
"Sudah sampai tuan." ucap sopir Bara memberitahu, mereka berhenti tepat di depan toko kue triplets cake.
"Oh jadi itu toko kue yang Ken sukai? Apa bapak yakin?" tanya Bara meyakinkan.
"Ya tuan, saya yakin ini alamat toko kue yang di berikan oleh bibi Milah. Memang kenapa tuan?" tanyanya bingung dengan tuannya itu.
"Toko ini kecil sekali, saya ragu." sahut Bara begitu tidak yakin.
"Emh mungkin toko nya memang kecil, karena yang pernah saya dengar, jika toko ini baru saja buka tuan." ujar sopir itu.
"Emh baiklah, bapak turun, pesankan kue yang Ken suka, lalu tanyakan pada penjual kue itu apa mereka menerima pesanan kue ulang tahun atau tidak?" titah nya.
"Baik tuan." jawab nya. Lalu bersiap turun untuk menjalankan perintah majikannya sedangkan Bara ia masih duduk di kursi mobil seraya fokus pada handphone yang ia pegang.
Sopir pun sampai tepat di toko kue itu dan di sambut hangat oleh salah satu karyawan nya.
"Ada yang bisa kami bantu pak?" sapa Susi melihat ada pelanggan yang sudah berumur tapi terlihat bugar, masuk ke dalam toko tempat ia bekerja.
"Saya ingin memesan beberapa kue di sini." jawab nya.
"Oh mari pak silahkan pilih-pilih dulu kue yang anda suka." ucap Susi sopan.
"Baik." sahut pak Bakri seraya melihat-lihat kue yang terpajang di disana. "Oh ya, apa toko kue ini bisa memesan kue ulang tahun?" tanya pak Bakri sekilas menatap kearah Susi untuk bertanya.
"Tentu bisa pak, tapi anda harus memesan sebelum dua hari acara ulang tahun nya dilaksanakan." jelas Susi cepat.
"Apa tidak bisa langsung memesan dengan cepat, karena kebetulan ulang tahun nya besok dan kue harus ada sekarang setidaknya sampai besok acaranya harus ada kue." ujar pak Bakri sedikit berharap.
"Maaf pak sepertinya tidak bisa, karena toko kami masih baru dan juga sedang banyak pesanan, jadi tidak bisa memesan kue secara mendadak, kalau mendadak mungkin kue tidak seperti yang anda inginkan nantinya." jelas Susi dengan sabar.
Mendengar pembicaraan di dalam toko, Tari yang sedang berada di tempat pembuatan kue pun beranjak keluar dan melihat apa yang terjadi di dalam toko.
"Ada apa Susi?" tanya Tari setelah melihat Susi sedang berbicara dengan seorang pembeli.
Susi menjelaskan apa yang di inginkan pembeli itu, Tari pun mengerti akan hal itu, dan Tari meminta maaf atas kekurangan toko nya itu, karena memang Tari tidak bisa dadakan saat ia membuat kue, apalagi kue ulang tahun yang memang membutuhkan waktu untuk menghiasi kue nya.
"Maaf apa anda pemilik toko kue ini?" tanya pak Bakri.
"Iya saya pemilik sekaligus pembuat kue di sini." jelas Tari mengiyakan.
"Bisa kan anda mengusahakan untuk membuat kue pesanan saya, kue itu pesanan majikan saya nona, putra nya besok akan berulang tahun yang ke delapan tahun, majikan saya ingin sekali membelikan kue spesial untuk putra semata wayangnya itu." jelas pak Bakri memohon semoga Tari bisa menyanggupinya. "Majikan saya akan bayar mahal untuk harga kue yang anda buat nona jika anda bisa membuatkan kue ulang tahun ini." sambung nya lagi.
"Maaf pak saya tidak bisa, emmh mungkin bapak bisa pesan di toko lain." tawar Tari mencoba menawarkan.
"Sebentar ya nona, saya terima dulu teleponnya." ijin pak Bakri sesaat ia menerima panggilan telepon dari tuannya itu.
"Bagaimana pak bisa? Kenapa lama sekali??" kesalnya karena sudah lama menunggu di dalam mobil.
"Maaf tuan." ucap pak Bakri lirih seraya menjelaskan apa yang sedang ia lakukan di toko itu.
__ADS_1
"Saya akan masuk ke sana dan bicara dengan pemilik toko nya!" ucapnya mendengar penjelasan sopirnya membuat Bara yang angkuh merasa tidak terima, pemilik toko kue itu menyuruh untuk mencari toko kue lainnya.
"Baik tuan." jawab pak Bakri patuh.
"Nona tuan saya akan kesini, beliau ingin berbicara dengan anda." ujar pak Bakri setelah panggilan telepon nya Bara tutup.
"Oh iya silahkan." jawab Tari tenang.
Pak Bakri pun keluar toko untuk menunggu tuannya yang akan masuk ke dalam toko, tak lama Bara pun sampai dan langsung menemui pak Bakri yang sedang berada di depan pintu toko.
Tari pergi ke tempat pembuatan kue untuk melihat kue yang sedang ia panggang, karena tidak hanya pak Bakri dan Bara saja yang membeli kue nya sehingga kedua karyawatinya sibuk melayani para pembeli.
Bara masuk ke dalam toko, di ikuti oleh pak Bakri dari belakang. "Mana pemilik toko kue ini? Saya ingin bertemu dengan nya!" ucapnya dengan nada tinggi dan terlihat sangat angkuh.
Susi yang mendengar suara tinggi salah satu pembeli nya itu pun langsung dengan cepat memberi tahu kepada Tari. Tari yang di beri tahu ada salah satu pembeli ingin bertemu dengan nya pun langsung dengan cepat berniat untuk menemuinya.
Tari yang melihat seorang laki-laki yang tengah berdiri membelakangi nya dan melihat juga bapak tua yang tadi akan memesan kue ulang tahun itu pun terus melangkahkan kakinya menuju si pembeli, yang terlihat sedang memindai kue-kue yang ia jual itu.
"Maaf tuan, anda mencari saya?" sapa Tari pelan menatap punggung yang sangat kokoh itu.
Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya, lalu Bara membalikkan tubuhnya sesaat mendengar suara lembut yang sedang menyapa nya.
"Apa anda pem..." ucapan nya terpotong saat ia berhadapan dengan perempuan di hadapannya yang sangat ia kenal.
Deg. "Anda?" ucap Bara dan Tari bersamaan secara terkejut seraya saling menunjuk dengan jari mereka.
"Anda perempuan itu?!" kejut Bara menatap tajam, tidak percaya jika dirinya akan di pertemukan kembali dengan perempuan yang pernah membuat nya kesal dan marah karena membuat dirinya rugi besar.
"Anda masih mengingat saya ternyata." ejek Bara dengan tersenyum sinis.
"Anda juga masih mengingat saya!" Tari tak mau kalah menantang dengan nada ketus nya.
"Oh jadi toko cake kecil ini milik anda?!" tanyanya meremehkan.
Tari yang merasa di remehkan pun merasa kesal. "Ya ini toko kue saya, apa ada masalah?!" tanya Tari penuh penekanan.
Bara tersenyum sinis. "Sudahlah, saya tidak mau berlama-lama berurusan dengan anda, cepat katakan berapa ya harus saya bayar untuk kue yang ingin saya pesan." tanpa basa-basi Bara berucap seperti itu, membuat Tari mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Begini nona, beliau ini adalah tuan saya yang akan memesan kue ulang tahun yang tadi saya bicarakan." celetuk pak Bakri menengahi.
"Tadi saya sudah jelaskan pada bapak kan, jadi mohon maaf kami tidak bisa menerima pesanan mendadak, apalagi kue sesuai keinginan." jelas Tari memohon maaf pada pak Bakri bukan pada Bara, ia terlalu malas jika berurusan dengannya.
"Apa anda tidak mau memikirkan kembali penawaran tuan saya nona?" tanya pak Bakri mencoba menawarkan kembali.
"Maaf pak kami tidak bisa, mohon maaf sekali karena pesanan kami sedang banyak dan kami harus mendahulukan pesanan yang terlebih dulu memesan kepada kami, mungkin ada toko kue lainnya yang bisa menyanggupi pesanan tuan anda pak." ucapnya tanpa menganggap Bara ada di dekatnya.
Bara yang merasa kesal karena sikap Tari yang tidak mau menerima pesanan nya pun angkat bicara dengan nada yang kesal. "Anda hanya penjual kue kecil tapi sudah menolak penawaran saya, sombong sekali! Menolak rezeki" sinis Bara menatap ke arah Tari dengan tatapan dingin.
"Saya bukan menolak rezeki tuan yang terhormat, tapi saya mendahulukan pelanggan saya yang sudah memesan kue sebelum anda memesan. Memang toko saya ini kecil, lalu kenapa anda mau memesan kue dari toko saya?" ucap Tari kesal karena laki-laki di depannya ini begitu sombong dan telah menghina nya.
__ADS_1
Bara diam di seperkian detik menatap perempuan di hadapannya itu. "Kalau saja putraku tidak menyukai kue buatan anda, saya tidak akan SUDI menginjakkan kaki saya kesini, bahkan untuk melewati toko anda ini saya tidak akan mau!" ucapnya dengan nada dingin dengan penuh kesombongan.
Deg... Tari mematung mendengar ucapan laki-laki sombong itu. "Putra?" "Menyukai kue?" gumam Tari pelan. "Apa putra yang dia maksud adalah Angkasa?" lirih nya dalam hati. "Dia pasti sama berulang tahun besok seperti kedua saudara kembarnya.
"Kita pergi saja dari toko ini, cari toko lain saja yang lebih bagus dan enak, datang ke sini membuat waktu ku terbuang sia-sia." ucap Bara sangat marah seraya melangkahkan kakinya dengan cepat dengan di ikuti oleh sopirnya.
"Tunggu tuan." teriak Tari saat ia tersadar dari lamunannya.
Bara dan sang sopir pun membalikkan tubuhnya. Lalu Bara menatap ke arah Tari dengan mimik wajah yang masih sangat kesal. "Apa anda berubah pikiran?" tanya Bara dengan tatapan sinis nya. "Saya sudah tidak tertarik. Membuang waktu ku saja!" gerutunya hendak pergi.
"Tuan tunggu sebentar!" teriak Tari kembali.
"Kenapa lagi, saya tidak ada waktu!" ucap Bara dengan angkuhnya. "Urus pak apa maunya perempuan itu!" titah Bara seraya melenggang pergi menuju mobilnya. Sedangkan pak Bakri masih berdiri di sana menuruti apa yang di titah kan majikan nya.
"Tunggu sebentar pak." ucap Tari namun sembari pergi kearah dimana tempat pembuatan kue.
Tak lama Tari pun keluar. "Ini pak ambil saja." ucap Tari seraya menyerahkan sebuah kotak yang berisi kue ulang tahun. Ya Tari membuat tiga kue ulang tahun, setiap tahun Tari membuat tiga kue, untuk Langit, Bintang dan juga Angkasa. Bahkan terkadang kedua anak selalu bertanya kenapa dirinya selalu membuat tiga kue ulang tahun, Tari selalu mengelak dan menjawab itu kue untuk dirinya karena ingin merayakan bersama kedua anaknya, dan ntah percaya atau tidak dengan alasan itu, namun kedua anaknya tidak merasa curiga itulah yang paling penting untuk Tari.
"Ini...?" ucap pak Bakri.
"Itu kue ulang tahun pak, kebetulan sekali besok, kedua anak saya sama-sama akan berulang tahun." jelas Tari yang tahu dengan kebingungan pak Bakri itu.
"Lalu kenapa anda berikan kepada kami nona, bagaimana dengan anak nona yang sedang berulang tahun itu jika kue buatan ibunya di berikan kepada orang lain?" tanyanya merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa pak, kedua anaknya saya akan mengerti, mereka dengan kue biasa saja sudah sangat bahagia." jelas Tari santai.
"Oh seperti itu ya, baiklah akan saya ambil kue ini, tuan muda saya pasti akan senang mendapatkan kue dari orang yang sudah membuat kue kesukaan nya." ujar pak Bakri. "Berapa untuk harga kue ini nona? Tuan saya pasti akan membayar nya, berapa pun juga." ucapnya dengan senyumnya.
"Tidak usah pak, saya iklhas memberikannya, apalagi untuk seorang anak yang akan berulang tahun." ucap Tari dengan tulus. "Oh ya, ini tolong berikan kepada anak majikan anda itu ya." ucap Tari seraya menyerahkan paper bag berisi kue kering.
"Wah terima kasih nona, den Ken pasti akan senang sekali." ujarnya. "Terima kasih nona saya ucapkan sekali lagi, atas nama tuan saya, saya meminta maaf atas sikap tuan saya tadi kepada anda." ucap pak Bakri dengan tulus.
"Tidak apa-apa pak, anda tidak salah, yang salah tuan sombong anda itu." kesal Tari seraya melirik sekilas ke luar melihat mobil pria sombong itu yang sedang terparkir di depannya.
pak Bakri tersenyum. "Maaf nona." ucapnya "Kalau begitu saya permisi nona." pamitnya.
Tari mengangguk. "Ya silahkan pak." jawab Tari dengan tersenyum ramah.
Sedangkan Bara yang diam di dalam mobilnya merasa kesal dan apa yang di lakukan sopirnya itu. "Kenapa lama sekali, perempuan itu mau apa?" tanyanya penasaran setelah sopirnya masuk ke dalam mobilnya.
"Ini tuan, nona itu memberikan kue ini untuk den Ken secara gratis." ucap pak Bakri menjawab pertanyaan tuannya itu seraya memperlihatkan kue yang ada di tangan nya.
"Kue? Gratis?" tanya Bara tidak percaya. "Tadi dia dengan sombongnya tidak mau menerima pesanan kue, lalu sekarang apa maksudnya?" Bara heran dengan perempuan itu. "Apa sudah gila?" tanya Bara tidak mengerti. "Dia tidak mau dibayar?" tanya Bara memastikan kembali.
"Iya tuan nona itu menolak ketika saya akan membayar kue ini. Nona itu mengatakan jika dirinya membuat kue itu untuk kedua anaknya yang akan berulang tahun juga, sama dengan tanggal kelahiran den Ken, jadi nona itu pun memberikan kue buatannya itu untuk den Ken secara gratis." ujar pak Bakri menjelaskan.
Bara semakin tidak mengerti Lalu dengan cepat ia mengambil sebuah cek di dalam tasnya lalu mencantumkan sebuah tanda tangan di sana tanpa menuliskan angka. "Serahkan cek ini padanya, katakan padanya tulis nominal di sana, berapa pun jumlah nya, saya tidak mau membalas budi padanya suatu hari nanti!" titah nya menyerahkan sebuah cek itu pada sang sopir. "Saya tidak mau tahu dia harus menerima cek itu, walaupun dia menolaknya!" tegas Bara berkata.
"Baik tuan." jawab nya seraya keluar kembali dari mobil untuk menemui Tari penjual kue itu.
__ADS_1
Bara melihat ke arah luar melihat pak Bakri menemui Tari di sana. "Perempuan itu ternyata sudah memiliki anak, sayang sekali." batin nya merasa kecewa di dalam hati kecilnya jika Tari sudah bersuami. "Ah kenapa dengan ku ini!" gumam nya kesal. "Apa urusan nya dengan ku jika dia sudah memiliki anak dan suami." tegasnya dalam hati. Namun hatinya ntah kenapa merasa kesal. "Sial!" umpat nya kesal
Tari tidak terlihat sudah memiliki anak, jika dia sedang sendirian orang akan mengira jika dia masih single dan jika dia membawa anaknya orang akan mengira mereka adalah keponakan dengan tante nya.