
"Tania! Apa kamu sudah tahu kabar saudara tiri mu itu sekarang?" tanya manager Tania dengan tidak sabar.
Tania yang sedang merapikan dandanan nya pun menatap pada manager nya dengan kerutan di keningnya heran. "Untuk apa aku tahu kabar dia, tidak penting!" sahut nya malas.
"Apa kamu tidak melihat berita di setiap media sosial?!" dengan kesal manager kepada Tania yang sikap nya acuh tak acuh.
"Aku malas membaca berita, semua orang menggosipkan aku dengan berita yang buruk-buruk." ucap Tania dengan kesal.
"Ya karena sikap kamu yang sudah menyinggung saudara tiri mu itu!" kesal nya.
"Apa maksud mu?" Tania heran kenapa masalah ini ada hubungannya dengan saudara tirinya itu.
"Ini lihatlah." menyerahkan handphone nya dan memperlihatkan berita tentang kabar pernikahan Mentari.
Tania dengan serius membaca, dan melihat berita mengejutkan itu, yang dimana Tari adalah istri dari seorang pengusaha kaya bernama Bara Antoni.
"Ini tidak mungkin!" teriak Tania tidak terima. "Ini pasti salah!" ucapnya lagi dengan menggelengkan kepalanya.
"Salah bagaimana? Sudah jelas tuan Bara mengakui jika perempuan yang bersama dengan nya adalah istri nya, dan perempuan itu adalah saudara tiri mu kan, Mentari." terang manager itu dengan sebal pada artis nya itu.
"Lalu jika aku menyinggung nya, hubungan aku dengan orang-orang yang memutuskan kontrak kerja apa itu ada kaitannya dengan masalah ini?" Tania pun menjadi bingung di buatnya.
"Kamu tahu kan, bagaimana kekuasaan tuan Bara itu, semua orang akan melakukan apa yang dia inginkan, bahkan bisa saja pemutusan kontrak mu dengan beberapa pihak televisi dan agensi di batalkan karena perintah dari tuan Bara itu. Zaman sekarang uang segalanya, dengan uang orang bisa tunduk." terang nya yang membuat Tania mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.
"Jika memang masalah pemutusan kontrak ku ini ada hubungannya dengan Mentari, aku tidak akan diam saja, aku akan memberikan sebuah pelajaran untuk Mentari." ucap Tania dengan seringai jahat di wajahnya.
"Kamu gila Tania, kamu mau melawan tuan Bara itu? Mimpi mu!" ucap manager itu heran dengan sikap Tania yang sudah sangat gila. "Itu akan menjadi masalah untuk mu nanti, sedangkan kamu tidak akan mampu melawan tuan Bara." lanjutnya lagi.
Tania tersenyum sinis. "Kamu jangan jadi orang bodoh, mana mungkin aku bisa melawan tuan Bara pengusaha kaya itu. Tapi aku memiliki rencana bagus, untuk memberikan Tari pelajaran." ucapnya merasa sangat yakin.
"Jangan gila kamu Tania!" ucap sang manager. "Memang apa rencana mu itu?" ia pun penasaran apa yang akan di lakukan Tania.
"Aku akan membuat tuan Bara itu menceraikan Mentari, dengan cara ku sendiri." jelasnya dengan senyum jahat nya.
"Kamu benar-benar sudah gila, memisahkan kebahagiaan orang lain, apalagi dia adalah saudaramu sendiri."
"Saudara tiri, hanya tiri!" ucapnya dengan emosi yang tertahan.
"Terserah kamu saja Tania, aku tidak mau ikut-ikutan masalah mu ini, aku hanya memberikan saran yang bagus untuk mu Tania, agar popularitas mu kembali bagus, lebih baik kamu meminta maaf kepada Mentari lalu meminta bantuan dia untuk bisa masuk agensi lagi, dengan kebaikan kamu, selain kamu bisa mendapatkan kontrak kamu juga akan menjadi artis terkenal lagi." saran sang manager.
"Hah. Apa?! Meminta maaf? Aku tidak sudi." tegasnya. "Enak saja, seharusnya dia yang meminta maaf kepada ku, dia selalu menjadi nomor satu, dan dia selalu mengambil apa yang aku inginkan, bahkan cinta kak Leo pun ia dapatkan padahal aku yang begitu mencintai nya lebih dari apapun, perhatian kak Leo selalu pada Tari, tari dan Tari saja." ucapnya penuh kebencian mengingat bagaimana Tari yang selalu unggul. "Dan sekarang hidup nya pun senang karena mendapatkan laki-laki seperti tuan Bara itu, sedangkan aku, aku malah mendapatkan masalah ini karena dia!" kesal nya.
"Lihat saja Mentari, kamu akan kehilangan sedikit demi sedikit apa yang telah kamu miliki!" gumam nya dengan tatapan penuh amarah dan sang manager hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat sifat asli artis nya itu, yang pendendam dan penuh obsesi.
*
*
*
Pagi-pagi Tari sudah siap dengan pakaian nya, hari ini dia berniat untuk pergi ke sebuah apotik yang buka secara 24 jam, ia ingin membeli obat pencegah kehamilan, semalam ia terus berpikir tentang kehidupannya saat ini, dia takut jika Bara terus meminta hak nya ia akan mengandung kembali, dan ia semakin takut jika dirinya hamil sedangkan Bara masih dengan sikap nya yang seperti itu akan membuat dirinya menderita, tiga anak saja Tari belum bisa mendapatkan hak asuh mereka apalagi jika nanti di tambah dengan satu anak lagi, akan membuat Tari semakin sulit terlepas dari pernikahan ini.
"Mau kemana kamu pagi-pagi seperti ini sudah siap?" Bara yang tiba-tiba melihat Tari sudah bersiap pun sedikit heran, apalagi Tari saat ini memakai masker.
"Ke toko." sahut Tari dengan datar.
"Sepagi ini?" tanya nya heran. "Lalu itu, kenapa kamu memakai masker begitu? Apa kamu sakit?" Bara pun semakin heran dengan sikap Tari itu.
"Saya sedikit flu." jawabnya dengan gelagapan.
"Saya antar kamu ke rumah sakit." tawar Bara.
"Tidak perlu, hanya flu biasa, nanti siang pun mungkin akan lebih baik." tolak Tari dengan cepat.
__ADS_1
Tari melangkahkan kakinya untuk keluar, namun Bara menarik tangan nya sampai Tari masuk ke dalam pelukannya. Dengan cepat Bara pun memeluk tubuh Tari yang wangi itu, wangi tubuhnya menenangkan pikiran dan hati Bara.
"Antoni lepaskan!" ucap Tari dengan menggerakkan tubuhnya agar terlepas, namun Bara malah menguatkan pelukan nya itu dengan sangat kuat membuat Tari meringis.
"Antoni sakit, sesak." ucapnya dengan suara terengah karena kepalanya yang tertekan pada dada Bara.
"Makanya diam saja! Jangan bergerak!" ucapnya terdengar di telinga Tari sehingga hembusan nafasnya pun terasa.
"Saya harus pergi." Tari pun mencoba kembali untuk melepaskan pelukannya.
"Tidak akan ada yang memecat mu kan jika kamu terlambat datang ke toko, kamu kan bos nya." bisik Bara dengan pelan.
"Tapi, kemarin saya sudah meninggalkan toko dari pagi dan tidak kembali lagi ke sana, saya khawatir ada apa-apa di sana." jelas Tari merasa tidak nyaman berbicara di saat Bara memeluk nya.
"Keuntungan dari toko kue mu itu tidak seberapa, saya akan memberikan berapa pun yang kamu minta." ucap Bara yang membuat Tari mendongak ke atas menatap tajam pada wajah Bara.
"Kenapa?" Bara pun menatap kembali heran kenapa Tari menatap dirinya seperti itu.
"Memang tidak seberapa untuk mu, tapi saya bisa membuat lapangan kerja sendiri, itu kepuasan nya, lagi pula banyak yang menginginkan kue buatan saya!" kesal nya merasa terhina.
"Ya saya tahu, tapi ingat kamu sedang dalam masa program hamil, jadi jangan terlalu lelah karena itu akan membuatmu sulit untuk hamil." ucap Bara mengingatkan dengan suara pelan nya.
"Sepertinya kamu sangat menginginkan seorang anak lagi, apa tidak cukup memiliki anak kembar kita, kenapa kamu tidak membuat anak dengan perempuan lain saja." ucap Tari kesal.
"Untuk apa saya memiliki anak dari perempuan lain, kamu kan istri saya, tiga anak kembar belum cukup untuk saya, saya ingin memiliki banyak anak dari mu." terang Bara dengan serius.
Tari bingung harus senang atau marah, di sisi lain dia senang jika Bara hanya menginginkan anak darinya, tapi di sisi lain Tari kesal karena merasa di paksa untuk memiliki anak lagi, seharusnya kan di bicarakan terlebih dulu atau di tanya dulu, apa dia mau atau tidak.
Bara menghirup aroma dari sampo yang Tari pakai, dan itu membuat Bara nyaman.
Merasa tidak nyaman saat Bara menghirup aroma sekaligus mencium pucuk kepalanya Tari pun mencoba melepaskan pelukannya.
"Kamu tidak akan bisa pergi sebelum saya lepaskan." ancam Bara.
"Lebih merengek, saya suka mendengar rengekan mu itu." pinta Bara mengeratkan pelukan nya itu. Tari terdiam karena kepalanya terus di telusupkan oleh Bara pada dada nya. "Jadi wanita jangan terlalu mandiri, saya sebagai laki-laki menjadi tidak berguna." ucapnya pelan.
"Dan bisakah kamu tidak begitu formal saat bicara dengan saya?" pinta Bara.
"Maksudnya?" Tari menyahut dengan suaranya yang pelan karena dia mulai nyaman berada di dada suaminya yang hangat itu.
"Kamu dan aku jangan kamu dan saya, kita bicara dengan santai saja." terang Bara dengan sabar.
"Jika saya tidak mau?" tanya Tari dengan cepat.
"Aku akan membuat anak-anak menderita." ancam nya berpura-pura namun terdengar serius.
"Gila, kamu paling bisa mengancam saya dengan menggunakan anak-anak." cebik Tari kesal.
"Ya, karena kamu selalu lemah jika berhubungan dengan anak-anak, dan itu satu-satunya yang membuat kamu menuruti apa yang aku katakan." balas Bara.
"Jadi turuti apa yang aku inginkan." ucapnya lagi. "Kamu mengerti?" melihat Tari hanya diam saja. "Kamu mengerti?" tanyanya mengulang.
Tari mengangguk pelan. "Ya, aku mengerti." ucapnya mengalah saja. "Sudah ya lepaskan saya, eh lepaskan aku." pinta nya.
Bara pun merenggangkan pelukannya lalu menatap wajah Tari dengan sedikit menunduk. Di buka nya masker itu, sehingga wajah Tari memerah karena tatapan Bara itu, Tari tersipu malu, apalagi saat Bara mulai mendekati ke arah wajah nya, Tari mulai ketar ketir di buatnya, semakin dekat semakin Tari menjauhkan kepalanya ke belakang, dan Bara masih mendekat dengan tangan yang mulai menahan kepala Tari agar dia bisa mencium bibir Tari. Dan cup apa yang di inginkan Bara pun sukses membuat dia semakin memperdalam tautannya membuat Tari pun tidak bisa menahan untuk membalas ciuman pagi itu.
"Daddy! Ibu!" teriak Bintang di ambang pintu yang sudah terbuka, Ken melongo sedangkan Langit melengos.
Bara dan Tari langsung melepaskan ciumannya itu dengan salah tingkah dan kikuk. "Kalian tidak sopan, kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu!" Bara mengomeli ketiga nya.
"Kami sudah mengetuk tapi karena Daddy dan ibu yang asyik bermesraan seperti itu, sungguh memalukan!" cebik Bintang sebal dengan melipat kedua tangannya dengan angkuh, membuat Bara mengerucut.
"Ayok kita berangkat sudah siang, nanti kalian malah terlambat." ucap Tari mengalihkan mereka.
__ADS_1
"Ingat ya Daddy, aku gak mau punya ade!" ancam Bintang menatap Bara dengan tatapan sengit.
Tari dan Bara saling pandang. "Kenapa kamu bicara seperti itu? Seperti tahu saja Daddy akan memberikan mu seorang adik."
"Biasanya kan seperti itu, teman ku bilang jika ibu dan ayahnya selalu tidur bersama dan teman ku sekarang memiliki adik kecil, dan dia bilang memiliki adik membuat dia lelah karena dia harus menjaga adiknya itu!" terang Bintang dengan kesal dan wajah yang cemberut.
"Jadi kami lelah karena memiliki mu bersama kita." sela Langit menatap Bintang karena mendengar rajukan adik nya itu.
"Kak Langit! Aku tidak pernah membuat mu lelah!" teriaknya tidak terima.
Tari menarik nafasnya dalam-dalam. "Sudah kita berangkat saja, dan kamu Bintang, kamu tidak akan memiliki adik, ok." bujuk Tari.
"Oh tidak boleh seperti itu." sahut Bara tidak terima.
"Diamlah!" Tari menatap Bara dengan ekspresi nya yang sebal.
Lalu dengan cemberut Bintang pun pada akhirnya tidak marah lagi, karena pernyataan ibunya yang sangat meyakinkan itu.
Melihat kepergian Tari yang menggunakan masker Bara pun memerintahkan pengawalnya untuk mengawasi kemana pun Tari pergi.
***
Memijat pelipisnya yang terasa pusing karena kejadian tadi pagi, sungguh ini sangat memalukan karena anak-anak mereka melihat apa yang di lakukan orang dewasa, untung saja Tari bisa menjelaskan kepada anak-anak jika apa yang di lakukan nya itu hal wajar karena mereka saling menyayangi bukan untuk membuat adik seperti apa yang di katakan Bintang. Menjelaskan dengan pandangan anak-anak tentunya.
Tari turun setelah ia mengantarkan ketiga anaknya ke sekolah lalu naik dengan taksi saja karena ia berniat untuk ke apotik, agar Bara tidak mencurigai nya karena sang sopir bisa saja mengadu kepada Bara.
Kini Tari berdiri di depan apotik yang buka 24 jam. Ia pun dengan cepat langsung menghampiri pelayan apotik itu.
"Pagi mba, saya mau obat penunda kehamilan yang bagus." ucap Tari memesan.
Si pelayan itu menatap Tari dengan lekat seraya melihat ke arah handphone nya. Lalu ia tersenyum. "Bisa saya lihat KTP nya." pintanya dengan sopan, walaupun agak ragu tapi Tari memberikan nya. "Sebentar ya nona." ucapnya berlalu pergi untuk mengambil obat pesanan Tari.
"Ini nona." serah nya sedikit lama menunggu.
Tari menerima nya. "Mbak apa yakin ini pil penunda kehamilan yang bagus?" tanya Tari meyakinkan, pasalnya Tari merasa heran dengan kotak pil yang ia pegang itu, karena Tari pertama kalinya melihat dan akan mengkonsumsi pil itu.
"Ya nona, itu pil terbaik." jawabnya pasti.
"Oh begitu, baiklah berapa harganya?" tanya Tari sudah merasa yakin, karena mana mungkin petugas apotik itu berbohong, apotik nya saja sudah BPOM.
Setelah membayar pil itu Tari pun dengan segera meminumnya dan memasukkan pil itu ke dalam tas kecil yang ada di dalam tas yang ia bawa.
"Semoga saja, aku tidak hamil." doa Tari penuh harap.
flash back
"Tuan, nona Mentari sekarang sedang berada di apotik." jelas para pengawal Bara yan mengikuti Tari kemanapun dengan menggunakan telepon nya.
"Minta nomor telepon apotik itu dan segera berikan kepada saya?" titah Bara di sebrang sana.
"Baik."
Tak lama Bara menerima sebuah nomor petugas apotik itu, dan dengan cepat menelpon pada nomor yang pengawal nya berikan itu.
"Hallo, saya Bara Antoni, jika kamu melihat seorang wanita yang ada di gambar yang baru saya kirimkan tolong beri tahu saya, obat apa yang dia pesan." ucap Bara dengan suara berat nya.
"Ba... baik." ucapnya tergagap karena terkejut menerima panggilan telepon dari seorang Bara.
Tak lama ia pun menelpon Bara, setelah ia melihat perempuan yang ada di foto dengan KTP yang ada di tangan nya.
"Obat apa yang dia pesan?" tanya Bara tidak sabar.
"Pil penunda kehamilan." jawabnya cepat.
__ADS_1
Bara menatap ke arah depan dengan tatapan mata yang marah. Ia marah karena Tari tidak menginginkan ia hamil lagi apa sebegitu tidak mau nya Tari sampai melakukan hal itu. Namun Bara menyeringai dengan senyuman licik nya.