Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
berawal dari masakan


__ADS_3

Tari masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil handphone nya yang berada di dalam tasnya, namun saat Tari masuk ke dalam kamar, dan kebetulan Bara keluar dari dalam kamar mandi setelah ia menyelesaikan apa yang harus diselesaikan di sana.


Tari mendelik dengan malas saat melihat Bara, sedangkan Bara ia merasa kikuk saat mata mereka bertemu sesaat tadi. Bara kikuk karena ia tadi sempat berpikiran kotor mengingat wajah Tari dan tubuh nya yang padat berisi itu. Selain padat kulit nya putih dan terawat membuat Bara sebagai laki-laki dewasa pun ia mulai berkelana, apalagi Bara belum pernah melakukan lagi setelah kejadian antara dirinya dan Tari.


Tari dengan cepat meraih handphone itu lalu pergi keluar kembali karena malas sekali jika harus terus berdebat, apalagi hari sudah malam.


Anak-anak sudah masuk kamar masing-masing, tinggal Tari, ia selalu bingung jika ingin tidur. Sebenarnya tidak masalah jika dirinya tidur dimana saja, hanya saja dia risih jika tidur sekamar dengan Bara, ia khawatir laki-laki itu berbuat macam-macam padanya saat tertidur pulas.


Walaupun mereka sudah menikah, mereka tidak terbiasa dengan hubungan yang baik malah sebaliknya hubungan mereka sangat buruk.


"Bagaimana bisa aku bisa membuat dia jatuh cinta padaku, melihatnya saja aku sudah muak." gerutu Tari seraya menuruni tangga untuk bisa beristirahat.


"Apa aku tidur saja dengan Bintang?" gumamnya. "Ah kalau dia tanya kenapa, aku nanti bingung jawabnya apa." Tari pun menghela nafasnya panjang. "Sudahlah aku tidur saja di sini." Tari pun mencari posisi paling enak di sofa yang akan ia tiduri.


"Nona Tari, kenapa anda tidur di sini?" tiba-tiba bibi Milah datang melihat Tari tertidur di sofa.


"Emh saya... saya sedang menonton televisi." kilah Tari rada gugup.


"Bu... bukan nya di dalam kamar anda dan tuan Bara ada televisi?" bibi Milah pun berhati-hati namun penasaran.


"Emh saya ingin nonton di sini saja, apa ada masalah?" kesal juga majikan di tanya seperti toh di rumah ini dia istri Bara terserah saja mau dimana.


"Emh maaf nona, bukan saya kurang ajar, namun di sini dingin saya khawatir jika nona Mentari kedinginan." jawabnya tidak enak. "Ya sudah saya kebelakang dulu, kalau ada yang dibutuhkan nona bisa memanggil saya." ucapnya takut jika membuat majikan marah lagi.


"Ya bibi bisa beristirahat, saya juga akan istirahat." Tari pun mengijinkan bi Milah untuk beristirahat karena malam sudah mulai larut.


Beberapa saat kemudian, Tari yang sedang merebahkan tubuhnya pun mulai kedinginan karena ia tidak membawa selimut.


"Dingin sekali sih!" keluhnya. "Aku harus mengambil selimut di kamar, apa dia sudah tidur apa belum ya?" pikir Tari.


Tari pun naik ke atas kamar yang di tempati Bara, karena kedinginan Tari pun terpaksa.


Dengan membuka pintu kamar dengan sangat pelan, Tari pun mulai memasuki, Namun ternyata Bara belum tertidur karena Tari melihat laki-laki itu sedang duduk di atas ranjangnya yang empuk dengan tatapan matanya yang melirik Tari sekilas tanpa bicara sepatah katapun membuat Tari menarik nafasnya panjang. Lalu tanpa peduli dengan Bara yang masih terjaga dan seperti sedang mengerjakan pekerjaannya di tablet nya Tari pun mengambil selimut di dalam lemari dengan cepat.


"Jika anak-anak lihat, saya tidak akan membantu kamu untuk mencari alasan." tiba-tiba Bara dengan tegas berkata seperti itu, ia tahu jika Tari akan tidur di luar.


"Saya pastikan anak-anak tidak akan tahu!" Tari tahu jika Bara sedang menyindirnya seraya melangkahkan kakinya tidak mau berdebat.


"Jika kamu sakit karena tidur di luar, saya tidak mau kamu menyusahkan saya nantinya." ketus Bara dengan nada dingin nya.


"Saya tidak akan sakit karena terbiasa hidup menderita, jika hanya tidur di luar saja, tenang saja saya tidak akan merepotkan mu kalau pun saya sakit, lagi pula orang kaya lah yang biasanya akan mudah terserang penyakit karena hidupnya yang tidak sehat dan teratur." balas Tari mengena sekali. Lalu ia pun pergi setelah selesai berbicara.

__ADS_1


"Saya tidak akan peduli padamu, jika nantinya kamu sakit!" teriak Bara tidak terima dengan ucapan Tari yang selalu menang darinya, dan Bara pun marah karena tersindir dengan kata-kata Tari tadi.


"Memang nya aku mau di pedulikan oleh mu!" gerutu Tari yang mendengar ucapan Bara tadi seraya menyamankan dirinya di sofa yang cukup empuk dan luas.


Namun saat ia merebahkan diri tiba-tiba perutnya berbunyi, ia merasakan lapar.


"Ah aku lapar sekali." keluh nya dengan memegangi perutnya. "Pantas saja lapar aku kan tadi belum makan." mengingat dirinya yang tadi melupakan makan malam.


Tari pun ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan, namun karena semua makanan malam sudah habis Tari pun mendengus.


"Makanan habis, ya ampun, hanya ini saja." ada beberapa makanan yang tidak membuat selera makan. Lalu Tari pun mencari bahan makanan yang bisa ia olah dengan cepat.


Ia membuat satu menu makanan yang enak dan bisa cepat ia olah. "Ok ini saja." ucap Tari dengan semangat membuat makanan itu.


Di saat Tari tengah membuat makanannya, sedangkan Bara yang sedang sibuk dengan gadget pun mencium aroma bumbu harum membuat penciuman nya semakin ia tajamkan.


"Siapa yang masak malam-malam begini." gumam Bara seraya terus mengendus aroma masakan.


"Apa ada tukang nasi goreng yang lewat jalanan sini." gumamnya lagi. "Ah mana mungkin!" mangkirnya, karena tempat tinggal nya adalah perumahan elit tidak sembarangan orang atau pedagang masuk ke kompleks itu.


Bara pun turun untuk memastikan dimana aroma bumbu itu, yang sudah membuat perutnya keroncongan karena belum makan dari sore, setelah dari kantor nya.


"Perut ku lapar sekali." gumam Bara seraya mengusap perutnya itu, lalu ia pun turun ke bawah mencari keributan yang ada di dapur dan ia pun melihat lampu dapur yang terang benderang.


"Mungkin dia lapar, makanya masak tengah malam begini, kebetulan sekali kalau begitu." pikir Bara menganggap orang yang berada di dapur adalah bi Milah.


Lalu Bara melangkahkan kakinya menuju arah dapur dengan langkah nya langsung ke lemari es untuk minum terlebih dahulu.


"Bi saya lapar!" ucap Bara tanpa melihat orang yang ada di sana itu. "Buatkan saya makanan juga, sepertinya masakan yang bibi buat itu enak, tercium sampai kamar saya." titah nya seraya menuangkan air ke dalam gelas.


"Bukannya kamu tidak mau makan masakan saya!" ucap Tari santai dengan nada menyindir.


Byuuur... air yang sedang Bara minum pun memuncrat, ia muntahkan semua karena terkejut bahwa ia pikir yang ada di dapur adalah pembantunya ternyata ia salah.


Namun Tari tetap anteng dan tenang tidak terpengaruh dengan kehadiran Bara di sana.


Bara gelagapan saat mata Tari yang menatapnya dengan tatapan lekat. Selalu kesal jika melihat wajah Bara, ntah kenapa wajah laki-laki itu selalu ingin mengajak ribut dengan nya.


"Kenapa menatap saya seperti itu?" tatapan Tari pun di balas dengan tatapan Bara yang tidak suka.


"Sudah sana pergi jangan mengganggu saya, ini sudah malam, saya tidak mau berdebat dengan mu sampai pagi, nanti anak-anak terbangun." usir Tari dengan nada malas.

__ADS_1


Bara mendengus kesal. "Ini rumah saya, kenapa selalu saja kamu mengatur saya!" ucap Bara pergi dengan kesalnya.


Tari hanya menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan perlahan. "Seperti anak kecil saja." gerutu Tari gregetan dengan laki-laki dewasa itu.


Bara menunggu di sofa yang di pakai Tari dengan menggunakan selimut yang Tari tadi bawa. Perutnya lapar membuat dirinya tidak bisa tidur di kamar nya.


"Ini makanlah!" titah Tari dengan ketus.


"Saya tidak mau! perut saya bisa buncit makan makanan seperti itu!" tolaknya dengan keras.


Tari marah dan kesal. "Ya sudah kalau tidak mau, saya tidak akan memaksamu!" Tari dengan cepat membawa kembali makanan itu ke dapur, lalu ia memakan makanan itu untuk dirinya saja.


"Tidak tahu berterima kasih!" gerutu Tari kesal dan melahap makanan itu dengan cepat dan menusukkan garpu nya dengan keras, namun setelah dia puas dengan kekesalannya, ia pun makan makanan itu dengan santai tidak peduli dengan Bara lagi, yang penting makan saja.


Glek. Bara menelan ludah nya karena perutnya yang semakin lapar karena mencium masakan Tari.


Bara melirik Tari yang sedang santai nya menyantap makanan itu dengan diam tanpa ada kata satu pun. Bara kesal karena Tari tidak mencoba membujuk nya kembali saat tadi ia menolak untuk memakannya.


"Sifatnya seperti Langit saja. Semakin aku tahu semakin jelas jika dia memang seperti Langit, terlalu banyak gengsi saat butuh." batin Tari yang melirik Bara yang terlihat sedang menonton televisi.


"Kenapa tidak masuk kamar? Sana tidur ini sudah malam, lagi pula itu tempat tidur saya." ucap Tari dengan ketus.


"Oh kamu pasti lapar, makanya tidak bisa tidur!" sarkas Tari tidak mau berbasa-basi. Walaupun ucapan Bara sering menyakitkan dan juga tidak di anggap sebagai istri, tapi bagi Tari yang sudah memiliki anak dan bukan lagi seorang gadis yang harus malu-malu pun tidak suka melihat kekanakan sikap Bara.


"Sudah sana makan, saya sudah membuat nya untuk kita berdua, di luar hujan kalaupun kamu pesan makanan akan butuh waktu yang lama." ucap Tari mencoba mengalah, ingat mengalah bukan berarti kita kalah.


Melihat Bara yang diam saja membuat Tari pun angkat bicara. "Tenang saja, makanan yang saya buat kalori nya rendah dan dengan bahan yang tidak akan membuat tubuh mu menjadi jelek." terang Tari mengetahui apa yang di pikirkan Bara.


"Sudahlah tidak usah banyak berpikir, sehat itu mahal, untuk apa badan bagus tapi tubuh tidak sehat." lagi Tari pun tahu dengan kegelisahan Bara.


"Laki-laki itu tidak perlu memiliki tubuh yang bagus, yang terpenting itu kaya banyak uang otomatis perempuan pun akan mengantri."


"Sudah sana makan saja, nanti jika kamu gemuk kamu bisa berolah raga setelah makan." ucap Tari terus berceloteh.


"Baiklah kalau begitu saya akan memakan makanan itu, tapi jika saya gemuk kamu harus mau berolahraga dengan saya." ucapnya membuat Tari tidak mengerti kenapa harus berolahraga dengan nya, kan yang gemuk dia.


"Olahraga apa maksudnya?" tanya Tari heran.


"Kamu mau tahu?" tanya Bara dengan tatapan serius. Tari mengangguk dengan wajah polosnya membuat Bara menyeringai. "Olahraga malam." bisik nya dengan suara mendesah tepat di telinga Tari seraya melewati Tari.


"Dasar laki-laki mesum!" gerutu Tari dengan kesal karena sudah mengerti maksud Bara tadi.

__ADS_1


"Hahaha." Bara tergelak renyah lalu bersiap untuk menikmati makanan yang Tari buat, satu suapan Bara masih santai namun lama-lama ia semakin menikmatinya karena makanan itu sangat enak di lidah nya. Kenapa masakan sederhana seperti itu bisa terasa luar biasa.


__ADS_2