
Bara pun mengikuti Tari yang menaiki tangga menuju kamar, ia akan melihat bagaimana kondisi Tari saat ini karena ketakutannya akan hewan itu sampai Tari merasa takut seperti tadi.
Saat masuk ke dalam kamar, Bara melihat Tari baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Tatapan mereka saling bertemu, tari mencoba untuk berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa, karena dia sungguh malu dengan kejadian yang menimpanya hari ini.
Tari membawa selimut untuk ia tidur di luar nantinya. Namun sebuah tangan menarik nya dengan pelan.
"Saya sedang tidak mau berdebat, lepaskan." ucap Tari dengan kedua matanya yang malas.
"Duduk!" titah Bara melirik ke arah ranjang.
"Untuk apa?" tanya Tari dengan kerutan di dahinya.
"Duduk saja." titah Bara tanpa menjawab.
Karena Tari sedang tidak mau berdebat, Tari pun mengikuti apa yang di ucapkan Bara.
"Tunggu di sini!" titah Bara lagi.
Tari dengan malas nya pun diam saja, sesekali menyibukkan dirinya dengan handphone agar rasa canggung dia dengan Bara yang berduaan di kamar tidak ia rasakan.
Tak lama Bara kembali, ntah dari mana Bara menghampiri Tari lagi. Dengan lembut ia menarik tangan kanan Tari dan itu membuat Tari refleks menarik nya.
"Bisa diam tidak?" kesal Bara.
"Apa yang kamu lakukan?" heran Tari.
Tanpa menjawab Bara pun mengeluarkan salep yang ia bawa lalu ia olesi ke bagian pergelangan tangan Tari yang memerah itu dengan lembut.
Tari hanya bisa menatap nya dengan diam atas perlakuan Bara padanya. Menatap ke wajah Bara yang sangat dekat ketika sedang fokus mengobati tangan nya yang memang sakit bila tertekan.
"Sudah tidak usah!' cegah Tari menyadari jika Bara tahu saat Tari menatapnya seraya menarik tangan nya dengan cepat.
"Ya sudah. Obati saja sendiri!" ucap Bara seraya melemparkan salep kecil itu ke arah Tari dengan berlalu pergi begitu saja.
Tari menangkap salep itu dengan gelagapan karena ia tidak siap saat Bara melemparkan salep itu ke arah nya. Tari memberenggut kesal dengan sikap Bara itu.
"Maksudnya apa coba. Tiba-tiba baik tiba-tiba jahat." gerutu Tari kesal.
Karena tangan itu sudah di obati Bara, Tari pun menyimpan salep itu lalu ia pun berniat pergi ke luar untuk beristirahat di sofa luar, ya walaupun Tari harus menunggu anak-anak masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
"Kamu tidur saja di sini." tiba-tiba Bara menghampiri nya. "Jangan berpikir macam-macam!" Bara yang mengerti dengan rautan di wajah Tari pun angkat bicara.
"Saya tidak mau anak-anak melihat kamu selalu tidur di sofa luar, apalagi para pekerja akan curiga melihat kita tidak tidur dalam satu kamar. Bagaimana jika mereka bicara pada anak-anak." kilah Bara menjelaskan.
"Kamu tidak usah khawatir, saya akan beralasan dengan logis kepada anak-anak jika mereka tahu." jawab Tari santai.
"Tidak, kamu tidur saja di sini di ranjang sana." ucapnya dengan lirikkan ke arah ranjang. "Tidak masalah kan jika kita seranjang berdua, toh kita adalah suami istri. Tapi tenang saja, saya tidak akan akan menyentuh mu, ini hanya sebatas tidur saja." jelas Bara yang tidak ingin Tari berpikir macam-macam tentang dirinya.
"Saya juga tidak berharap semua itu." balas Tari berpikir yang sama.
"Ok tidurlah." titah Bara cepat seraya naik ke atas ranjang itu.
Tari terdiam, ia masih ragu dan menatap ranjang besar itu membuat Bara menatap Tari dengan heran.
"Kenapa masih berdiri di sana?" sebal Bara melihat ketidakpercayaan Tari dengan ucapannya yang tidak akan menyentuh nya sama sekali.
"Apa kamu takut saya akan menyentuh kamu?" sergah Bara. "Saya tidak akan menyentuh kamu!" ucapnya tegas. "Tapi jika sedang tidak sadar, saya tidak tahu itu terjadi atau tidak." lanjutnya acuh.
Tari menggerlingkan kedua matanya. "Kamu benar-benar ya, awas saja jika kamu menyentuh saya, saya akan potong bagian itu mu menjadi dua bagian!" ancam Tari seraya naik ke atas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuh nya dengan selimut.
"Mengerikan sekali." gumam Bara merinding jika itu terjadi, tapi itu tidak mungkin terjadi. Namun tiba-tiba Bara tertawa sehingga membuat ranjang yang mereka tiduri bergoyang-goyang.
Tari membuka selimut yang menutupi nya. "Hei tuan Antoni, apa yang kamu tertawakan? Menggangu saja!" gerutu Tari heran kenapa laki-laki di sampingnya tertawa seperti itu.
"Hahaha." Bara tidak menjawab dia malah terus tertawa.
"Dasar gila." umpat Tari kesal dengan menyelimuti lagi.
__ADS_1
"Kamu tadi bilang kan akan memotong bagian hal terpenting dalam hidup saya menjadi dua bagian?" telak Bara mengingatkan Tari akan ancaman nya tadi membuat Tari yang berada di dalam selimut membuka selimut sampai melihatkan sebagian kepalanya.
"Kamu meremehkan ancaman saya?" kesal Tari dengan melototkan kedua matanya melotot ke arah Bara.
Seringai senyum terbit di bibir Bara. "Memang kamu berani memegang nya?" ucap Bara sedikit menggoda Tari membuat Tari memerah karena malu, membayangkan nya saja membuat dirinya malu apalagi untuk memegangnya.
"Sudahlah tidak usah di bahas, dasar gila!" sela Tari menarik kembali selimut itu. "Aku akan berani jika itu terpaksa." gerutu Tari pelan namun masih terdengar oleh Bara.
"Hahaha, saya ingin lihat keberanian kamu." tantang Bara, ntah kenapa malam ini Bara merasa otak nya panas. Ancaman Tari tidak membuat nya takut malah seperti sebuah pancingan.
Cukup lama di dalam kamar itu terdengar sunyi hanya suara jam dinding yang terdengar, seolah mereka sudah terlelap dalam tidur mereka.
Padahal kedua insan itu belum benar-benar tertidur, mereka masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Jika Tari sulit tidur karena ia tidak nyaman tidur berada dalam satu kamar apalagi satu ranjang dengan Bara, lain dengan Bara ia sibuk dengan pikirannya, hubungan apa antara Tari dengan laki-laki yang bernama Leo itu, yang Bara tahu Leo adalah pemilik perusahaan dari segi medis sedangkan dia adalah pemilik perusahaan batu bara dan listrik, perusahaannya masih jauh di atas perusahaan milik Leo, ya walaupun Bara akui Leo adalah perusahaan yang bagus di bidang nya dan dia pernah mendengar jika perusahaan itu sekarang lebih bagus setelah beberapa saat di pimpin oleh Leo.
Karena tidak ada pergerakan di atas ranjang itu, membuat kedua nya merasa yakin jika salah satu orang yang berada di sampingnya itu sudah tertidur.
Tari yakin jika Bara sudah tertidur dan Bara yakin jika Tari sudah tertidur. Karena tidak ada pergerakan, akhirnya Tari membuka selimut nya, membalikkan badannya ke arah samping dimana Bara tertidur, hal yang sama Bara lakukan namun bedanya tubuh Bara yang asalnya telentang berniat untuk berbalik ke samping ke arah dimana Tari tidur.
Di saat itulah mereka berbalik ke samping secara bersamaan, saling bertemu, saling menatap satu sama lain, dan saling mengunci tatapan mata mereka. Wajah mereka sama-sama dekat karena saling berhadapan.
Tari yang lebih dulu tersadar, ia mengerjapkan dan mengedipkan kedua matanya itu berkali-kali seolah ada seekor binatang masuk ke dalam matanya.
Lalu dengan cepat Tari membalikkan badannya lagi dengan tubuh nya yang membelakangi Bara, dengan mengatur nafasnya yang sempat ia tahan tadi, sedangkan Bara ia menatap tubuh mungil Tari dengan senyuman tipis nya, mengingat pandangan mereka yang sempat terjadi membuat Bara yakin jika dia memiliki perasaan kepada istrinya sendiri.
"Tari sikapmu itu seperti ABG saja, ingat Tari kamu sudah dewasa." batin Tari yang merasa malu dengan sikap nya yang salah tingkah seperti tadi.
*
*
*
"Ibu maafkan aku, karena sudah membuat ibu takut." lirih Bintang yang pagi-pagi sekali sudah berada di kamar kedua orang tuanya.
"Sudah, tidak apa-apa, mungkin ibu saja yang berlebihan. Tapi kamu jangan di ulangi lagi ya, ibu memang takut dan geli dengan binatang itu." jelas Tari.
"Iya, ibu maafkan." balas Tari memeluk Bintang dengan erat.
Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi pun langsung melihat pemandangan itu, membuat dirinya menghangat melihat nya, dan tanpa sadar memeluk kedua perempuan yang sekarang ia miliki dalam hidupnya.
"Daddy basah..." rengek Bintang karena seragam yang ia pakai basah terkena air mandi yang ada di tubuh ayahnya itu.
Tari pun baru menyadari jika Bara memeluk nya.
"Ya ampun Daddy, badan Daddy masih basah." sebal Bintang membuat Bara menggaruk tengkuknya.
"Maaf, tadi Daddy refleks." sahut nya santai karena di peloti dua wanita yang wajahnya sangat mirip.
"Baju ku jadi basah karena ulah Daddy." rengek Bintang dengan cemberut.
"Sudah, kamu ganti baju lagi, ayok ibu bantu." rayu Tari agar anaknya tidak kesal sekaligus menghindari dari Bara yang seperti sengaja menggoda Tari dengan tubuh nya telanjang dada seperti itu.
"Kamu tidak mau memberikan pakaian kepada saya." teriak Bara kepada Tari membuat Tari menggerlingkan kedua matanya malas.
"Kamu sudah tua, bisa pakai pakaian mu sendiri." ucap Tari dengan cepat.
"Sembarangan saya tua? Saya laki-laki dewasa bukan tua." kesal Bara tidak terima sedangkan Tari hanya tersenyum puas melihat Bara yang kesal di sebut tua.
***
Terbit senyum di bibir Bara menghiasi pagi hari ini, ia mengingat bagaimana kejadian malam yang membuat rumah nya ramai dengan suara anak-anaknya dan juga ibu dari anak-anaknya itu membuat Bara semakin hari merasakan keluarga yang penuh dengan kehangatan.
"Ternyata seperti ini rasanya memiliki seorang istri dan juga anak-anak." gumam Bara, kini dirinya sedang berada di ruangan kantor nya.
"Gagal menikah dengan nya membuat Tuhan memberikan aku seorang perempuan yang tidak sama sekali aku kenal, dan sekarang dia menjadi istri ku, sungguh rencana Tuhan yang tidak pernah aku bayangkan. Apa aku harus bersyukur akan kejadian dulu dan terlepas dari perempuan yang mungkin bukan untukku. Sampai saat ini aku tidak tahu apa alasan dia pergi meninggalkan ku, dan aku tidak mau tahu apapun alasannya, dia sudah membuat ku sakit." tiba-tiba Bara mengingat mantan calon istrinya dengan tatapan penuh kebencian. Dan Bara pun mengingat laki-laki yang bersama dengan Tari. "Aku akan pastikan, tidak akan ada laki-laki lain yang mendekati Tari, istriku!" ucap Bara mengingat kedekatan Tari dengan laki-laki yang bernama Leo itu.
__ADS_1
Lalu Bara pun meraih telpon dan menelpon Alvaro. "Al ke ruangan saya sekarang!" titah Bara cepat.
Tak lama ketukan di balik pintu pun terdengar. "Masuk!"
"Selamat pagi tuan." sapa Alvaro memasuki ruangan Bara.
"Pagi Al. Duduk!" titah nya dan dengan cepat Alvaro pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Bara.
"Al, cari tari siapa laki-laki yang bernama Leo itu." titah Bara dengan suara tegasnya.
"Tuan Leo pemilik perusahaan di bidang medis itu kan tuan?" tanya Al memastikan.
Bara mengangguk. "Ya." sahut nya pendek.
"Sejauh ini perusahaan nya masih di bawah kita. Dan..." jelasnya terpotong.
"Bukan soal perusahaannya, tapi cari tahu ada hubungan apa dia dengan Mentari." terang Bara sedikit ragu dan malu.
"Oh maaf tuan." ucap Al merasa tidak enak lalu ia pun membuka sebuah laporan nya.
Bara mengerutkan keningnya. "Apa ini? Saya tidak meminta laporan Al saya suruh kamu untuk mencari tentang hubungan Leo dan Mentari." jelas Bara tidak mengerti.
"Ya itu laporan nya tuan, saya sudah mencari informasi tentang hubungan nona Mentari dengan tuan Leo itu sebelum anda memerintahkan kepada saya." ujar Alvaro menjelaskan kebingungan Bara.
"Kenapa?" heran Bara sulit untuk ia artikan antara senang, malu dan apa harus bangga pada asisten pribadinya itu karena tahu apa yang ia butuhkan.
"Saya mengerti apa yang anda butuhkan tuan, maka dari itu saya mencari tahu tentang tuan Leo itu, dan saya mendapatkan itu semua, karena saya yakin anda pasti menanyakan hal itu kepada saya." urai Alvaro paham, ia sudah tahu jika tuan nya memang sudah memiliki perasaan kepada istrinya itu namun tuannya tidak mau mengakui.
Bara berdehem karena tenggorokannya seakan kering. "Ba...bagus saya suka cara kerjamu." puji Bara akui bagaimana bagusnya cara kerja asisten nya itu.
"Mau saya jelaskan tuan tentang laporan itu?" tawar Al.
"Ya."
"Tuan Leo adalah laki-laki yang pernah dekat dengan keluarga nona Tari, bahkan sangat dekat. Keduanya pernah satu sekolah saat SMA dulu, tuan Leo kakak kelas dari nona Tari, mereka dekat sampai lulus beberapa tahun lalu, pada saat nona Tari pergi dari rumah keluarga nya itu terakhir kalinya mereka bertemu dan baru-baru ini mereka bertemu kembali." jelas Al. "Hubungan mereka sebenarnya tidak sampai pacaran atau hubungan spesial, namun tuan Leo di kabarkan memiliki perasaan kepada nona Tari. Itu saya dapatkan dari seorang teman dekatnya." jelas Al lagi.
"Nona Tari pun sama, dulu mereka saling memiliki perasaan namun karena saudara tirinya memiliki perasaan kepada tuan Leo maka nona Tari mundur karena tidak mau membuat saudaranya itu menjadi benci terhadapnya." terang nya.
Sedikit panas hati Bara mendengar penjelasan Alvaro. "Dari mana kamu tahu jika Mentari memiliki perasaan kepada laki-laki itu?" tanya nya tidak suka.
"Saya dapatkan kabar itu dari sahabat nona Mentari yang dulu sering bermain pada saat SMA." jawab Al.
"Apa sekarang Mentari sering bertemu dengan sahabat nya itu?" tanya Bara.
"Tidak tuan, selama anak buah yang saya perintahkan untuk mengawasi nona Tari, selama ini nona Tari jarang bertemu dengan orang-orang terdekat nya, nona Tari seperti menjaga jarak dengan mereka. Hanya ibu tua yang bernama omah Mayang yang selalu nona Tari temui." jelas Al.
"Kamu bilang Mentari memiliki saudara tiri, apa kamu punya informasi tentang dia?" tanya Bara mengingat jika dia tidak pernah bertemu dengan saudara dari istrinya. "Bagaimana hubungan Tari dengan saudara tirinya itu?"
"Saudara nona Tari adalah seorang artis baru, ini foto nya tuan." Alvaro pun memberikannya foto itu kepada Bara. "Hubungan mereka kurang baik."
Bara memperhatikan foto itu. "Perempuan ini, jadi dia saudara tiri Mentari?" gumam Bara mengenal perempuan yang ada di foto itu.
"Apa anda mengenal nya tuan?" tanya Alvaro.
"Tidak, tapi saya pernah bertemu dengan dia, dan saya juga pernah melihat Mentari bertengkar dengan dia." Bara mengingat jika Tari pernah bertengkar dengan perempuan itu.
"Jadi perempuan itu saudara tiri Mentari, apa jangan-jangan perempuan yang melemparkan brosur dan memakai masker itu adalah saudara tiri Mentari?" batin Bara mengingat kejadian di jalanan waktu itu.
"Apa anda sering bertemu dengan saudara tiri nona Tari ini tuan?" tanya Al melihat tuan nya itu seperti memikirkan sesuatu.
"Ya saya sering melihatnya, dan beberapa kali dia seperti ingin berurusan dengan Mentari." jawab Bara.
"Apa anda ingin saya memberikan dia sebuah peringatan agar tidak menggangu nona Tari?" tawar Al karena terlihat sangat jelas jika tuan nya itu tidak menyukai perilaku Tania.
"Ya, beri dia sedikit pelajaran putus kontrak kerja sama dia dengan beberapa manajemen yang mengontraknya, karena dia sudah membuat Mentari menangis." geram Bara ia ingat saat Mentari menangis Bara tahu jika perempuan itu adalah Tania, di lihat dari postur tubuhnya yang sama mirip.
"Baik tuan." ucap Al dengan sangat yakin, tuan nya itu memang sudah memiliki perasaan terhadap Mentari.
__ADS_1
"Kamu bisa pergi Al." usir Bara tanpa hati.
Bara hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, menatap kepergian Alvaro pikiran Bara menjadi sulit, dia tidak akan diam saja, dia tidak mau kehilangan seseorang seperti dahulu lagi, dan kejadian terdahulu membuat Bara harus lebih berjaga-jaga dan waspada.