
Tanpa mempedulikan tatapan tajam dari Bara, Tari langsung menarik tangan Bintang, membawanya pergi jauh dari laki-laki arogan itu. Melangkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat dimana toilet berada.
Tangan Bintang yang di genggam kuat oleh ibunya, pasrah dengan apa yang di lakukan ibunya itu, namun saat Tari membawa nya pergi, Bintang menoleh ke belakang menatap ke arah dimana Bara yang masih berdiri di sana seraya menatap nya.
Bintang membuka kacamata hitam yang ia pakai lalu tersenyum manis pada Bara yang masih menatapnya itu, dan senyuman itu membuat Bara semakin tidak mengerti apa yang di rasakan di dalam hatinya.
Ada rasa yang membuat hati nya bergetar, dan ada rasa tidak mau gadis kecil itu menjauh. Tanpa sadar Bara tersenyum membalas senyuman yang Bintang berikan. "Ada apa hati ku ini." gumam Bara seraya menepuk pelan pada dadanya.
Bintang masih tersenyum dan dia juga mengayunkan dan melambaikan tangan nya ke arah Bara dengan pelan.
"Ayok Bintang!" kesal Tari seraya menarik tangan Bintang yang sedang melambai itu.
"Kenapa dengan perempuan itu, dia seperti ketakutan saja, apa aku seperti penculik anak!" kesal Bara bergumam namun terdengar oleh Al dan tersenyum geli melihat bos-nya itu.
Bara menatap tajam ke arah Al assisten nya yang sedang tersenyum membuat Bara merasa Al sedang mengejeknya. "Kenapa? Ada yang lucu hah?! Apa kamu mau saya pecat dan menjadi pengangguran yang abadi karena semua perusahaan tidak akan menerima mu!" ancam Bara dengan kesal.
"Maaf tuan, saya tidak akan membuat anda marah lagi." ucapnya pelan dengan menundukkan kepalanya.
"Bagus, jika kamu menyadari nya." balas Bara.
"Tuan, para bodyguard memberi tahu saya tuan muda Ken sedang memukuli para bodyguard." ucap Al memberi tahu pada tuan nya.
"Apa? Bagaimana bisa Ken memukuli para bodyguard?!" tanya Bara aneh seraya terus melangkahkan kakinya menuju dimana keributan terjadi.
Sementara Tari yang sudah menemukan Langit langsung menarik tangan nya dengan cepat membuat anak Ken yang di anggap Tari adalah Langit itu mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Ayok nak kita pulang saja!" ajak Tari dengan cepat terus menarik dan melangkahkan kakinya tangan kirinya memegang tangan Bintang sedangkan tangan kanannya memegang tangan Langit.
Ken tersenyum melihat tangan nya yang di tarik oleh ibu muda di hadapannya itu, ia mengingat kembali dengan wajah perempuan yang memegangi tangan nya. "Ibu itu lagi." batinnya
"Sebentar nak." Tari mengehentikan langkah nya dan menatap wajah Ken dengan tatapan yang sangat dekat membuat Ken yang sedang di tatap merasa takut, jika ibu itu menyadarinya jika dia bukan anaknya. "Kemana topi, masker dan kacamata hitam yang tadi kamu pakai?" tanyanya membuat Ken merasa bingung.
"Ah sudahlah, Bintang cepat buka topi dan kacamata kamu, berikan pada kakakmu!" titah Tari pada Bintang yang heran dengan sikap ibunya yang terlihat sangat ketakutan.
"Ayok pakai nak!" titah Tari dengan gemas melihat keduanya tampak bingung. Setelah kacamata dan topi yang di pakai Bintang ia serahkan pada Langit.
"Sebenarnya ada apa ini Bu?" tanya Bintang penasaran.
"Ada seseorang yang sedang memperhatikan kita, ibu tidak mau ambil resiko, ini sangat berbahaya!" ucap Tari menakuti kedua anaknya.
"Ibu tenang sajalah, kak Langit pasti bisa mengatasi nya, kak Langit kan jago bela diri." ujar Bintang dengan polos nya memuji kakak kembarnya.
__ADS_1
Ken yang tidak mengerti apa maksud pembicaraan mereka pun hanya bisa diam, memakai apa yang di perintahkan ibunya itu lalu mengerutkan keningnya karena masih belum paham.
"Ayok, kita jangan terlalu lama di sini!" ucap Tari dengan tergesa-gesa menghentikan sebuah taxi untuk segera keluar pergi dari super market tersebut.
Kedua anaknya hanya patuh dengan apa yang di lakukan ibunya itu.
"Jadi, kita tidak jadi belanja dong?" tanya Bintang dengan ekspresi kecewa.
"Lain kali saja." jawab Tari menahan rasa ketakutannya akan peristiwa hari ini.
"Kota ini sudah tidak aman untuk ku dan juga kedua anakku, apa aku harus pergi lagi meninggalkan kota ini?" batin Tari masih berkelana. "Aku sering sekali bertemu dengan laki-laki itu, sungguh ini semua akan membuat ku dalam bahaya besar dan semua kebohongan aku akan terkuak." sambung nya dalam hati ia merasa sangat takut.
Di saat Ken keluar dari toilet itu, ia langsung keluar untuk membeli makanan kembali ke niat awal dirinya berada di sini. Ken tidak menyadari jika handphone yang ia simpan di dekat cermin ia tinggalkan begitu saja. Lalu saat keluar Ken langsung di tarik paksa oleh perempuan yang kini mengaku sebagai ibunya. Perempuan yang beberapa waktu pernah bertemu, ntah kenapa perasaan Ken bahagia melihat ibu muda itu, apa ini kebetulan yang tidak terduga bisa bertemu kembali dengan perempuan yang membuat dirinya merasa nyaman.
Sedangkan di depan toilet laki-laki Langit yang baru saja keluar setelah selesai dari sesuatu yang memaksa ingin keluar pun langsung menuju ke tempat mencuci tangan, ia membuka kacamata, masker dan juga topi nya itu lalu ia simpan di dekatnya, namun saat ia tengah dekat dengan wastafel itu dan akan menaruh segala yang ia pakai, Langit melihat sebuah handphone tergelatak di sana yang terakhir kali ia lihat seorang laki-laki seumuran dengan nya sedang mencuci tangan di wastafel yang kini ada di dekatnya, di raih lah handphone itu, Langit yakin pemilik handphone itu pasti anak laki-laki yang terakhir ia lihat.
Dengan cepat, Langit keluar toilet memanggil anak laki-laki itu untuk mengembalikan handphone itu pada nya, namun Langit tidak menyadari jika dirinya sudah melepas semua perlengkapan yang tadi ibunya berikan, topi, masker dan juga kacamata hitam ia tinggalkan begitu saja karena takut si anak laki-laki itu sudah pergi jauh.
Namun saat ia keluar dengan menggenggam handphone itu, ia di kelilingi oleh orang-orang yang berseragam hitam membuat Langit yang jago bela diri mulai memasang kuda-kuda tanda siap untuk bertarung.
"Tuan muda Ken, ayok kita pulang!" ajak salah satu pria berjas hitam itu dengan lembut.
"Siapa kalian?!" teriak Langit menggema.
Langit mengerutkan keningnya. "Maksud kalian apa hah? Jangan coba-coba menipu ku!" gertak Langit mulai menjaga jarak.
Salah satu bodyguard itu memerintahkan pada bodyguard lain untuk menangkap Langit dengan sebuah tatapan. "Ayok tangkap dia!" titah nya.
"Hei jangan mendekat!" teriak Langit dengan marah.
Namun para bodyguard tidak mempedulikan teriakan tuan mudanya itu, karena mereka di perintahkan untuk membawa putra bos nya dengan cara apapun asalkan jangan sampai menyakiti nya.
Bug.... bug.. suara pukulan Langit berikan pada bodyguard yang mencoba mendekati nya.
Bug ... bug, kembali Langit dengan lincah dan gesit memberikan pukulan pada para bodyguard itu bahkan menendang apa yang bisa Langit tendang sekuat tenaga nya, sampai sebagian para bodyguard berjatuhan karena ulah Langit yang sangat berani. Namun sebuah teriakan cukup keras membuat Langit menghentikan gerakannya saat ia meninju salah satu bodyguard nya yang sedang berada di tangan nya.
"Hentikan!" teriak Bara menggema di dalam ruangan itu.
Langit menghentikan perbuatannya sebelum ia melihat siapa yang meneriakinya.
"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Bara dengan emosi.
__ADS_1
"Berbalik dan ayok kita pulang!" ucap Bara dengan dingin.
Langit memutarkan tubuhnya, menatap sosok laki-laki yang ada di hadapannya. "Siapa anda yang bisa mengatur hidup ku!" bengis Langit naik satu oktaf dengan tatapan tajamnya.
Bara yang mendengar ucapan putra nya itu membuat aura dingin yang ia miliki mengeras dengan emosi yang akan meledak-ledak, namun ia tahan, ini masih di luar bagaimana jika ada kamera wartawan bisnis memberitakan berita yang sangat memalukan yang akan membuat image nya sebagai pengusaha sukses bisa tercemar dengan adanya kabar jelek tentang dirinya.
"Bawa dia dengan paksa!" titah Bara memerintahkan para bodyguard nya untuk menangkap Langit dan membawanya pergi dari sana. Lalu setelah ia memerintahkan para bodyguard nya ia langsung pergi dari sana melangkahkan kakinya dengan cepat.
Sepuluh bodyguard yang sudah siap berdiri di dekatnya pun serempak menangkap tubuh Langit yang kecil itu dengan cepat, membuat Langit yang masih kecil pun kalah pertahanan dengan para bodyguard yang memiliki tubuh besar dan berotot itu.
"Ayok tuan muda Ken, mari kita pulang, tolong kerja sama nya tuan." ucap Al tegas.
Langit menatap pada wajah Al dengan tatapan mata yang tajam, menatap lekat pada laki-laki yang memiliki jabatan sebagai asisten pribadi tuan Bara.
"Maaf tuan jangan menatap saya seperti itu. Ini semua demi kebaikan anda tuan muda Ken." ucap Al yang tahu jika tuan mudanya sangat kesal padanya.
"Aku bukan tuan muda kalian!" teriak Langit tidak terima.
"Ya anda den Ken." sahut Al santai.
"Lepaskan!" teriak kembali Langit seraya mencoba melepaskan diri dari para bodyguard yang memegangi nya.
"Aku itu bukan tuan kalian, kalian salah orang!" jelas Langit namun lagi-lagi mereka tidak menghiraukan.
"Kalian tuli ya, aku bukan tuan muda Ken." teriak nya dengan kesal.
"Ah saya tidak buta tuan muda, saya yakin anda adalah tuan muda kami, lihat wajah anda mirip sekali dengan tuan Bara bos kami." ujar Al dengan senyuman miring nya.
"Kalian memang tidak buta, tapi kalian bodoh!" maki Langit semakin menjadi.
"Lihat, ini handphone anda kan tuan muda?" tanyanya mengacungkan sebuah handphone yang berada di dalam saku celananya.
"Tapi aku benar-benar bukan tuan muda Ken yang kalian panggil dari tadi!" kesal Langit seraya terus mencoba untuk melarikan diri, namun cengkraman kuat dari para bodyguard membuat Langit pasrah, dia sudah sangat lemah untuk melawan mereka.
Dengan terus di bawa sesekali di seret, langkah Langit pun akhirnya dengan pasrah Langit di bawa oleh para bodyguard itu memasukkan Langit ke dalam mobil yang dimana Bara sudah duduk di dalamnya menunggu Langit dengan tatapan yang kesal dan sangat marah.
Suhu di dalam mobil pun menjadi beku, apalagi dengan dinginnya laki-laki yang berstatus ayah kandung itu terlihat sangat marah dan seperti ingin memakannya secara hidup-hidup, membuat Langit hanya bisa diam kaku di samping laki-laki yang tidak sama sekali ia kenal.
"Jalan!" titah nya dengan suara yang berat.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Langit hanya bisa diam dan tidak banyak bicara, ia melihat ke arah jalanan yang sama sekali bukan jalanan arah ke rumah nya.
__ADS_1
Ia terus memperhatikan jalanan itu dengan seksama, agar suatu saat nanti jika dia bisa melarikan diri, ia sudah tahu mana jalanan yang sudah ia lewati.