
"Ayah..." panggil Tari lirih saat ia masuk ke dalam kamar ayahnya dan melihat ayahnya telentang tidak berdaya.
Ayah Tari menoleh pada sumber suara yang memanggil di pintu kamarnya. "Mentari." balas nya pun lirih seraya meneteskan air mata nya.
Tari menghampiri ayahnya dengan segera, ia langsung memeluk ayahnya itu dengan rasa sayang dan rasa rindu nya yang amat dalam, Tari tidak memperdulikan jika ayahnya akan menolak pelukannya, namun ternyata Tari salah menduga, ayahnya membalas pelukannya itu dengan begitu erat dengan isak tangis dalam pelukannya.
Lama mereka saling berpelukan, Tari melerai pelukan ayahnya itu, dan sedikit menjauh karena ia ingin melihat wajah ayahnya yang sangat ia rindukan, wajah ayahnya yang terlihat tua dari usianya, mungkin karena ia sedang sakit.
"Kenapa ayah menangis? Ayah tidak senang Tari datang melihat ayah? Maafkan Tari ayah, karena sudah membuat ayah malu dan membuat ayah kecewa." lirih Tari begitu sendu.
"Tidak Tari, harusnya ayah yang meminta maaf kepada kamu, karena ayah sudah mengusir kamu dan membiarkan kamu menghadapi masalah mu sendirian. Maafkan ayah Tari..." lirihnya sesegukan.
"Sudah ayah, aku tidak marah atau benci pada ayah, aku juga sudah memaafkan ayah, aku memang salah." ucap Tari pun dengan Isak tangisnya mengingat kejadian dulu saat dimana ia tengah mendapatkan masalah dan tidak ada satupun keluarganya yang memperdulikannya termasuk ayahnya juga.
Namun Tari sudah tidak mempermasalahkan lagi, karena semua sudah lama berlalu dan sekarang Tari cukup bahagia dengan adanya anak-anak yang selalu membuat dirinya bersemangat dalam menjalani kehidupannya
"Kenapa ayah tidak memberi tahu jika ayah sedang sakit aku sedih karena tahu dari orang lain." Tari berucap dengan pilu.
"Ayah tidak mau merepotkan mu, dan ayah juga tidak tahu kamu tinggal dimana." jawab ayah pelan.
"Aku selalu menanyakan ayah pada Tania, tapi akhir-akhir ini dia tidak ada kabar." jelas Tari.
Setelah mereka saling memaafkan, mereka pun akhirnya bisa saling berpelukan kembali, dan setelah puas mereka berpelukan ayahnya pun penasaran dengan kehidupan nya selama setelah ia di usir oleh nya.
"Dimana selama ini kamu tinggal nak?" tanya ayah pelan.
"Aku tinggal di luar negeri bersama anak-anakku." jawab Tari pelan.
"Anak-anak? Di luar negeri?" tanya ayah merasa tidak percaya. "Kok bisa?" ayahnya penasaran sekali.
"Ceritanya panjang ayah, oh ya aku juga membawa anak-anak ku dan aku akan memperkenalkan mereka pada ayah." ucap Tari dengan bersemangat. "Ayah bisa kan menerima mereka?" tanya Tari memastikan pada ayahnya.
"Anak-anak? Cucuku?" tanya nya meyakinkan Tari. Tari mengangguk. "Panggil dia kesini ayah ingin bertemu." tambahnya.
"Mereka kembar." ucap Tari setengah berbisik. "Sebentar ya aku akan memanggil mereka untuk masuk ke sini." sambung Tari seraya keluar mencari kedua anaknya.
"Kembar?" gumam ayah pelan melihat Tari yang keluar untuk mencari kedua anaknya.
__ADS_1
Tak lama Tari pun masuk kembali dengan dua anak mengikuti nya di belakang. "Ayah perkenalkan mereka adalah anak-anak Tari, dan Langit, Bintang laki-laki yang ada di hadapan Kalian ini adalah Kakek kalian, ayah kandung ibu." Tari pun memperkenalkan kedua anaknya kepada ayahnya.
Ayah Tari tersenyum hangat melihat kedua cucunya, ia tidak percaya jika masih bisa melihat cucunya.
"Kemarilah cucu-cucuku, kakek ingin memeluk kalian." ucapnya ayah Tari merasa bahagia.
"Oh jadi kakek ini kakek yang sudah jahat pada ibu, dan mengusir ibu?" ucap Bintang tidak terima ibunya di perlakukan seperti itu.
"Kami tidak mau memeluk mu!" sambung Langit dengan tatapan tajam.
"Sayang! Kenapa sikap kalian seperti itu pada kakek, ibu tidak suka kalian bersikap seperti itu!" ucap Tari sedikit marah karena dia selama ini tidak pernah mengajarkan hal seperti itu.
Mereka tertunduk mendengar ucapan Tari yang terdengar marah dan tidak suka. "Maaf... Kita gak mau kakek menyakiti ibu lagi." ujarnya lirih.
"Kakek tidak akan menyakiti ibu sayang, kakek sayang pada ibu dan juga kalian. Ayok peluk kakek, Kakek merindukan kalian." ujar Tari meyakinkan anak nya agar lebih dekat dengan kakek nya, walaupun ini pertama kalinya untuk mereka bertemu dengan Kakeknya.
Langit dan Bintang pun menghampiri kakek nyanyi sedang terbaring lemah di atas ranjang nya dengan kedua tangan siap merangkul cucu-cucunya itu.
Lalu mereka pun memeluk kakeknya, merasakan kasih sayang seorang laki-laki, karena mereka terbiasa hidup dengan seorang perempuan, tidak ada seorang laki-laki yang di dekat mereka.
''Maafkan kakek, karena kakek sudah jahat kepada ibumu dan juga kalian, kakek berjanji akan terus menyayangi kalian, Kakek sungguh sangat menyesal." lirih nya penuh kesedihan dan penuh penyesalan.
"Tari apa kamu dan juga anak-anakmu akan tinggal di sini?" tanya ayah ingin tahu.
"Tidak ayah, aku dan anak-anak akan kembali ke luar negeri lagi, di sini kami hanya sementara, hanya untuk mengunjungi ayah dan ibu angkat ku." jelas Tari yang membuat ayahnya merasa kecewa.
"Kenapa harus kembali lagi ke luar negeri, di sini lah kamu lahir dan di besarkan. Tinggallah di rumah ini, ayah ingin di masa tua ayah dan sisa hidup ayah bisa dekat dengan mu Tari. Kamu tahu mungkin ayah tidak akan lama lagi, sisa hidup ayah tinggal sebentar lagi." ucap ayah lirih dengan sendu.
"Ayah jangan bicara seperti itu, aku yakin ayah akan sehat kembali seperti dulu." balas Tari.
"Ya, ayah ingin melihat cucu kakek ini tumbuh dewasa, tapi ayah sadar Tari, ayah sudah tua dan sudah sakit-sakitan jadi ayah minta sama kamu Tari jangan kembali ke luar negeri lagi, karena ayah ingin sebelum ayah meninggal, ayah bisa menghabiskan sisa usia ayah bersama kalian." lirih ayah membuat Tari merasa terenyuh.
"Ya ibu kasihan kakek jika harus kita tinggal, bagaimana kalau kita tinggal di Indonesia saja Bu." timpal Bintang merayu ibunya.
"Ya Bu Langit juga setuju dengan ide Bintang." sambung Langit berceloteh.
Tari mulai berpikir lalu ia menghela nafasnya panjang. "Sebenarnya aku tidak masalah untuk tinggal di sini, hanya saja aku takut jika bertemu dengan laki-laki itu, kemungkinan aku bisa ketahuan jika aku belum meninggal." batin nya penuh dengan pikiran. "Tapi selama ini aku tidak pernah mendapatkan kabar kalau laki-laki itu mencari ku, dia kan tahunya aku sudah meninggal dan dia juga pasti tidak akan mengenaliku, seperti nya aku akan tinggal di sini dan rasanya juga anak-anak begitu antusias untuk tinggal di Indonesia." tambah nya.
__ADS_1
"Emh baiklah ayah, aku akan tinggal di Indonesia, untuk menemani ayah." ucap Tari setelah berpikir.
Ayah Tari tersenyum mendengar nya. "Ayah senang Tari kalau kamu tinggal di sini lagi bersama ayah." ujarnya.
Langit dan Bintang saling menatap dengan tersenyum penuh arti, di pikiran mereka tersemat sebuah rencana besar yang akan mereka lakukan, mereka begitu penasaran dengan hidup ibunya dahulu, sepertinya banyak rahasia yang ibu dan keluarganya yang belum mereka tahu, dan ini saat nya mereka berdua mencari tahu hal itu.
Saat mereka saling dalam keadaan bahagia, tiba-tiba suaranya keras dan tinggi membuat mereka terkejut.
"Oh bagus kamu Mentari, akhirnya kamu datang juga kesini, sungguh pemandangan yang sangat membuat ku terharu." ucapnya ibu tiri dengan sinis.
"Ibu apa kabar?" tanya Tari lembut dan tulus.
"Jangan sok menanyakan kabar ibu, heh laki-laki tua tidak berguna ini obat mu!" kesal ibunya seraya menyerahkan obat suaminya itu dengan cara melemparkan nya.
"Ibu! Kenapa ibu memperlakukan ayah seperti itu! Ayah adalah suami ibu!" ucap Tari geram melihatnya.
"Kenapa? Laki-laki tua itu sudah tidak berguna, malah dia sudah sangat merepotkan ku! Kalau kamu mau urus dia, urus sana!" ucapnya tidak peduli.
"Ibu kenapa tega seperti itu, ayah suami ibu!" ucap Tari mengingatkan.
"Aku tidak peduli!" ucapnya.
"Sudahlah Tari, ayah tidak apa-apa, jangan masukan ke hati ucapan ibumu itu ya, mungkin ibumu sedang lelah." ucap ayahnya menutupi kejahatan istrinya itu, padahal istrinya itu setiap hari bicara kasar padanya, namun apalah daya,, dia sedang sakit, dia mau mengurus nya saja sudah bersyukur. Ayah Tari tidak mau jika Tari tahu jika dirinya selalu di perlakukan seperti itu, mungkin ini adalah karma untuk nya, dan ia juga tidak mau merepotkan Tari.
"Hemm ada lagi nenek sihir di rumah ini!" ucap Bintang penuh dengan kebencian.
"Iya dia siapa ibu?" tanya Langit menimpali ucapan Bintang.
"Dia nenek Kalian." sahut ayah Tari menjawab.
"Kenapa keluarga ibu jahat semua sih?!" celetuk Bintang tidak terima.
"Sayang..." lirih Tari menatap Bintang dan juga Langit, dengan tatapan itu Tari tidak suka dengan ucapan anaknya itu.
"Maaf ibu..." lirih Bintang seraya menunduk.
Tari menarik nafasnya dalam-dalam lalu memeluk anak kembarnya itu dengan rasa sayang. "Maafkan ibu nak." lirih Tari merasa tidak enak pada anak-anak nya karena mereka jadi melihat bagaimana perlakuan buruk keluarganya pada Tari kepada kedua anaknya.
__ADS_1
Mereka saling berpelukan. "Aku dan Bintang janji akan membuat ibu bahagia, dan aku akan membalas kepada orang yang sudah jahat pada ibu, kami tahu ibu adalah wanita terhebat bagi kami." batin Langit dengan kekesalan nya.