Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
seorang ayah


__ADS_3

Melihat kedua orang itu pergi tanpa terasa air mata Tari membasahi pipi putihnya. Ia jadi mengingat akan Angkasa.


Tari menyeka air matanya dengan mengusap nya. "Semoga Angkasa senang dengan kue buatan ku itu. Kue pertama untuk kamu Angkasa, selamat ulang tahun nak, ibu harap kamu selalu bahagia bersama dengan ayahmu." batin Tari sendu, ia sangat merindukan anaknya yang terpisah. "Seandainya kita bisa berkumpul nak, kamu dan saudara kembar mu." sambung Tari begitu pilu. "Maafkan ibu karena sudah memisahkan kamu dengan kakak dan juga adikmu." lanjut nya. "Tapi sepertinya hidup mu lebih bahagia bersama dengan ayahmu disana, tidak seperti tinggal bersama ibu, yang hidup dengan sederhana seperti ini." Tari menghela nafasnya panjang dengan kedua tangan ia lipat di dadanya.


"Sudahlah aku harus mengikhlaskan Angkasa, itu sudah keputusan ku dulu memberikannya pada laki-laki itu." gumam Tari menguatkan dirinya. Lalu Tari pun memutar tubuhnya untuk kembali melihat kue yang sedang ia buat di dalam sana, namun seseorang memanggil nya.


"Nona." panggil nya membuat Tari yang hendak pergi pun membalikkan tubuhnya melihat ke arah dimana seseorang itu berdiri.


"Iya." jawab nya dengan ekspresi heran dengan kedatangan orang itu. "Ada apa pak? Apa ada sesuatu yang ketinggalan?" tanya Tari cepat.


"Oh tidak... tidak. Saya kembali ke sini hanya untuk memberikan ini kepada anda nona." jelas nya seraya memberikan cek itu kepada Tari. "Itu tuan saya yang memerintahkan saya untuk memberikannya kepada nona." lanjutnya.


"Sebuah cek, untuk apa pak?" tanya Tari bingung.


"Cek itu untuk membayar kue yang tadi anda berikan, tuan saya tidak mau jika tidak membayar nya." jelas bapak itu. "Tuan saya juga mengatakan, anda bisa menulis jumlah yang anda mau, berapa pun nominal nya tidak akan jadi masalah." lanjutnya panjang lebar.


"Ini sangat berlebihan pak, harga kue yang saya buat sangat murah dan tidak perlu memakai cek seperti ini." ucap Tari keheranan. "Lagi pula saya ikhlas kok memberikan kue itu." lanjut Tari tulus.


"Maaf nona, tolong terima saja, jangan mempersulit saya karena anda tidak mau menerimanya, tuan saya tidak suka dengan penolakan." ucap pak Bakri memohon.


"Tapi pak..." ucap Tari terpotong.


"Saya permisi nona, tuan saya sudah menunggu saya terlalu lama." pamitnya seraya membalikkan tubuhnya melangkah pergi.


"Pak...!" panggil Tari dengan mengejar langkah bapak itu. Tari yang sedang berlari mengejar pak Bakri tidak luput dari pandangan Bara yang sedang berada di dalam mobil nya.


"Berikan kembali cek ini untuk tuan anda, saya tidak mau menerimanya." ucap Tari saat pak Bakri berhenti melangkah.


"Tolong nona terima saja." ucap pak Bakri cepat dengan berlalu pergi untuk masuk ke dalam mobil.


Tuk tuk tuk... Tari mengetuk kaca mobil bagian belakang, dimana Bara sedang duduk santai memperhatikan tubuh Tari.


"Tuan tolong buka kaca nya!" teriak Tari terus mengetuk kaca mobil dengan cepat.


"Jalan pak!" titah Bara pada pak Bakri tanpa mempedulikan Tari yang terus-menerus mengetuk kaca mobilnya.


"Baik tuan." jawab nya.


"Tu...tuan...!" teriak Tari setengah berlari dengan terus mengetuk kaca mobil bagian belakang, mengimbangi laju mobil yang sedang berjalan.


"Tuan." ucap pak Bakri melirik ke arah spion mobil, ia merasa kasihan pada Tari yang terus saja mengejar mobil itu.


"Jalan saja!" titah Bara tegas.


"Baik." patuhnya.


"Keras kepala sekali perempuan itu!" batin nya.


"Apa dia tidak mau menerima cek itu?" tanya Bara dengan nada dingin.


"Iya tuan, terlalu berlebihan ucapnya." jelas pak Bakri menjawab.


"Berlebihan?" tanya Bara dengan sarkas.


"Iya, mungkin memang nona itu memberikan kue itu dengan ikhlas karena ulang tahun den Ken berbarengan dengan ulang tahun kedua anaknya." jelas pak Bakri.


"Tapi itu membuat saya aneh!" balas Bara heran.


"Coba saya lihat kue yang dia berikan! Saya takut jika kue itu basi dan tidak layak untuk di berikan pada Ken." titah nya.


Sang sopir pun menyerahkan kue itu pada tuan nya. "Ini tuan."

__ADS_1


Bara meraih kue itu, lalu ia membuka kotak kue itu, mencolek sedikit cream kuenya memastikan jika kue itu tidak basi. Kue itu enak, terlihat bagus dan tidak buruk, apalagi dengan tulisan di atas kue nya, membuat Bara sedikit terenyuh dengan kata-katanya. Biasanya di atas kue bertuliskan nama orang yang berulang tahun dan ucapan selamat ulang tahun, namun ini berbeda, tulisan itu tertera sebuah kata-kata sayang, cocok sekali untuk Bara yang ingin mengutarakan rasa sayang pada anaknya yang tidak mampu ia ucapkan.


Bara tidak mengucapkan satu kata pun setelah melihat kue itu, yang ada di pikiran nya saat adalah bagaimana membuat Ken putra nya merasa nyaman dengan nya, dan merasa bahagia.


Sedangkan dimana Tari berada, ia sedang menarik nafasnya dalam-dalam, karena ia tidak sadar sudah mengejar mobil itu agak jauh dari toko nya dengan memegang sebuah cek di tangan nya.


"Ya ampun, benar-benar orang itu tidak mempedulikan ku!" kesal nya. "Pria sombong!" maki nya menatap terus pada mobil yang terus menjauh dari pandangannya. "Aku sungguh tidak percaya, aku memiliki anak dari laki-laki itu! Bagaimana jika anak-anak ku tahu jika aku sering bertemu dengan ayah kandung mereka." pikir nya kesal seraya pergi menuju toko nya.


"Aku akan menyimpan saja cek ini. Aku tidak akan menggunakannya." gumamnya pelan dan pasti.


*


*


*


Pukul dua belas malam, tibalah malam dimana hari ulang tahun Langit dan Bintang pun sampai, Tari dan Omah sudah menyiapkan kue beserta lilin sebuah angka 8, kue itu di sediakan Tari dua buah kue, teruntuk kedua anaknya yang akan mendapat masing-masing satu.


Kedua anaknya sudah tertidur pulas di dalam satu kamar dengan dua ranjang yang terpisah. Langit, tidur di ranjang atas sedangkan Bintang di ranjang bawah nya, karena mereka laki-laki dan perempuan, dan Bintang masih takut untuk tidur sendiri membuat mereka harus tidur satu kamar.


"Omah sudah siap?" tanya Tari pada Omah yang terbangun.


"Sudah." jawab nya dengan semangat.


"Ayok kita berikan kejutan pada Langit dan Bintang." ajak Tari tidak kalah semangat.


Dua kue sudah di tangan masing-masing, satu di tangan Tari dan satunya lagi di tangan omah Mayang.


Tari dan Omah masuk ke dalam kamar Langit dan juga Bintang secara diam-diam dan sangat pelan agar tidak membangunkan kedua anak yang sedang berulang tahun itu.


"Sayang... bangun nak..." Tari membangunkan kedua anaknya dengan lembut.


"Emmm." anaknya menggeliat pelan tanpa membuka kedua matanya.


"Happy birthday sayang." ucap omah Mayang tersenyum lembut.


Kedua anak kembar itu pun tersenyum seraya mengucek kedua matanya menyadarkan dari tidurnya.


"Sebelum tiup lilin nya, kalian harus berdoa dulu di dalam hati." ucap omah tersenyum melihat cicit angkat nya itu.


Langit dan Bintang pun melakukan apa yang di perintahkan sang omah sebelum mereka meniup lilin nya. Dengan memejamkan kedua mata dan di dalam hati meminta apa yang mereka inginkan, lalu setelah selesai mereka pun meniup lilin itu bersamaan di kue mereka masing-masing.


Omah dan Tari pun bertepuk tangan gembira. "Selamat ulang tahun sayang-sayangnya ibu." di kecup nya kening Langit dan juga Bintang. "Maaf hanya seperti ini yang bisa ibu berikan kepada kalian." sambung Tari dengan lembut.


"Tidak masalah ibu, terima kasih, ibu yang terbaik di hati kami." ucap mereka dengan tulus seraya memeluk Tari dengan erat.


Setelah mereka saling mencoba kue dengan senyum riang di mata mereka, Tari melihat jam sudah larut malam, apalagi anak-anaknya besok juga harus masuk sekolah, Tari menyuruh kedua anaknya untuk melanjutkan tidur kembali karena hari masih malam.


"Ayok kalian cepat tidur kembali, besok kan masih sekolah." titah Tari lembut.


"Iya ibu, tapi ibu tidak lupa kan dengan janji ibu kepada kami?" tagih nya mengingatkan.


"Janji? Janji apa maksudnya?" heran Tari oun mengerutkan keningnya.


Langit dan Bintang berdecak. "Ibu sudah janji akan memenuhi keinginan kita saat ulang tahun kami ini." ucapnya dengan mulut yang mengerucut.


Tari tersenyum. "Hemm baiklah apa yang akan kalian pinta, ibu jadi penasaran dengan permintaan kalian ini." balas Tari, sungguh Tari merasa penasaran dengan apa yang mereka inginkan karena selama ini mereka tidak pernah meminta hal yang serius seperti saat ini.


"Tapi ingat, satu orang hanya satu permintaan!" tegas Tari tidak mau di bantah.


"Kami hanya meminta satu permintaan Bu. Satu permintaan untuk kami berdua." jelas Langit dengan sangat yakin.

__ADS_1


Tari memicingkan kedua matanya menatap ke dalam manik mata kedua anaknya secara bergantian. "Ibu semakin penasaran dengan permintaan kalian ini." ucap Tari.


Langit dan Bintang pun saling menatap dengan senyuman aneh mereka pada Tari.


"Tapi ibu harus janji akan mengabulkan permintaan kami berdua!" ucapnya penuh penekanan.


"Emh bagaimana ya, ibu takut permintaan kalian akan aneh, dan ibu tidak bisa mengabulkan. Ibu tidak mau berjanji, tapi... ibu akan berusaha mengabulkan permintaan kalian selama ibu bisa dan selama ibu mampu." tegas Tari berucap membuat mimik wajah anak kembarnya cemberut seketika.


"Kenapa?" tanya Tari heran.


"Ah ibu...!" rajuk nya berbarengan dengan kesal.


"Ok baiklah... ibu akan mengabulkan permintaan kalian berdua." Tari pun akhirnya mengalah demi kedua anaknya.


"Yes! Yeay" seru mereka berdua dengan heboh.


"Ayok cepat katakan apa yang kalian Inginkan?" tanya Omah Mayang tidak sabar melihat pembicaraan antara ibu dan dua anak itu.


Bintang menyikut lengan kakak kembarnya dengan tangan nya, agar Langit lah yang berbicara pada ibunya tentang permintaan mereka itu.


Dengan ragu dan hati-hati Langit pun mencoba berbicara. "Emh... kami berdua ingin seorang ayah." lirih Langit pelan namun masih terdengar jelas di telinga Tari yang membuat dirinya diam menatap ke arah Langit dan juga Bintang.


"Atau ibu memperlihatkan bagaimana wajah ayah kami kepada kami." sambung Bintang dengan pelan juga.


Tubuh Tari mulai melemas mendengar permintaan kedua anaknya, hal seperti inilah yang Tari khawatirkan.


Tari menatap ke arah Omah dengan mata yang berkaca-kaca dan sendu, ia bingung harus bagaimana menjelaskan kepada kedua anak kembarnya yang sekarang sudah mulai menginginkan sesuatu yang lebih dari pada suatu barang.


Omah Mayang mengusap punggung Tari dengan lembut, memberikan kekuatan untuk Tari akan hal yang selama ini ia hindari.


Tari menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan-lahan, lalu ia mencoba menatap kedua anaknya yang sedang tertunduk itu.


"Apa kalian tidak bahagia hidup bersama ibu dan Omah saja?" tanya Tari, anaknya tidak menjawab.


"Apa kasih sayang ibu dan Omah selama ini kurang pada kalian?" tanya Tari lagi dengan nada bergetar menahan kesedihannya. Kedua anaknya masih terdiam.


"Jawab sayang?" tanya Tari dengan lembut mencoba menahan ketika ia ingin sekali marah, namun ia sebisa mungkin tidak melakukannya.


"Maaf ibu." ucap kedua anaknya berbarengan. "Kami hanya merindukan seorang ayah, kami ingin sekali melihat bagaimana wajah ayah kami." lirih Bintang. "Ibu tidak pernah menceritakan seperti apa ayah kami, jika ibu tidak mau menceritakan ayah dan tidak mau memperlihatkan wajah ayah seperti apa, setidaknya ibu bisa mencarikan kami seorang ayah, walaupun bukan ayah kandung kami." sambung Langit dengan sendu membuat Tari terdiam dan membeku sesaat.


"Apa peran ibu sebagai ibu sekaligus ayah untuk kalian tidak membuat kalian cukup?" air mata Tari pun tidak bisa terbendung lagi, ia menyeka air matanya dengan cepat. "Ada banyak alasan mengapa ibu tidak melakukan apa yang kalian mau." sambung Tari mencoba menjelaskan satu persatu.


"Jika hanya sebuah wajah ayah kalian, ibu akan memberi tahukan suatu saat nanti, jika waktunya sudah tepat. Tapi... jika mencarikan ayah sambung untuk kalian ibu tidak akan melakukan itu!" tegas Tari.


"Kenapa? Ibu bisa bahagia dengan laki-laki yang ibu cintai dan kami akan mendapatkan seorang ayah, jadi tidak hanya kami saja yang akan bahagia tapi ibu juga akan ada yang menjaga ibu nantinya." jelas Bintang.


Tari sekarang mengerti apa yang di inginkan kedua anaknya itu, ia merasa terharu tidak hanya memikirkan perasaan nya namun mereka berdua ingin Tari bahagia juga, namun itu tidak membuat Tari menginginkan sebuah pernikahan.


"Sayang..." panggil Tari lembut dengan menarik nafasnya panjang. "Ibu bukan tidak mau melihat kalian bahagia, tapi kamu tahu, bagaimana jika laki-laki yang menjadi ayah sambung kalian tidak menyayangi kalian dengan tulus? Ibu tidak mau itu terjadi, ibu takut sayang, jadi mengertilah..." jelas Tari mencoba memberikan penjelasan agar kedua anaknya mengerti.


"Ya sayang beri waktu kepada ibu mu untuk menjelaskan kepada kalian nanti, setelah kalian besar nanti pun akan mengerti." sambung omah menengahi keduanya.


"Lebih baik sekarang kita tidur saja, ini masih malam." ucap Omah kembali menenangkan keadaan ini.


"Ya itu lebih baik, besok kalian akan sekolah jangan sampai terlambat." balas Tari dengan lembut.


Kedua anaknya mengangguk patuh. " Baik ibu." sahut nya.


"Kalian harus ingat, ibu sangat menyayangi kalian berdua, walau tanpa ada seorang laki-laki di sisi ibu." ucap Tari mencium kening anaknya bergantian. "Kita juga akan menjalani kehidupan ini bersama-sama suka atau duka, ibu akan berusaha menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk kalian berdua." bujuk Tari membuat kedua anaknya menatap ibunya.


"Terima kasih ibu." ucap Langit. "Maafkan kami sekali lagi." sambung Bintang.

__ADS_1


"Ya ini bukan kesalahan kalian berdua saja, maafkan ibu juga ya." ucap Tari mengelus kepala kedua bergantian.


__ADS_2