
"Sun sun, apa kita bisa bertemu." ucap Leo, saat ini ia sedang menelpon Tari.
Tari berpikir sejenak sebelum menjawab. "Emh, sepertinya aku tidak bisa, karena aku sedang sibuk untuk membuat pesanan kue." kilah Tari, ia tidak mau berurusan dengan Tania karena pertemuan dia dengan Leo, dan lagi pula Tari adalah seorang istri, bagaimana jika nanti dirinya bercerai dengan Bara dan anak-anak jatuh ke tangan Bara gara-gara di tuduh berselingkuh itu akan merepotkan Tari nantinya.
"Hanya sebentar, apa kamu mau." pinta Leo mencoba mengajak Tari kembali.
"Maaf kak Leo, aku tidak bisa. Pekerjaan ku tidak bisa di tinggalkan." ucap Tari menolak secara halus.
"Ok jika kamu tidak mau." ucap Leo terdengar kecewa.
"Maaf ya kak Leo, aku benar-benar sedang membuat kue pesanan, dan itu harus sekarang juga." Tari pun merasa tidak enak hati karena menolak Leo.
"Ok, tidak apa-apa Sun sun aku mengerti, mungkin lain kali saja." Leo pun tidak bisa memaksa Tari.
"Baiklah kak, aku tutup telpon nya ya. Tut." Tari pun memutuskan panggilan telepon itu, membuat Leo pun merasa aneh.
Leo menatap layar handphone nya itu dengan tatapan yang sulit.
"Kenapa aku merasa kamu seperti menghindari ku Sun sun?" gumamnya. "Apa, yang di katakan Tania benar, bahwa kamu sudah menikah, tapi kenapa kamu menyembunyikan itu dari ku?" batin Leo semakin penasaran dengan kehidupan Tari sekarang.
"Jika memang Sun sun sudah menikah, aku memang sangat merasa kecewa, tapi jika laki-laki itu membuat Sun sun bahagia, aku akan senang melihatnya, walaupun hati ku tidak rela sebenarnya." lanjut Leo merasa sakit jika mengetahui kebenaran Tari yang sudah menikah.
"Aku harus bertemu dengan Sun sun, aku tidak mau percaya begitu saja, mungkin saja Tania berbohong padaku." gumam Leo. "Ya aku harus bertemu dengan Sun sun, tapi bagaimana jika dia terus menolak untuk bertemu dengan ku?" lagi, Leo pun bingung.
Setelah berpikir beberapa saat. "Hemm kerja sama tante dan Sun sun, sepertinya kemarin Sun sun tertarik dengan tawaran tante Melati. Ya tante Melati." seru Leo dengan penuh semangat.
Sedangkan Tari yang memang sedang berada di toko pun, hanya bisa menghela nafasnya. "Aku tidak mau berurusan dengan Tania saat ini, karena aku sudah lelah berurusan dengan Bara di rumah." batin Tari melihat pada handphone nya yang telah ia matikan seraya menyesap minuman yang ada di tangan nya.
Namun saat Tari tengah menyesap minuman nya panggilan telepon itu pun berdering kembali, dan layar itu pun menampilkan sebuah nama dari Bara.
Tari menarik nafasnya panjang. "Baru saja aku memikirkan nya, dan sekarang dia malah menelpon ku. Ada apa dia menelpon ku?" heran Tari tidak biasanya.
Dengan terpaksa Tari pun menjawab panggilan itu. "Hallo." sapa Tari dengan rasa malas.
"Lama sekali kamu menjawab telepon dari saya, apa yang sedang kamu kerjakan?" terdengar suara yang ketus di sana.
"Kenapa kamu menelpon saya?" Tari malah bertanya balik.
"Ini sudah siang, apa kamu sudah menyiapkan makan siang untuk anak-anak." ucap Bara.
Tari melirik jam di pergelangan tangannya. "Ya, sebentar lagi saya pulang." jawab Tari dengan cepat.
"Sekarang saja, saya tunggu di luar!" ucap Bara.
"Apa di luar?" kejut Tari. Ia mencari-cari Bara di luar apa benar dia sudah berada di luar, dan benar saja Tari melihat siluet Bara tengah bersender pada mobil nya dan terlihat sedang memegang telepon di telinga nya.
"Ya, kenapa? Ayok cepat!" titah Bara membuat Tari berdiri seketika dan memutuskan telpon itu secara sepihak.
__ADS_1
"Dasar tidak sopan!" kesal Bara karena panggilan nya terputus begitu saja.
Tak lama, Tari pun keluar dari toko nya itu, setelah memberi tahu kepada karyawannya. Bara yang menunduk dengan kedua tangan ia masukan ke dalam saku celananya pun melihat seorang perempuan yang menghampirinya, membuat tatapan Bara yang sedang menunduk pun mengangkat kepalanya, dan menatap lekat pada wanita yang sedang berdiri di depannya.
"Ada angin apa kamu datang ke toko dan menjemput saya?!" ketus Tari dengan heran.
"Saya kebetulan melewati jalanan ini, dan saya ingin pastikan jika anak-anak saya makan siang, tidak kelaparan karena ibunya lupa membuat makanan untuk mereka." terang nya dengan cepat agar tidak di curigai oleh Tari.
"Dia anak-anak saya, jadi saya pastikan tidak akan menelantarkan mereka apalagi sampai mereka kelaparan." balas Tari tidak terima.
"Ya sudah jika kamu sudah paham, ayok naik." ucap Bara dengan nada dingin nya.
Tari hanya bisa mendelik dan menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu ia pun naik ke mobil yang Bara bawa.
Sesampainya di rumah, Tari pun langsung bergegas menuju dapur untuk membuat makanan sebelum anak-anak pulang dari sekolah nya. Sedangkan Bara menuju ruangan kerjanya, sebenarnya Bara ingin menemani Tari, namun rasa gengsi dan rasa malu nya itu besar membuat Bara pun memilih untuk masuk ke ruangan kerja nya saja.
Beberapa saat kemudian, tercium wangi aroma masakan dari dapur tercium oleh penciuman Bara, membuat perut Bara terasa lapar. Bara pun keluar lalu melihat ke dapur, yang pertama ia lihat adalah Tari yang sedang menggunakan celemek di tubuhnya dan rambut yang di sanggul tinggi membuat Bara yang melihat sedikit tertarik. Tanpa sadar Bara pun mendekat dan terus memperhatikan Tari yang tengah sibuk itu.
Saat Bara melihat makanan sudah siap di dekatnya, ia langsung memakan makanan yang telah siap itu.
"Hei kenapa kamu malah memakan nya!" teriak Tari saat melihat Bara sedang menikmati masakannya.
Uhuk... Bara terkejut dengan teriakan Tari hingga dia pun terbatuk-batuk.
"Sa...saya hanya mencicipi sedikit, agar saya tahu makanan ini aman atau tidak untuk anak-anak." kilah Bara menjawab setelah ia merasa tenggorokannya itu nyaman.
"Memang kamu pikir, saya akan meracuni anak-anak kita!" Tari pun kesal dengan ucapan Bara itu. "Sembarangan saja kamu bilang, kalau memang saya memiliki niat untuk meracuni orang, orang yang lebih dulu saya racuni itu kamu!" kesal nya keceplosan.
"Kenapa kamu malah tertawa seperti itu?" Tari pun semakin geram.
"Kamu terlihat sangat lucu." ucapnya datar seraya memakan makanan itu.
Tari memukul tangan Bara karena terus saja memakan makanan nya itu.
"Kenapa? Apa saya tidak boleh makan? Saya juga lapar. Kamu jangan hanya memasak untuk anak-anak saja." ucap Bara terlihat sangat kesal.
"Jangan mulai, apa kamu lupa jika saya hanya istri..." ucapan Tari pun terpotong.
Bara langsung menyela. "Istri sementara saya, dan saya bukan suami kamu yang sebenarnya. Jadi kamu tidak memiliki hak untuk membuat makanan untuk saya, begitu kan maksud mu?" telak Bara dengan nada dingin nya.
Tari terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk sesaat, karena memang ucapan itu yang akan dikatakan Tari, tadi. "Ya, itu kamu sudah mengerti."
Bara menatap wajah Tari dengan wajahnya yang tertekuk karena tidak suka. "Lebih baik saya makan di luar saja!" kesal nya dengan mendengus, niat hati menjemput istrinya karena ia ingin makan siang dengan makanan yang di buatkan istrinya, tapi malah ini yang terjadi. Sungguh sangat mengesalkan.
"Tunggu!" cegah Tari membuat Bara yang melangkah untuk pergi pun berhenti. Lalu berbalik menatap ke arah Tari.
"Ada apa?" tanya Bara malas dan ketus.
__ADS_1
"Makanan yang kamu makan tadi, makanan untuk anak-anak." jelas Tari.
Bara menyela. "Ya saya tahu, saya tidak akan memakannya lagi." jawab Bara dengan nada dingin nya. "itu memang hanya untuk anak-anak saja." ucapnya ada rasa iri dan cemburu di dalam hatinya, karena Tari lebih mempedulikan ketiga anak-anaknya.
Melihat Bara yang memberenggut masam seperti itu membuat Tari merasa lucu melihatnya, Tari seperti memiliki 4 orang anak yang ingin di perhatikan dan mendapatkan perhatiannya. "Ini makan siang untuk mu." menyerahkan sebuah menu makanan siang yang padat dan siap santap itu ke meja. "Saya membuat ini untuk kamu, karena menu makanan yang kamu makan menu anak-anak, dan ini untukmu menu untuk orang dewasa yang selalu bekerja keras." terang Tari menatap Bara dengan tatapan lembut.
Bara terdiam, ia malu dan suaranya tercekat saat ini karena ia merasa ada sesuatu yang manggelitik pada perasaan nya saat ini.
"Sudahlah tidak usah banyak berpikir keras, tadi kamu bilang lapar kan, ayok makan!" ajak Tari melihat Bara diam mematung.
Karena Bara masih diam, Tari pun mendorong tubuh Bara agar duduk di kursi makan itu.
"Tidak perlu berterima kasih." ucap Tari melihat Bara menutup dan membuka mulutnya seakan ragu untuk berkata apa. "Saya tidak mau asam lambung mu kambuh lagi, dan itu akan merepotkan saya nantinya." ujar Tari dengan santai seraya menyiapkan makanan untuk Bara makan.
Terdengar dengusan kesal dari mulut Bara membuat Tari pun tersenyum tipis. Lalu Tari pun menyuapkan makanannya itu ke mulut nya sendiri.
*
*
*
"Tania, apa kamu menyinggung seseorang yang sangat penting?!" tanya manager Tania dengan kesal.
"Maksud mu apa?" Tania pun tidak mengerti maksud dari manager nya itu.
"Lihat! Lihat sendiri!" ucapnya seraya melemparkan surat pembatalan kontrak kerja sama itu tepat di hadapan Tania.
Tania meraih surat itu dengan cepat. "A... aku tidak mengerti, bagaimana bisa ini terjadi?" Tania pun semakin tidak mengerti.
"Coba kamu ingat baik-baik, apa seorang petinggi pernah kamu sakiti hatinya? Dengan ucapan mu atau dengar perbuatan mu?" selidik manager itu menatap Tania dengan tatapan tajamnya.
"Karena, orang yang memiliki kekuasaan tertinggi yang akan melakukan ini, lihat kontrak iklan dan film yang akan memakai mu sebagai model nya semua di batalkan begitu saja, tanpa ada alasan yang jelas dari mereka." kesalnya memuncak dari sang manager.
"Aku tidak tahu, dan aku yakin tidak pernah menghina ataupun berbuat ulah dengan seseorang. Apalagi orang yang memiliki kekuasaan yang kuat, kamu manager ku kamu tahu bagaimana aku." Tania semakin bingung dengan hal ini.
"Ntahlah, aku tidak tahu. Tania jika semua kontrak kerja sama kita di batalkan selain kita akan kehilangan uang, kamu juga akan kehilangan fans mu secara perlahan karena kamu pasti jarang muncul di televisi nantinya. Coba kamu ingat kembali, siapa yang orang yang pernah kamu singgung sehingga dia melakukan ini padamu." jelas manager itu dengan kesal pasal nya kontrak ini di putuskan hampir semua kontrak yang mereka tanda tangani.
"Aku merasa tidak memiliki masalah dengan orang lain, kamu tahu sendiri menjadi artis adalah keinginan ku dan aku tidak mungkin melakukan hal yang akan membuat karier ku hancur begitu saja, apalagi sampai bermasalah dengan orang yang hebat seperti itu." kilah Tania.
"Bukannya kamu pernah mengatakan jika kamu membenci saudara tiri mu itu?" tanya manager itu mengingat.
"Hahaha, dia hanya seorang tukang kue, jadi tidak mungkin dia bisa melakukan ini padaku." Tania merendahkan Tari. "Bahkan saat terakhir kalinya aku melihat dia sedang membagikan brosur kue jualannya di jalanan." ucapnya lagi. "Jadi tidak mungkin perempuan itu melakukan pemutusan kontrak kerja itu, secara dia bukan orang yang berkuasa dengan kemampuan yang dia miliki." lanjutnya menyepelekan.
"Lalu, ini sangat mengherankan Tania. Apa kamu tidak pernah berpikir masalah ini akan terjadi seperti ini." kesal manager pun. "Bagaimana jika saudara tiri mu memiliki seseorang di belakangnya yang membantu dia?"
"Itu tidak mungkin, hidupnya saja terlihat masih susah." ejek Tania.
__ADS_1
"Siapa tahu kan?" manager itu pun bergumam namun tidak begitu merasa yakin.
Tania terdiam, ini tidak mungkin, tidak mungkin jika Tari yang melakukan ini padanya, sudah jelas jika Tari hanya orang biasa, apa Leo? Oh itu pun tidak mungkin karena untuk apa Leo melakukan ini padanya, dia dan Leo tidak pernah memiliki masalah. Lalu siapa?