Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kecewa


__ADS_3

Ken menarik lembut tangan Tari yang sedang memegang tangan Ken dengan erat, membuat Tari pun menghentikan langkahnya yang berjalan dengan cepat seraya membawa Ken untuk mencari Bintang.


Tari menoleh ke belakang lalu menatap wajah Ken dengan heran. "Kenapa nak?" tanya Tari dengan keheranan.


"A...aku lelah, aku di sini saja." ucap Ken pelan.


"Kamu tidak mau ikut ibu mencari Bintang adik kamu?" tanya Tari memastikan.


"Aku akan istirahat sebentar lalu akun akan cari ke arah sana!" tunjuk Ken ke arah yang berlainan.


"Tidak Ken, nanti kamu hilang dan ibu harus mencari kamu lagi! Bintang saja belum kita temukan." tolak Tari tidak setuju.


"Kita akan bertemu lagi di sini." jawab Ken masih kekeh.


"Serius?" tanya Tari meyakinkan.


"Ya." sahut Ken cepat dan singkat.


Tari pun menghela nafasnya, ia merasa kasihan pada ada Langit mungkin ia memang lelah. "Baiklah kalau begitu, tapi ingat ya, kita akan bertemu di sini lagi, dan sebelum ibu kembali kamu harus menunggu ibu di sini!" titah nya. "Ibu akan mencari adikmu." lanjut nya.


"Ya, aku akan menunggu di sini!" ujar Ken dengan yakin.


"Ok, kamu tunggu di sini! Ingat jika ibu belum datang jangan kemana-mana, kamu bisa duduk di sana." tunjuk Tari pada sebuah bangku untuk menunggu. Ken mengangguk.


Melihat kepergian Tari, Ken terus menatap kemana perempuan itu pergi, ada rasa kehilangan dan rasa pilu di hati nya.


Ken memegang dadanya dengan pandangan yang terus menatap ke arah Tari, saat ini ia benar-benar merasakan kehangatan seorang ibu dari dekapan Tari, Ken benar-benar merasakan pelukan yang membuat hatinya tenang dan damai saat di dekat nya.


"Apa itu rasanya pelukan seorang ibu?" batin Ken sendu. "Dekapan nya membuat ku nyaman, apa itu yang namanya kasih sayang seorang ibu, begitu khawatir saat anak nya berada jauh dengan nya?" sambung nya seraya masih memegang dadanya yang terasa berdenyut.


"Bahagia sekali anak-anak itu memiliki ibu sepertinya, dan aku iri dengan mereka karena bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, tidak seperti ku, harus bersusah payah hanya untuk perhatian Daddy ku sendiri." gumam nya lirih. "Bahkan jika aku hilang, Daddy mungkin tidak akan pernah peduli dan tidak akan pernah mencari ku seperti ibu tadi." gumam nya dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihannya.


"Apa aku harus menunggu ibu itu? Aku penasaran dengan anaknya yang mungkin mirip dengan ku, ibu itu tidak buta dan tidak menyadari jika aku bukan anaknya, tapi kenapa dia menganggap ku anaknya kalau putranya itu tidak mirip dengan ku." gumam Ken penasaran.


"Ya aku harus menunggu ibu itu." gumam Ken mantap.


Sedangkan Tari ia terus berkeliling mencari Bintang dan berniat ke tempat dimana Tari bisa meminta bantuan para petugas Mall. Namun saat Tari akan menuju tempat itu, ia melihat kedua anaknya yang juga sama-sama sedang mencari.


Tari setengah berlari menghampiri kedua anaknya itu saat ia melihatnya. "Langit, Bintang." panggil Tari membuat kedua anaknya langsung menoleh pada asal suara yang sangat mereka kenali.


"Ibu..." sahut mereka dengan cepat secara berbarengan.


"Bintang kemana saja kamu?" tanya Tari dengan cepat dan penuh dengan nada khawatir.

__ADS_1


"Aku ada kok Bu, aku sama kak Langit cari ibu." jawab Bintang polos.


"Kok cuma Bintang yang ibu khawatir kan!" langit merajuk dengan wajah yang kesal karena cemburu.


"Sayang, kamu kan tidak apa-apa, lagi pula tadi kita sama sama-sama cari Bintang. Untung saja kamu bisa bertemu dengan Bintang lebih dulu, ibu lega dan bersyukur sekali, terima kasih ya Langit nya ibu." rayu Tari pada Langit yang tampak masih cemberut.


"Sayang... masa kamu cemburu sama adikmu sendiri, putra ibu ini kan anak ibu yang paling the best di mata ibu." goda nya lagi.


"Hemm ibu paling bisa bikin aku lemah." ucap Langit tak terima.


Tari memeluk kedua anaknya itu dengan rasa sayang. "Kalian jangan ulangi kejadian seperti ini lagi! Kalian tahu ibu sangat khawatir dan takut sekali tadi, ibu tidak bisa membayangkan jika kalian hilang." jelas Tari tidak suka.


"Maaf ibu, tapi kami tadi berniat mencari ibu ke toilet karena ibu begitu lama, kami khawatir terjadi sesuatu pada ibu." jelas Langit dan Bintang lirih.


Tari menarik nafasnya begitu dalam saat mereka menjelaskan kenapa mereka nekad keluar dari rumah es krim itu. "Maafkan ibu ya anak-anak, tadi di toilet begitu penuh dan ibu mengantri, ibu hanya takut dan khawatir ada apa-apa pada kalian berdua." ujar Tari.


"Kami juga minta maaf ibu, karena sudah membuat ibu khawatir." lirih kedua anaknya.


"Ya sudah, karena kalian sudah ketemu ayok kita pulang saja." ajak Tari pada mereka.


"Ayok Bu kita pulang saja." sahut Langit, sedangkan Bintang ia cemberut karena masih betah berada di mall itu.


"Lho Bintang, kenapa kamu cemberut?" tanya Tari saat melihat mimik muka Bintang.


"Lain kali ibu akan ajak kalian lagi ke sini." bujuk Tari. "Sekarang sudah sore dan hampir mau magrib, kita pulang saja ya, ibu janji akan mengajak kalian lagi." seru Tari membujuk kembali Bintang.


"Iya Bin kita pulang saja, aku juga sudah lelah." sambung Langit menyetujui ajakan Tari ibunya.


"Tapi ibu janji kan, ajak kita lagi kesini!" ucapnya serius.


"Ya ibu janji." jawab Tari yakin.


"Ya sudah ayok kita pulang kak." ajak nya pada Langit serta meraih tangan Langit untuk ia pegang.


"Ish jangan pegang-pegang!" ucap Langit dengan ketus. "Bin kamu lupa apa? Aku tidak suka di pegang-pegang seperti ini!" kesal nya membuat Bintang semakin memonyongkan bibirnya.


"Aku sebel sama kak Langit, di pegang sama adik nya saja tidak mau!" kesal nya Bintang.


Mendengar kekesalan Bintang, Langit hanya mengangkat kedua bahunya acuh da cuek seraya melangkahkan kakinya menjauh dari sang adik yang hanya berbeda beberapa menit.


"Langit jangan seperti nak, ya sudah Bintang kita pulang ya, jangan pikirkan kakak kamu." ucap Tari menenangkan Bintang. "Eh tunggu Langit!" panggil Tari pada Langit, ia jadi mengingat akan pakaian yang di pakai oleh Langit.


"Langit, kapan kamu berganti pakaian nak? Seingat ibu tadi kamu bukan pakai baju seperti ini?" tanya Tari heran.

__ADS_1


Langit yang sudah menghentikan langkahnya itu menatap Bintang dan Bintang pun sama membalas tatapan kakaknya, mereka saling pandang kebingungan.


"Aku tidak berganti pakaian ibu, untuk apa juga aku berganti pakaian? Are you Ok ibu?" Langit mengkhawatirkan keadaan Tari karena ibunya merasa ada yang aneh.


"Iya ibu, kak Langit tidak berganti pakaian kok dari tadi pakaian nya memang ini, aku jamin 100 % karena kak Langit dari tadi sama aku terus ibu." jelas Bintang dengan begitu yakin.


Tari mengerutkan keningnya menjadi berlipat. "Bagaimana bisa?" gumamnya pelan. Ia terus berpikir tadi melihat Langit bukan dengan pakaian seperti itu, dan Tari ingat jika ia tadi sempat memegang tangan nya. Lalu di seperkian detik Tari melototkan kedua matanya karena terkejut. "Angkasa?" ucapnya lirih.


Sedikit syok dengan keadaan yang terjadi, Tari pun tersadar. "Langit, Bintang, ibu akan pergi sebentar, kalian tetap di sini jangan kemana-mana!" ucapnya cepat lalu meninggalkan kedua anaknya yang terpaku saling pandang melihat aneh sikap ibu nya itu.


"Kak ada apa dengan ibu?" tanya Bintang menatap kakak kembarnya.


"Mana aku tahu." jawab Langit sama-sama tidak mengerti.


"Ibu aneh kak." lanjut Bintang.


"Iya, ya sudah kita tunggu saja ibu di sini." ucap Langit mengajak adiknya dan di angguki oleh Bintang.


Sedangkan Tari ia terus berlari menuju dimana dirinya dan Angkasa tadi berpisah, dia tadi bilang jika dia akan menunggunya di sana.


"Semoga itu memang kamu nak, Angkasa putra ibu." batin Tari penuh harap.


Sesampainya Tari di tempat dimana mereka berpisah, Tari mengelilingi pandangan nya mencari sesosok yang ia cari dan ia rindukan, setidaknya Tari bisa bertemu dengan nya saat ini, walaupun anak itu mungkin akan kebingungan dengan sikap Tari, dan anaknya itu pasti tidak akan tahu siapa dirinya, namun Tari sangat merindukan putra keduanya itu, ia sungguh amat sangat menyesal telah memberikan nya pada laki-laki yang sangat Tari benci itu. Tari sungguh tidak tahu dimana Angkasa dan laki-laki itu tinggal.


"Hah Angkasa kamu kemana nak?" lirih Tari yang tidak menemukan putra nya itu.


"Apa kamu sudah pergi?" gumamnya.


"Angkasa, apa ini memang takdir, mempertemukan kita secara tidak sengaja tapi kini kamu sudah pergi lagi." lanjut Tari ia merasa kecewa karena Angkasa sudah tidak ada di tempat. Tari mencari di sekitar nya namun tetap tidak ada.


"Angkasa, maafkan ibu nak. Ibu tidak mengenali mu." lirih Tari merasa sangat sedih.


Sebelum Tari sampai, Angkasa memang masih menunggunya, ia sungguh penasaran dengan ibu itu, ia merasa ingin bertemu dengan nya lagi dan Angkasa juga khawatir apa ibu itu sudah menemukan anak nya atau tidak, Angkasa masih tetap menunggu. Namun Teddy datang menghampiri nya, menjemput Angkasa yang sudah lama tidak kembali ke parkiran dimana Teddy menunggu nya.


"Tuan muda Ken, apa anda sudah mengambil barang yang ketinggalan itu? Jika sudah ayok kita pulang, tuan Bara menyuruh saya untuk segera mengantarkan anda pulang." jelas Teddy lembut.


Ada keraguan yang di rasakan oleh Angkasa, ia melihat ke arah depan mencari ibu itu, namun tidak ada, ia sungguh sangat kecewa.


Angkasa menghela nafasnya panjang. " Iya ayok kita pulang." ucapnya tidak semangat.


"Mari tuan, biar saya saja yang membawa barang anda tuan muda Ken." tawar Teddy, lalu Angkasa pun menyerahkan tidak pikir panjang.


Angkasa terus saja melirik ke belakang, ia sungguh berharap jika ibu itu kembali dan mencarinya, namun hanya kekecewaan yang Angkasa rasakan.

__ADS_1


Teddy yang mengikuti tuan mudanya dari belakang, ia sangat heran ada apa dengan tuanya itu. Namun Teddy tidak berani bertanya.


__ADS_2