
Tok... tok... tok. Suara pintu terdengar oleh Bara yang tengah sibuk mengecek segala laporan yang sudah tertinggal selama dia berada di rumah sakit.
"Masuk!" sahut Bara dari dalam ruangan.
"Permisi tuan." ucap Al masuk setelah mendapatkan ijin dari sang bos.
"Ada apa?" tanya Bara tanpa mengalihkan pandangannya, ia masih serius menatap pada laporan di tangan nya.
"Tadi saya sudah mendapatkan kabar dari dokter yang sudah menangani anda tuan, siang ini adalah waktu cek kesehatan anda." ucap Al memberi tahu.
"Baik. Antar kan saya kesana!" titah nya.
Al mengangguk mengikuti langkah Bara, Bara selalu mengutamakan kesehatannya karena itu adalah hal yang sangat penting, dulu jika dia sedang tidak kecewa berat, ia tidak akan sampai minum minuman beralkohol, selain tidak sehat di tubuh, minuman itu pun di larang karena haram. Terbukti kenapa minuman itu di larang, selain memabukkan minuman itu membuat Bara sampai menodai seorang wanita. Itu hal yang sangat Bara sesali seumur hidupnya, apalagi hal itu terjadi karena dirinya terlalu kecewa dengan calon istrinya yang sudah meninggalkan nya di hari pernikahan nya.
"Apa hari ini banyak pertemuan yang harus saya hadiri?" tanya Bara pada Al seraya terus melangkahkan kakinya menuju mobil dimana sopir sudah menunggunya. Dan sesekali terdengar juga para karyawan yang melihatnya pun menyapa namun Bara hanya membalas dengan tatapan mata saja.
"Banyak tuan, setelah dari rumah sakit anda akan meeting dengan perusahaan Media group." jelas Al dengan cepat. "Apa anda akan pergi ke suatu tempat?" tanya Al.
"Tidak, emh atur saja pertemuan itu." titah nya.
"Baik." jawab Al.
Sesampainya di rumah sakit Bara pun langsung menemui dokter pribadi yang sudah menangani kesehatan nya.
"Selamat siang tuan Bara." sapa dokter Richard melihat kedatangan Bara yang akan bertemu dengan nya.
"Ya siang dok." sahut Bara. "Cepat periksa saya dok!" ucapnya tanpa basa-basi, ia tidak mau membuang waktu nya berlama-lama di rumah sakit.
Dokter itu pun memeriksa keadaan Bara. Mengecek kondisi luka penusukan yang ada tubuh Bara dengan teliti.
"Bagaimana keadaan saya? Apa luka saya sudah lebih baik?" tanya Bara tidak sabar.
Dokter Richard pun tersenyum. "Sudah lebih baik tuan, bahkan luka nya pun sudah tampak tidak berbekas. Syukur lah pemulihan anda begitu cepat." ujar dokter Richard merasa lega.
"Pekerjaan saya menumpuk, jika saya terus-terusan sakit, perusahaan membutuhkan saya." ucap Bara dengan helaan nafas.
"Ya saya tahu anda pekerja keras, tapi anda harus selalu menjaga kesehatan anda tuan." ucap dokter mengkhawatirkan kondisi orang yang selalu memakai jasanya.
"Ya saya akan selalu menjaga kesehatan saya." ucap Bara.
"Itu lebih baik tuan." ucap dokter Richard. "Apa ada yang anda rasakan lagi tuan, selain luka penusukan anda?" tanyanya.
"Ada dok." jawab Bara dengan melirik Al dengan tatapan nya.
"Al kamu keluar!" titah Bara menatap Al yang tampak penasaran dengan apa yang di rasakan oleh Bara.
"Baik tuan." ucapnya dengan menundukkan kepalanya seraya pergi dari ruangan dokter itu.
"Jadi apa yang anda rasakan tuan?" tanya dokter setelah melihat asisten itu keluar, dokter itu pun penasaran dengan apa yang di rasakan tuan Bara nya itu.
Bara sedikit ragu untuk memberi tahukan apa yang ia rasakan pada dokter Richard itu. "Apa cukup serius tuan?" tanya dokter itu semakin penasaran.
Bara terdiam. "Tidak jadi." ucap Bara cepat.
Dokter Richard pun mengerutkan keningnya heran. "Tuan jika memang anda merasakan tidak nyaman dalam tubuh anda, anda bisa katakan kepada saya, agar saya bisa mengecek dan memeriksa keadaan anda." jelas dokter Richard.
Dengan ragu Bara menatap kedua manik mata dokter yang sudah menua itu, Bara pun menghela nafasnya panjang. "Akhir-akhir ini saya merasakan sesuatu di hati dan jantung saya, sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan." ujar Bara menjelaskan kegundahannya.
"Maksud anda tuan bagaimana?" tanya dokter itu pun tidak mengerti.
Bara menarik nafasnya panjang. "Saya tidak tahu dok, tapi saya merasakan sakit di hati saya dan jantung saya pun terkadang berdetak dengan cepat, seperti saya sudah berlari sangat jauh. Merasakan itu ketika saya berhadapan dengan seseorang." sambung nya lagi. "Apa saya memang sedang sakit pada jantung atau hati saya?" tanyanya.
Dokter Richard belum begitu paham dengan penyakit apa yang di rasakan oleh Bara, namun dokter itu pun merasakan sesuatu yang berbeda dari apa yang pasien nya ceritakan.
"Saya tidak begitu paham dengan apa yang anda rasakan tuan, lebih baik anda memeriksakan jantung dan hati anda, jika anda mau akan saya periksa dengan medis spesialis jantung atau hati." tawar dokter itu agar tidak salah dengar penyakit yang di rasakan Bara.
"Hemmm begitu kah? Saya rasa tidak perlu, mungkin saya saja yang sedang banyak pikiran sepertinya dok." tolak Bara tidak mau membuang waktu untuk memeriksa sesuatu yang tidak dia mengerti juga.
"Baik tuan terserah anda saja, namun jika anda memang membutuhkan saya untuk memeriksa kondisi anda lebih lanjut, katakan saja." ucap dokter Richard.
Bara mengangguk pelan. "Baiklah dok pemeriksaan saya sudah selesaikan? Kalau begitu saya permisi." ucap Bara pamit dan di angguki oleh dokter Richard.
Setelah keluar dari ruangan dokter, Bara mencari asistennya Alvaro, namun orang yang ia cari keberadaan nya tidak terlihat di sana.
__ADS_1
"Kemana dia?" gumam Bara seraya mengeluarkan handphone nya untuk menelpon asistennya mencari tahu keberadaan nya.
Saat Bara sedang mencoba menelpon Alvaro, ia melihat seorang pasien gadis kecil melewati nya dengan para petugas medis yang membawanya, gadis itu terlihat tidak sadarkan diri dengan wajahnya yang penuh dengan bersimbah darah.
Bara terkejut saat ia mengingat bahwa dia pernah bertemu dengan gadis kecil itu, gadis kecil yang pernah menabraknya dan membuat pakaian nya kotor karena es krim yang ia bawa.
"Gadis itu." gumam Bara merasa ada sesuatu yang terasa di hati kecil nya, seperti rasa kasihan dan rasa khawatir.
Lalu Bara pun mengikuti anak gadis itu di bawa oleh para medis.
"Apa yang terjadi?" tanya Bara pada salah satu perawat.
"Anak ini jatuh dari tangga saat berada di sekolah nya." jelas perawat itu lalu pergi dengan perawat lainnya.
"Bagaimana bisa itu terjadi?" gumam Bara merasa kesal dengan keamanan sekolah itu.
***
"Apa?!" kejut Tari mendengar kabar dari guru pengajar anak-anaknya.
"Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Tari begitu takut.
"Iya, saya akan kesana!" ucap Tari cepat lalu mematikan handphone nya itu.
Tari ketika ia menerima telepon ia sedang berada di toko kue nya.
"Susi, tolong kamu jaga toko ya saya akan pergi ke rumah sakit." titah Tari cepat seraya bersiap-siap untuk pergi, dengan raut wajah yang terlihat sangat cemas.
"Siapa yang sakit mbak?" tanya Susi di tengah Tari yang sedang bersiap terlihat sangat khawatir di wajah nya.
"Bintang anakku, dia kecelakaan di sekolah nya." jawab Tari cepat. Mbak titip toko ya." ucapnya sekali lagi.
"Ah ya Tuhan..." kejutnya. "Iya mbak tenang aja biar aku sama yang lain jaga toko." balas Susi dengan cepat, kebetulan sekarang karyawan Tari sudah bertambah karena toko yang semakin ramai, namun Susi yang selalu bisa ia andalkan untuk menitipkan toko saat dirinya pergi.
Tari pun dengan cepat pergi menuju rumah sakit dimana Bintang di bawa. Kabar ini membuat Tari begitu cemas, takut dan khawatir di hatinya.
"Pak cepat pak!" titah Tari berteriak tidak sabar seraya menepuk punggung si Abang ojol.
Beberapa menit Tari pun sampai di depan rumah sakit, lalu ia turun dengan tergesa-gesa sampai ia lupa membuka helm yang ia pakai setelah membayar ongkos ojeknya.
"Mbaknya!" teriak Abang ojol.
"Apa sih! Tadi kan saya sudah bayar!" kesal Tari di saat dirinya sedang cemas dengan kondisi Bintang.
"Itu mbak helm nya jangan di bawa!" ucapnya berteriak membuat Tari pun malu di buat nya.
"Ini." serah Tari dengan kasar. "Maaf saya lupa." sambung nya lalu pergi tanpa mendengarkan ucapan si Abang ojol nya.
Dengan cepat Tari pun masuk menelpon guru pengajar yang membawa Bintang ke rumah sakit dan menanyakan kemana anaknya di bawa. Setelah tahu kemana Bintang di bawa, Tari langsung menuju kesana dengan gerakan langkah kaki yang terburu-buru.
Sampainya di sana Tari melihat sekilas pada Bara yang sedang berbicara menelpon seseorang, dan Bara pun sama melihat Tari yang baru saja datang dengan mata merahnya.
"Bagaimana dengan anak saya pak?" tanya Tari pada guru pengajar yang Bara kira adalah suami dari Tari karena melihat anak Tari di antar oleh laki-laki itu.
"Anak anda sedang di tangani dokter di dalam." jelas guru itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi pak?" tanya Tari merasa tidak percaya kejadian ini menimpa anaknya.
"Maaf ibu Tari, anak-anak sedang beristirahat, saya dan guru lainnya belum tahu bagaimana hal ini terjadi. Saat saya dan guru lainnya mendengar teriakkan anak-anak memberi tahu jika Bintang terjatuh dari tangga, saya langsung membawa Bintang ke rumah sakit." jelas pak guru itu.
Tari terdiam hatinya benar-benar kalut, ia sungguh takut dengan kondisi Bintang saat ini.
"Tenang ya Bu Tari, Bintang akan baik-baik saja, kita berdoa saja semoga Bintang hanya alami luka ringan saja." ucap guru itu menenangkan.
Tari mengangguk lemah mendengar ucapan guru itu.
Tak lama suster yang menangani Bintang keluar dari ruangan dimana Bintang di tangani.
"Keluarga pasien yang bernama Bintang." teriak suster itu memanggil.
Tari yang mendengar langsung menghampiri suster itu. "Saya sus, saya ibunya." ucap Tari cepat.
"Begini ibu, pasien mengalami luka yang cukup parah dan terlalu banyak mengeluarkan darah, dokter bilang pasien harus segera di operasi dan di berikan darah agar pasien tidak kekurangan darah, hanya saja stok darah di rumah sakit ini sedang kosong karena darah anak ibu terbilang langka. Maka dari itu anda harus secepatnya mendapatkan pendonor darah yang cocok untuk anak anda." jelas suster itu.
__ADS_1
Tari terhuyung mendengar kabar buruk tentang kondisi anaknya itu.
"Lalu saya harus mencari kemana sus?" tanyanya bingung.
"Mungkin ibu bisa meminta tolong kepada keluarga anda yang cocok darah nya dengan darah anak ibu." jelas suster.
Tari bingung dia harus meminta pendonor darah pada siapa.
"Bagaimana Bu?" tanya suster itu memastikan Tari yang terlihat sangat bingung.
"Ya saya akan usahakan pendonor darah untuk anak saya." balas Tari dengan suara yang bergetar.
"Baik, jika anda sudah mendapatkan pendonor darah nya langsung beri tahu kepada saya." ucapnya dan dan angguki pelan oleh Tari.
Tari bingung, memang anak-anaknya itu memiliki darah yang sangat langka, dan dari keluarga kandung Tari tidak ada yang sama dengan darah anak-anaknya. Kemungkinan keluarga ayah kandung dari anak-anaknya lah yang pasti memiliki darah yang sama dengan anak kembarnya.
"Aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus meminta tolong pada ayah kandungnya?" gumam Tari lirih dengan frustasi.
"Bagaimana jika dia tidak mau menolong dan tidak percaya jika Bintang adalah putri kandungnya." sambungnya.
"Tidak, aku tidak boleh meminta tolong pada laki-laki itu, bagaimana jika dia tahu semuanya dan akan membawa anak-anak ku pergi bersamanya setelah aku menceritakan yang sebenarnya pada dia?" gumam Tari semakin takut.
Tari terus menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak! Aku harus mencari pendonor darah selain dia." gumamnya lagi.
"Bagaimana Bu Tari, apa anda sudah bisa mendapatkan pendonor darah nya, dokter akan segera menindaklanjuti kondisi pasien dengan segera, karena berbahaya juga jika pasien terlalu lama tidak segera di operasi." jelas suster tadi tidak sabar membuat Tari semakin panik.
"Tapi saya belum bisa mendapatkan pendonor darah nya sus." ujar Tari semakin khawatir.
"Ambil saja darah saya sus!" seru seseorang yang berdiri tidak jauh dimana Tari berdiri.
Tari menoleh pada orang itu dan melihatnya siapa kah orang baik yang ingin menolong anaknya yang sedang membutuhkan pertolongan.
Tari terkejut saat ia melihat siapa orang yang akan menjadi pendonor darah untuk anaknya itu.
"Darah saya sama dengan anak itu. Ambil saja sebanyak mungkin." ucapnya dingin dengan tatapan serius.
"Baik mari tuan ikuti saya, saya akan periksa anda terlebih dahulu." ucap sang suster itu dan dia pun mengangguk tanpa mempedulikan Tari yang sedang menatapnya dengan tubuh yang diam mematung.
"Dia..." lirih nya dengan suara tercekat.
Ya laki-laki yang akan menjadi pendonor darah itu adalah Bara, laki-laki angkuh yang selalu menatap Tari dengan tatapan tidak suka nya, ntah apa yang membuat laki-laki itu seperti membencinya, tapi dia selalu menolong nya di saat Tari tengah dalam kesulitan.
Tari di panggil oleh pihak medis setelah Bara sudah mendonorkan darah nya.
Dengan wajah pucat Bara masih duduk lemas dan menyenderkan tubuhnya pada bantalan di belakangnya, untuk beristirahat di ruangan dimana ia di ambil darah nya, namun ia masih bisa mendengar apa yang di sampaikan oleh para medis itu kepada Tari.
"Ibu anda harus menandatangani surat ini sebelum anak ibu di operasi, ini surat pernyataan. Tapi suami anda lah yang harus menandatangani surat ini karena sebagai wali yang kuat untuk pasien." jelas para medis itu.
"Saya single parents, jadi biar saya saja yang jadi wali anak saya untuk menandatangani surat itu." ucap Tari.
Bara yang mendengar ucapan Tari yang mengatakan jika dia single parents pun membuat Bara melirik sekilas pada Tari dan para medis yang berdiri di depan ruangan dimana Bara berada.
"Jadi dia single. Pantas saja dia selalu sendiri." batin Bara dengan perasaan yang sedikit tenang di hati nya.
"Oh begitu, baik anda saja yang menandatangani surat ini." ujar nya.
Tari pun sudah menandatangani surat itu, dan operasi itu pun segera di lakukan. Tari melihat Bara yang masih duduk di ruangan itu pun menghampiri Bara yang sedang diam saja.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Tari ada sedikit kekhawatiran pada Bara, karena ia tahu Bara baru saja pulih dari operasi nya saat menolongnya itu dan sekarang laki-laki itu menjadi pendonor darah anaknya yang cukup membutuhkan darah dengan begitu banyak.
Bara melihat ke arah Tari sekilas. "Saya laki-laki kuat, tidak masalah jika hanya jadi pendonor." jawabnya dengan nada ketusnya, ia tidak suka terlihat lemah di hadapan orang apalagi di hadapan perempuan.
"Ah iya." balas Tari bingung berkata apa untuk membalas ucapan laki-laki arogan yang ada di hadapannya itu.
"Terima kasih tuan, karena anda sudah mendonorkan darah untuk anak saya." ucap Tari tulus.
"Tidak usah berterima kasih, suatu saat mungkin saya akan meminta balasan dari anda." ucap Bara dengan ucapan dingin nya dengan tidak sadar ia berkata seperti itu.
Tari menatap ke arah wajah tampan, tegas dan arogan itu yang sedang menutup matanya dengan bingung, apa maksud laki-laki itu.
"Kenapa anda melihat saya seperti itu?" tanya Bara masih dengan matanya yang terpejam dengan tangan di lipat di dadanya dengan angkuh. "Saya memang tampan tapi jangan berani anda menggoda saya apalagi di tempat ini." sambung Bara dengan ucapan yang datar.
Tari seakan ingin memuntahkan darah dari dalam mulutnya mendengar ucapan Bara, bisa-bisanya laki-laki arogan seperti dia berkata seperti itu. Tari pun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1