
Suara getar handphone yang berada di dalam tas Tari menyadarkan Tari dan Bara dalam ciuman panas itu, membuat Tari langsung mendorong tubuh Bara dengan keras sehingga Bara melepaskan ciuman itu.
Wajah Tari memerah, memanas karena ciuman itu, sedangkan Bara terlihat sangat santai. Tari sedikit menjauh dari tubuh Bara dan membelakanginya.
Di raihlah handphone itu, karena panggilan itu tidak berhenti. Tari melihat layar handphone itu terdapat panggilan dari kak Leo.
"Kak Leo." gumam Tari dengan menarik nafasnya dalam-dalam menetralisirkan jantung nya yang berdebar dengan kencang akibat ciuman panas antara dirinya dan juga Bara.
"Ha... hallo kak Leo." sahut Tari dengan suara yang masih gugup.
"Sun sun apa kamu baik-baik saja? Sudah setengah jam kamu pergi ke toilet. Aku khawatir terjadi sesuatu di sana." ucap Leo terdengar khawatir.
'Apa setengah jam? Ah ini benar-benar gila selama itu kah aku berciuman dengan dia. Kenapa aku begitu menikmatinya sampai tidak menyadarinya. Ini benar-benar memalukan!' batin Tari memijat keningnya karena malu.
"Sun sun kamu baik-baik saja?" Leo pun semakin khawatir karena Tari tidak menjawab.
"Aku tidak apa-apa kak Leo, aku hanya sakit perut sedikit." jelas Tari.
"Aku akan kesana, dan membawa kamu ke dokter, ok." ucap Leo.
"Tidak perlu kak Leo, aku sudah lebih baik kok, ini juga aku sudah selesai, aku akan segera ke sana menemui kak Leo." Tari panik bagaimana jika Leo menghampiri nya lalu bertemu dengan Bara yang masih berada di dekat nya, alasan apa yang harus Tari berikan. Oh sungguh ini membuat Tari pusing, ia seakan memiliki selingkuhan yang takut ketahuan.
"Oh baiklah, aku menunggu mu di sini." ucap Leo.
Panggilan pun terputus, Tari kembali menarik nafasnya dalam-dalam, jantung nya masih berdetak dengan kencang, mengingat kejadian ciuman tadi bersama Bara.
Tari memasukkan handphone itu ke dalam tasnya, lalu tanpa menoleh ke belakang Tari akan pergi dari sana dan menemui Leo yang masih berada di meja pesanan nya.
Namun kembali, Bara menarik tangan Tari dengan kuat saat melihat Tari yang akan pergi menemui Leo. Sungguh sakit apa yang Bara rasakan ketika Tari terlihat lebih memilih menjaga perasaan laki-laki lain di bandingkan dirinya yang berstatus sebagai suami sah nya itu.
"Kamu harus pulang dengan saya!" ucap Bara dengan menarik tangan Tari agar pulang bersama nya.
"Hei, saya masih ada urusan dengan kak Leo." teriak Tari seraya mencoba melepaskan pegangan tangan Bara pada tangan nya.
"Urusan mu adalah dengan saya!" balas Bara tidak terima, Tari masih saja ingin menemui laki-laki itu.
"Lepaskan!" teriak Tari terus-menerus. "Sakit..." Tari meringis.
Bara tidak memperdulikan teriakkan dan rengekan Tari yang ingin dia lepaskan, Bara membawa Tari keluar restoran melalui pintu belakang.
Brug.... Bara menutup pintu mobil dengan keras setelah Tari masuk ke dalam nya.
Lalu Bara pun ikut masuk juga ke dalam mobil itu dan menyalakan mesin nya. Tari kesal dan marah dengan perlakuan Bara seperti itu.
Di tengah perjalanan, Bara memberi tahu kepada Alvaro dan menyuruh dia agar pulang naik kendaraan lain karena mobil di bawa oleh nya. Sedangkan Tari dengan rasa kesal kepada Bara dia memberikan sebuah pesan kepada Leo.
"Kak Leo, aku minta maaf, aku pulang lebih dulu, perut ku tiba-tiba sakit, aku sekarang sedang menuju rumah sakit. Dan sampaikan maaf ku kepada Tante kak Leo, aku belum bisa bertemu dengannya." pesan itu pun terkirim.
Tiba-tiba Leo memanggil ke nomor Tari melalui video call karena dia merasa sangat khawatir dengan keadaan Tari. Tari tidak menjawab panggilan itu ia lebih memilih untuk mengsillent panggilan itu, bisa ketahuan jika dia sedang berada dengan Bara dalam satu mobil.
Lalu tiba-tiba Leo mengirim pesan kepada Tari. "Sun sun kenapa kamu tidak meminta aku untuk mengantarkan mu ke rumah sakit. Aku sungguh sangat mengkhawatirkan mu."
"Aku bisa sendiri kak, terima kasih sudah mau mengantarkan ku, dan maaf aku sudah membuat mu khawatir. Aku akan baik-baik saja." balas Tari dengan menarik nafasnya panjang seraya menatap ke arah luar.
Bara melirik Tari dengan ekor matanya, ia masih kesal dengan Tari yang masih peduli dengan laki-laki lain, seharusnya Tari menjaga perasaan Bara. Bara mendengus kesal seraya memukul alat kemudi dengan keras membuat Tari menatap Bara dengan heran dan takut, ia baru lihat Bara marah seperti itu malah tadi ia hampir mencekiknya saat di depan toilet.
Tak lama mereka pun sampai di rumah, Bara langsung turun dari mobilnya dan menutup pintu itu dengan keras dan meninggalkan Tari begitu saja. Tari menarik nafasnya dalam-dalam, ia tidak mengerti dengan sikap Bara padanya. Ia selalu saja salah di matanya.
Tari pun turun dari mobil lalu ia bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut baik oleh anak-anak yang sedang bermain.
"Ibu... kenapa Daddy terlihat sangat kesal?" tanya Bintang ketika ia melihat daddy-nya masuk dengan wajah yang masam.
__ADS_1
"Daddy mu mungkin lelah, sudah jangan ganggu Daddy mu saat ini ya." Tari pun berbicara lembut kepada Bintang dan dia pun mengangguk.
"Kalian main lagi ya, ibu mandi dulu." ijin Tari kepada anak-anaknya.
"Iya, Bu." jawabnya.
"Emh tunggu apa kalian sudah makan?" tanya Tari menatap ketiga anak-anaknya.
"Belum, kami menunggu ibu." jawab Ken.
"Ya sudah setelah selesai mandi, ibu akan memasak makanan kesukaan kalian." ucap Tari membuat anak-anak gembira, karena makanan Tari yang selalu enak membuat anak-anak selalu menunggu ibunya membuatkan makanan.
"Ibu ke kamar dulu ya." ijin nya seraya pergi melangkahkan kakinya menuju kamar.
Saat sudah berada di depan kamar, ia masuk dengan hati-hati, karena Tari masih tidak mau berhadapan dengan Bara.
Namun saat ia masuk, di dalam kamar tidak terlihat ada orang di dalamnya. "Kemana dia?" pikir Tari namun ada sedikit kelegaan karena tidak bertemu dengan Bara di dalam kamar. Dengan segera Tari bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Tari menarik nafasnya berkali-kali, sebenarnya satu kamar seperti ini dengan dia membuat Tari merasa tidak nyaman dan istirahat nya pun jadi berkurang karena ketidaknyamanan nya. "Kalau saja aku memiliki kamar sendiri, mungkin aku akan lebih bebas untuk bergerak. Aku merindukan kamar ku di rumah omah." gumam Tari lirih.
Selesai mandi Tari langsung mengenakan pakaian rumah nya, saat ini ia melihat Bara tengah merokok di balkon, Tari baru menyadari jika Bara berada di balkon kamarnya. Terlihat Bara sudah cukup menghabiskan beberapa batang rokok karena terlihat dari asbak rokok yang ada di belakang tubuhnya, saat Tari mengintip dari jendela.
"Kenapa dia, apa dia sedang ada masalah? Jika masalah denganku tadi kan tidak begitu membuat dirinya masalah, karena kita bukan pasangan yang saling mencintai, lagi pula aku tidak berselingkuh dengan kak Leo." pikir Tari.
Asap rokok yang tercium oleh Tari membuat wajah dan telinganya memerah, karena bau asap itu mengingatkan Tari pada adegan ciuman panasnya bersama Bara di restoran tadi. Wajah cantik Tari memanas. "Kenapa tadi aku seperti menikmati ciuman dengan nya, pasti laki-laki itu berpikir jika aku memang wanita murahan. Ah sungguh membuat aku malu jika aku mengingat kejadian tadi." Tari menggigit bibir bawahnya yang tanpa lipstik itu, lalu ia mengusap bibirnya ketika di hadapan cermin.
"Hah aku malu sekali." batin Tari merasa frustasi.
Di balkon kamar, Bara yang tengah menikmati isapan rokok itu menatap lurus ke depan, ia memikirkan sesuatu yang ingin ia tolak jika memang hatinya merasa kesal melihat Tari bersama laki-laki lain, namun dia tetap tidak ingin mengakui jika dirinya memiliki rasa kepada Tari.
Isapan demi isapan ia lakukan, membuang rasa yang ada di hati dan pikirannya saat ini. Saat ia tengah memejamkan matanya ingin menikmati rokok yang ia isap, terlintas rasa manis dan kenyal membayangi Bara. Rasa manis dan kenyal bibir Tari membuat Bara menggigit bagian bibir nya. "Sial kenapa aku jadi memikirkan ciuman tadi, dia benar-benar ingin menggoda ku, dan sialnya aku menikmati ciuman dengan nya." batin Bara tidak bisa di pungkiri jika dia memang menikmati ciuman nya bersama Tari.
Tari memang perempuan yang membuat dirinya menikmati ciuman dengan seorang wanita, ntah magnet apa yang ada dalam diri Tari yang membuat Bara merasakan kembali dan menginginkan kehangatan seorang wanita, yang memang dibutuhkan oleh seorang laki-laki dewasa. Namun ia tetap menolak jika dirinya sekarang sudah mulai merasakan apa itu jatuh cinta, terlalu takut dalam menjalin sebuah hubungan, apalagi dengan Tari wanita yang ia anggap wanita murahan.
Wangi ini, aroma wangi yang selalu mengingatkan Bara akan kejadian dirinya saat satu malam bersama Tari, aroma yang pernah menempel pada pakaian yang ia pakai saat itu, Bara baru menyadari jika wangi aroma ini tidak asing dengan alat penciumannya.
Bara masuk ke dalam kamar mandi, aroma sabun perempuan pun tercium memenuhi ruangan kamar mandi, membuat perasaan Bara menenang tiba-tiba.
"Anak-anak ayok makan." ajak Tari memanggil ketiga anak-anaknya yang sedang bermain.
"Ibu aku panggil Daddy terlebih dulu ya, kita ingin makan bersama Daddy." ucap Bintang mewakili kedua kakaknya.
Tari tersenyum. "Baiklah." pasrah Tari jika harus bertemu dengan Bara.
Saat Tari menyiapkan makanan ke atas meja, dan ketiga anaknya serta Bara sudah duduk manis di sana, Tari mengulurkan tangannya dengan piring yang berisi makanan untuk ia sajikan di atas meja tersebut.
"Ibu kenapa tangan ibu merah seperti itu?" tanya Langit saat melihat pergelangan tangan Tari yang memerah dan terlihat memar ke unguan membuat orang-orang yang berada di sana pun melihat ke arah tangan kanan Tari.
Tari menarik tangannya itu dengan cepat. "Tidak apa-apa, ini hanya memar biasa." jawab Tari santai dengan terus menyajikan makanan di bantu oleh bi Milah.
"Tidak apa-apa bagaimana, tangan ibu memar begitu, apa yang terjadi?" terdengar nada khawatir Langit dan ketiga anak kembarnya menatap Tari dengan cemas.
"Ini tidak apa-apa sayang, tadi ibu memakai jam tangan, mungkin ibu memiliki alergi tidak cocok dengan bahan dari jam tangan yang ibu pakai itu." Tari pun beralasan dengan secara logika, mudah-mudahan mereka percaya dengan alasan Tari.
"Apa itu sakit?" tanya Ken merasa khawatir.
"Tidak." Tari menggelengkan kepalanya.
"Buang saja Bu jam tangan itu, kami tidak mau melihat ibu kesakitan, apalagi karena sebuah jam tangan jelek itu." ucap Bintang dengan mengusap pergelangan tangan Tari yang memerah itu.
"Ya, ibu tidak akan memakai jam itu lagi." ucap Tari. "Ayok kita makan saja." Tari pun mengajak ketiga anaknya untuk makan.
__ADS_1
Bara hanya memperhatikan adegan anak dan ibu dengan diam, anak-anaknya begitu memperhatikan dan begitu mengkhawatirkan Tari.
Bara baru menyadari jika pergelangan Tari memang merah dan memar terlihat sangat jelas, dia sadar pergelangan Tari yang merah itu akibat ulah nya yang menarik dan menggenggam pergelangan tangan Tari dengan begitu keras dan kencang karena kemarahan nya membuat Bara tidak sadar jika Tari kesakitan.
Bara diam ia menikmati makanan yang di buat oleh Tari, walaupun hatinya merasa tidak nyaman saat ia melihat Tari kesakitan akibat ulah nya.
Bara juga malu sebenarnya, walaupun Tari dan Bara masih belum akur dan selalu saja bertengkar, namun Tari masih mau menyiapkan makanan untuk Bara, buktinya ia membuat makanan yang ia sukai malam ini, dan itu membuat Bara semakin tidak enak hati.
Makan malam pun selesai, Tari masih menemani anak-anaknya. Saat itu pula Bintang membawa seekor binatang yang sangat Tari tidak sukai. Tadi sebelum itu Bintang meminta ijin kepada Tari untuk memperlihatkan binatang yang akan ia bawa ke sekolah untuk tugas biologi nya. Tari mengijinkannya karena putri manja nya itu mengatakan binatang yang dia bawa sangatlah lucu dan dia tidak mengatakan jika itu adalah katak.
"Bintang! Kenapa kamu bawa hewan itu ke sini?" ucap Tari dengan suara agak tinggi saat melihat seekor katak yang di bawa Bintang.
"Jangan bawa katak itu kesini!" teriak Tari mencegah Bintang mendekatkan katak itu agar tidak melompat ke arahnya.
"Ibu jangan takut, katak ini sangat lucu. Lihat bu ini lucu kan?" Bintang pun menyodorkan katak itu ke arah Tari dan Tari merinding geli karena semakin dekat katak itu semakin menggelikan.
"Jangan mendekat!" cegah Tari dengan takut seraya mencoba kabur dari sana.
"Aaaa. Bintang!" teriak Tari ketika katak itu melompat ke dada lalu ke pundak karena Tari yang tidak bisa diam karena takut dan geli.
"Diam bu, ibu jangan bergerak aku akan menangkapnya." ucap Langit dan Ken berancang-ancang untuk menangkap katak itu.
"Hahaha ibu lucu." Bintang malah bersorak melihat ibunya yang takut pada katak.
Bara ke luar dari ruang kerjanya mendengar teriakkan Tari, dan tidak hanya Bara saja yang keluar namun para pekerja yang ada di rumah itu pun berkumpul.
"Ada apa ini?" tanya Bara melihat kegaduhan dari ruangan keluarga membuat Bara langsung menghampiri saat mendengar nya.
"Ibu takut dengan katak, ayok Daddy bantu kami untuk menangkap katak itu." Ken pun berseru menjelaskan.
"Ya ampun." Bara pun menggelengkan kepalanya seraya mencoba menangkap katak yang masih ada di tubuh Tari, yang masih melompat di sekitar tubuh Tari.
"Ih pergi sana!" teriak Tari dengan geli.
Bara pun mencoba membantu untuk menangkap katak itu. "Kamu diam, jangan bergerak. Saya akan tangkap katak itu." titah Bara kepada Tari.
Tari diam namun dia menggeleng pasalnya katak itu nemplok di bagian dada Tari. "Jangan!" cegah Tari dengan suara tertahan.
"Tenang saja, kamu diam saya akan menangkapnya." ucap Bara dengan ancang-ancang nya yang pelan.
Plok. Tangan Bara pun menangkap katak itu. "Saya mendapatkan nya." ucap Bara dengan pede nya seraya menatap wajah Tari yang memerah dan melototkan matanya dengan horor menatap Bara membuatnya heran.
"Daddy payah karena tidak bisa menangkap nya, katak nya melompat kesana." seru Ken mencibir Daddy nya.
Bara menatap Tari dengan malu seraya melepaskan tangannya yang meraup dada kiri Tari dengan tangan kanannya. "Kamu salah tangkap." geram Tari. "Dasar cabul!" kesal Tari dengan suara pelan namun terdengar sangat kesal.
"Maaf itu bukan sebuah kesengajaan." ucap Bara melengos malu.
Katak itu masih di kejar oleh ketiga anak-anaknya dan para pekerja di rumah juga membantu untuk menangkap katak yang melompat begitu cekatan. Dan katak itu pun kembali melompat ke arah kaki Tari membuat Tari melompat ke tubuh Bara sampai Bara menggendong tubuh Tari. Tari berteriak terus menerus seraya menyelusup masuk ke leher Bara dengan kedua tangan menarik leher Bara meminta perlindungan agar dirinya tidak jatuh.
Pluk... katak itu pun tertangkap oleh tukang kebun yang membawa sebuah penangkap.
"Ah bapak memang hebat." puji Bintang pada pekerja Daddy nya karena berhasil menangkap katak nya.
"Ibu turun lah, katak itu sudah tertangkap." ucap Langit melihat ibunya yang masih menemplok di tubuh ayahnya.
Tari pun tersadar turun dari tubuh Bara dengan rasa malu, bukan hanya dengan Bara, tapi juga anak-anak serta para pekerja yang ada di rumah itu.
"Ini sangat menjijikkan!" kesal Tari seraya melangkahkan kakinya pergi menaiki tangga menuju kamar, ia sungguh takut, geli dan juga malu pastinya.
Melihat kekesalan Tari Bara pun menarik nafasnya panjang lalu menatap ketiga anaknya silih berganti. "Jangan membuat ibu kalian takut seperti ini lagi!" tegas Bara kepada anak-anaknya.
__ADS_1
"Maaf Daddy, ini salahku." lirih Bintang mengakui. "Aku tidak berniat menakuti ibu, aku hanya ingin memperlihatkan katak itu sangat lucu, tapi ternyata, ibu sangat takut dengan katak." ujar Bintang merasa bersalah.
"Jangan di ulangi lagi ya." ucap Bara seraya mengusap Bintang dan juga anak laki-lakinya dan di angguki oleh mereka dengan cepat.