
"Bagaimana keadaan tuan Bara pak Al?" tanya pak Bakri setelah ia melihat asisten tuan nya keluar dari ruangan dokter dan Tari pun ikut mengikuti pak Bakri yang menghampiri Alvaro.
"Tuan Bara baik-baik saja, operasi nya juga lancar. Malam ini juga tuan Bara akan segera di pindahkan ke kamar inap VVIP." jelas Alvaro.
"Ah syukurlah." ucap Tari dan pak Bakri bersamaan mendengar hal yang sangat melegakan.
"Bagaimana kejadian ini bisa terjadi pak Bakri?" tanya Al penasaran, saat ia sedang sibuk dengan segala perintah tuan nya ia di kejutkan oleh sopir bos nya dengan kejadian seperti ini.
"Maaf." sela Tari cepat. "Kejadian ini gara-gara saya. Karena tuan Bara berniat menolong saya." ujar Tari merasa bersalah.
"Anda?" tanyanya.
"Iya... saya minta maaf. Saya akan bertanggung jawab atas kejadian ini." lirih Tari.
Tari pun menceritakan apa yang terjadi padanya sebelum terjadinya penusukan pada Bara. Al hanya mendengarkan tidak berbicara apapun.
"Oh ya pak tadi para polisi datang kemari, mereka meminta keterangan dari tuan Bara atas kasus ini. Tuan Bara di minta menjadi saksi." ucap pak Bakri memberi tahu.
"Biar saya yang urus." balas Al cepat dengan melirik ke arah Tari yang terlihat sangat lelah.
"Jangan beritahu tuan besar atas kejadian ini, saya akan meminta persetujuan tuan Bara terlebih dahulu." titah nya. "Baiklah saya akan pergi dulu, titip tuan Bara, jika ada apa-apa langsung hubungi saya." lanjutnya memerintah.
"Baik." jawab pak Bakri.
Tanpa berbalik atau apa, Al langsung pergi begitu saja meninggalkan Tari dan juga pak Bakri.
Tak lama Al pun muncul dengan membawa paper bag di tangan nya lalu dengan cepat ia memberikan itu pada Tari.
"Ini pakaian untuk anda nona, segera bersihkan tubuh anda dan pakailah baju itu. Tuan Bara sangat menyukai hal yang bersih jadi sebelum anda bertanggung jawab atas apa yang terjadi anda harus bersih dan tidak kotor seperti itu." ujar Al dengan jelas dan Tari hanya tersenyum tipis saja.
"Dan pak Bakri bisa pulang, beritahu para pekerja di sana untuk menjaga tuan muda Ken." perintah nya.
"Baik pak." sahutnya.
"Ken." ucap Tari dalam hati.
"Nona nama anda siapa?" tanya Al setelah mereka hanya berdua saja, pak Bakri langsung pergi setelah mendapatkan tugas.
"Saya Tari." jawab Tari pelan.
"Silahkan anda gunakan kamar mandi yang ada di ruangan tuan Bara, karena tuan Bara belum sadar, mungkin karena obat bius yang dokter berikan. Saya kemungkinan akan pergi sebentar untuk menyelesaikan pekerjaan saya. Jika ada apa-apa langsung hubungi saya." ujar Al.
Tari mengangguk. "Baik." ucapnya patuh.
"Ini kartu nama saya, ingat hubungi saya secepatnya jika sesuatu tentang tuan Bara terjadi!" titah nya mengingatkan.
Tari pun menerima kartu nama itu dan memasukkan nya ke dalam dompet di dalam tasnya setelah Al pergi.
Lalu Tari dengan cepat masuk ke dalam ruangan kamar inap Bara, dengan hati-hati Tari melangkahkan kakinya masuk menuju kamar mandi, di lihat nya laki-laki yang sudah menolong nya terbujur diam tidak sadarkan diri membuat Tari menarik nafasnya dalam-dalam.
"Kenapa harus laki-laki ini yang menolong ku?" gumamnya dalam hati. "Ah maafkan aku Tuhan... karena aku tidak bersyukur atas apa yang kau kirimkan, yaitu seseorang yang menolong di saat aku benar-benar takut." sambung nya lirih. "Jika saja tadi Tuhan tidak mengirimkan laki-laki ini untuk menolong ku, apa yang akan terjadi padaku?" batin nya semakin sendu.
Tersadar jika dirinya masuk untuk membersihkan dirinya dari darah yang menempel, Tari pun dengan cepat masuk menuju kamar mandi yang ada di sana.
Selesai Tari membersihkan tubuhnya, ia pun keluar dari kamar mandi, ia masih melihat laki-laki yang bernama Bara itu masih memejamkan kedua matanya dan terbaring tidak berdaya.
Tari menatap tubuh Bara yang masih belum sadar itu. "Mulai hari ini aku akan merawat anda tuan, jika anda perlukan, hatiku sedikit merasa tidak enak anda seperti ini gara-gara saya. Tapi saya benar-benar berterima kasih sekali kepada anda, karena anda lah penyelamat saya." ucap Tari pelan.
__ADS_1
Tari pun mencoba duduk di kursi di samping ranjang, ia benar-benar lelah sebenarnya namun ia harus menjaga tuan Bara sebagai tanda balas Budi nya.
Dengan kepala yang ia sandarkan pada kursi membuat Tari yang sudah lelah pun sampai tertidur seraya kedua tangannya ia lipat di dada.
Ketika pagi menyerang, tepat pukul 5 Bara mulai sadar, kedua matanya yang perlahan-lahan terbuka dan jari-jari yang mulai bergerak pelan, namun Tari masih dalam memejamkan matanya walaupun tidak terasa nyaman.
Bara menyapu pandangan nya ke semua ruangan lalu tatapan matanya terkunci pada sesosok wanita yang tengah duduk dan dengan mata nya yang terpejam.
Tatapan mata Bara agak lama, karena pikiran nya pun belum begitu terkumpul semua, ia mengingat sedikit kejadian yang membuat dirinya harus tinggal di rumah sakit.
"Ahhhh." Bara mendesah pelan sedikit meringis karena luka operasi terasa sakit karena pergerakannya.
Tari bergumam, membuat Bara langsung menutup kedua matanya berpura-pura tidur kembali.
Tari berdesis. "Aduh sakit sekali leherku." gumam nya seraya memijat lehernya belakangnya yang terasa sakit. Lalu ia menatap ke arah jam dinding. "Pukul lima." gumam nya lagi. Tari melihat ke arah dimana Bara terbaring lemah melihat laki-laki itu belum membuka mata membuat dia pun menghela nafasnya, berdiri untuk memeriksa. Di usap nya lengan berotot yang di pasang infusan itu. "Tuan apa anda belum sadar?" tanyanya pelan seraya terus mengusap lengan itu dengan lembut.
Tari menarik tangannya, lalu ia pun beranjak pergi menuju ke kamar mandi untuk mandi.
Bara yang mendengar suara pintu kamar mandi terbuka ia yakin jika Tari masuk ke dalamnya, dengan begitu ia membuka matanya kembali dengan menarik nafasnya dalam-dalam. Ada sesuatu yang aneh saat tangan Tari mengusap lengan nya. Kulit yang tersentuh meremang seketika saat tangan nya menyentuh kulit lengannya.
"Ah gila kamu Bara!" batin nya mulai aneh.
"Apa dia semalaman menunggu ku, kemana Alvaro?"
Saat pikirannya melayang tiba-tiba pintu kamar terbuka, muncullah Alvaro.
"Tuan anda sudah sadar?" tanya Al cepat melihat tuan nya sudah sadarkan diri.
"Iya." jawab Bara pelan dan lemah.
"Tidak, tidak ada." jawabnya lagi.
"Baiklah." balas Al.
"Al kenapa perempuan itu menunggu saya?" tanya Bara heran. "Apa kamu yang menyuruh nya?" sambung nya lagi.
"Nona itu merasa tidak enak pada anda tuan, maka dari itu dia ingin bertanggung jawab atas kejadian ini." jelas Al.
Al dan Bara pun tengah berbicara namun mereka terdiam saat sebuah pintu terbuka.
Ceklek. Suara pintu kamar mandi terbuka menampilkan tubuh Tari yang sudah selesai mandi, dengan wajah yang segar dan cerah serta rambut yang di Cepol tinggi agar tidak terkena air saat mandi, membuat lehernya yang mulus putih bersih terekspos sempurna dengan bulu-bulu lembut dari rambut yang terkena air.
Dua orang lelaki yang ada di dalam ruangan pun langsung menoleh tertuju langsung pada Tari yang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan kikuk karena ia tidak tahu jika tuan Bara sudah sadar dan tidak tahu juga jika Alvaro juga berada di sana.
Tari tersenyum kikuk karena merasa tidak enak dan malu juga. "Mmmm... maaf saya sudah menggangu pembicaraan Kalian." ucap Tari terbata-bata seraya akan masuk ke kamar mandi kembali karena ia sungguh sangat malu di tatap tajam oleh dua laki-laki yang sangat tidak ia kenal sama sekali.
"Tunggu nona!" cegah Al cepat.
Tari mengehentikan langkah nya lalu berbalik kembali. "I...iya ada apa?" tanya Tari.
"Kami sudah selesai berbicara nona, silahkan jika anda ingin mengatakan sesuatu pada tuan saya. Beliau sudah sadarkan diri." ujar Al dengan sopan.
Tari sempat melirik Bara yang sedang menatapnya membuat Tari pun sedikit gugup di buatnya, karena laki-laki yang ada di hadapannya itu mengingatkan dirinya pada masa lalunya, saat Tari kehilangan kehormatan nya sebagai perempuan baik-baik.
"Emh tuan, pertama saya mau mengucapkan terima kasih kepada anda karena sudah menolong saya dari para penjahat itu, dan saya juga meminta maaf karena saya anda mengalami kejadian seperti ini." ujar Tari tidak enak hati.
Bara menatap ke arah Tari dengan serius, ntah apa yang dia pikirkan tentang Tari yang jelas Tari sangat risih ketika Bara melihatnya.
__ADS_1
"Saya akan bertanggung jawab atas semua kejadian ini." sambung Tari.
Bara tersenyum sinis. "Tanggung jawab seperti apa maksud anda?" tanya Bara. "Tanggung jawab atas biaya rumah sakit sudah assisten saya yang urus. Jadi tanggung jawab seperti apa?" tanyanya mengulang dengan nada terdengar angkuh.
"Emmm." gumam Tari bingung. "Terserah anda tuan, yang pasti saya tidak akan lepas tangan dan saya pastikan saya akan membalas budi atas kebaikan anda yang sudah menolong saya." ujar Tari dengan tegas setelah ia mendengar bagaimana laki-laki ini begitu sombongnya.
"Oh baiklah, saya akan pikirkan nanti, balas budi seperti apa yang harus anda bayarkan kepada saya." balas Bara dengan senyuman miring nya.
Tari tidak suka mendengar omongan dari laki-laki itu, namun ia menahan emosinya karena Tari tidak mau di cap sebagai orang yang tidak berakhlak, karena tanpa ada laki-laki ini dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
"Baik." sahut Tari cepat.
"Nona silahkan anda pulang dan beristirahat, di sini ada saya yang akan menjaga tuan Bara." titah Al.
Tari mengangguk. "Ya saya akan pulang." sahut Tari. "Kalau begitu saya permisi!" pamitnya dan di angguki Al sedangkan Bara ia hanya diam saja menatap ke arah langit-langit ruangan inapnya.
Melihat kepergian Tari Al pun menatap kembali pada tuan Bara. "Tuan, para polisi sudah menangkap pelaku penusukan anda, dan pihak polisi juga ingin meminta keterangan terkait atas kasus anda dan nona Tari." jelas Al memberi tahu.
"Ya urus saja, nanti setelah saya merasa baikan." ucap Bara.
"Baik tuan." balas Al.
Bara terdiam ia jadi mengingat sekilas tentang perempuan tadi. Sungguh ia merasa ada sesuatu ada yang aneh. Apalagi dia cukup lama memperhatikan penampilan Tari tadi, cantik dan segar walaupun tanpa polesan make up, dan Bara pun mengingat bibir merah tanpa lipstik sedikit pun, sungguh sangat menggoda.
"Sial kenapa aku jadi mikir ke arah sana!" kesal nya dalam hati seraya mengusap wajahnya seraya kasar. Bara tidak habis pikir kenapa dia sampai tergoda dengan perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak.
"Ada apa tuan?" tanya Al ketika ada gelagat aneh pada tuan nya.
Bara tidak sadar jika Al memperhatikan nya. "Tidak. Tidak ada." jawab nya cepat.
Al hanya menganggukkan kepalanya. "Oh ya apa Ken masih menjalankan hukumannya dengan baik?" tanya Bara mengingat putranya.
"Tuan muda Ken, masih menjalankan hukumannya, apa saya harus memberi tahu keadaan tuan pada tuan Ken?" tanya nya meminta ijin.
"Tidak usah, saya tidak mau Ken tahu jika saya mengalami penusukan." ujar Bara.
"Baik tuan saya mengerti." balas Al.
"Al, apa perintah saya untuk mencari informasi tentang ibu kandung Ken sudah kamu dapatkan?" tanya Bara menatap dengan serius.
"Sedang saya lakukan tuan, saya sudah menelepon seorang pimpinan di hotel dimana anda dan perempuan itu cek in, dan sebelum itu juga saya sudah meminta pimpinan tempat anda mabuk, kemungkinan besok saya akan bertemu dengan mereka jika mereka sudah menemukan nya." jelas Al sejelas-jelasnya.
"Baiklah lebih cepat lebih baik, saya penasaran kenapa perempuan yang sudah ku tiduri tidak meminta pertanggungjawaban saya saat tahu dia mengandung putraku, dan saya penasaran dengan wajah perempuan itu." ucapnya menatap ke arah depan dengan serius.
"Ya saya akan memberikan informasi itu secepatnya tuan, sekarang anda beristirahat lah dan jangan memikirkan masalah pekerjaan, pekerjaan akan saya tangani, saya juga sudah menyuruh pak Bakri dan juga bi Milah agar selalu menjaga tuan muda Ken di rumah." ujar Al memberi tahu Bara.
"Terima kasih Al, kamu bisa saya andalkan." puji Bara.
"Sama-sama tuan." ucap Al. "Emh, oh ya tuan jika anda membutuhkan teman ngobrol saya akan hubungi nona Tari agar bisa menemani anda di sini." tawar Al.
"Tari?" tanya Bara bingung.
"Ya, nona Tari itu perempuan yang anda tolong semalam." jelas Al.
"Ah tidak usah Al, dia perempuan yang memiliki suami, saya tidak mau mendapatkan masalah dengan suaminya." tolak Bara cepat walaupun hati nya sedikit menginginkan penawaran Al itu.
"Ya sudah tuan, kalau begitu saya permisi untuk pergi ke kantor." pamit nya dan di angguki oleh Bara.
__ADS_1