
"Su... surat atas hak asuh anak?" lirih Tari dengan dengan menjatuhkan surat itu karena terlalu terkejut.
"Ya, jika kamu tidak mau menerima pernikahan kita, saya dengan senang hati akan menceraikan mu dan tidak akan mempersulit perceraian kita." ucap Bara dengan santai. "Tapi... hak asuh atas anak-anak akan jatuh kepada saya." sambung nya cepat.
"Apa?" tanya Tari menatap Bara dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Sudah jelas kan di dalam surat itu, dan mau tidak mau semua ada dalam keputusan yang akan kamu ambil nantinya, saya hanya memberikan pilihan yang terbaik." terang Bara seraya menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya serta kedua tangannya ia lipat membuktikan jika dia ada seseorang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tidak bisa siapapun tandingi.
"Yang terbaik. hah. Yang terbaik apa?" gumam Tari dengan suara bergetar dan air mata yang mulai jatuh tidak tertahankan.
"Jangan mengeluarkan air mata palsu, saya tidak akan terpengaruh. Saya tidak mau berbasa-basi cepat tanda tangan setuju atau tidak agar semua lebih jelas." paksa Bara tanpa hati.
Tari pun dengan cepat meraih kembali surat itu lalu menandatangani surat itu, perjanjian dimana pernikahan dan hak asuh atas anak mereka di pertaruhkan.
"Laki-laki tidak memiliki perasaan!" umpat Tari marah tertahan seraya pergi dari ruangan dimana mereka berdiskusi.
Bara diam tidak mengatakan apa-apa lagi, ia hanya melihat siluet Tari yang keluar dengan rasa marah terhadapnya.
Lalu Bara tersenyum licik. "Sekarang kamu sudah dalam genggaman ku, dan permainan akan segera di mulai." desis Bara tidak sabar. "Seberapa kuatnya kamu nona Mentari jika kita dalam satu rumah dan aku akan terus menyiksa mu siang dan malam.
Bara keluar ruangan kerjanya dan memanggil ketiga anak kembarnya, di dalam hatinya Bara benar-benar merasa tidak menyangka jika dia selama ini memiliki tiga anak kembar, hati nya sangat bahagia apalagi melihat Bintang ternyata dia adalah anak kandungnya juga.
Ini kali pertamanya Bara merasakan bagaimana menjadi ayah yang sebenarnya, melihat Ken juga yang terlihat bahagia saat berkumpul dengan kedua saudara kembarnya membuat Bara ingin selalu berkumpul seperti ini.
Tari masih ada di rumah nya bersama ketiga anak-anaknya, mereka terlihat sangat bahagia bersama Tari. Tari langsung menemani anak-anak setelah keluar dari ruangan kerja Bara tadi.
"Anak-anak." panggil Bara.
Ketiga anak itu menoleh kepada Bara dengan cepat sedangkan Tari hanya melengos malas melihat laki-laki arogan itu.
"Ada sesuatu yang akan Daddy sampaikan kepada kalian bertiga." ucap Bara dengan serius.
"Apa Daddy?" tanya Ken yang tidak canggung tidak seperti Langit dan Bintang yang masih menjaga jarak dengan Bara.
"Daddy dan ibu kalian sudah menikah, dan ibu kalian akan tinggal di sini." jelas Bara memberi tahu dan Tari menghela nafasnya panjang.
"Apakah itu benar Daddy? Ibu?" tanya Ken bersemangat bertanya kepada Bara dan Tari secara bergantian.
"Iya Ken." sahut Bara sedangkan Tari mengangguk dengan malas.
"Yeay, akhirnya aku punya Daddy dan juga ibu serta kedua Langit dan juga Bintang." teriak Ken penuh semangat. "Yeay...."
Bara tersenyum tipis melihat nya sedangkan Tari tersenyum lemah tidak senang.
"Langit, Bintang kita akan tinggal satu rumah dengan Daddy dan juga ibu, apa kalian bahagia?" tanya Ken memastikan.
"Ya aku bahagia." sahut Bintang dengan senyum bahagia nya sedangkan Langit ia menjawab dengan senyuman saja, ia melihat ibunya yang terlihat tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Ibu kenapa ibu terlihat sedih, apa ibu tidak senang?" tanya Langit melihat ibunya terlihat sedih. "Jika memang ibu tidak bahagia dengan pernikahan ibu dan Daddy, tidak usah di paksakan." ucap Langit lebih mengerti dengan ekspresi ibunya.
Tari merasa tidak nyaman anak nya sampai mengetahui kesedihannya. "Tidak begitu sayang, ibu bahagia kok menikah dengan Da...daddy kalian, jangan berpikir seperti itu ya, kalian bahagia kan jika berkumpul seperti ini, ini kan keinginan yang kalian mau selama ini?" lirih Tari mengingat keinginan ketiga anak kembarnya.
"Ya ini memang keinginan kami, tapi ibu jangan merelakan kebahagiaan ibu demi kebahagiaan kami. Jika ibu merasa tidak nyaman jangan memaksakan Bu, karena kami ingin ibu juga ikut bahagia bersama kami." pikir Langit yang sangat dewasa.
"Tidak nak, ibu bahagia kok dan senang melihat kalian bahagia seperti ini." lirih Tari berkaca-kaca. "Kalian bisa bertemu dengan ayah kandung kalian yang selama ini kalian tanyakan, maaf karena ibu sudah menyembunyikan identitas ayah kandung kalian. Maaf juga ibu belum memberikan kebahagiaan untuk kalian bertiga." ucap Tari di tengah isak tangisnya dan memeluk ketiga anak kembarnya yang sama-sama terisak-isak.
Tari mengusap kepala anak-anaknya satu persatu dengan sayang. Mereka tidak boleh tahu permasalahan antara dirinya dan juga Bara. "Sudah! Kita hentikan acara tangis ini, ini hari bahagia kalian cepat kalian peluk Daddy kalian yang sangat kalian rindukan selama ini." titah Tari dengan mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
Ketiga anaknya itu memandang wajah Tari dengan sendu lalu mereka pun mengusap air mata Tari yang masih kurang ajar membasahi pipinya. "Ayok!" titah Tari dengan tatapan lembut menatap satu persatu wajah anak kembarnya.
Bara yang menyaksikan drama antara ibu dan ketiga anaknya merasa terenyuh melihatnya dengan mata nya yang ikut berkaca-kaca juga. Lalu ketiga anak-anaknya itu pun menatap Bara dengan tatapan lembut mereka yang penuh dengan kerinduan, Ken pun sama ia rindu sesosok ayah yang menyayanginya walaupun Ken paling banyak bertemu dengan Bara Daddy nya.
Ketiga anaknya itu berlari memeluk Bara yang sudah siap merentangkan kedua tangannya untuk memeluk ketiga anaknya dan itu di sambut oleh ketiganya.
Bara memeluk ketiga anak kembar nya dengan rasa iba dan penuh rasa sayang, ini kali pertamanya mereka berpelukan, karena hari itu juga mereka baru tahu, Bara adalah Daddy nya dan Bara baru tahu dia memiliki tiga anak kembar dari perempuan yang ia hamili dengan tidak kesengajaan, tapi Bara sangat bahagia mendapatkan kabar bahwa mereka adalah anak kandungnya.
***
"Tari maaf kan Omah?" ucap Omah Mayang saat Tari menelpon nya.
"Ini bukan salah omah, omah tidak perlu meminta maaf kepada ku." jawab Tari.
"Apa yang dia lakukan Tari, cerita kepada Omah Tari?" tanya Omah Mayang khawatir mendengar Tari terdengar terisak-isak.
"Coba ceritakan Tari sebenarnya ada apa?" Omah penasaran.
Tari pun menceritakan semuanya kepada omah Mayang tidak ada yang di sembunyikan oleh Tari. Tidak di kurangi atau pun di lebih-lebihkan.
"Omah, aku... aku sangat menyesal sekarang. Menyesal karena sudah memberikan Ken kepada dia." Isak Tari. "Sekarang dia akan mengambil hak asuh atas anak-anak ku jika aku tidak mau menerima pernikahan ini, dia akan membawa anak-anak ku begitu saja, dia tidak tahu bagaimana sulit nya aku memperjuangkan mereka, dari mengandung sampai aku melahirkan, tapi sekarang dia seenaknya mengakui jika mereka adalah anak-anaknya, aku frustasi omah." terang Tari dengan lirih.
"Ya Tuhan, dia benar laki-laki yang tidak memiliki perasaan." geram omah mendengar cerita Tari.
"Omah maaf hari ini mungkin aku tidak akan bisa pulang, untuk sementara aku akan tinggal di sini." ujar Tari. "Omah maaf kan aku sudah sering merepotkan mu." ucap Tari dengan sendu.
"Tari kamu tidak pernah merepotkan omah sama sekali, selama ini kamu lah yang berjuang sendiri dalam hal apapun Omah hanya menemani mu saja tidak lebih, kamu perempuan hebat nak, omah mau kamu bahagia bukan seperti ini terkekang dalam pernikahan yang selama ini kamu tidak inginkan." ujar omah sedih.
"Ya aku tahu, tapi ini adalah pilihan ku omah demi anak-anak ku aku rela asalkan mereka bahagia." balas Tari.
"Omah heran dengan laki-laki itu, kenapa mesti memaksakan sebuah pernikahan yang sama sekali tidak kalian inginkan, apa dia jatuh cinta kepada kamu Tari? Atau memang dia memiliki niat jahat kepada kamu?" omah sangat tidak terima, ia tahu jika Tari tidak mau melakukan pernikahan ini.
"Aku tidak tahu Omah, namun jika dia jatuh cinta padaku itu tidak mungkin terjadi, dia begitu keras padaku tidak ada kelembutan yang dia tampilkan padaku. Aku yakin dia memang memiliki rencana jahat padaku." terang Tari sangat yakin.
"Kamu harus hati-hati nak, kamu bilang dia sangat kaya dan berkuasa, memiliki anak kembar mu saja dia dengan begitu mudahnya, apalagi jika kamu berada di sana dia akan berbuat jahat, omah jadi merasa khawatir padamu Tari." cemas Omah begitu terdengar.
"Omah tidak usah khawatir, aku akan jaga diriku dengan baik." jawab Tari menenangkan pikiran omah tentang dirinya.
__ADS_1
Omah Mayang menghela nafasnya panjang. "Omah percaya kepadamu Tari, ingat jika ada apa-apa kamu telpon Omah, sebisa mungkin Omah akan membantumu." ucapnya penuh.
"Terima kasih omah." panggilan terputus Tari sedikit lega setelah bercerita kepada Omah Mayang tentang segala yang telah terjadi pada hidupnya.
"Aku memang harus berhati-hati kepada laki-laki itu, aku tidak tahu bagaimana sifat aslinya, namun melihat dari arogan dan keras nya sikap dia terhadap ku, aku yakin dia memiliki sifat yang sangat buruk." batin Tari sedikit cemas. "Dan satu lagi, dia sangat licik!" tambah Tari.
Saat Tari tengah diam di belakang rumah mewah nan megah itu, tiba-tiba anak-anaknya memanggil.
"Ibu..." panggil mereka serempak langsung memeluk tubuh Tari yang mungil sedangkan ketiga anaknya cukup tinggi di usia mereka yang baru saja menginjak 8 tahun itu. Tari yang memiliki tinggi 165 cm sedangkan Bara memiliki tinggi 180, dan anaknya mengikuti tinggi dari ayah kandungnya.
"Kenapa ibu ada di sini, ayok masuk temani kami main." ajak mereka.
"Iya ibu ayok kita main." ajak Bintang.
Tari tersenyum tipis. "Baiklah, ayok!" Tari mencoba menyembunyikan apa yang ada dalam pikirannya agar anak-anak tidak ikut tahu tentang apa yang mungkin ke depannya akan terjadi.
"Ibu apa ibu ingin melihat semua karya yang aku buat? Semua aku simpan di dalam kamar ku. Ibu kan belum melihatnya." ajak Ken penuh semangat.
"Karya? Emh ok." jawab Tari penuh semangat.
"Yeay, terima kasih ibu." ucap Ken dengan terharu dan penuh semangat.
"Sama-sama Ken."
"Huh pamer!" cebik Langit dengan cemberut.
"Biarkan saja, aku ingin ibu kita melihatnya karena sekarang ibu ada di sini." jawab Ken menjawab cibiran saudara kembarnya.
"Biarkan saja kak Langit, ibu kan memang belum melihat hasil karya kak Ken yang menakjubkan itu." puji Bintang membuat Ken mengacungkan jempol kepada Bintang dengan senang.
"Tapi bukan dia saja yang bisa membuat seperti itu, aku juga mampu dan malah lebih keren dari buatannya." Langit tidak terima ia cemburu Bintang lebih memuji hasil Ken.
Melihat ketiga anaknya Tari hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. "Anak-anak, sebenarnya kita mau main atau mau berdebat dan saling mengunggulkan?!" kesal Tari namun dengan nada lembut. "Kalian bertiga itu, anak ibu yang paling pintar dan cerdas, kalian memiliki bakat dan kelebihan masing-masing. Kalian bertiga tetap unggul di hati ibu." ucap Tari lembut namun terdengar tegas seraya menatap ketiga anak kembarnya itu satu persatu.
"Aaaaaa ibu..." lirih mereka langsung memeluk ibunya.
"Aduuuuuh, ibu tidak bisa bernafas." ucap Tari terbata-bata mendapatkan pelukan serangan dari ketiga anak-anaknya.
"Eh sudah-sudah kasihan ibu." ucap Bintang akhirnya mereka pun melepaskan pelukannya.
"Maaf ibu..."
Tari tersenyum melihat tingkah ketiga anak kembarnya. "Kalian manis sekali sih, apalagi sudah berkumpul seperti ini. Ibu jadi tahu semua sikap dan sifat kalian semua." ucap Tari gemas, melihat anaknya berkumpul Tari melupakan segala kesedihan dan ke khawatiran hatinya yang ia rasa saat ini.
Tari dan ketiga anak-anaknya tidak tahu ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka. Bara lah orang yang sedang memperhatikan mereka dari ke jauhan, melihat ketiga anak-anaknya dan satu perempuan yang berstatus ibu dari anak-anaknya membuat Bara merasa belum begitu cukup menggelar sebagai ayah dari ketiga anak kembarnya.
Cukup lama Bara memperhatikan baik nya hubungan mereka, Ken yang telah lama bersama nya selama ini pun begitu nyaman bersama Tari yang baru saja ia kenal dan temui, sedangkan bersama dirinya Ken begitu sangat menjaga jarak. Ada sedikit rasa iri kepada Tari yang bisa membuat anak-anak merasa nyaman berada dekat dengan nya dan itu membuat Bara mengepalkan kedua tangannya dengan sorot matanya yang tajam.
__ADS_1