
Sesampainya di dalam butik Bara langsung di sambut oleh petugas butik dengan sangat sopan dan ramah, di sana banyak sekali pakaian bagus dan mewah terutama gaun yang sangat indah dan pastinya harganya pun akan setara dengan barang yang ada di sana.
"Siapkan gaun malam untuk sebuah acara penting." perintah Bara pada pelayan butik itu.
"Baik tuan." jawabnya dengan cepat.
"Mari nyonya ikut saya." ajak nya dengan sopan.
Dengan langkah ragu Tari mengikuti langkah nya mengikuti apa yang di arahkan pelayan butik itu.
"Gaun ini sepertinya cocok dengan anda nyonya." dia pun menyerahkan sebuah gaun kepada Tari untuk ia coba.
"Terima kasih, akan saya coba." Tari menerima gaun itu lalu masuk ke dalam ruangan ganti, sedangkan Bara ia sibuk memakai jas yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Nyonya apa anda sudah selesai?" tanya sang pelayan itu. "Jika anda sudah selesai silahkan keluar terlebih dahulu, apa tuan Bara menyukainya atau tidak." jelasnya lagi.
"Ya, sebentar." jawab Tari seraya melihat gaun yang ia pakai saat ini di cermin.
"Ya ampun gaun ini terlalu terbuka untuk ku, apalagi bagian dada nya sangat rendah seperti ini. Risih sekali aku memakainya." gumam Tari melihat bagaimana seksi nya ia memakai gaun itu bahkan setengah *********** terlihat sempurna. "Memang terlihat cantik dan pas di tubuh ku tapi jika di pakai di luar nanti, oh ya ampun aku pasti malu sekali." Tari pun masih asyik dengan pikirannya saat tubuhnya begitu sempurna menggunakan gaun seksi itu. "Semoga saja laki-laki itu tidak suka aku memakai gaun ini." ujarnya dalam hati. "Tapi bagaimana jika dia menyukai nya, ah aku harus pakai jaket untuk menutupi nya." lanjutnya lagi.
"Nyonya bagaimana apa sudah selesai?" lagi sang pelayan pun memanggilnya.
"Ya...ya saya akan keluar sekarang." jawab Tari dengan cepat.
Tari pun dengan ragu, ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti itu. Menampilkan tubuh nya yang sedang memakai gaun malam berwarna merah cerah itu, dan itu membuat Tari semakin seksi.
Tari terus mencoba menutupi bagian dadanya yang terlihat itu, menarik pakaian itu untuk menutupi tubuh yang membuat dia risih saat memperlihatkannya nya.
"Wah nyonya anda sangat cantik sekali, dan gaun ini pas sekali." puji pelayan itu dengan sangat jujur.
Tari hanya tersenyum kecut saja, untuk apa cantik jika merasa tidak nyaman, ya jadi berasa tidak cantik dan merasa tidak percaya diri.
Saat mendengar pelayan itu memberikan sebuah pujian, Bara yang sedang mencoba jas nya itu pun menoleh pada Tari yang berdiri di depan ruangan ganti tidak jauh dimana Bara berdiri.
Dan Bara pun melihat bagaimana Tari dengan cantik dan seksi saat mengenakan gaun malam itu. Sungguh itu membuat Bara terdiam menatap ke arah Tari, Bara akui Tari memang sangat cantik dengan pakaian yang ia pakai malam ini, apalagi bagian dadanya, oh sungguh membuat Bara ingin membenamkan wajahnya di sana, Bara baru melihat Tari mengenakan pakaian seperti itu.
Di tatap lekat oleh Bara, Tari yang merasa tidak percaya diri pun semakin risih saja memakai pakaian itu, apalagi dengan tatapan Bara yang tajam seperti itu membuat Tari mencoba menutupi dadanya dengan tangan nya.
Bara yang segera tersadar pun menggelengkan kepalanya untuk bisa kembali fokus lagi.
"Bagaimana tuan apa anda menyukainya?" tanya pelayan itu kepada Bara.
"Ganti gaun itu!" titah Bara dengan suara beratnya terdengar kesal. "Saya tidak suka, gaun itu sangat jelek." Bara pun menambahkan. "Cepat ganti yang lain!" sambung nya.
"Emh baik tuan." segera pelayan itu mencari gaun yang lebih cantik dari itu, ia takut jika tuan Bara nya itu menjadi marah.
'enak saja memberikan gaun seperti itu padanya, itu terlalu seksi apalagi memperlihatkan dada nya seperti tadi. Aku saja di rumah tidak pernah melihatnya.' umpat Bara kesal dalam hatinya. 'bagaimana jika banyak laki-laki yang melihatnya nanti, aku tidak rela jika itu terjadi.' batin nya semakin kesal.
Tari menarik nafasnya lega, karena Bara tidak menyukai gaun yang ia pakai saat ini. "Untung saja aku tidak jadi memakai nya." gumam Tari senang.
Lalu Tari pun memakai gaun yang sudah di pilih oleh dirinya sendiri, karena ia ingin memastikan jika gaun yang ia pakai nyaman saat ia kenakan nanti. Tak lama dan keluar lah Tari dengan gaun yang cukup sederhana namun tetap elegan saat ia kenakan dan tertutup di bagian dadanya membuat Tari pun nyaman memakainya.
"Bagaimana jika dengan gaun ini?" Tari pun meminta pendapat Bara saat ia memperlihatkan gaun yang ia pilih tadi. "Apa cocok dengan jas yang kamu pakai?" tanyanya kemudian.
Bara yang saat ini sedang duduk dengan kaki ia lipat pun melihat ke arah Tari lalu menatap nya.
"Ya...ya lumayan lah." jawabnya gugup, pasal nya Tari sangat cantik, terlihat anggun dan pastinya cocok di tubuh Tari yang mungil itu.
"Apa ini tidak akan memalukan mu?" Tari memastikan kembali kepada Bara.
__ADS_1
"Ya itu sangat cocok, sudah pakai gaun itu saja." akhirnya Bara pun menyetujuinya.
"Baiklah mba gaun ini saja yang akan saya pakai." ucap Tari pada pelayan itu.
"Baik." sahut nya.
Di dalam mobil hanya keheningan yang melanda di antara Tari dan Bara, Tari yang sedang memikirkan ucapan Leo saat mereka bertemu sedangkan Bara kini ia akui jika dirinya memang sudah memiliki rasa kepada Tari, ia bertekad untuk menjadi suami dan menjadi ayah yang baik. Namun langkah pertama adalah membuat perempuan yang ada di samping nya harus merasakan nyaman dan membuat dia jatuh cinta kepada dirinya. Walaupun memang saat ini Tari masih terlihat menjaga jarak darinya.
Bara belum bisa mengutarakan rasa cinta nya kepada Tari ia takut jika Tari akan menolak cintanya, karena awal hubungan antara mereka tidak begitu baik jadi Bara akan memberikan waktu lebih untuk ia bisa masuk ke dalam hati Tari.
"Nanti berperan lah sebagai istri saya yang sebenarnya, jaga nama baik saya, jadilah istri yang baik." ucap Bara di tengah keheningan mereka.
Tanpa menatap atau pun menoleh Tari pun menjawab. "Ya." jawabnya pendek dan pelan.
Bara melihat sekilas pada wajah Tari yang menatap ke arah depan. "Kenapa, apa kamu tidak senang saya mengajak kamu dalam acara saya?" merasa kesal dengan sikap Tari yang cuek dan terkesan malas.
"Senang atau tidak, suka atau tidak. Saya tidak bisa menolak nya kan?" telak Tari dengan cepat menatap sekilas pada mata Bara yang sedang menatapnya itu.
"Ya kamu benar, di sini saya yang memiliki kekuasaannya." jawab Bara dengan santai. Tari hanya diam saja malas untuk beragumentasi dengan laki-laki di sampingnya itu.
*
*
*
Setelah selesai menghias diri Tari dan Bara siap untuk pergi. Tari yang cantik dan Bara yang tampan membuat mereka menjadi pasangan yang serasi pada malam ini. Orang-orang akan merasa iri jika melihat mereka yang sempurna itu, padahal jika mereka tahu bagaimana hubungan mereka, mereka pasti tidak akan percaya jika hubungan mereka sangat tidak baik.
Sesampainya di acara pesta itu, Bara salah satu pengusaha sukses yang sangat berperan sebagai orang penting nomor satu di sana pun di sambut dengan sangat baik oleh orang-orang yang terlihat sangat penting di sana.
"Selamat malam dan selamat datang tuan Bara." sapa salah satu orang yang berpenampilan sangat mewah itu.
"Sepertinya malam ini anda membawa seseorang yang penting dalam hidup anda? Jika saya boleh tahu siapa wanita yang beruntung di samping anda dan bisa menemani anda pada malam ini?" tanyanya dengan ekspresi canda nya.
Bara melirik wanita cantik yang ada di sampingnya itu tengah mengapit lengannya itu. "Perkenalkan dia istri saya." ucap Bara dengan tatapan lembut dan senyum pada Tari seraya mengusap punggung tangan Tari dengan lembut dan itu membuat Tari tersenyum kaku sekaligus muak di buatnya.
"Istri?" kejutnya. "Wow sepertinya saya ketinggalan berita. Berita ini sangat mengejutkan saya tuan. Haha ini kabar yang sangat menggembirakan, dan para wartawan pasti akan sangat senang jika mendengar kabar ini. Selamat tuan atas pernikahan nya." ucapnya dengan bersemangat.
"Apa war... wartawan?" gumam Tari sedikit terkejut.
"Ya nona, jika para wartawan tahu kabar pernikahan anda dengan tuan Bara ini, ini akan menjadi trending topik nomor satu. Tuan Bara ini adalah pengusaha kaya sekaligus orang penting nomor satu dalam dunia bisnis. Jadi anda sangat beruntung bisa menaklukan hati tuan Bara ini." jelasnya dengan bersemangat seakan menjilat.
Tari tersenyum getir, mereka tidak tahu saja pernikahan mereka seperti apa, dan kini Tari baru mengetahui bagaimana pentingnya Bara dan kuatnya kekuasaan Bara di dunia, hanya dengan uang yang ia miliki dia bisa melakukan apa pun yang ia mau dengan mudah, lalu bagaimana dengan Tari sendiri? Jangan tanyakan itu!
"Tuan Bara, mari silahkan duduk dan nikmati acaranya."
"Terima kasih."
"Tuan Bara, senang sekali melihat anda ada di sini. Saya akan memperkenalkan anda dengan rekan bisnis saya, mari." ucap kolega lainnya menyambut Bara dengan antusias seraya membawa Bara untuk bertemu dengan salah satu kenalan nya sehingga Bara yang belum terbiasa mengajak Tari melupakan Tari yang menemaninya.
Karena Tari di sana orang baru, membuat dirinya sendiri karena tidak ada orang yang Tari kenali di acara itu dan itu membuat Tari merasa semakin tidak nyaman saja.
"Dia benar-benar meninggalkan aku." cebik nya. "Untuk apa dia mengajak ku kalau membiarkan aku sendiri di tempat asing seperti ini." gerutu Tari kesal.
Untuk menetralisirkan tenggorokan nya yang terasa kering karena emosi yang ia tahan, akhirnya ia pun menuju tempat minuman dan makanan di sana, berniat untuk mengambil minuman segar.
"Itu Sun sun sepertinya." gumam Leo yang baru saja masuk dengan sekretaris nya, karena ia langsung melihat seorang perempuan yang sangat ia kenali.
"Tuan... tuan." panggil salah satu kolega yang menyambut Leo melihat Leo diam saja.
__ADS_1
"Ah ya." jawab Leo gagap.
"Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya.
"Emh tidak, boleh saya ke sana dulu." ijin Leo cepat.
"Oh silahkan tuan." jawabnya.
"Saya kesana dulu, kamu temani mereka saja." titah Leo pada sekretaris nya itu.
"Baik pak." sahutnya.
Leo pun pergi menuju tempat minuman dimana di sana masih ada perempuan yang sangat ia cintai.
"Sun sun." panggil nya yang terlihat sendirian di sana.
Tari terdiam ketika dia sedang menyesap minuman nya, suara laki-laki itu ia sangat mengenal nya apalagi baru-baru ini mereka bertemu.
"Sun sun, kamu di sini? Sendirian?" Leo mendekat ke samping Tari berdiri.
Tari menoleh lalu tersenyum. "Kak Leo." ucap Tari sedikit terkejut juga kenapa bertemu dengan dia di sini.
"Apa kamu datang dengan suami mu?" tanya Leo heran dengan keberadaan Tari di sini, pasal nya tidak sembarang orang untuk datang ke dalam acara ini, apalagi yang datang pasti orang berbisnis dan pengusaha hebat, salah satunya adalah dirinya. "Sepertinya suamimu orang penting." Leo pun menambahkan karena Tari hanya diam saja.
Tari tersenyum lembut. "Ya aku di ajak oleh nya untuk menemani nya ke sini." jawab Tari.
"Lalu mana suamimu, kenapa dia membiarkan kamu sendirian di sini." terdengar jika Leo merasa tidak terima. "Jika dia mengajak mu ke sini seharusnya dia tidak membuat kamu sendiri seperti ini." lanjutnya.
Tari bingung harus menjawab apa. Karena Leo selalu tahu apa yang ia sembunyikan, sepaham itukah dia pada Tari.
"Dia sedang sibuk dengan koleganya, aku juga tidak mengerti dengan pembicaraan mereka, jadi lebih baik aku di sini saja." kilah Tari menutup keburukan hubungan pernikahan mereka.
"Tapi seharusnya dia buat kamu nyaman terlebih dahulu sebelum dia menemui rekan bisnisnya." kesal Leo ucapkan, ia selalu kesal jika Tari terus-menerus menutupi kelakuan laki-laki yang berstatus menjadi suaminya walaupun dia belum pernah bertemu dengan laki-laki itu.
"Tidak seperti itu kak, sudahlah tidak perlu kak Leo pikirkan, aku baik-baik saja." ujar Tari merasa dirinya sudah terbiasa di perlakukan seperti itu oleh Bara.
"Tapi aku merasa sakit Sun sun, jika aku menjadi dia aku akan selalu bersama mu kemana pun dan memperkenalkan kamu kepada mereka, bukan membiarkan kamu sendirian seperti ini." geram Leo merasakan bagaimana jika dia dalam posisi Tari.
'ya jika itu adalah kak Leo yang memiliki perasaan padaku, tapi ini berbeda dia Bara yang tidak pernah menginginkan aku ada di dekatnya.' batin Tari merasa sakit ternyata jika di rasakan dengan hati.
"Tenang saja aku baik-baik saja." ucap Tari dengan senyuman manis kepada Leo.
"Ya aku berharap seperti itu Sun sun." balas Leo pun tersenyum dan itu membuat Bara yang melihatnya dari kejauhan menjadi memanas.
"Sayang kamu di sini, saya tadi mencari kamu kemana-mana." ucap laki-laki yang tiba-tiba datang lalu memeluk pinggang Tari dengan erat seraya mencium kepala atas Tari.
Leo sedikit terkejut dan mengerutkan keningnya dengan kedatangan laki-laki itu karena memanggil Tari dengan kata sayang. Apa laki-laki yang sangat ia kenali itu adalah suami Tari, sungguh sangat mengejutkan untuk Leo.
"Ah terima kasih tuan Leo, anda sudah menemani istri saya." ucap Bara dengan senyuman yang terlihat menyeringai.
"Istri?" gumam Leo menatap Tari dengan tatapan yang sulit di ketahui.
"Ya Mentari adalah istri saya." jawab Bara dengan cepat.
"Ayok sayang, kita ke meja sana." ajak Bara mengajak Tari dengan tangan yang masih berada di pinggangnya.
"Kak Leo, aku pergi dulu. Terima kasih tadi sudah menemaniku." ucap Tari pelan, ia melihat tatapan Leo sangat lembut saat menatapnya namun ada guratan rasa marah saat ia menatap Bara.
"Ya, jika ada perlu apa-apa, katakan saja." balas Leo berucap seperti itu membuat Bara menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Istri saya tidak ada keperluan apapun kepada anda, saya adalah suaminya." ucap Bara penuh penekanan.