Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
teriak Tari


__ADS_3

Sampailah Bara dan Langit yang dia anggap Ken putranya di rumah besar yang selama ini mereka tempati, sedikit takjub dengan rumah yang sedang Langit injaki seperti halnya Ken saat ia memasuki rumah Tari, Langit pun sama ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya, apalagi para pekerja yang ada di rumah Bara semua menunduk kepada mereka saat mereka melewati nya.


Langit masih diam, ia masih tidak mengerti kenapa dirinya sampai di bawa ke rumah mewah ini.


"Ingat Ken, Daddy sekarang akan menghukum kamu selama seminggu, hukumannya adalah tidak keluar kamar, dan Daddy tidak ijin kan kamu menginjakkan kaki selain kamar kamu. Semua yang dibutuhkan, seperti makan, minum atau yang lainnya akan bibi Milah siapkan untuk kamu. Mengerti?" jelas Bara.


"Tapi tuan, aku bukan Ken, nama ku Langit, bukan Ken!" jelas nya dengan penuh penekanan.


"Sudahlah Ken, Daddy lelah, Daddy tidak mau bercanda dan berdebat dengan kamu. Sekarang lakukan apa yang Daddy perintahkan, jangan membantah, jika kamu membantah, hukuman kamu akan Daddy tambahkan lagi." ancam Bara tidak main-main.


"Tapi aku bu..." ucapan Langit terpotong.


Bara menatap tajam para pekerja dan bodyguardnya menyela perkataan Ken. "Bawa Ken ke kamarnya, Ingat jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi! jika kalian masih ingin bekerja dengan saya!" tegasnya dengan wajah yang sangat emosi.


"Baik tuan." jawab mereka patuh.


Langit pun di bawa oleh para bodyguard yang Bara perintahkan. "Ayok tuan muda Ken." ucap salah satu bodyguard dengan sopan seraya memegangi tangan lengan Langit karena tuan mudanya itu diam saja tanpa mau melangkahkan kakinya.


"Aku bisa jalan sendiri!" ucapnya kesal, Langit yang paling tidak suka di sentuh tangan nya merasa kesal. "Aku bukan penjahat yang harus di seret seperti ini." gerutu nya kesal.


"Maaf tuan." ucap para bodyguard seraya menundukkan kepalanya.


Langit pun melangkahkan kakinya ke atas dengan langkah angkuhnya, walaupun ia sebenarnya tidak tahu mana kamar anak yang mirip dengannya itu.


Bara yang melihat kelakuan putra nya itu hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam, ia lelah, ia bingung dan ia merasa hidup nya hanya hitam putih. Hubungan dia dengan putranya begitu sangat jauh di bilang seperti ayah dan anak. Bara benar-benar tidak tahu caranya bagaimana bisa lebih terbuka dengan Ken putranya.


Langit yang sudah berada di atas, ia melihat beberapa kamar di sana, ia bingung mana kamar yang akan ia tempati nanti.


Langit menghentikan langkahnya membuat para bodyguard siap siaga, mereka takut jika tuan mudanya akan melarikan diri lagi, jika itu terjadi mereka akan mendapatkan masalah dengan bos besarnya, bukan hanya di pecat tapi tuan Bara tidak akan segan memberikan mereka hidup tenang begitu saja. Ah sungguh sulit bagi mereka jika bekerja dengan tuan Bara nya, namun mereka membutuhkan pekerjaan dan gaji mereka pun terbilang istimewa.


"Kalian takut jika aku melarikan diri?!" sinis Langit saat para bodyguard hendak mencoba ancang-ancang untuk menghadapi dirinya.


"Kemungkinan itu terjadi." jawab salah satu bodyguard nya.


"Aku kan hanya seorang anak kecil, kalian masih takut?!" cibir Langit dengan seringai di bibir nya.


"Saya akui tuan muda adalah anak yang cerdas, jadi kami harus berhati-hati agar kami pun tidak mendapatkan masalah dengan tuan Bara ayah anda." ujarnya.


"Sudahlah, antar aku ke kamar ku!" perintah nya dengan cepat.


"Mari tuan muda."


Para bodyguard pun mengantarkan Langit ke kamar nya. "Tuan muda Ken ini kamar anda." ucapnya memberi tahu.


Langit dengan malas memasuki kamar itu. Dan setelah ia masuk pintu pun langsung tertutup dan di kunci oleh para bodyguard atas perintah dari tuan Bara.


"Hei kenapa pintu nya di kunci?!" teriak Langit merasa kesal.


"Hei buka!" teriaknya kembali.


"Aku tidak akan melarikan diri, jangan berlebih-lebihan seperti ini!" teriak Langit tidak terima.


Namun di balik pintu salah satu bodyguard pun berucap. "Maaf tuan muda Ken, kami hanya menjalankan apa yang di perintahkan oleh tuan Bara." jawabnya.


Langit pun dengan kesal menendang pintu. "Aaaaah!" teriak nya.

__ADS_1


Langit mengedarkan pandangannya pada seluruh kamar yang dia masuki, ia melangkahkan kakinya melihat seisi kamar anak laki-laki yang ia kira mungkin sangat mirip dengannya.


Saat Langit melihat beberapa barang di sana, ia menemukan sebuah foto kecil di dalam laci. "Ah benar saja, anak laki-laki ini mirip sekali dengan ku." gumam Langit merasa yakin saat ini, tuan galak itu sudah salah mengira jika dia benar-benar Ken putranya.


Langit masih menatap pada foto kecil itu. "Kenapa aku bisa semirip ini dengan nya, aku memang kembar tapi, kembaraku seorang perempuan yaitu Bintang. Bahkan aku dengan Bintang kembaraku tidak semirip ini." gumam Langit semakin bingung.


"Wajah seseorang bisa terlihat mirip walaupun bukan dengan lembaran, tapi ini... ini sangat mirip tidak ada bedanya." Langit mulai membanding-bandingkan wajah nya dengan wajah yang ada di dalam foto itu.


"Ah aku pusing dengan masalah ini, sekarang aku harus bisa melarikan diri dari sini, aku harus segera pulang. Ibu, Bintang dan omah pasti khawatir karena aku tidak pulang." gumam nya seraya membuka gorden melihat ke arah luar.


"Ya ampun tinggi sekali... Aku bisa mati jika loncat dari atas sini ke bawah sana." ucap Langit merinding.


"Aduh bagaimana ini? Ayok Langit mikir, mikir, mikir!" ucapnya seraya mondar-mandir.


"Handphone!" ucapnya seraya mencarinya di dalam saku nya, namun tidak ia temukan. "Oh ya ampun handphone anak itu kan sudah di ambil oleh asisten tuan Bara." ucapnya penuh sesal.


"Bagaimana ini?" Langit mulai panik ia membuang nafas nya kasar seraya melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan tatapan ke atas melihat langit-langit kamar itu. "Jika tuan itu mengira aku Ken adalah anaknya, lalu si Ken itu pergi kemana?" tanyanya heran.


Langit tiba-tiba membangunkan tubuh nya dengan cepat. "Apa jangan-jangan si Ken itu sekarang ada di rumah ku?" tanyanya menduga-duga. "Oh my God... kalau itu benar, pasti ibu juga mengira si Ken itu adalah aku." sambung nya mulai curiga.


"Aku harus cepat-cepat keluar dari rumah ini." gumamnya mantap. "Tapi aku harus memikirkan hal ini dengan baik, jangan sampai para bodyguard tahu jika aku merencanakan untuk melarikan diri." lanjutnya.


***


Di kediaman Tari pun sama seperti di kediaman Bara, sama bingung dengan sikap para anaknya itu, Tari yang terbiasa melihat sikap putra nya dengan ceria dan sering menimpali ucapan adik kembarnya, namun sekarang berubah sikap Langit terlihat lebih banyak diam dan hanya senyum saja yang ia tampilkan. Dan sekarang Tari tengah mencari tahu apa penyebab putra nya itu berubah drastis setelah pulang dari supermarket tempo lalu.


"Langit... ibu boleh bicara sebentar dengan kamu?" tanya Tari lembut memanggil nama anaknya.


Ken yang sedang berperan sebagai Langit pun menoleh pada perempuan yang di sebut ibu oleh nya. "Iya, ada apa?" tanya Ken kembali.


Ken sangat terenyuh dengan sikap Tari padanya yang begitu sangat lembut dan itu membuat Ken merasa nyaman dan tidak mau sampai kehilangan kehangatan seperti ini. Apa ini rasanya memiliki seorang ibu, ibu yang sangat perhatian dan penuh dengan kasih sayang.


"A...aku tidak apa-apa, i...ibu." rasa nya gugup saat Ken menyebutkan panggilan ibu pada perempuan yang ia duga ibu kandungnya sendiri.


"Kenapa kamu begitu kaku saat memanggil kata ibu? Apa yang kamu sembunyikan dari ibu?" tanyanya dengan tatapan mata yang penuh menelisik pada kedua mata putra nya.


"Emh aku tidak menyembunyikan apa-apa." elaknya sangat gugup membuat Tari semakin curiga.


Tari memicingkan matanya mengarah pada tatapan wajah tampan putranya yang sangat mirip sekali dengan laki-laki yang selama ini ia tidak mau mengingat nya. Semakin mereka tumbuh semakin Langit mirip dengan ayah biologisnya, apalagi Tari yang selalu bertemu tanpa ada kesengajaan dengan ayah dari ketiga anaknya membuat Tari semakin yakin mereka sangat mirip dengan laki-laki itu.


"Ibu apa aku boleh memeluk mu?" pinta Ken menghilangkan kegugupan nya yang di tatap tajam oleh ibunya. Ia juga ingin merasakan bagaimana berada di pelukan ibunya yang selama ini ia sangat rindukan. Ya walaupun Ken belum bisa membuktikan jika perempuan yang ada di samping nya adalah ibu kandungnya.


Tari mengerutkan keningnya heran tidak seperti biasanya, namun seperkian detik Tari pun tersenyum ia senang jika putranya memang tidak kenapa-kenapa. "Kenapa tidak, sini." ucap Tari seraya menarik tubuh putra dan langsung ia memeluk dengan erat putra nya itu.


Ken merasa nyaman dan sangat bahagia dalam pelukan ibunya, Ken yakin jika Tari adalah ibu kandungnya, namun dalam hati Ken masih penasaran apa yang membuat ibunya sampai memisahkan dia dengan saudara kembarnya, jika Ken bisa memilih Ken ingin bersama mereka. Ken juga penasaran kenapa Daddy-nya merahasiakan tentang ibu kandungnya dan bilang bahwa dulu ibunya sudah meninggal.


Ken semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh ibunya itu, ia tidak mau lepas dengan pelukan hangat ibunya.


"Kenapa kalian tidak mengajak ku juga untuk berpelukan?!" ucap Bintang merajuk saat dai melihat kakaknya di peluk ibunya. "Apa ibu lupa jika ibu punya anak perempuan." sambung nya lagi membuat Ken mencoba menghibur Bintang dengan memeluk Tari dengan begitu posesif membuat Bintang semakin merajuk dan berlari menghampiri mereka lalu memeluk tubuh Tari dan kakak kembarnya.


"Aku juga mau di peluk!" rengek nya manja membuat Ken dan Tari memeluk Bintang dengan tawa mereka.


"Aku tidak mau terpisah lagi." gumam Ken tidak sadar namun terdengar oleh Tari dan juga Bintang.


"Memang terpisah kemana, kita akan selalu bersama-sama." timpal Bintang cepat.

__ADS_1


Ken tidak menanggapi lagi mereka saling berpelukan saja.


Sedangkan Langit yang berada di dalam rumah Bara pun membuat Bara sedikit aneh melihat Ken.


Langit yang sudah bersusah payah untuk bisa melarikan diri akhirnya menyerah untuk saat ini, Langit benar-benar belum bisa melarikan diri karena banyak sekali di sana yang sedang menjaga nya.


Langit benar-benar bosan, ia hanya terkurung di dalam kamar, ia juga sempat melihat apa yang di buat si Ken itu, sungguh ia tidak minat sama sekali, karena Langit lebih menyukai hal yang berbau dengan sebuah tantangan bukan meracik dan membuat seperti si Ken itu.


Langit pernah meminta tuan Bara untuk memberikannya handphone nya, namun ia tidak di perbolehkan, pokoknya gerak jalan Langit sungguh merasa terbatas.


"Jika kamu sudah menjalani masa hukumannya dengan baik, Daddy akan memberikan handphone mu itu lagi, dan kamu juga bisa keluar kamar, tapi jika kamu melanggar apa yang sudah Daddy katakan jangan harap kamu bisa lepas dari hukuman Daddy selanjutnya!" ancam Bara yang Langit ingat saat ia memelas padanya dan tidak berhasil sama sekali, dan kini Langit harus lebih bersabar, menjalani hukumannya selama seminggu penuh dan setelah semua hukuman nya selesai, Langit akan bersaksi.


*


*


*


Beberapa hari kemudian, Sore ini ketika dia pulang dari toko, ia datang untuk bertemu dengan salah satu pelanggan nya. Tari kini tengah sendirian berada di pinggir jalanan, Tari yang akan pulang ke rumah nya setelah ia selesai dari pertemuan dengan salah satu pelanggan yang ingin memakai kue buatannya untuk sebuah acara, ia sempat menaiki sebuah taksi, namun naas mobil itu mogok, Tari mencari taksi lain di sana namun tidak ia temukan dan ia juga mencoba memesan taksi online namun belum ia dapatkan.


Menelusuri jalanan yang sepi dan mulai gelap Tari merasa sangat takut, ia ingin sekali cepat sampai, tapi ia juga tidak tahu dimana kini dia berada.


Saat ketakutan itu semakin membuat hatinya tidak karuan, dua orang laki-laki menghampiri nya, mereka dengan wajah menyeringai jahat kepada Tari.


"Wah mangsa baru brow." ucap salah satu laki-laki itu. "Cewek men bening lagi. Mau kemana cantik sendirian di sini, Abang temenin mau?" goda nya.


Tari mulai panik ini lah yang Tari takutkan. "Tolong jangan ganggu saya." ucap Tari takut.


"Jangan takut cantik, kita gak akan jahat sama kamu kok, asalkan..." ucapnya menggantung.


"Jangan ganggu saya!" mohon Tari namun mereka tidak mau mendengarkan.


Para penjahat itu menarik tas Tari dengan paksa. "Kalian mau apa?" getar Tari sangat takut.


"Serahkan harta benda elu!" ancam nya dengan menodongkan sebuah pisau tajam ke arah Tari.


Tari sangat ketakutan ia pun dengan tidak rela menyerahkan apa yang dia punya, tas yang mereka rebut Tari berikan begitu saja karena dia tidak mau bermasalah dengan mereka. Namun karena paras nya yang cantik membuat para penjahat itu menatap ke arah Tari dengan tatapan nakal.


"Sepertinya main sebentar dengan nya akan menyenangkan." ucapnya penjahat itu.


"Saya sudah menyerahkan tas saya, di sana ada uang, dan juga handphone saya, saya mohon lepaskan saya." pinta Tari memelas, di sana sungguh sangat sepi tidak ada orang yang melewati.


"Oh tidak semudah itu cantik, kita gak akan menyiakan-nyiakan perempuan secantik kamu nona." godanya.


"Tolong lepaskan saya, saya mohon..." lirih Tari.


Duk... Tari menendang sesuatu yang amat keramat yang di miliki si penjahat yang memeganginya itu dan yang ada di depannya dengan sangat kuat membuat para penjahat itu melepaskan pegangannya dan meringis kesakitan, kesempatan Tari untuk melarikan dirinya.


Tari berlari dengan sangat cepat karena para penjahat itu mencoba mengejarnya, mereka terlihat sangat marah pada Tari.


"Ayok kejar dia, sialan dia berani menendang aset berharga kita." umpat nya seraya mencoba mengejar Tari.


Tari terus berlari sebisa mungkin dan berteriak meminta tolong. "Tolong... tolong..."


"Percuma kamu meminta tolong di sini, tidak akan ada yang bisa menolong mu!" geram para penjahat dengan nada puas nya.

__ADS_1


"Tolong...." teriak Tari terus menerus dengan lelah ia terus berlari dan berteriak dan memang sangat sepi.


__ADS_2