Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
pertemuan Bara dan Bintang


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu, dimana si kembar ingin ibunya mengajak untuk berjalan-jalan sambil membeli sesuatu yang mereka inginkan. Tari hari ini berniat pergi ke salah satu super market untuk membeli bahan-bahan yang ia butuhkan untuk makan malam nanti.


"Bu ayok lah!" teriak Langit tidak sabar.


"Sebentar sayang, ibu kan sedang siap-siap." sahut Tari juga dengan berteriak.


"Ibu lama..." sambung Bintang tak kalah berteriak.


"Ya ampun kalian ini ya seperti hidup di dalam hutan saja, saling teriak satu sama lain." omel omah Mayang mendengar cucu dan cicitnya saling berteriak.


"Maaf Omah hehehe." sahut Tari cengengesan.


"Ayok kita berangkat! Ucap Tari. "Eh tapi tunggu sebentar!" cegah nya.


"Apalagi ibu..." keluh keduanya.


Tari meraih sesuatu di dalam kamarnya lalu memberikan nya pada kedua anaknya. "Ini untuk kamu dan ini untuk kamu." serah Tari pada Langit dan Bintang secara bergantian.


"Untuk apa Bu?" tanya Bintang heran.


"Pakai saja topi, masker dan kacamata mata itu!" titah nya. "Ibu gak mau sampai ada orang yang tahu tentang kalian berdua, semenjak kalian sering beraktivitas kembali seperti dulu, ibu jadi khawatir semua orang mengetahui kalian dan itu akan membuat kita tidak nyaman saat berbelanja." ujar Tari menjelaskan, namun bukan hanya itu saja alasan bagi Tari, ia hanya takut jika mereka bertemu dengan ayahnya lalu mengenali wajah mereka berdua, apalagi wajah Langit yang mirip sekali dengan Angkasa.


"Baiklah." sahut mereka berdua mengerti apa yang di khawatirkan oleh ibunya.


Mereka sekarang memiliki kegiatan dimana yang sering mereka lakukan di luar negeri dulu, yaitu Langit menjadi salah satu agen kepolisian sedangkan Bintang ia menjadi salah satu pianis termuda, mereka dulu saat di luar negeri sempat akan di culik oleh seseorang yang tahu profil mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan itu membuat Tari merasa sedikit trauma jika berpergian dengan mereka.


Setelah memastikan anak kembarnya itu memakai kacamata dan topi yang ia berikan Tari pun dengan cepat mengajak kedua anaknya untuk pergi.


"Ayok kita pergi, sebelum hari sudah siang." ajak Tari.


Mereka pun pergi ke salah satu super market di sana dengan menggunakan taxi online.


Saat di dalam super market, Langit dan Bintang yang memakai kacamata dan topi itu pun beringin dengan Tari, banyak orang yang memperhatikan ke arah mereka berdua, karena mencolok nya kedua anaknya itu.


Bagaimana tidak mencolok, wajah mereka yang sangat rupawan membuat mereka menjadi salah satu pemandangan yang indah, walaupun mereka memakai topi dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mereka yang mancung dan di kulit mereka yang putih bersih.


"Ingat ya perkataan ibu, jangan berbicara dengan orang asing di mana pun kalian berada." ucapnya mengingatkan pada kedua anaknya itu.


"Baik Bu." jawab mereka serempak.


"Bagus!"


"Dan ingat, kalian harus bersama ibu!" lanjutnya memberikan pesan pada keduanya.


"Okk." sahut nya.


"Ini terasa sangat aneh." ucap mereka melihat apa yang ia pakai, namun tidak bisa menolaknya karena ibunya mengancam tidak akan mengajak nya jika tidak mau melakukan apa yang ibunya inginkan.


***


Di dalam rumah Ken, iya tengah mengendap-endap seperti orang yang akan mencuri, Ken berniat pergi keluar, ia ingin mencari informasi tentang ibunya sendiri, karena menunggu daddy-nya terlalu lama, Bara selalu sibuk dengan pekerjaannya, mungkin dia lupa dengan permintaan Ken, dan itu membuat Ken kesal dan juga kecewa.


Dan di sinilah sekarang, Ken sedang menghindari para pekerja daddy-nya yang ada di rumah, Ken tidak mau jika dirinya terpergok keluar oleh para pekerja Daddy-nya, karena Bara masih melarang Ken untuk keluar sendirian.


Ken memberanikan diri untuk keluar tanpa pengawalan para penjaga di rumah nya.


"Ah akhirnya semua di dalam rumah tidak menyadari aku keluar." gumam Ken merasa lega, kini ia tengah berada di dalam taxi online yang sebelumnya ia pesan.


Ken membuka masker beserta topi yang ia pakai, lalu ia masukkan ke dalam tas yang ia bawa.


"Ah aku lapar sekali." merintih memegang perutnya yang sangat lapar karena ia belum mengisi perut nya sama sekali.


"Seperti nya aku harus beli makanan dulu untuk mengisi perut ku." gumamnya. "Aku tidak akan bisa berpikir jernih jika perut ku lapar." lanjutnya lagi, Ken berpikir jika mencari tahu tentang ibu nya itu akan membuat dirinya lelah dan ia harus kuat. Karena hanya dengan modal foto bayi dirinya yang tengah di gendong oleh seorang ibu tua, yang sempat Bara ambil ketika Ken di berikan padanya waktu itu, dan foto itu Ken temukan di ruangan kerja Daddy-nya.


"Pak antar aku ke supermarket terlebih dulu!" titah nya.


Sang sopir melirik ke arah spion melihat Ken yang ada di belakang kemudi. "Baik." sahut nya.

__ADS_1


Lalu mobil itu pun melaju menuju salah satu super market. Ken berniat membeli roti atau makanan yang bisa mengganjal perutnya nanti, jika dia membeli makanan di pinggir jalan dia belum terbiasa, dan jika dia membeli makanan di sebuah restoran waktu akan terbuang dengan sia-sia. pikir Ken seperti itu. Jadi di sinilah Ken sekarang, ia tengah berada di salah satu super market dan sedang mencari makanan yang ia rasa menarik.


"Aduh Kenapa aku jadi pengen pipis gini sih!" gumam Ken merasa tidak nyaman, ketika dia sedang memilih makanan di rak nya. Lalu Ken pun menyimpan kembali makanan itu untuk pergi ke toilet terlebih dahulu karena panggilan alam nya sudah tidak tertahankan lagi. Dengan langkah yang cepat ia pun mencari sebuah toilet laki-laki.


***


Ting... Sebuah pesan dari nomor yang tidak di kenal mengirimkan pesan pada nomor kontak Bara, Bara dengan cepat membuka pesan itu. Sebuah gambar Ken yang sedang berada di salah satu super market terpampang di sana. "Ini putra anda kan tuan Bara yang terhormat? Kebetulan? Atau kesengajaan! Mari kita akan lihat apa yang akan saya lakukan padanya!" pesan itu seperti sebuah ancaman bagi Bara.


Terkejut Bara pun langsung dengan cepat menelepon ke rumah untuk memastikan apa Ken ada di rumah atau memang Ken yang ada di dalam gambar itu.


"Ah shitttt!" geram Bara, benar foto yang nomor itu kirim benar-benar putranya. Bara telah menelpon orang rumah dan benar saja Ken tidak ada di kamarnya maupun di luar rumah nya setelah beberapa menit yang lalu para penjaga dan para pekerja di sana di perintahkan untuk mencarinya.


"Bagaimana bisa kalian sampai tidak tahu jika Ken pergi, apa yang kalian kerjakan hah!" bentak Bara. "Menjaga anak kecil saja kalian tidak bisa. Kalian tidak becus!" lanjutnya Bara dengan emosi yang meledak-ledak.


Tut, panggilan itu pun Bara putuskan dengan cepat. Lalu dia pun memencet nomor Al asisten nya.


"Ke ruangan saya!" titah nya dengan nada yang marah.


"Baik tuan." sahut Al. "Ada apa lagi ini!" gumam Al mendengar Bara tuan nya terdengar sangat marah.


"Antar saya Al!" titah Bara.


"Kemana tuan?" tanya Al tidak tahu.


"Ke tempat dimana Ken sekarang berada." jelas nya. "Dan perintahkan juga beberapa bodyguard untuk mencari Ken sekarang!" titah Bara seraya melangkahkan kakinya keluar dan Al mengikuti nya dengan patuh.


Al menelpon beberapa bodyguard setelah ia tahu keberadaan Ken dimana, setelah ia mengecek GPS yang ada di dalam handphone. Dan mereka sudah tahu dimana keberadaan tuan mudanya itu.


"Ayok cepat!" titah Bara tidak sabar. "Seseorang mengirimkan sebuah pesan padaku dan seperti nya dia ingin sekali berurusan dengan ku!" ucap Bara dengan tatapan dingin nya. "Cari tahu nomor siapa yang ingin berurusan dengan ku itu?!" titah nya kembali.


"Baik tuan." jawab Al dengan cepat.


Kini mereka tengah berada di dalam mobil dengan di bawa oleh seorang supir yang selalu mengantarkan Bara kemanapun.


"Pak kita ke supermarket xxx ya, tuan muda Ken sedang berada di sana, GPS menunjukkan jika tuan muda Ken sekarang berada disana." ucap Al memberi tahu.


"Baik." sahut pak Bakri dengan cepat.


"Sudah tuan mereka sedang menuju ke sana." jawab Al dan Bara mengangguk.


Bara mendesah tidak tenang. "Anak itu benar-benar tidak tahu apa yang di lakukan nya itu salah." gumam Bara pelan namun terdengar oleh Al dan juga pak Bakri yang sedang berada di depan nya. "Apa yang dia lakukan di sana?" Bara heran dengan kelakuan putra nya itu.


***


"Ibu aku mau es krim..." rengek Bintang tidak sabaran saat ia melihat kedai es krim yang di jual di dalam super market itu.


"Nanti saja setelah kita membeli beberapa keperluan kita." rayu Tari agar tidak terlalu lama berada di luar.


"Aku mau nya sekarang ibu..." rengek nya kembali dengan wajah yang cemberut.


Tari menghela nafasnya panjang. "Baiklah ayok kita beli es krim itu." Tari mengalahkan ego nya demi anak-anak. "Kamu mau Langit?" tanya Tari menawarkan es krim pada putra nya.


Langit menggeleng. "Aku tidak mau Bu." tolak Langit lembut, Langit lebih dewasa di bandingkan dengan Bintang, mungkin karena Langit anak pertama dan juga laki-laki. "Tapi aku ijin ke toilet ya Bu." ijin Langit pada ibunya.


"Ke toilet? Memang kamu tidak bisa menahan sebentar saja, kita kan baru saja sampai." ujar Tari.


"Aku tadi lupa ke toilet sebelum pergi, jadi sekarang aku sudah tidak tahan ingin pipis." jelas Langit. "Memang ibu mau kalau aku nanti pipis di sini?" ucapnya kesal.


"Ya jangan dong, ya sudah nanti kita ke toilet tapi kita beli es krim itu untuk adik mu dulu ya, kamu bisa kan menunggu?" tanya Tari pada Langit.


"Oh nooo ibu lihat, antrian ini panjang sekali, aku bisa pipis di sini. Aku ke toilet sendiri saja lah bu." pintanya tidak tahan lagi.


"Memang kamu berani pergi ke toilet sendiri?" tanya Tari meyakinkan.


"Aku sudah besar, aku berani pergi ke toilet sendiri." jawab nya tidak sabaran.


"Ya sudah ibu ijinkan, tapi ingat ya jangan berbicara dengan orang asing, ibu akan tunggu kamu di sini!" titah nya.

__ADS_1


"Iya...." teriak Langit setengah berlari karena tidak tertahankan lagi untuk membuang nya.


Tari menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum geli melihat Langit yang terburu-buru menuju ke arah toilet.


Tari beralih menatap pada Bintang yang tengah semangat menunggu pesanan es krim nya. "Ah dasar anak itu, tidak dimana jika melihat es krim pasti saja harus membelinya." gumam Tari seraya terus ke arah melihat Bintang.


Sedangkan di dalam toilet Ken yang sudah selesai menyelesaikan panggilan alam nya pun langsung mencuci tangan nya di wastafel di dalam toilet dengan handphone ia simpan di tempat kering tidak jauh dari nya. Lalu Ia melihat seorang anak laki-laki seumuran dengan nya, dengan kaca mata dan sebuah masker menutupi wajahnya, membuat Ken yang melihat dari pantulan cermin sedikit geli melihatnya karena merasa aneh.


"Pasti wajah nya jelek!" cibir Ken di dalam hatinya. Dengan kepalanya ia menggeleng-geleng dengan senyum tipis di wajahnya menertawakan Langit.


Sedangkan Langit ia tidak menyadari jika Ken sedang memperhatikan nya, Langit dengan terburu-buru masuk ke dalam toilet pria dengan cepat, ia hanya melihat sekilas jika ada orang di dalam sana yang sedang mencuci tangan nya di salah satu wastafel.


***


"Dimana sekarang Ken?" tanya Bara pada Al, kini Bara dan Al sudah berada di dalam super market itu.


"Titik terakhir yang saya lihat sih, tuan Ken sekarang ada di dalam toilet." jelas Al. "Para bodyguard juga sudah berada di sana, tadi mereka mengabarkan kepada saya." ujarnya.


"Ayok kita sekarang ke sana." ajak Bara cepat.


"Baik." ucap Al.


Saat tengah berjalan dengan cepat Bara tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan.


Brug...pyur es krim yang ia bawa mengenai baju putih di bagian perut Bara, karena gadis kecil itu tinggi nya seukuran perut Bara.


"****!" umpat Bara sedikit kesal dengan tangan ia kibaskan ke udara karena dingin nya es krim mengenai perut nya.


"Maaf om." lirih gadis itu seraya menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Bara melihat ke arah anak gadis itu, anak gadis yang sangat cantik, dengan kaca mata bertengger di hidung nya yang mancung dan topi yang masih ia pakai.


"Maaf om, aku benar-benar tidak sengaja." ucapnya kembali merasa bersalah.


Bara terenyuh dengan sikap polos anak gadis di hadapannya itu. Lalu Bara pun berjongkok agar melihat anak gadis yang menunduk itu.


"Kamu tidak salah, om yang salah. Om tadi terburu-buru jadi tidak melihat jika ada kamu yang sedang melangkah ke arah sini." ujar Bara lembut memang ia yang salah.


"Kenapa kamu memakai kacamata dan topi di ruangan seperti ini?" tanya Bara penasaran. "Coba kamu buka kaca mata dan topi kamu itu, supaya kamu bisa lihat dengan jelas." titah Bara lembut.


"Jangan om, kata ibu aku harus pakai kacamata dan topi ini kemanapun." jawab Bintang yang membuat Bara mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Bara semakin penasaran.


Tari terkejut bukan main. "Bintang!" panggil Tari setengah berteriak saat ia melihat putri nya tengah berbicara dengan seorang laki-laki yang sangat ia takutkan, mereka terlihat sangat akrab ketika berbicara, Tari melihat wajah Bara dan Bintang dari samping arah ia berdiri memperhatikan nya. Dan salah satu laki-laki tengah berdiri memperhatikan ke arah Bintang yang masih tertutup dengan topi dan kacamata.


Dengan langkah seribu, Tari dengan cepat menghampiri keduanya. Sesampainya di sana Tari langsung menarik tubuh Bintang dengan cepat, menyembunyikan dari Bara dengan tubuh membelakangi laki-laki itu, dan Bintang Tari sembunyikan dan di jauhkan dari Bara yang sudah berdiri menatap belakang tubuhnya dengan keheranan.


Dengan rasa ketakutan dan keterkejutan Bara dan Bintang saling bertemu membuat Tari sangat ketakutan jika pertemuan antara anak dan juga laki-laki itu bisa membuat Tari kehilangan anak nya. Karena ia sudah berbohong.


"Bintang, ibu kan sudah bilang jangan berbicara dengan orang asing!" omel Tari pada Bintang dengan nada yang sangat marah.


"Maaf ibu ..." lirih nya menunduk.


"Kamu ya buat ibu kesal, ayok kita pergi!" ajak Tari dengan cepat.


"Tunggu nona!" cegah Bara seraya menarik tangan Tari agar dia menghentikan langkahnya.


"Dia tidak bersalah, saya yang bersalah." ucap Bara cepat.menahan kekesalan nya karena sikap Tari yang sudah memarahi anak gadis itu.


"Lepas!" ucap Tari sedikit tinggi dalam nada bicaranya karena kesal.


"Oh maaf." ucap Bara melepaskan pegangannya pada tangan Tari yang ia tahan. Tangan Bara ia angkat ke udara seperti menyerah.


Tari tersenyum sinis di balik masker yang ia pakai menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak percaya jika laki-laki yang ada di hadapannya itu meminta maaf, jika ia membuka masker nya apa dia juga akan meminta maaf seperti itu, setelah ia tahu siapa yang berdiri di hadapannya itu.


Dengan perlahan Tari membuka masker nya itu lalu menatap ke arah Bara yang masih memperhatikan nya. "Kamu." ucap Bara terkejut, sering nya bertemu dan berdebat membuat panggilan Bara pada Tari jadi berubah.

__ADS_1


"Kenapa? kaget!." sinis Tari berucap.


Bara mengeram kesal namun ntah kenapa ia ingin menahan rasa kesalnya itu, karena ada anak gadis yang membuat dirinya terenyuh. Bara hanya mampu mengepalkan kedua tangannya dengan tatapan tajam pada perempuan yang ada di hadapannya.


__ADS_2