken, Tari jadi mengingat Ken dan mulai menyadari tentang banyak sekali perbedaan yang putra nya itu miliki.


"Ken!" panggil Tari sengaja menjebak Ken.


"Ya Bu?" repleks Ken pun menyahut panggilan Tari seraya menolehkan kepalanya pada Tari.


Tatapan Tari terkunci menatap Ken dengan seksama dan ia sangat terkejut kenapa bisa?


"Kamu Ken?" tanya Tari dengan terus menatap wajah Ken yang tegang karena dia tidak sadar jika dia sedang bertukar kehidupan dengan Langit.


"Ke...Ken siapa ibu?" tanya Ken berpura-pura tidak mengerti.


"Kamu Ken kan?" paksa Tari pada Ken agar dia mengakui. Ken menggelengkan kepalanya. "Jangan bohong Ken!" seru Tari.


"Aku tidak mengerti apa maksud ibu? Siapa Ken?" aku Ken masih berpura-pura dan tidak mau mengakui.


"Apa sekarang kamu memiliki tahi lalat di bagian sini!" tunjuk Tari. "Dan ibu rasa Langit tidak memiliki tahi lalat di sana." ujar Tari terus menyelidik membuat Ken mati gaya.


"Ayok mengaku lah!" paksa Tari.


Ken menarik nafasnya dalam-dalam. "Iya Bu aku adalah Ken, saudara kembar Langit dan juga Bintang putra dan putri ibu." jawab Ken pasrah.


"Apa? Ka...mu sudah tahu?" kejut Tari tidak menyangka.

__ADS_1


__ADS_2