
"Mau kemana nona Mentari?" tanya Bara tiba-tiba terdengar saat Tari akan keluar dari kamarnya dengan pelan-pelan.
"Yang pasti keluar dari kamar ini. Saya tidak betah berlama-lama di sini." jawab Tari cepat.
Bara mendengus kesal dan menyipitkan kedua matanya lalu beranjak menghampiri Tari yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Tunggu!" cegah Bara cepat melihat Tari yang akan keluar kamar.
"Apa lagi sih!" sahut Tari sebal.
"Tunggu... tunggu! Tunggu! Ini baju dan celana saya iya kan?" tanya Bara seraya menarik tangan Tari sehingga ia masuk kembali setelah ia keluar dari kamarnya tadi.
"Ya memang, lalu apa masalah anda?" ucap Tari cuek.
"Masalah nya ini baju dan celana saya, dan kamu memakainya tanpa ijin dari saya!" kesal Bara tidak sabar.
"Saya hanya meminjam nanti akan saya kembalikan setelah saya memiliki pakaian ganti." ucap Tari cepat. "Lagi pula ini juga salah anda membawa saya pindah rumah secara dadakan, saya juga tidak di ijinkan untuk pulang terlebih dahulu. Baju saya kotor dan saya sudah mandi, mana mungkin kan saya memakai baju kotor itu lagi." terang Tari.
"Tapi setidaknya kan meminta ijin terlebih dahulu bukan langsung pakai seperti itu!" kesal Bara tidak terima.
"Pelit sekali ya anda tuan, saya hanya memakainya untuk sementara, dan memang nya saya harus menunggu sampai anda bangun tidur ketika saya kedinginan setelah mandi. Oh no!" terang Tari tidak habis pikir dengan pikiran Bara.
"Saya hanya..." ucapan nya terpotong.
"Sudah hentikan! Saya tidak mau berdebat dengan anda pagi ini, saya akan pergi ke dapur dan membuat sarapan." Tari pun mencoba menghindari perdebatan di pagi hari ini.
"Tunggu! Tidak usah melayani saya seperti suami mu yang sesungguhnya, pernikahan kita hanya pernikahan sementara. Lagi pula jangan merasa jika kamu bisa menjadi istri saya dan menjadi perempuan yang saya cintai, itu tidak mungkin, saya tidak tertarik padamu sedikit pun, jadi jangan pernah memberikan perhatian kepada saya!" jelas Bara dengan sorot matanya yang dingin sebagai sebuah peringatan. "Dan jangan pernah ikut campur dengan masalah pribadi saya, kita akan hidup masing-masing, jika di depan anak-anak kita tunjukkan jika kita penuh kasih sayang." jelas nya lagi yang membuat Tari sangat mengerti.
"Tidak perlu anda jelaskan tuan, saya sudah paham!" balas Tari menatap tatapan Bara itu.
Bara mendelik tidak suka. "Bagus!" sahutnya.
"Oh ya tuan. Sepertinya anda salah paham, saya membuat sarapan pagi ini bukan untuk sarapan pagi anda tuan Bara yang terhormat, saya berniat membuat sarapan hanya untuk anak-anak saya. Camkan itu!" balas Tari dengan sengit.
Bara terdiam sedikit malu apa yang ia tuduhkan kepada Tari tadi, ia lupa jika di rumah ini ada anak-anak yang akan sarapan pagi ini.
"Kalau begitu saya permisi." ucap Tari seraya melangkahkan kakinya menuju pintu kamar itu. Namun langkah nya terhenti lalu ia pun membalikkan tubuhnya kembali ke arah dimana Bara berdiri. "Oh ya tuan." ucapnya menggantung dengan ragu lalu ia menunjukkan jari nya yang menyentuh ujung matanya. "Ada kotoran di mata anda." beri tahu Tari. "Alangkah baiknya jika anda mandi terlebih dahulu sebelum mengajak saya untuk berdebat." lanjutnya dengan seringai ejekan.
Bara langsung menyentuh ujung matanya dengan cepat seraya berlari menuju ke kamar mandi dengan rasa malu jika memang benar di matanya ada kotoran yang menempel.
"Ha-ha-ha." Tari tertawa geli melihat tingkah Bara yang terlihat sangat panik dan terlihat sangat malu itu, padahal Tari tadi hanya mengerjainya saja.
***
Di lantai satu, para pekerja sudah terlihat sibuk di setiap ruangan. Tari turun ke sana langsung mencari dimana dapur berada. Ketika sedang mencari-cari ruangan dapur dengan melewati beberapa ruangan setelah bertanya pada salah satu pekerja di sana.
Setelah Tari berada di dapur, Tari pun langsung mencari bahan-bahan masakan yang akan ia olah, melihat di dalam lemari es begitu banyak bahan masakan membuat Tari bersemangat untuk membuat sarapan untuk ketiga anak kembarnya. Ingat ya untuk ketiga anak kembarnya.
Tari pun mengeluarkan beberapa bahan untuk di olah menjadi makanan yang di sukai anak kembarnya itu.
Saat Tari tengah asyik memotong bahan masakan, tiba-tiba Bi Milah datang menghampiri nya.
"Nyonya Tari, apa yang sedang anda lakukan?" tanyanya panik.
Tari tersenyum dengan ramah. "Saya sedang menyiapkan sarapan untuk anak-anak." ujarnya.
"Biar bibi saya nyonya yang siapkan sarapan, nyonya bisa beristirahat kembali." tawar nya ia merasa tidak enak jika pekerjaan yang selalu ia kerjakan di kerjakan oleh majikan barunya.
"Tidak apa-apa Bi, saya hanya akan menyiapkan makanan untuk anak-anak saya sarapan. Tenang saja saya sudah terbiasa melakukan hal ini." jelas Tari menolak penawaran pembantu di rumah itu.
"Tapi..." ucap bibi.
"Sudah tidak apa-apa, lebih baik bibi siapkan makanan untuk tuan Bara saja." titah Tari yang membuat bibi Milah heran.
"Tuan majikan bibi itu tidak mau memakan makanan saya, dan saya juga tidak begitu tahu sarapan apa yang tuan Bara sukai. Jadi lebih baik bibi buatkan saja ya." jelas Tari yang tahu dengan kebingungan bibi pembantunya itu.
__ADS_1
"Oh baiklah kalau begitu. Biasanya tuan Bara sarapan roti bakar atau roti biasa saja." terang bibi Milah.
Tari menghela nafas panjang. "Hemm sarapan yang membosankan." cibir Tari pelan.
"Iya, tapi tuan Bara sarapannya ya seperti itu nyonya." bibi Milah pun menyayangkan itu. ''Ya sayang sekali padahal di sini banyak sekali makanan, mungkin tuan Bara lebih simpel jika sarapan." terang nya lagi.
"Memang bibi suka memasak apa jika untuk tuan Bara itu?" tanyanya heran.
"Tuan Bara jarang sekali makan masakan saya, saya masak hanya untuk menyiapkan makanan untuk den Ken saja." jawabnya.
"Oh betul kah?" tanyanya dan di angguki bibi.
"Tuan berangkat pagi pulang kadang sore atau malam, dan itu jarang makan masakan saya, mungkin karena sudah makan dari luar. Tuan Bara sibuk di kantor jadi lebih banyak makan di luar." jelas bibi.
"Ya mungkin. Tapi masakan di luar itu tidak bagus, kita tidak tahu kan bahan dan cara masak nya. Lebih bagus masakan rumahan." ujar Tari dengan terus membumbui masakan nya sesekali mencicipinya.
"Emmm harum sekali masakan nya nyonya." puji bibi saat mencium masakan Tari.
Tari tersenyum. "Anak-anak pasti suka masakan ini nyonya."
"Jangan memanggil saya nyonya, panggil saya Tari saja bi." tolak Tari merasa tidak nyaman.
"Tapi anda istri tuan saya. Tidak sopan jika saya memanggil anda seperti itu." balas bibi merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, saya tidak terbiasa di panggil seperti itu, saya orang biasa jadi panggil saya biasa saja." terang Tari.
"Emm bagaimana jika saya memanggil nona Tari saja. Saya tidak enak dan tidak berani juga jika hanya memanggil nama anda saja." tawar nya merasa tidak enak juga. "Saya pembantu di sini dan anda istri dari majikan saya." lanjutnya.
"Ya sudah bagaimana nyaman nya bibi saja memanggil saya apa." ujar Tari tidak mempermasalahkan nya, toh dia bukan istri Bara yang sesungguhnya, dia hanya pelengkap agar anak-anak mau tinggal bersama Bara.
***
Di dalam kamar, Bara yang berada di dalam kamar mandi pun merasa malu sekaligus kesal karena Tari hanya mengerjainya saja, saat ia melihat dirinya pada cermin itu, tidak ada kotoran mata di sana.
"Kurang ajar dia mengerjai ku." gumamnya kesal. "Awas ya, beraninya dia mengerjai ku!" kesal Bara menjadi-jadi.
"Siapa yang membuat lemari ku berantakan seperti ini." Bara terkejut melihat isi lemari nya berantakan, pakaian yang ada di sana hampir semua keluar dari lemari nya.
"Pasti ini perbuatan perempuan itu!" geram Bara mengingat Tari yang tadi mengenakan pakaian nya.
"Berengsek!" umpat nya kesal seraya melewati pakaian yang tergeletak berantakan begitu saja.
***
Beberapa masakan pun tersaji, masakan yang di sukai oleh anak-anaknya, Tari juga tahu makanan yang di sukai oleh Ken karena dia yang pernah tinggal di rumah nya.
Anak-anak yang sudah siap pergi ke sekolah pun turun dengan seragam yang mereka pakai, hanya Ken yang tidak memakai seragam sekolah karena dia belum mau bersekolah. Bara juga mengikuti anak-anak keluar dari kamarnya dengan pakaian kantor yang ia kenakan.
Jas kantor berwarna biru tua dengan kemeja biru muda serta dasi berwarna biru tua bergaris dan celana slim fit nya di kakinya yang panjang membuat Bara terlihat sangat tampan dan mempesona bagi kaum hawa, namun sayang tidak untuk Tari dia sungguh sangat menyebalkan di mata Tari.
"Ibu..." panggil anak-anaknya dengan heboh, bahkan Bintang sampai berlari menuruni tangga membuat Bara yang ada di belakangnya merasa cemas
"Bintang jangan berlari-lari seperti itu jika menuruni tangga!" teriak Tari sedikit memarahi nya.
"Maaf ibu." lirih Bintang.
"Jangan diulangi seperti itu, itu berbahaya!" tegas Tari memberi tahu kepada Bintang. "Tidak untuk Bintang saja tapi untuk kalian semua!" omel Tari menatap satu persatu ketiga anaknya yang sudah duduk di tempat makan.
"Baik Bu..." jawab mereka serempak.
Tari menarik nafasnya dalam-dalam. "Maafkan ibu anak-anak, ibu marah karena ini untuk kebaikan kalian." ucap Tari lembut melihat anaknya langsung diam saat dirinya tadi memarahi nya.
"Tidak apa-apa, kami tahu ibu sayang kepada kami." jelas Langit menjelaskan maksud ibunya.
Tari tersenyum. "Ya ibu sayang sekali pada kalian." ucap Tari seraya mencium satu persatu pipi anak-anaknya.
__ADS_1
"Ibu jangan mencium ku seperti itu lagi!" sebal Langit yang selalu tidak suka jika ibunya mencium mereka seperti anak kecil.
"Iya maaf, ibu lupa kalau kamu sudah dewasa. Ok lain kali ibu tidak akan lakukan hal itu lagi. Kalau ibu tidak lupa." goda Tari dengan cekikikan.
"Ibu!" sebal Langit. Sedangkan Ken dan Bintang ikut cekikikan melihat Langit yang kesal tidak seperti mereka yang tidak masalah jika ibunya mencium nya.
"Sudah jangan marah lagi, ibu sudah membuat sarapan pagi untuk kalian semua, apa kalian mau?" tawar Tari kepada ketiga anak kembarnya itu.
"Mau..." jawab mereka serempak.
"Ibu siapkan dulu ya." jawab Tari dan di angguki ketiga nya.
"Sedangkan Bara yang melihat adegan ibu dan anak-anak nya itu hanya diam menyaksikan kehangatan mereka, ia merasa orang asing di rumah nya sendiri melihat ke akraban anak-anaknya bersama Tari, jauh dengan dirinya selama ini.
"Ini untuk kamu, kamu dan ini untuk kamu." ucap Tari menyimpan makanan yang ia buat di depan anak-anaknya.
"Woow. Ini makanan kesukaan ku." ucap Bintang dengan riang.
"Ini juga makanan kesukaan ku." sambung Ken memperlihatkan makanan kesukaannya.
"Lihat ini sarapan paling lezat." tambah Langit memuji makanan yang di buatkan oleh Tari.
Walaupun mereka kembar tapi makanan yang mereka sukai itu berbeda, dan maka dari itulah Tari selalu mencari dan membuat makanan untuk mereka berbeda setiap makan nya karena mereka selalu bosan dengan makanan yang itu itu saja.
Ketiga anak kembarnya itu saling memuji masakan yang Tari buat dan saling mengunggulkan makanan itu, membuat di meja makan ramai seperti di pasar.
"Anak-anak diam, ayok cepat makan!" ucap Bara namun tidak di hiraukan.
Karena perintah Bara tidak di hiraukan oleh ketiga anaknya maka Tari pun angkat bicara. "Anak-anak, jika kalian tidak diam, makanan yang ada di depan kalian akan ibu ambil!" ancam nya dengan tegas dan tatapan matanya yang terlihat marah membuat ketiga anak-anaknya diam menatap Tari dengan takut. "Diam dan makanlah!"titah nya lembut namun tegas.
"Baik bu." jawab mereka patuh.
"Good." ucap Tari seraya mengusap kepala anak-anaknya dengan sayang.
Melihat kepatuhan ketiga anaknya membuat Bara terdiam, ia merasa kagum dengan ketegasan Tari terhadap anaknya, bahkan Ken yang selalu membantah nya pun patuh dengan ucapan Tari itu. Anak-anaknya makan dalam diam dan tertib. Lembut tapi tajam membuat Bara sedikit bergidik merasakannya.
Bara memakan sarapan pagi nya yang sudah di siapkan bi Milah, roti bakar dengan segelas kopi. Sarapan standar bagi orang untuk memulai aktivitas nya.
Tari pun ikut sarapan dengan makanan yang ia buat, sesekali Bara melirik nya melihat Tari makan sarapan nya dengan tenang dan sesekali Tari memperhatikan ketiga anak kembarnya yang sedang makan itu.
"Daddy kenapa Daddy hanya makan roti bakar saja? Kenapa Daddy tidak makan sarapan buatan ibu?" tanya Bintang melihat ayahnya hanya makan roti.
"Daddy tidak suka makanan berat dan itu akan membuat perut Daddy buncit." jawabnya Bara dengan cepat sedikit mencela.
"Daddy mu sedang diet, dia tidak makan makanan berat seperti kita." sahut Tari pelan namun nyeletuk.
"Makanan yang ibu buat ini kan sehat, cocok untuk diet, karena ibu selalu tahu takaran makanan yang kita makan." terang Bintang dengan cepat.
"Daddy akan menyesal jika tidak mencoba masakan ibu, selain enak ini juga sehat." sambung Langit.
"Iya takaran gizi dan makanan yang tepat untuk diet dan aman saat kita makan." lanjut Ken.
"Daddy tahu tidak, ibu kan belajar di sekolah memasak dan membuat berbagai macam kue di luar negeri, jadi tidak di ragukan lagi jika ibu membuat makanan." puji Bintang dengan riang.
Tari tersenyum. "Terima kasih ya anak-anak kalian memang cerdas dalam menilai." puji Tari merasa puas dengan ucapan anak-anak nya yang membuat Bara terdiam dan terlihat sangat tidak suka.
Tari memang tahu jika Bara tadi sempat melirik makanan yang ia buat, tapi mungkin karena ucapan tadi pagi membuat Bara malu dan tidak berani meminta makanan yang Tari buat itu.
"Daddy berangkat!" ucap Bara berdiri lalu pergi, namun dia menghentikan langkahnya dan melihat bibi Milah.
"Bi bereskan dan rapihkan pakaian di lemari saya, ada tikus kecil yang mengacak-acak baju-baju saya di lemari!" sindir Bara pada Tari.
"Tikus tidak tahu diri harus di basmi secepatnya." sambung Bara dengan sinis.
"Baik tuan." dengan cepat bi Milah mengiyakan perintah tuan nya walaupun ia tidak percaya jika di rumah itu tidak mungkin ada tikus.
__ADS_1
Dan ekspresi Tari tidak suka saat mendengar ucapan Bara, ia tahu jika Bara menyindir pada dirinya.