
"Cancel semua pertemuan saya hari ini!" titah nya dengan terlihat sangat marah.
"Baik tuan." pasrah Al saat tuan nya itu untuk memerintah.
Bara dengan langkah lebar keluar dari ruangan nya itu tanpa kata apapun kepada Al, sedangkan Al ia memunguti handphone yang pecah berantakan karena ulah tuan nya yang melemparkan handphone itu.
"Aku harus mengganti handphone ku." keluh Al dengan tatapan sedih melihat betapa hancur nya handphone itu, mungkin karena saking tersulut emosi membuat kekuatan Bara melebihi kapasitas tenaga biasanya.
"Hah." desah panjang nafas Al.
Sedangkan Bara ia melangkahkan kakinya dengan gerakan cepat, ia akan pulang untuk memberi sebuah pelajaran kepada istrinya itu.
Sesampainya di rumah, rumah terlihat sepi hanya ada pembantu di depan rumah yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Tanpa pikir panjang Bara langsung membuka pintu kamar dengan keras dan pandangan yang pertama ia lihat adalah tubuh Tari yang sedang tertidur di atas kasurnya dengan begitu nyaman membuat Bara semakin marah.
Mendengar seseorang membuka pintu kamar dengan keras membuat Tari pun membuka matanya, ia tidak tertidur hanya mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa lemas.
Tari mencoba bangkit untuk menyambut kedatangan Bara.
"Antoni, kenapa kamu kembali, apa ada sesuatu yang ketinggalan?" tanya Tari menatap lembut pada Bara.
Namun bukan menjawab Bara malah menatap Tari dengan tatapan penuh emosi, matanya yang gelap memancarkan aura yang sangat menyeramkan jika ia terus menatap.
"Antoni ada apa? Kenapa kamu terlihat marah seperti itu?" melihat bagaimana Bara menatapnya membuat Tari ketakutan namun ia pun bingung.
"Masih mau berpura-pura hah?" tanyanya dengan nada yang marah.
"Berpura-pura apa maksud kamu?" heran dan bingung menyelimuti Tari saat ini.
Mendengar ucapan Tari yang terus mengelak dan tidak menyadari membuat Bara mendengus kesal dan mendekati tubuh Tari, lalu tanpa sadar tiba-tiba Bara mencekik leher Tari dengan sangat kuat.
"An...Toni. A...pa yang ka...mu lakukan?" ucap Tari terengah-engah. "Lepas Antoni sakit." ucap Tari terus menahan tangan Bara agar melepaskan tangannya yang sedang mencekik leher Tari itu.
"Antoni apa kamu sudah gila! A...aku bisa mati karena ulah mu ini." ucap Tari dengan nafas yang mulai sesak karena cekikan semakin kuat. "Kamu mau aku mati." tatapan Tari tajam menatap mata Bara yang sedang berselimut dengan amarah.
Bara menatap mata Tari yang sudah sayu dan ia mendengar kata mati membuat Bara tersadar lalu melepaskan cekikan itu dengan perlahan, ia tidak mau wanita yang ia cintai mati dan meninggalkan nya untuk selamanya apalagi karena ulah nya.
Bara melepaskan cekikan itu sedangkan Tari ia terduduk di lantai dan terbatuk-batuk seraya memegang lehernya yang sakit karena tercekik itu.
Tari sungguh ketakutan dengan sikap Bara, apa laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah laki-laki yang memiliki dua kepribadian, Bara pergi melangkahkan kakinya keluar, ntah dia akan pergi kemana, yang jelas dia harus menenangkan pikirannya saat ini. Ia hampir saja membunuh seseorang yang sangat ia cintai.
Tari menatap kepergian Bara dengan rasa takut nya, dia memang sudah salah karena memiliki hubungan dengan laki-laki itu, Tari pun keluar kamar dengan masih terengah-engah, ia tidak mau sekamar dengan laki-laki jahat itu, ia takut dia akan melakukan hal ini lagi.
Tari bersembunyi di kamar tamu, ia sungguh takut, ia pun menangis terisak-isak di atas kasur. Apa kesalahannya sampai hati Bara ingin membunuhnya.
"Dia laki-laki jahat." isaknya menyelimuti diri dan tidur meringkuk seperti bola. Tubuhnya yang lemah membuat Tari tidak bisa banyak bergerak.
Bara pergi ke apartemennya yang sudah lama sekali tidak pernah ia tempati, ia memandang jalanan yang terlihat dari atas apartemen nya dengan mengisap rokok untuk menenangkan pikiran nya. Bara terus mengepulkan asap rokok itu sampai ia tidak sadar sudah menghabiskan beberapa batang rokok.
Bara memejamkan kedua matanya, ia mengingat saat ia mencekik leher Tari. "Aku hampir membunuhnya." gumam Bara dengan suara berat nya. "Aku hampir lepas kendali." sesal nya mengingat bagaimana ia mencekik Tari tadi.
Bara meraih handphone, ia menelpon seseorang untuk menghapus video mesra itu, agar publik tidak semakin menyebarluaskan Video itu. Sakit hati Bara mengingat bagaimana Tari mencium Leo. "Aaaaaaaa." teriak Bara penuh amarah.
"Kamu berani membuat ku kesal dan marah Mentari, kenapa kamu melakukan hal itu padaku hah, apa kurang nya aku, aku lebih segalanya dari pada laki-laki bajingan itu!" teriak Bara tidak terima.
"Aku mencintaimu Mentari, jangan membuat ku sakit seperti ini, aku sudah cukup merasakan sakit hati dan aku tidak mau terulang kembali." lirihnya.
Bara menertawakan dirinya sendiri. "Kamu bodoh Bara, bodoh! Kenapa kamu harus mencintai perempuan seperti dia, seharusnya kamu tidak perlu jatuh cinta lagi, semua perempuan sama saja." ucapnya dengan tertawa sinis.
***
Tania tertawa dengan puas, melihat bagaimana ramai nya di media tentang kabar video itu, Leo tahu kabar ini karena sang sekretaris memberi kabar nya, namun ia juga mendapatkan seseorang sudah menghapus video itu atas nama seseorang, ia yakin pasti Bara suami dari Tari yang memerintahkan seseorang untuk menghapus nya.
"Siapa yang melakukan hal ini? Kejadian ini pasti ada seseorang yang telah menjebak Tari, tapi siapa dan untuk apa?" batin Leo merasa heran. Leo mengingat saat kemarin dia menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal memberi tahukan jika Tari sedang berada di dalam hotel yang membutuhkan pertolongan nya, maka dari itu Leo dengan cepat datang ke hotel dan benar saja Tari sedang dalam bahaya. Namun, ia tidak menyangka jika akan ada yang merekam dirinya dengan Tari seperti itu.
__ADS_1
"Apa ini sebuah jebakan? Lalu siapa yang mereka targetkan, aku atau Sun sun?" batin Leo penasaran maksud kejadian ini.
***
Bara kembali pulang setelah ia mulai tenang namun kekesalan dan kemarahannya masih ada di dalam hatinya. Hari sudah malam, saat Bara pulang, anak-anak mungkin sudah tertidur karena pagi tadi Bara memerintahkan pelayan nya untuk mengurus ketiga anak kembarnya agar tidak mengganggu Tari yang sedang sakit.
Saat Bara masuk ke dalam kamar, ia tidak melihat keberadaan Tari di sana. Sedikit khawatir namun ia tidak mempedulikan nya karena rasa kesalnya masih tersimpan di hati nya.
Bara masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan menyegarkan kepalanya yang terasa sangat panas.
Setelah selesai mandi, suara dering handphone terdengar, handphone Tari tergeletak di sana dan terus berdering, Bara pun melihat siapa yang menelepon Tari malam-malam begini, nomor tanpa nama tertera di sana.
Bara penasaran lalu ia pun menjawab panggilan itu tanpa bersuara ia berniat akan mendengarkan apa yang akan di ucapkan si penelepon itu.
"Hallo Sun sun, aku Leo." sapa nya yang membuat Bara meradang saat mendengar suara laki-laki itu menelpon istrinya dengan nomor baru, namun Bara mencoba menahannya.
"Sun sun maaf aku sudah mengganggu mu malam-malam begini? Bagaimana keadaan kamu sekarang? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa akan kejadian kemarin." jelasnya Bara masih diam dengan kepalan tangan yang sangat kuat.
"Sun sun ada kabar buruk tentang kita, ada yang merekam video kita saat ekhemm." tak kuasa saat Leo menjelaskan ciuman mereka.
"Aku dan kamu di jebak, seseorang yang membubuhkan obat perangsang pada minuman mu itu sepertinya memang sudah merencanakan hal itu untuk menjebak kita. Mereka memotong Video itu dan ini membuat orang akan salah paham jika melihatnya." jelas Leo.
"Sun sun apa kamu sudah melihat video yang beredar itu?" tanya Leo karena tidak terdengar Tari berbicara.
"Sun sun." panggil Leo. Tut terdengar jika panggilan nya terputus membuat Leo heran namun ia tidak berani menelpon kembali mungkin Tari terkejut akan berita yang ia sampaikan atau Tari memang sudah tahu sebelum dia memberi tahu.
Leo hanya bisa menghela nafasnya.
Bara terdiam setelah mendengar apa yang di katakan Leo itu. Sedikit mengerti maksud Leo itu tapi ia masih ragu apa benar seperti itu cerita nya atau ini hanya tipuan mereka untuk menutupi perselingkuhan mereka.
"Cari tahu kebenaran tentang Video itu." titah Bara menelpon pada Alvaro yang tengah akan beristirahat.
"Baik tuan." pasrah Al di saat dirinya lelah.
Bara mencari Tari, setelah ia menelpon Alvaro. "Pergi kemana dia?" gumam Bara tidak mendapatkan keberadaan istrinya itu. Di kamar anak-anak tidak ada di luar tidak ada. Lalu Bara masuk ke dalam ruangan kerjanya ia melihat cctv di dunia rumah nya untuk mencari keberadaan Tari pergi kemana. Dan tak lama Bara menemukan Tari masuk ke dalam kamar tamu.
Bara melangkahkan kakinya menuju kamar tamu, di depan kamar tamu Bara terdiam ia ragu untuk masuk tapi hati nya yang kini tengah sadar menyadari jika dirinya tadi salah memperlakukan Tari seperti itu, ntah kenapa setelah ia sadar Bara merasa sakit karena sudah memperlakukan Tari dengan kejam.
Bara mencoba membuka pintu itu namun terkunci dari dalam. Ia pun meminta kunci cadangan yang ia sudah dapatkan dan membuka pintu kamar itu dengan perlahan.
Melihat tubuh Tari meringkuk seperti bola Bara merasa sangat terpukul mengingat bagaimana tadi dengan kuat mencekiknya, jika saja tadi Bara tidak segera sadar mungkin dia akan kehilangan perempuan di depan nya ini dan tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.
Merasa sangat bersalah akan sikapnya yang tak terkendali Bara menarik nafasnya berat.
Merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan Tari pun terbangun dengan matanya yang sembab dan merah.
"Jangan mendekat!" teriak Tari ketakutan melihat Bara sudah ada di hadapannya.
"Jangan mendekat!" Tari memundurkan tubuhnya yang duduk di kasur itu dengan takut saat Bara melangkahkan kakinya.
Saat Bara akan mendekat suara telepon berdering. Al memanggilnya. Dengan cepat Bara menjawab panggilan itu dengan melangkahkan kakinya ke luar. Tari langsung menutup dan mengunci pintu saat Bara sudah keluar. Lalu ia meringkuk kembali di atas kasur dengan gemetar, ia sangat takut bertemu dengan Bara.
Bara dengan serius mendengarkan informasi apa yang di dapatkan oleh Al. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat saat mendengar itu. Jadi ini kesalahpahaman, Bara menyadari kesalahannya yang sudah membuat Tari ketakutan.
"Berengsek!" umpat Bara dengan kesal.
"Jadi ada seseorang yang ingin berurusan dengan ku!" tatapan Bara yang kesal dengan seseorang yang membuat dirinya marah dan ia sungguh sangat menyesal karena sudah membuat Tari menerima kekejaman nya.
Bara pun dengan cepat untuk bertemu dengan Tari. Namun pintu terkunci kembali.
"Mentari buka pintunya." pinta Bara dengan baik-baik. Pasalnya kunci cadangan ada di dalam Bara tadi lupa membawanya.
"Mentari buka pintunya." ucap Bara dengan lembut terus mengetuk pintu itu. Untung saja pintu itu ada di lantai bawah jadi anak-anak mungkin tidak akan mendengar.
Pintu tidak terbuka, Tari masih tidak mau membuka nya.
__ADS_1
"Dobrak pintu ini!" titah nya pada pekerja di sana.
Tari masih terisak ia sungguh takut namun tubuhnya lemah untuk melarikan diri dari sana.
Brak.. pintu terbuka dan membuat Tari berteriak karena terkejut, pintu sekuat itu kenapa bisa di dobrak dengan mudah.
"Mentari." panggil Bara mendekat.
"Jangan mendekat!" teriak Tari histeris.
"Maafkan aku, aku salah, aku salah. Maafkan aku Mentari." ucap Bara dengan hati yang benar-benar bersalah.
Tari menggelengkan kepalanya. "Jangan dekati aku! Aku takut!" ucapnya dengan suara bergetar.
"Mentari maafkan aku, aku tidak bisa menahan kemarahan ku, maafkan aku, aku sudah jahat pada mu." Bara terus meminta maaf.
"Pergi! Aku tidak mau bertemu dengan mu!" usir Tari dengan berteriak ketakutan.
"Mentari maafkan aku, aku benar-benar tidak sadar, kemarahan ku membuat aku lupa diri." ujar Bara meminta maaf kepada Tari.
"Tidak! Kamu jahat, kamu laki-laki kejam yang aku kenal, aku tidak mau berdekatan dengan mu!" teriaknya terus menghindar.
Bara mendekat lalu menangkap tubuh Tari dan mendekap nya di hadapan para pekerjanya yang menyaksikan dengan keheranan apa yang terjadi pada majikannya itu.
Tari terus memberontak untuk lepas dari pelukan Bara itu. "Lepaskan! Aku tidak mau berdekatan dengan orang berbahaya seperti kamu, kamu jahat Bara!" Tari meluap dari kemarahannya seraya memukul dada Bara dengan tubuhnya yang lemah.
Tanpa berkata-kata Bara langsung menggendong tubuh Tari untuk ia bawa ke kamar, sungguh malu kejadian ini di saksikan oleh para pekerja nya.
"Lepaskan Bara, aku tidak mau." tubuhnya terus memberontak walaupun dengan tenaga yang tersisa yang Tari miliki.
"Diam, anak-anak akan mendengar teriakan mu itu." ucap Bara dengan suara berat nya.
"Biarkan mereka tahu, jika Daddy nya laki-laki yang sangat jahat dan ingin membunuh ibunya." gertak Tari dengan penuh emosi.
Bara dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamar, setelah sampai ia pun membaringkan tubuh Tari dengan pelan. lalu ia pun mengunci pintu dan melemparkan kunci itu.
"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan mencoba membunuh ku sekarang hah?" melihat Bara mengunci pintu dan melemparkan kunci itu.
Tanpa ba-bi-bu Bara langsung merobek pakaian yang Tari pakai. Dan itu membuat Tari semakin membenci laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Laki-laki brengsek kamu Bara!" saking kesalnya Tari pun terus memukul kepala Bara dengan berani.
Bara tidak mempedulikan teriakan Tari dan pukulan Tari yang menurut dia tidak terasa itu ia terus membuka seluruh pakaian Tari, dan ia tidak menemukan tanda-tanda merah di tubuh Tari.
"Kamu benar-benar gila Bara! Tadi kamu mencekik ku dan sekarang kamu memaksa ku untuk melayani mu, kamu benar-benar gila!" teriak Tari menahan kekesalan nya.
"Diam! Aku hanya ingin memastikan jika kamu tidak melakukan apapun dengan singa laki-laki itu!" terang nya.
Tari terdiam menatap Bara yang sedang melihat seluruh tubuh Tari apa ada jejak sisa percintaan antara Tari dan Leo. Apa dia sudah tahu?
"Ternyata tidak ada, bagus!" ucap Bara merasa lega.
"Kenapa, apa yang kamu cari?" Tari berpura-pura walaupun dia sebenarnya heran kenapa Bara menuduh nya melakukan hal itu.
"Jangan berpura-pura, aku tahu semuanya, bahkan aku tahu saat kamu mencium laki-laki itu, sungguh seperti wanita murahan!" ucap Bara masih kesal jika mengingat bagaimana Tari mencium bibir Leo dengan begitu liar dengan nya saja tidak seliar itu bahkan terlihat malu-malu walaupun Bara suka dengan wajah malu Tari saat ia mencium nya.
"Ka... kamu tahu dari mana?" gugup Tari.
"Kenapa? Merasa bersalah atau kamu memang menikmati ciuman mu itu dengan nya?!" kesal Bara sangat tidak rela.
Tari menarik selimut karena tubuhnya hanya menyisakan dua pakaian dalam nya saja. Ia menunduk malu sekaligus merasa bersalah.
"Aku tidak sadar melakukan nya. Seseorang telah memberikan aku obat perangsang dalam minuman ku." terang Tari dengan lirih. "Tapi aku benar-benar tidak melakukan hal lebih dengan kak Leo, aku... aku merendamkan tubuh ku berjam-jam di dalam air sampai aku sakit begini, agar aku tidak melakukan hal itu dengan kak Leo bahkan dengan laki-laki lain." jelas Tari dengan pelan.
Bara terdiam ia harus senang mendengar ucapan Tari itu, ia mempertahankan kehormatan nya walau dalam pengaruh obat laknat itu, obat itu sangat berbahaya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak datang padaku dan meminta padaku penawar obat nya?" tanya Bara dengan tidak tahu malu.
Tari menatap tajam ke arah Bara dengan sorot mata yang tidak bersahabat. Masih bisa nya Bara menggodanya.