
Kini Bara sudah sampai di kantor nya, ketika berjalan di sebuah lobi ia melihat sesosok tubuh tinggi yang berdiri di depan nya.
Bara mengerutkan keningnya siapa orang itu, dan apa keperluan dia datang ke kantornya.
Tubuh tegap itu memutarkan tubuhnya menghadap ke arah Bara. "Selamat pagi tuan Bara." sapanya dengan tatapan tidak bersahabat.
Bara menyeringai. "Ada perlu apa anda datang kemari tuan Leo?" balas Bara dengan tatapan yang sama tajamnya.
"Saya perlu membicarakan sesuatu dengan anda." ucapnya cepat.
Bara tersenyum sinis ia tahu apa tujuan dia datang kemari. "Apa ini berhubungan dengan istri saya?" tegas Bara.
"Ya, bisa kita bicarakan di dalam ruangan anda tuan." pinta nya dengan dingin.
"Sebenarnya saya tidak mau membahas masalah yang anda inginkan itu, tapi sepertinya saya harus memberikan anda sebuah peringatan." ucap Bara. "Mari kita selesaikan di dalam ruangan saya." ajaknya.
Mereka melangkahkan kakinya menuju ruangan, hawa dingin menyelimuti dalam lift itu di saat mereka tengah berada di lift yang hanya berdua di sana, dua laki-laki tampan yang akan memperebutkan wanita yang sudah memiliki tiga orang anak itu tengah bersitegang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sesampainya di dalam ruangan Bara, ia langsung mempersilahkan Leo untuk duduk di sana tanpa mau berbasa-basi, laki-laki di depannya itu sudah ia anggap sebagai musuhnya saat ini.
"Saya tidak mau membuang-buang waktu saya di sini." ucap Leo tanpa ekspresi.
"Saya juga tidak membuang waktu saya hanya untuk berbicara dengan Anda." balas Bara dengan sengit.
"Ceraikan Mentari." ucap Leo tidak sabar.
Bara tersenyum sinis mendengar ucapan Leo itu. "Apa hak anda?" balas Bara dengan tatapan sengit.
"Saya tahu, pernikahan anda tidak seperti pernikahan pada umumnya, saya tahu anda hanya memaksa Mentari untuk mau menerima pernikahan ini. Jadi lepaskan dia." jelas Leo dengan sorot matanya yang tidak suka.
"Hahaha, anda orang yang tidak memiliki pekerjaan ya, sampai hubungan orang anda cari tahu." Bara pun membalas dengan tidak suka nya.
"Jika saya menjadi anda, saya tidak akan membuat seorang perempuan menangis dengan pemaksaan anda terhadap nya." Leo sedikit tidak sabar dengan sikap arogan laki-laki di depannya ini.
"Lepaskan Mentari, biarkan dia hidup dengan laki-laki yang mencintai nya dengan sepenuh hati nya." ujar Leo.
"Melepaskan Mentari? Untuk hidup dengan anda?" sindiran pedas keluar dari mulut Bara.
"Saya akan menawarkan sebuah perusahaan saya kepada anda, jika anda ingin melepaskan Mentari." Leo pun menawarkan sesuatu yang menggiurkan.
"Hahaha saya tidak membutuhkan perusahaan kecil milik anda itu." Bara dengan sombongnya menolak secara tegas.
Leo mengepalkan tangannya merasa terhina dengan ucapan Bara itu, perusahaan kecil? Padahal perusahaan dia sangat menjanjikan di masa depan.
"Anda sombong sekali tuan Bara." ucap Leo dengan tatapan sinis nya.
"Wajar jika saya sombong." balas Bara dengan santai.
"Apa anda tidak memikirkan perasaan Mentari yang selalu anda tidak hargai, anda benar-benar laki-laki tidak memiliki hati nurani." ucap Leo dengan kesal.
"Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai, anda silahkan keluar dari ruangan saya!" usir Bara dengan menunjukkan pintu keluar dengan dagu nya.
"Tuan Bara, mungkin sekarang anda bisa membuat Mentari anda kuasai, tapi suatu saat nanti anda akan menyesal!" ancam Leo.
"Sepertinya anda yang akan menyesal tuan Leo, karena anda sudah salah mencintai istri orang lain. Hahaha anda begitu mencintai istri saya ya, sayang nya anda tidak akan memiliki nya!" balas Bara dengan tatapan tajamnya.
"Saya tidak akan membiarkan Mentari menderita hidup bersama anda tuan Bara." ancamnya tidak main-main. "Permisi!" ucap Leo seraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu.
"Tuan Leo." panggil Bara saat Leo sudah di ambang pintu dan Leo membalikkan tubuhnya melihat Bara yang tersenyum samar.
"Anda harus ingat ucapan saya ini. Saya tidak akan pernah menceraikan istri saya, sampai kapanpun!" ucap Bara dengan tegas dengan sorot matanya yang dalam.
Leo hanya bisa menatap Bara dengan penuh kegeraman dalam jiwanya, karena perjuangan dia untuk mendapatkan hati Tari harus terhalang dengan ikatan pernikahan antara Tari dengan Bara. Leo pergi begitu saja tanpa sepatah kata apapun.
Saat melihat kepergian Leo, hati Bara menjadi kesal dan sangat marah. "Apa sedekat itu Mentari dengan laki-laki itu. Apa dia juga menceritakan jika dia merasa terpaksa dalam pernikahan ini kepada laki-laki itu." batin Bara penuh amarah.
Ketika Bara masih dalam pikirannya yang tidak baik, sebuah panggilan telepon dari Alvaro tampil di layar handphone nya, segera Bara pun menjawab panggilan itu.
"Ya." sahut Bara dengan kesal.
"Maaf tuan saya mengganggu anda." Alvaro merasa tidak enak karena ia tahu jika Bara sedang kesal terdengar dari nada nya.
"Ada apa?" Bara menuntut dengan cepat.
__ADS_1
"Tuan saya melihat nona Mentari bertemu dengan seorang pengacara hari ini." terang Al dengan sangat yakin.
"Seorang pengacara? Untuk apa dia kesana? Apa kamu yakin dia istri saya?" Bara pun tidak langsung percaya begitu saja, karena untuk apa Mentari menemui seorang pengacara.
"Saya sangat yakin tuan, jika itu adalah nona Mentari. Tapi saya belum tahu kenapa nona Mentari bertemu dengan seorang pengacara." Alvaro pun menjawab dengan sangat yakin.
"Cari tahu untuk apa dia bertemu dengan seorang pengacara." titah Bara dengan cepat. "Terus awasi Mentari, jangan sampai dia bertemu dengan Leo, dan beri tahu apapun tentang apa yang di kerjakan Mentari apapun itu." tambahnya dengan segera.
"Baik tuan." jawab Al dengan cepat.
***
Bara menelpon Tari setelah mendapatkan kabar jika dia menemui seorang pengacara.
"Hallo istriku." sapa Bara menggoda Tari walaupun sebenarnya dia kesal dengan hari ini.
"Jangan memanggil saya seperti itu, saya geli mendengarnya." sahut Tari dengan malas.
"Oh apa kamu ingin saya memanggil kamu, sayang?" ucap Bara dengan santainya.
"Hahaha sungguh lucu sekali, malah itu menjijikkan untuk di dengar." balas Tari berpura-pura kesal namun dalam hatinya ntah kenapa dia merasa tergelitik saat Bara memanggilnya dengan kata itu.
Bara menyeringai di seberang sana sungguh pedas ucapan istrinya itu. "Kamu sedang dimana?" tanya Bara memastikan apa Tari akan berbohong apa tidak padanya.
"Kenapa sekarang kamu sering menanyakan saya sedang dimana atau sedang apa yang saya lakukan, apa itu membuat mu merasa senang?" Tari malah bertanya balik bukan menjawab.
"Ya apa salahnya jika seorang suami menanyakan hal itu, bagaimana jika kamu mengerjakan sesuatu yang membuat saya malu, itu akan membuat saya malu juga kan. Ingat sekarang orang-orang sudah tahu siapa istri saya, jadi bersikap baiklah karena banyak wartawan yang mungkin akan memuat sebuah berita tentang kita." jelas Bara dengan santai.
"Sekarang kamu ada dimana?" tanya Bara penuh menuntut.
Tari menarik nafasnya panjang dan membuang dengan kasar. "Saya sedang di jalan menuju toko kue saya." jawab Tari terdengar ragu.
"Jalan menuju kemana? Bukannya dari pagi kamu sudah berangkat ke toko? Masa sampai jam segini kamu belum sampai? Toko mana yang kamu datangi?" Bara pun bertanya semakin penuh selidik membuat Tari merasa terintimidasi.
"Sa... saya tadi belanja kebutuhan bahan-bahan kue yang saya akan buat." kilah Tari dengan segera agar Bara tidak curiga.
"Apa benar begitu?" Bara pun terdengar tidak puas dengan jawaban Tari itu.
"Ya, ah sudahlah jika kamu terus bertanya seperti itu, saya akan menutup panggilan mu ini." gertak Tari agar Bara tidak terus bertanya.
"Tidak perlu saya bisa pulang sendiri." tolak Tari dengan cepat.
"Saya tidak suka dengan orang yang suka membantah." Bara pun dengan kesal menutup panggilan itu secara sepihak dan itu membuat Tari melongo menatap layar handphone nya yang tiba-tiba mati saat dia hendak menjawab.
"Baiklah." gumam Tari pelan dengan terus menatap layar handphone itu dengan heran.
Tari menarik nafasnya panjang. "Ada apa dengan nya sih!" gerutu Tari heran, akhir-akhir ini Bara begitu posesif terhadap nya.
***
"Ya." sahut Bara menjawab panggilan dari Alvaro.
"Tuan, saya sudah mengetahui kenapa nona Mentari menemui seorang pengacara, nona Mentari sedang mengajukan hak asuh atas ketiga anak-anaknya." jelas Al dengan sangat yakin.
"Apa? Maksud mu?" Bara terkejut namun belum paham.
"Nona Mentari berencana untuk meminta bercerai dengan anda, dan ia sedang mengajukan hak asuh atas si kembar agar jatuh ke tangan nya setelah perceraian itu terjadi." terang Al lagi.
Hati Bara benar-benar membara saat ini mendengar kabar dari asistennya itu, sungguh ia merasa marah ketika Tari memiliki niat seperti itu, merasa di bodohi oleh seorang perempuan, ketika dia sudah memiliki perasaan kepada nya. Sakit kini yang tengah Bara rasakan, ternyata benar cinta nya bertepuk sebelah tangan sebelum ia mengutarakan isi hatinya. Dua kali dan dua perempuan yang sudah menyakiti perasaan nya, sungguh itu membuat Bara merasakan kembali rasa sakitnya itu, padahal dia sedang berjuang demi mendapatkan hati istrinya itu, namun kini ia merasa kecewa.
Setelah menutup panggilan dari Al, Bara langsung bergegas keluar ruangan nya untuk menemui Tari, dia sudah berbohong tadi dan Bara kini tahu kenapa Tari berbohong kepadanya.
Tak lama sampai lah Bara di depan toko Tari. Bara dengan langkah cepat masuk ke dalam toko kue yang Tari miliki dengan wajah terlihat sangat marah dan tidak ada keramahan sedikit pun, ia akan memberikan sebuah pelajaran kepada Tari karena sudah membuat perasaan nya sakit.
"Mentari." panggil Bara dengan suara beratnya dan tatapan penuh kebencian nya.
"Antoni, kenapa kamu ada di sini? Ini baru jam sepuluh, bukan nya kamu akan menjemput saya nanti siang." Tari pun heran dengan kedatangan Bara yang tiba-tiba itu.
Tanpa menjawab Bara langsung menarik tangan Tari dengan paksa. "Ayok ikut saya!" ucapnya dengan nada dingin.
"Antoni saya belum beres membuat pesanan kue saya." teriak Tari seraya mencoba melepaskan cengkraman tangan Bara yang sangat kuat dan itu sedikit membuat Tari kesakitan.
Namun Bara diam saja seakan teriakan Tari hanya sebuah angin. "Antoni lepas!" Tari pun terus meronta.
__ADS_1
"Dia istri saya, jangan halangi saya!" Bara dengan dingin berucap pada salah satu orang yang mencoba menolong Tari.
"Antoni apa kamu sudah gila, ini sakit" rintih Tari bingung kenapa Bara bersikap seperti itu.
"Diam! Sekarang masuk!" titah Bara dengan keras membuat Tari mengikuti apa mau Bara yaitu masuk ke dalam mobil.
"Kamu benar-benar sudah gila!" kesal Tari seraya mengusap tangan nya yang sakit karena cengkraman Bara tadi.
"Diam!" bentaknya membuat Tari langsung terdiam karena keras nya suara Bara yang membentak.
"Saya akan memberikan sebuah pelajaran pada mu!" ucapnya dengan marah.
"Pelajaran apa maksud kamu? Kamu itu kenapa sih! Saya tidak mengerti dengan sikap kamu ini." balas Tari semakin bingung.
"Diam jangan berpura-pura!" Bara semakin kesal dengan kepura-puraan Tari yang sudah membohongi nya.
"Berpura-pura apa maksud mu?" Tari belum paham.
Tanpa menjawab Bara pun membawa mobil itu ke jalanan yang bukan arah jalan pulang.
"Ini bukan jalanan menuju pulang, kemana kamu akan membawa saya?" Tari pun sedikit takut dengan laki-laki yang sedang diliputi amarah itu, ia takut Bara akan melakukan hal buruk padanya.
"Kamu akan tahu kemana saya akan membawa kamu, dan nanti saya akan memberikan sebuah pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan." jawab Bara dengan seringai di wajahnya membuat Tari semakin takut.
Dengan kecepatan tinggi Bara mengendarai mobil nya sehingga membuat Tari panik. "Antoni jangan ngebut seperti ini." teriak Tari seraya berpegangan pada mobil.
"Kamu benar-benar sudah membuat saya takut! Hentikan!" teriak Tari terus menyuarakan suara yang benar-benar ketakutan.
Bara tidak mengindahkan teriakkan Tari, ia terus melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi.
"Kamu mau kita mengalami kecelakaan, ingat anak-anak kita masih kecil." Tari pun berusaha untuk menyadarkan Bara.
Mendengar kata anak-anak di sebutkan Bara sedikit demi sedikit merendahkan laju mobilnya itu. "Ya kamu benar anak-anak kita masih kecil, mereka membutuhkan keluarga yang lengkap, seperti kita yang akan terus menjadi ibu dan ayah untuk mereka." dengan ekspresi datar Bara bergumam sekaligus ia ingin mengingatkan Tari jika anak-anak bukan hanya membutuhkan dia sebagai ibunya namun Bara sebagai ayahnya.
Tari terdiam perkataan Bara seakan menampar dirinya, ia ingat baru saja meminta seorang pengacara untuk menolongnya agar bisa terlepas dari Bara dan mendapatkan ketiga anak-anaknya.
Tak lama mereka sampai di sebuah gedung tinggi dan mewah.
"Kenapa kamu membawa saya ke sini?" tanya Tari saat ia melihat sebuah hotel mewah di depan nya.
"Saya mau memberikan sebuah pelajaran kepada mu." jawab Bara dengan ekspresi datar nya.
"Pelajaran apa maksud mu?" Tari pun penasaran.
"Ikut saja tidak usah banyak bertanya." jawab Bara seraya menarik tangan Tari untuk keluar dari mobil setelah ia melemparkan kunci pada seorang pelayan hotel untuk memarkirkan mobilnya.
"Tunggu! Saya tidak mau!" gumam Tari seraya terus meronta ingin di lepaskan, karena firasat Tari tidak enak.
"Saya mau cek in bersama istri saya." ucapnya Bara cepat pada seorang penerima tamu di hotel itu.
"Ini tuan kunci card kamar VIP nomor sekian." sang pelayan hotel pun menyerahkan sebuah kunci card itu kepada Bara dan di ambil dengan cepat olehnya.
Bara menarik kembali tangan Tari yang masih mencengkeram nya.
Tari terus mencoba menarik kembali tangannya itu sekuat tenaga nya, namun Bara sangat kuat, Tari ingin meminta tolong pada orang sekitar, namun di lorong hotel sangat sepi.
Sesampainya di dalam kamar hotel, Bara langsung mengunci pintu kamar itu, dan menyembunyikan kunci itu agar Tari tidak bisa melarikan diri darinya.
Dengan sorot mata yang tajam, Bara terlihat sangat marah dengan terus melangkahkan kakinya mendekati Tari. Tari tidak mengerti kenapa Bara siang ini begitu terlihat marah padanya, sedangkan tadi pagi saja dia masih menggoda nya.
"Tunggu! Berhenti untuk melangkah!" cegah Tari saat Bara terus melangkahkan kakinya mendekati Tari yang sudah gemetar.
Seringai licik Bara tampakan di wajahnya. "Kamu benar-benar perempuan yang sangat licik!" ucap Bara dengan sinis. "Tapi sayang, kamu berhubungan dengan orang yang salah, orang yang akan kamu liciki lebih licik dari apa yang kamu kira." tambahnya dengan ekspresi jahatnya.
"Ma...ma... maksud mu apa?" Tari pun bergetar melihat bagaimana ekspresi Bara yang sangat marah dan berbeda membuat dirinya takut saat ini.
"Masih mau berpura-pura?!" Bara semakin marah saat Tari masih tetap tidak mengakui.
"Saya tidak mau membuang-buang waktu." ucapnya seraya menarik pakaian yang Tari kenakan sampai sobek tepat di bagian depan.
"Bara Antoni!" teriak Tari melototkan kedua matanya seraya mencoba menutupi sebagian tubuh yang terlihat karena pakaian nya koyak akibat sebuah tarikan dari Bara.
"Kamu benar-benar laki-laki berengsek!" umpat Tari dengan sangat marah karena perlakuan Bara terhadap nya.
__ADS_1
Namun Bara yang kesal akibat pertemuan nya dengan Leo dan marah karena Tari yang mau bercerai dengan nya dan menjauhkan dia dengan ketiga anak kembarnya membuat Bara kalap dan akan membuat Tari menjadi miliknya selama-lamanya walaupun mungkin saat ini Tari masih tidak mau mengakui nya.