Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
pertemuan Bara dan Tania


__ADS_3

Bangun terlebih dulu adalah kebiasaan Tari, ia terbangun dengan tubuh yang lumayan nyaman tidak seperti kemarin. 


Mengingat kejadian malam tadi, membuat Tari sungguh sangat malu.


Menarik nafasnya dalam-dalam lalu ia tersenyum tipis memandang laki-laki yang berada di sampingnya.


Melirik ke arah jam, Tari pun bergegas untuk pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dan suami tercintanya. Hihihi suami tercinta...


Ketika Tari sudah selesai dari kamar mandi, suara handphone berdering.


"Tania!" Kesal Tari saat melihat layar handphone nya tertera nama adik nya.


"Aku harus memarahinya!" Gumam Tari dengan geram karena marah mengingat bagaimana Tania yang sangat jahat padanya.


"Hallo Tania." Ucap Tari tidak sabar.


"Bagus kamu menjawabnya! Aku ingin bicara dengan mu Tari." Sinis Tania terdengar di sana.


"Untuk apa lagi kamu menelpon ku, aku sudah tidak akan percaya lagi dengan kata-katamu!" Tari merasa bodoh karena tertipu oleh Tania.


"Aku sangat membencimu Tari, kamu membuat karier ku hancur begitu saja! Aku akan akan membalas perbuatan mu itu, lihat saja aku akan membalas mu!" Ancam Tania terdengar sangat emosi.


"Tunggu! Apa maksud kamu, aku tidak mengerti?" Tari bingung dengan ucapan Tania itu.


"Jangan berpura-pura tidak mengerti, bukankah ini yang kamu inginkan?!" kesal nya.


"Apa yang aku inginkan padamu, aku tidak mengerti kenapa kamu menyalahkan ku. Seharusnya aku yang harus marah padamu Tania!" Tari pun menjadi ikut emosi karena sikap Tania.


"Aku tidak akan diam saja, kamu sekarang lebih berani padaku, lihat saja aku akan membuat mu menderita!" ancamnya lagi dengan memutuskan panggilan itu tanpa ucapan lain lagi.


Tari menatap layar handphone nya, ia menarik nafasnya dalam-dalam, hatinya benar-benar panas, ia pun dengan cepat mencari kabar tentang Tania di media sosial.


"Karier Tania benar-benar hancur, dan apakah benar jika Tania melakukan hal serendah itu?" gumam Tari terus mencari informasi tentang Tania, dan tidak sulit karena kabar Tania yang pernah tidur dengan beberapa produser nakal pun menjadi trending topik nomor satu di sana, selain itu kabar Tania yang menghalalkan segala cara untuk menjadi artis terkenal pun mencuat.


Tari menutup mulutnya karena keterkejutannya kabar lainnya tentang Tania, semua berita itu menghancurkan karier Tania yang selama ini ia inginkan yaitu menjadi artis papan atas.


"Tapi kenapa dia menyalahkan ku? Aku tidak melakukan apapun padanya." gumam Tari dengan lirih.


Tari menatap arah jendela dengan handphone yang masih ia pegang, ia terus memikirkan hal ini, ada rasa kesal pada Tania namun ada rasa kasihan pada adiknya itu, walau bagaimana pun mereka tumbuh dalam satu rumah dan satu keluarga semenjak kecil, Tari tahu bagaimana besarnya keinginan Tania menjadi seorang artis itu.


"Tania." gumam Tari menyebut nama Tania.


Namun saat Tari dalam tatapan kosongnya, sebuah pelukan hangat dari tangan besar memeluk tubuh mungilnya dari belakang membuat Tari terkejut.


"Antoni kamu mengejutkan ku!" kejut Tari setengah berteriak.


Bara tersenyum tipis, menyapu leher Tari dengan bibir nya. "Kenapa pagi-pagi kamu sudah melamun? Apa yang kamu lamunkan hemm?" gumam nya pelan. "Kamu tidak sedang memikirkan laki-laki lain kan?" bisik nya membuat Tari bergidik geli.


Tari mencoba melepaskan pelukan erat Bara yang memeluknya dari belakang itu merasa masih malu dan merasa tidak nyaman.


"Kamu sudah bangun? Aku akan siapkan sarapan dulu, kamu mandi saja." titah nya dengan berlalu melangkahkan kakinya tanpa menjawab pertanyaan dari Bara.


Merasa di tolak dan merasa jika Tari tidak mau mengatakan apa yang ia sedang pikirkan, Bara pun menarik tangan Tari dan mencegahnya untuk pergi.


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Bara dengan sorot matanya yang tajam menatap wajah Tari.


"Ini masalah keluarga ku." sahut Tari sendu.

__ADS_1


"Ceritakan saja, aku suami mu kan?" tuntut Bara.


"Ya, tapi ini masalah aku dan juga adik ku." jelas Tari masih enggan untuk menceritakannya.


"Adik mu yang artis itu?" tanya Bara santai.


"Kenapa kamu tahu?" heran Tari menatap Bara dengan serius.


Bara tersenyum lembut. "Apa yang aku tidak tahu tentang kamu?"


"Kamu bilang aku kaya, jadi aku gunakan kekayaan ku untuk tahu semua tentang dirimu. Bahkan, kamu melakukan hal sekecil apapun aku akan tahu." terang Bara dengan sangat santai seraya memainkan poni rambut Tari dengan sangat gemas.


"Tahu tentang aku semuanya?" tanya Tari menatap Bara dengan lekat, Bara mengangguk dengan tersenyum lembut membuat wajahnya yang tampan semakin tampan walaupun rambut nya masih berantakan karena baru saja bangun tidur.


Deg... namun jantung Tari berdetak tapi bukan karena ketampanan Bara, jantung Tari berdetak karena ia mengingat sesuatu.


'apa dia tahu tentang pil itu' batin Tari sangat panik.


"Kenapa kamu terlihat cemas?" tanya Bara melihat wajah Tari yang tiba-tiba menegang.


"Hemmm ti.... tidak. Tidak apa-apa." kilah Tari dengan gugup membuat Bara menyipitkan matanya menatap Tari.


"Aku tahu kamu memiliki hubungan yang tidak baik dengan adikmu itu kan?" Bara pun tidak sabar. "Aku juga tahu dia yang sudah membubuhkan obat kemarin pada minuman mu itu saat di hotel kemarin." ucap Bara dengan nada terdengar marah.


"Kamu tahu tentang itu?"


Bara mengangguk. "Ya dan aku sangat membenci nya, aku hampir membunuh mu karena ulahnya!" Bara dengan emosi dengan kilatan mata penuh kebencian mengingat apa yang di lakukan oleh Tania kepada Tari.


"Apa... kamu yang membuat Tania dalam masalah dengan karier nya saat ini?" ucap Tari dengan hati-hati takut jika Bara merasa tertuduh.


Namun berbeda dengan pikiran Tari, Bara malah terlihat santai dalam menanggapi ucapan Tari itu.


Tari terdiam, ia bingung antara senang dan tidak, senang karena rasa marah nya terbalaskan, namun hati nuraninya tidak senang akan hal itu.


"Kenapa kamu diam seperti itu? Apa kamu ingin memberikan dia pelajaran lagi, supaya kamu puas karena jahat nya dia padamu?" Bara menawarkan pada Tari untuk membalaskan dendam nya.


Tari menunduk lalu menggeleng dengan sedih. Bara berdecak tidak suka. "Kenapa?" tanya Bara.


"Dia adikku Antoni, walaupun dia jahat padaku tapi dia adalah adikku, aku... aku tidak mau melakukan itu, jika saja Tania mau meminta maaf atas kesalahannya, dan tidak akan melakukan hal itu lagi, aku akan memaafkan nya dengan senang hati." Tutur Tari membuat Bara terdiam menatap perempuan yang ada di hadapannya itu.


"Kami tumbuh bersama, kami makan makanan yang sama ketika masih kecil dan Tania kecil tidak seperti Tania sekarang, sepertinya ada sesuatu yang membuat dia membenci ku." lanjut Tari menambahkan.


Bara menghela nafasnya. "Tapi dia sudah keterlaluan padamu." kesal Bara. "Aku tidak terima istri ku di perlakukan seperti itu, aku tidak akan diam saja!" geram Bara tidak terima. "Masalah ini hal kecil bagiku, aku akan membuat dirinya menyesali perbuatannya itu!"


"Antoni..." tatap Tari dengan mata berkaca-kaca.


"Aku akan membuat dia meminta maaf atas kesalahannya padamu, aku akan berikan dia pelajaran keras atau lembut, dan kamu ijinkan atau tidak aku akan membuat dirinya menyesal!" ucap Bara tidak sabar.


"Tapi..." sela Tari.


Cup sebuah ciuman mendarat di bibir merah Tari membuat Tari terdiam.


Bara melepaskan kecupannya. "Serahkan saja padaku." ucap Bara berlalu pergi menuju kamar mandi dan mengakhiri pembicaraan mereka.


*


*

__ADS_1


*


Di kantor Bara memerintahkan seseorang untuk membawa Tania ke sebuah tempat, ia ingin bertemu secara langsung dengan adik dari istrinya itu.


Tak lama mereka membawa Tania kepada Bara. Tania terkejut melihat dia di bawa ke sini untuk bertemu dengan tuan Bara yang kaya sekaligus suami dari kakak tirinya itu. Sungguh membuat Tania semakin iri pada Tari karena bisa menikah dengan laki-laki kaya dan juga tampan seperti laki-laki yang dia lihat di depannya itu.


"Selamat siang tuan Bara." sapa Tania dengan tersenyum manis dan menggoda.


Bara tersenyum jijik melihatnya, perempuan yang ada di depannya ini sungguh sangat menjijikkan baginya, kenapa istrinya memiliki saudara perempuan seperti itu, berbeda sekali dengan Tari perempuan yang kini mengisi penuh ruang hatinya.


"Kamu sungguh menjijikkan sebagai seorang perempuan!" ejek Bara dengan bibirnya yang tajam.


Tania terhenyak dengan ucapan laki-laki itu, sungguh membuat dirinya sakit hati. "Tuan apa yang anda katakan, itu membuat ku sakit hati." ujar Tania mencoba untuk tenang walaupun hatinya sangat kesal.


Bara tersenyum sinis. "Memang kenyataannya kan." cibir Bara dengan kejam.


"Tapi..."


"Jangan banyak bicara, saya memerintahkan anak buah saya untuk membawa mu ke sini karena saya ingin membuatmu tahu, siapa orang yang ingin kamu hadapi." sela Bara dengan tidak sabar.


"Apa maksud anda tuan Bara?" berpura-pura tidak mengerti namun hati Tania sungguh ketakutan.


"Kamu sudah berbuat jahat pada istri saya, dan itu berarti kamu ingin mencari masalah dengan saya!" ucapnya penuh penekanan.


Tania semakin benci kepada Tari, ia bersembunyi di belakang Bara.


"Sepertinya anda begitu mencintai istri anda itu?" sinis Tania berucap.


"Tentu, dia istri saya, ibu dari anak-anak saya." jawab Bara dengan bangga.


Tania melihat bagaimana Tari begitu di cintai membuat Tania semakin ingin membalaskan dendam nya. "Apa anda tidak ingat, kenapa anda bisa bertemu dan membuat istri Anda hamil? Jika itu bukan karena saya anda mungkin tidak akan bertemu dengan dia dan hidup bahagia dengan nya." ucap Tania dengan tatapan penuh bangga.


"Apa maksudmu?" tanya Bara tidak mengerti.


"Dengarkan saya tuan Bara, jika malam itu saya tidak membawa Tari ke tempat hiburan malam itu, mungkin anda tidak akan pernah bertemu dengan Tari istri tercinta mu itu." ujar Tania dengan senyum simpul.


"Jadi sebenarnya kamu menjebak Tari di sana pada malam itu?" tanya Bara dengan geram.


Tania tersenyum santai. "Bagaimana, apa anda ingin berterima kasih kepada saya, karena saya sudah membuat kalian bertemu. Tadi nya saya berencana untuk menjual Tari pada laki-laki hidung belang, tapi saat aku mencarinya ternyata dia sudah tidak ada di sana." jelas Tania tanpa ragu.


"Kamu benar-benar gila!" umpat Bara dengan kesal.


"Hahaha tapi anda yang di untungkan dengan kegilaan saya ini." balas Tania dengan seringai.


"Kamu memang tidak pantas menjadi seorang artis dan juga menjadi saudara perempuan Mentari. Kamu benar-benar perempuan yang tidak memiliki hati dan juga harga diri!" ucap Bara tidak habis pikir dengan perempuan seperti Tania ini.


"Lalu sekarang apa yang anda inginkan?" tanya Tania. "Tari bukan perempuan yang sempurna, dia dan aku berbeda, jika anda membutuhkan saya, dengan senang hati saya akan datang ke tempat anda." goda Tania berjalan dengan anggun dan seksi mendekati tempat duduk Bara. "Mungkin saja anak yang dia lahirkan bukan anak kandung anda." ucap Tania lagi membuat Bara ingin sekali menyeret paksa perempuan tidak malu ini.


"Hentikan!" titah Bara dengan suara tidak suka saat Tania mulai menggoda nya. Namun Tania tidak menggubris perkataan Bara dia terus menggoda Bara dengan caranya yang seksi.


Bara mendorong tubuh Tania dengan kasar membuat Tania terjatuh ke lantai dengan keras.


"Aduh." rintih Tania kesakitan dan berharap agar Bara mengasihinya.


Bara tersenyum mengejek. "Saya tidak suka dengan perempuan murahan seperti mu! Pergi!" usir Bara tanpa hati.


"Seret dia keluar!" titah Bara pada pengawal yang menunggu nya di luar.

__ADS_1


"Perempuan seperti mu tidak pantas mendapatkan kasih sayang, perempuan seperti mu harus di berikan pelajaran!" ucap Bara dengan sorot mata penuh kebencian.


Melihat bagaimana sikap Tania, bukan takut dan merasa bersalah atau mengakui kesalahannya dia malah kurang ajar padanya dan menghina istrinya itu.


__ADS_2