Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
nafkah batin itu penting


__ADS_3

"Antoni! Saya tidak mengerti dengan sikap mu itu!" amarah Tari pun semakin melonjak saat Bara sudah berhasil merobek pakaian yang ia kenakan saat ini.


Seringai licik dari tatapan Bara pada Tari. "Saya akan membuatmu selalu bersama saya." jawabnya.


Bara melepaskan tubuh Tari, lalu ia membawa sebuah surat perjanjian antara dia dengan Tari. Ia dengan cepat merobek surat kontrak itu menjadi sobekan kertas kecil dan melemparkannya ke udara sehingga membuat kertas itu berhamburan.


"Apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu merobek surat perjanjian kita ini?!" geram Tari.


Tanpa menjelaskan apapun Bara langsung mendorong tubuh Tari yang ada di dekatnya itu ke ranjang dan langsung mengunci pergerakan tubuh Tari yang mencoba untuk melepaskan.


"Semakin kamu bergerak dengan lincah, semakin saya tidak akan melepaskan mu!" ancamnya dengan nada menggoda.


"Kamu berusaha untuk memperkosa saya lagi!" geram Tari tertahan.


"Hahaha, dulu memang, tapi sekarang sepertinya kamu menyukai nya." balas Bara dengan santai menatap kedua mata Tari yang ada di bawah Kungkungan nya.


"Kenapa?" melihat tatapan Tari yang tajam kepadanya membuat Bara semakin menatap tatapan itu.


"Kamu menganggap saya perempuan murahan begitu!" sengit Tari.


"Tidak sama sekali." jawab Bara dengan menggelengkan kepalanya. "Saya hanya butuh kamu, dan kamu harus membutuhkan saya." tambahnya.


"Saya tidak tahu apa yang ada dalam otakmu ini, kamu memang laki-laki berengsek yang pernah saya kenal!" ucap Tari dengan sinis.


"Kamu menyakitkan perasaan saya Mentari." desis Bara tidak terima.


"Tapi karena kamu mengatakan saya berengsek, bagaimana jika saya memperlihatkan kebrengsekan saya pada mu sekarang juga." ucap Bara dengan menulusuri wajah Tari dengan jari telunjuk nya dan Tari membuang wajah nya merasa jijik Bara menyentuhnya seperti itu.


"Saya akan membuat kamu tahu, jika kamu berhadapan dengan laki-laki brengsek. Dannnn sekaligus, saya akan membuat kamu melayang sampai langit ke tujuh." bisik Bara dengan lembut dengan matanya yang gelap.


"Lepas!" geram Tari.


"Saya tidak akan melepaskan mu."


Di bawah tubuh Bara, Tari mencoba menenangkan diri dan hatinya. "Antoni, jika kamu memang membenci saya, kenapa kamu lakukan ini pada saya? Kenapa kamu terus melakukan hal ini kepada saya, saya bisa menerima hukuman lain yang bisa kamu berikan, bukan seperti ini." ucap Tari merendah.


"Hukuman seperti apa yang kamu inginkan? Menurut saya ini hukuman yang ternikmat yang akan saya berikan, dan bahkan ini tidak bisa di sebut sebuah hukuman." jelas Bara dengan pelan.


"Ini hukuman bagi saya." balas Tari dengan suara berat karena ingin menangis.


"Ini tidak berat, kamu tinggal menikmati nya saja." Bara pun mulai merendah. Bara ingin menjelaskan kenapa ia melakukan ini, namun dia takut jika dia mengutarakan isi hatinya sekarang kepada Tari lalu Tari menolak nya, ia akan benar-benar di permalukan oleh Tari.


"Tolong Antoni lepaskan saya." pinta Tari mencoba membuat Bara melepaskan.


"Tidak." tolak Bara, ia begitu sakit ketika tahu perempuan yang ada di bawah tubuhnya ini diam-diam meminta gugatan cerai dan meminta hak asuh atas anak-anak nya.


"Kamu memang laki-laki yang tidak memiliki perasaan." ucap Tari dengan kesal karena Bara masih saja tidak bisa melepaskan nya.


"Kamu yang tidak memiliki perasaan!" balas Bara mulai naik. "Saya tahu hari ini kamu pergi menemui seorang pengacara, untuk bercerai dengan saya dan ingin meminta hak asuh atas anak-anak saya! Kenapa kamu lakukan itu hah!" tidak sabar dengan unek-unek di dalam hatinya Bara.


Deg... Tari terkejut mendengar ucapan Bara itu. Kenapa dia tahu apa yang dia rencanakan ketika dia menyetujui pernikahan nya dengan Bara.


"Kenapa? Terkejut?" seolah-olah tahu apa yang di pikirkan Tari.


"Kamu mau menjauhkan saya dengan anak-anak?" lamat Bara menatap Tari.


Merasa di tatap seperti itu karena kesalahannya Tari pun menatap Bara dengan tatapan gugup.


"Saya tahu semua yang kamu lakukan, karena kamu salah sudah membuat saya seperti orang bodoh. Kamu tahu kan siapa saya?" terang Bara menekan ucapannya itu.

__ADS_1


"Bahkan, sesuatu yang akan kamu lakukan hari ini akan sia-sia, malah lebih, anak-anak akan jatuh ke tangan saya dengan cara saya sendiri." Bara pun membalas nya dengan sebuah ancaman. "Dan kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan mereka lagi, jika kamu masih mau bercerai dengan saya!" tambahnya dengan terus mengancam.


Tari tersenyum sinis. "Kamu memang laki-laki tidak memiliki hati nurani. Saya sungguh menyesal kamu ayah dari anak-anak saya!"


Bara pun membalas senyuman sinis Tari kepadanya. "Ya, dan saya sekarang akan membuat kamu lebih menyesal, karena saya akan membuat kamu mengandung anak saya lagi." ucapnya dengan seringai licik walaupun hati nya sangat sakit mendengar ucapan Tari kepada nya.


Dengan buas Bara mencium bibir Tari walaupun Tari sekuat tenaga untuk menolaknya. "Ingat kamu adalah istri saya, jika kamu terus menolak saya seperti ini, kamu tidak akan melihat anak-anak kita lagi!" ancam Bara di tengah dia mencoba untuk mencium bibir Tari. "Puaskan saya, jangan membuat saya kesal dan marah."


Tari tidak punya pilihan lain, dengan rasa terpaksa ia mencoba untuk melayani keinginan Bara itu, dia masih ingin melihat ketiga anaknya tumbuh, ini bukan yang Tari inginkan, bukan seperti ini, dia terjebak dalam pernikahan ini.


Tari mencoba mengimbangi permainan Bara. 'ingat Tari dia adalah suami mu, walaupun dia memaksa nya, tapi dia adalah suamimu, lakukan saja apa yang dia inginkan, asalkan kamu tidak sampai kehilangan anak-anak mu.' batin Tari mencoba membuat Bara tidak semakin marah dan membuat dia terpisah dengan anak-anaknya.


Bara tertawa di dalam hatinya, ia merasa senang karena Tari mampu mengimbangi apa yang ia inginkan. "Apa harus dengan sebuah ancaman kamu bisa melakukan ini dengan baik." sindir Bara di tengah permainan nya.


Tari tidak menjawab ia malu sebenarnya, takut dan juga kesal pada laki-laki yang ada di atas tubuh nya itu.


"Oh... kamu benar-benar hebat." puji Bara di tengah permainan nya itu.


Ingin rasanya Tari menoyor kepala laki-laki yang penuh dengan otak kotor nya itu. Jika saja dia mampu membuat Tari merasa nyaman, ia akan ikhlas melakukan hal itu namun apa daya laki-laki ini licik, dia hanya bisa mengancam dengan kekuasaan yang dia miliki.


"Ah....ya begitu." desah nya membuat Tari mendelik mata nya ke arah Bara dengan tidak suka, karena Bara berpindah posisi yang ia inginkan.


"Kamu hebat. Ah." desah Bara meracau dengan tidak tahu malu nya karena sentuhan Tari itu.


Setelah selesai permainan itu, Tari akui jika awalnya dia menolak namun karena dia seorang manusia yang memiliki rasa juga membuat dia pun merasakan jika secara batinnya terpenuhi sebagai istri, apalagi Bara tahu titik sensitif tubuh Tari.


Tari terdiam dengan tubuh yang berselimut seraya membelakangi tubuh Bara, ia sungguh bingung harus bagaimana. Sudahlah yang penting Bara sudah ia puaskan, malu atau tidak Tari sudah tidak peduli karena percuma saja.


Saat Tari terdiam dengan isi pikirannya, tiba-tiba sebuah tangan merayap memeluk tubuh mungil dan merapatkan tubuh itu pada tubuhnya.


"Terima kasih." bisik Bara dengan tulus yang saat ini sedang memeluk tubuh istri nya.


Bara menciumi bagian bahu Tari yang mulus dan lembut itu. "Saya tidak akan pernah menceraikan mu!" bisik nya membuat Tari meremas kain seprainya dengan kuat.


Mengeratkan pelukannya dengan kuat pada tubuh Tari yang belum memakai apapun. "Ingat jadilah istri yang baik, turuti apa yang saya inginkan dan saya katakan dannn jangan dekat-dekat dengan laki-laki yang bernama Leo itu!" tegas Bara memperingatkan dengan nada sebuah ancaman.


"Apa kamu mengerti?" bisik Bara tepat di telinga Tari.


"Kamu jangan berpura-pura tidur, saya tahu kamu mendengar apa yang saya ucapkan." ucap Bara melepaskan pelukannya dan menatap belakang kepala Tari.


Tidak ada jawaban dari mulut Tari. "Oh apa kamu ingin melakukan hal menyenangkan lagi seperti tadi ya." bisik Bara dengan sangat pelan seraya menciumi bahu Tari dengan mesra.


Dengan cepat Tari membalikkan tubuhnya menghadap Bara yang tersenyum kepada nya. "Tidak mau, saya capek, lelah dan juga lapar!" tolak Tari dengan sebal membiarkan Tari kelaparan.


"Saya sudah pesan makanan untuk kita makan siang, karena saya juga lapar setelah bermain dengan mu tadi, tenaga saya terkuras dan tersedot oleh mu." dengan santai dan menggodanya sampai Bara tergelak moodnya berubah menjadi lebih baik ketika Tari istrinya memberikan pelayanan yang sangat ia inginkan, kebutuhan batin nya yang terpenuhi.


Tari berdesis. "Bisa tidak kamu jangan terus berbicara hal-hal sensitif seperti itu!" sebal Tari.


"Kenapa? Saya suka, dan sepertinya kamu juga menikmati nya kan. Malah jika sekarang kamu meminta lagi akan saya berikan, mumpung kita masih di dalam hotel." terang nya tidak tahu malu.


Melihat bagaimana sikap El padanya yang selalu berubah-ubah kadang kasar dan kadang lembut membuat Tari heran pada laki-laki satu ini. "Dasar laki-laki bunglon!" Tari berani menimpali ucapan Bara yang memang terlihat lebih santai tidak seperti tadi.


"Kenapa kamu bilang saya bunglon?" tanya Bara dengan tatapan antara kesal atau tidak.


"Karena kamu selalu berubah-ubah." gugup Tari pun saat menjawab.


"Itu semua bagaimana kamu memperlakukan saya seperti apa, saya akan menjadi suami baik jika kamu baik kepada saya." terang nya dengan serius.


Tari menarik nafasnya panjang lalu menatap lekat pada manik manik gelap yang Bara miliki, memberanikan diri untuk bertanya kepada Bara.

__ADS_1


"Kenapa saya harus menjadi istri kamu yang baik?" Tari dengan gugup pun bertanya.


Terdiam sejenak karena tatapan teduh Tari yang menatapnya. "Karena kamu ibu dari anak-anakku. Jadi kamu harus menjadi istri saya yang baik." gugup Bara pun saat menjawab dengan kebohongannya. Ingin katakan jika 'aku mencintai kamu' rasanya sangat berat dan tenggorokan terasa tercekat saat ia ingin berkata jujur.


Kecewa, yang kini Tari rasakan saat mendengar alasan Bara itu, bukan jawaban itu yang Tari inginkan, Tari akui dia sepertinya memiliki perasaan kepada Bara namun itu semua ia selalu tepis karena bagaimana Bara saat memperlakukan Tari, seperti dengan sikap Bara, dan ucapan Bara yang seakan dia tidak lah pantas menjadi istri dari seorang Bara Antoni.


Dengan rasa kecewa Tari hendak bangun untuk pergi ke kamar mandi saja daripada berbicara dengan Bara yang membuat dirinya sangat kecewa.


"Mau kemana?" tanya Bara seakan ia tidak mau pembicaraan mereka berakhir begitu saja.


"Ke kamar mandi." sahut Tari dengan sebal seraya menurunkan kedua kakinya ke lantai dengan terus berusaha menutupi tubuhnya yang belum memakai baju dengan selimut yang kini ia pakai.


Menarik terus selimut itu karena di tahan oleh Bara yang juga memakai selimut yang sama dengan nya.


"Antoni saya mau ke kamar mandi!" kesal Tari saat selimut itu masih belum Bara lepaskan.


"Saya juga sedang memakai selimut ini, masa saya harus telanjang juga, walaupun saya tidak masalah sih." senyum jahil di wajahnya.


Tari tersenyum sinis. "Kamu kan memang tidak memiliki rasa malu." ucapnya seraya menarik selimut itu dengan kuat lalu ia pun berlari ke kamar mandi setelah ia mendapatkan selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Kamu! Awas..." teriak Bara khawatir Tari terjatuh namun dengan senyum di bibirnya karena melihat Tari yang berlari dengan selimut yang menggulung di tubuhnya.


Beberapa saat kemudian pintu kamar hotel berbunyi, Bara langsung memakai celana seadanya saja tanpa memakai pakaiannya, dada nya yang rata dan sedikit berotot membuat sang pelayan wanita tersipu malu saat pintu itu terbuka dan langsung melihat pemandangan indah itu.


"Permisi tuan, saya mau mengantarkan pesanan makanan dan pakaian yang anda pesan." ucapnya.


"Ya, bawa masuk!" titah Bara.


Si pelayan perempuan itu pun masuk ke dalam kamar yang di tempati Bara itu, dan melihat keadaan yang sangat berantakan di dalam sana, membuat pelayan itu pun berpikir traveling kemana-mana.


"Sudah selesai kan, silahkan keluar!" usir Bara dengan cepat.


"Ba... baik tuan." jawabnya gugup.


Setelah mengunci pintu kamar itu, Bara pun melihat ke arah pintu kamar mandi dan tidak terdengar suara gemericik air di sana.


Bara melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi lalu ia ketuk dan mencoba membukanya namun terkunci dari dalam. "Apa kamu belum selesai? Kenapa lama sekali di dalam, ayok cepat keluar saya sudah lapar." teriak Bara.


Tidak ada sahutan dari dalam. "Kalau kamu tidak menjawab saya akan dobrak pintu kamar mandi ini." teriak Bara.


"I...iya sebentar." sahut Tari sebal.


"Ayok cepat keluar!" teriak Bara lagi.


Tari keluar dengan menggunakan jubah mandi di sana dan saat membuka pintu Bara sangat dekat dengannya.


"Saya lapar, kamu masih mau menggoda saya? Nanti lah saya isi tenaga dulu sebelum bertempur kembali." goda Bara melihat Tari masih mengenakan pakaian mandi nya.


Tari mendengus kesal. "Siapa yang mau menggoda mu, baju saya robek karena ulahmu, dan sekarang saya tidak memiliki baju untuk saya pakai!"


"Bagus lah seperti itu saja, nanti setelah kita makan, kita akan melanjutkan membuat adik untuk si kembar, siapa tahu setelah perut terisi dan tenaga menjadi full kamu bisa cepat mengandung dan siapa tahu juga kamu mengandung anak kembar lagi." ucapnya dengan semangat.


Tari mencubit dada Bara yang sedikit berotot itu. "Kamu pikir mengandung anak kembar itu mudah!" kesal Tari. "Cepat berikan saya pakaian, saya kedinginan." ucapnya tidak sabar.


"Aww. Pedih sekali cubitan mu itu." kesal Bara. "Pantas saja kuku mu begitu tajam seperti bicara mu." ia melihat kuku tangan Tari lentik namun kuku nya panjang seakan di rawat dengan baik.


"Itu untuk jaga-jaga jika kamu macam-macam!" gertak nya. "Mana baju saya?"


"Ini." serah Bara memberikan pakaian itu kepada Tari.

__ADS_1


Tari menerima pakaian itu dengan cepat. Lalu bergegas untuk memakainya.


__ADS_2