Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kecelakaan mobil


__ADS_3

"Jangan terlalu memikirkan masalah tadi." ucap Bara melihat Tari diam tak banyak bicara setelah keluar dari rumah sakit.


"Tidak, aku tidak memikirkan nya." sahut Tari dengan sendu.


"Apa kamu ingin membalaskan ucapan dia tadi padamu?" Bara tidak suka dengan diam nya Tari.


Tari menatap aneh pada laki-laki di sampingnya itu. "Balas dendam? Untuk apa?" heran Tari.


"Aku tahu perkataan perempuan tadi membuat mu sedih seperti ini, aku akan memberi dia pelajaran jika kamu mau." tawar Bara dengan enteng.


Tari menarik nafasnya panjang. "Tidak, tidak perlu." tolak Tari. "Aku tidak mau memiliki banyak musuh."


"Lalu kenapa kamu diam saja seperti itu? Jangan terlalu banyak berpikir." Bara ingin sekali tahu apa yang sedang istrinya itu pikirkan.


"Ya kamu benar, seharusnya aku tidak perlu memikirkan nya, karena aku sudah terbiasa di perlakukan seperti itu." ucap Tari dengan pelan.


Bara melirik sekilas pada Tari yang terlihat sangat sendu itu, namun dia tidak berkata apa-apa.


"Antoni, seharusnya kamu menjauhiku karena aku adalah wanita pembawa sial. Di saat orang tidak menginginkan ku kamu malah berada di dekat ku." lirih Tari dengan helaan nafasnya.


Bara menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan mendengar ucapan Tari itu. Lalu menatap Tari dengan tatapan serius.


"Kenapa kamu katakan hal seperti itu?" tatapan Bara masih tertuju pada Tari.


"Karena aku... aku merasa jika aku tidak pantas dengan mu." jawab Tari.


"Seharusnya kamu berdekatan dengan perempuan yang luar biasa bukan dengan perempuan seperti aku. Aku akan membuat mu malu." lirih Tari dengan helaan nafasnya.


"Aku tidak peduli, apapun orang bicara apa tentang mu. Aku bahagia bersamamu apalagi dengan anak-anak kita, dan sebentar lagi aku juga akan memiliki seorang bayi lagi, itu cukup bagiku." balas Bara dengan tatapan seriusnya.


"Apa kamu bicara dari sini?" tunjuk Tari pada dada Bara dengan jari telunjuk nya.


"Ya dari sini." jawabnya dengan sangat yakin dan menggenggam tangan Tari yang berada di dadanya itu.


Tari tersenyum hangat menatap manik mata Bara yang memang tidak terlihat ada kebohongan di sana.


Tari memeluk samping tubuh Bara. "Terima kasih Antoni, kamu laki-laki pertama yang membuat hidupku lebih berarti." ucap Tari dengan sendu.


Bara mengusap punggung Tari dengan lembut. "Terima kasih juga karena kamu membuat ku bahagia, kamu juga memberikan aku sebuah kenyamanan. Terima kasih sudah memberikan anak-anak yang hebat untuk ku." ucap Bara seraya mengelus perut Tari dengan rasa sayangnya dan jahil karena Bara menyelusupkan tangan nya masuk ke dalam perut Tari dengan elusan di perut Tari secara langsung mengenai kulit perutnya lalu ke atas secara perlahan.


"Antoni!" tepis Tari dengan kesal karena jahil nya Bara.


"Hahaha. Maaf aku hilap." jelas nya dengan bercanda.


"Ini di tempat umum, bagaimana jika ada orang lain melihatnya." sebal Tari tidak habis pikir.


"Hahaha biarkan saja." sahut nya cuek seraya menyalakan mesin mobilnya. "Ingat kamu jangan terlalu banyak berpikir, fokus saja dengan kebahagiaan kita." ujar Bara dengan serius. Tari mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.


Saat mobil itu melaju, dering telepon membuat Bara pun menghentikan kembali laju mobilnya.


Sebuah panggilan telepon dari Al.


"Tuan saya sudah menemukan seseorang yang ada di belakang pelaku penusukan nona Tari." jelasnya dengan tidak sabar.


"Ok kita bertemu di kantor saja, saya segera ke sana." ucap Bara dengan cepat seraya memutuskan panggilan itu.


"Ada apa Antoni?" tanya Tari penasaran.


"Al sudah menemukan seseorang yang ada di belakang pelaku penusukan kamu kemarin." jawab Bara dengan cepat. "Tadi polisi menjelaskan jika pelaku kamu adalah orang yang memiliki gangguan jiwa, tapi aku tidak puas dengan itu, aku memerintahkan Al dan anak buah lainnya untuk menyelidiki kasus ini tanpa pihak kepolisian." jelas Bara dengan cepat.


Tari sedikit terkejut dengan penjelasan Bara itu. Namun ia sangat penasaran siapa yang mencoba ingin menusuk nya, sungguh orang itu sangat jahat.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu pulang sekarang." ucap Bara memberi tahu.


"Apa aku tidak boleh ikut ke kantor mu? Aku ingin tahu dan mendengar apa yang akan disampaikan Al padamu." pinta Tari penuh harap.


"Mentari kamu sedang hamil, aku tidak mau membuat mu lelah dan dalam bahaya, nanti setelah aku tahu siapa dalang di balik kejadian kemarin, aku akan langsung memberi tahu mu secepatnya." rayu Bara dengan lembut.


"Tapi..." sela Tari.


"Sayang ikuti apa yang aku katakan!" ucap Bara lembut namun dengan nada tegasnya. "Di luar sangat berbahaya, jika kejadian kemarin terjadi lagi aku yang akan merasa bersalah. Kamu harus ingat sekarang kamu adalah istri ku, aku takut kejadian ini ada hubungannya dengan bisnis ku, anak-anak pun aku sudah memerintahkan beberapa anak buah ku untuk menjaga mereka, selama mereka berada di sekolah." ujar Bara mencoba memberikan sebuah pemahaman.


"Apa seserius itu?" lirih Tari bergumam, Bara mengangguk dengan cepat.


"Baiklah." kecewa yang kini Tari rasakan, namun dia mengerti ini untuk kebaikannya.


"Bersabarlah, aku ingin tahu siapa yang berani berurusan dengan ku, mungkin dulu aku tidak peduli dengan ancaman atau kejadian seperti ini karena aku masih sendiri, tapi sekarang aku harus lebih waspada, karena aku memiliki istri dan juga anak yang harus aku jaga dengan baik." jelas Bara dengan sorot matanya penuh kebencian.


"Ya aku mengerti sekarang." ucap Tari dengan lembut.


"Kamu diam saja dulu di rumah karena itu lebih aman, nanti aku akan menjemput anak-anak di sekolah." ucap Bara dan Tari mengangguk paham.


*


*


*


Di kantor ruangan Bara


"Jadi dalang di balik penusukan itu adalah Tania?!" geram Bara saat ia mengetahui informasi dari Al sang asisten.


"Benar tuan, Tania memang tidak berada jauh di sana, namun cctv dimana dia berada sedang tidak berfungsi. Kami mendapatkan sebuah informasi karena seseorang memberikan sebuah video yang tidak sengaja terekam, dimana Tania sedang menghasut si pelaku dengan ucapan-ucapan yang membuat si pelaku kesal dan marah. Tania melakukan hal itu agar si pelaku terhasut omongan dan mencelakai nona Tari. Dan pada akhirnya pelaku melihat nona Tari seperti istrinya yang sudah menyakiti nya itu. Licik nya Tania ia menggunakan pelaku yang memiliki gangguan jiwa agar terbebas dari hukum dan agar menyembunyikan dia sebagai pelaku utama, karena orang gila tidak akan nyambung saat dia di interogasi." jelas Al tanpa jeda.


"Perempuan itu!" geram Bara dengan sangat marah. "Seharusnya aku melenyapkan dia dari kemarin saat dia berulah, berani sekali dia berurusan dengan ku berkali-kali!" emosi Bara semakin menjadi.


"Apa anda ingin saya saja yang memberikan perempuan itu pelajaran." tawar Al karena ia pikir tuan nya jangan sampai lelah memberikan sebuah pelajaran pada seorang perempuan seperti Tania.


"Tidak! Saya ingin saya sendiri yang memberikan dia pelajaran, agar dia tahu dengan siapa dia berurusan." tolak Bara dengan cepat dengan gertakan gigi.


"Baik tuan." sahut Al dengan patuh.


"Perempuan itu berani sekali berurusan dengan tuan Bara." batin Al melihat tuannya yang begitu sangat marah.


"Lalu apa kamu mencari tahu kenapa ada Leo di rumah sakit saat kejadian kemarin?" tanya Bara saat ia mengingat siapa yang menolong Tari.


"Apa anda mencurigai tuan Leo juga?" tanya Al dengan ragu.


"Saya merasa ada sedikit yang janggal dalam kejadian kemarin, karena beberapa kali laki-laki itu menolong Mentari, aku hanya ingin memastikan saja apa dia memang tulus menolong Tari atau dia memiliki tujuan lain." terang Bara dengan sangat serius.


"Saya mengerti apa yang anda maksud tuan." ucap Al dengan sangat yakin.


"Pergilah! Cari semua informasi yang saya butuhkan!" titah Bara.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." pamit Al dan Bara hanya menatap kepergian Al dengan penuh karena mengingat bagaimana Tania yang ingin mencelakai istrinya itu berulang kali.


***


"Daddy menjemput kami!" seru Bintang dengan senang.


"Iya ayok kita pulang!" ajak Bara pada ketiga anaknya.


"Yeay." seru Bintang dengan heboh saat laju mobil Bara ia jalankan.

__ADS_1


"Daddy sebelum kita pulang aku ingin membeli permen yang ada di toko sana." tunjuk Bintang saat di tengah perjalanan.


"Nanti gigi mu akan sakit jika makan permen terlalu banyak." omel sang kakak mendengar permintaan adiknya kembarnya itu.


"Aku hanya sedikit, lagi pula sudah lama aku tidak memakan permen!" cebik nya dengan sebal.


"Kamu tidak akan mati jika tidak memakan permen." Ken pun menyahut.


"Daddy, hanya sedikit saja kok, aku mohon Daddy belikan ya..." rengek Bintang dengan manja.


"Ok, Daddy akan membelikan permen itu, tapi ingat jangan terlalu banyak, ok!" ucap Bara.


"Yeay... Ok Daddy." seru Bintang dengan sangat senang seraya menjulurkan lidahnya menggoda kedua kakak nya.


Bara pun menghentikan laju mobilnya di sisi jalan dekat toko permen dan coklat itu.


"Kalian tunggu di sini, Daddy yang akan membeli permen itu untuk Bintang dulu." ucap Bara pada ketiganya.


Bara pun bergegas turun dari mobilnya untuk membelikan permen dan coklat yang ada di toko depan itu, meninggalkan ketiga anak kembar nya di dalam mobil, namun saat Bara keluar baru saja melangkah dan tidak jauh dari mobil yang ia parkir, tiba-tiba ia melihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang dan kemungkinan mobil itu akan menabrak mobil Bara yang tengah diam di pinggir jalan, tanpa ba-bi-bu Bara langsung berlari kembali menuju mobilnya membuka pintu mobil itu dan menarik ketiga anaknya yang sedang bercanda di dalam mobil.


Brug.... mobil Bara pun di tabrak oleh pengendara dengan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi itu sehingga mobil Bara yang ada di pinggir jalan pun terdorong hingga jauh lalu berputar sampai mengeluarkan decitan keras di sana.


"Aaaaaa..." teriak Bintang melihat kejadian itu ia sungguh terkejut di buatnya.


Bara memeluk ketiga anak kembarnya yang terlihat sangat syok itu. Hampir saja anak kembarnya mengalami kecelakaan yang luar biasa, jika Bara tidak dengan cepat menarik mereka keluar dari dalam mobilnya.


Mobil mewah Bara pun hancur di bagian belakang sangat hancur, mengingat kejadian tadi jika anak-anak masih di dalam mungkin anak-anak tidak akan selamat dalam kejadian itu.


"Daddy..." Ken dan Langit pun memanggil Bara karena mereka merasa takut.


"Tenang nak ada Daddy di sini." ucap Bara memenangkan, Bintang yang ada dalam gendongan nya sedangkan Ken dan juga Langit memeluk kaki Bara dengan sangat takut.


Orang-orang di sana pun mulai berdatangan melihat betapa hancur nya mobil mewah itu. Bara pun langsung menelpon polisi untuk di tindak lanjuti, sayang nya para pengawal yang Bara perintahkan menjaga ketiga anaknya telah Bara perintahkan untuk bertugas yang lain karena anak-anak berada dengan nya yang merasa aman, namun ternyata Bara salah anak-anaknya masih dalam bahaya.


"Tenang nak, Daddy akan menelpon ibumu." ucap Bara yang melihat dengan tidak tega anak-anaknya ketakutan.


"Hallo Mentari, anak-anak hampir kecelakaan karena seseorang menabrakkan mobilnya pada mobil ku, kamu datang ke jalan xxx ya anak-anak sangat terkejut dan ketakutan." terang Bara dengan cepat.


"A...apa?" kejut Tari. "Ok aku akan segera kesana." ucap Tari walaupun dengan kesadaran yang setengah terkejut.


Dengan cepat Tari menuju jalan dimana tadi Bara sebutkan. Tak lama Tari sampai di jalan itu melihat bagaimana hancur nya mobil yang selalu Bara gunakan, lalu Tari pun melihat keempat orang yang ia sayangi tengah saling memeluk. Betapa bersyukurnya Tari masih bisa melihat mereka dengan mobil yang hancur seperti itu.


"Antoni, anak-anak." teriak Tari memanggil dengan setengah berlari menghampiri Bara dan ketiga anaknya.


"Jangan lari-lari sayang, ingat kamu sedang hamil." Bara mengingatkan Tari dan ada seseorang yang mendelik tidak suka namun karena rasa takutnya ia pun tak banyak bicara.


Tanpa mempedulikan Omelan Bara Tari menghampiri mereka dengan tidak sabar lalu langsung memeluknya.


"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Tari dengan rasa cemas dan khawatir nya. Di tatap wajah tiga anak-anaknya dengan bergantian lalu wajah Bara pun Tari mengecek ke empat orang terpenting dalam hidup nya.


"Kami tidak apa-apa Bu, Daddy yang menarik kami dari dalam mobil, sehingga kami selamat dalam kecelakaan itu." getar Langit berucap.


"Ah syukurlah kalian selamat." ucap Tari merasa lega.


"Mentari bawa anak-anak pulang bersama mu, aku akan menemui polisi untuk memberikan keterangan." ucap Bara menatap Tari. "Langsung pulang." ucapnya lagi dengan wajah yang sangat serius.


"Ya, kamu hati-hati." ucap Tari Bara mengangguk lalu menurunkan tubuh Bintang dan menciumi ketiga anak-anaknya sebelum ia pergi.


"Kalian juga hati-hati!" ucap Bara dan kami pun mengangguk.


"Ibu aku takut." rengek ketiga nya dengan memeluk kaki Tari dengan erat.

__ADS_1


"Ayok kita pulang sayang." ajak Tari dengan lembut. "Tidak apa-apa ada ibu di sini." ucapnya menenangkan.


__ADS_2