
"Ken, ibu harap kamu nanti bisa pergi bersekolah seperti saudara kembar mu." ucap Tari dengan lembut setelah melihat Langit dan Bintang pergi ke sekolah dengan di antarkan oleh sopir pribadi Bara dan dua pengawal.
"Iya Bu, nanti aku akan bicarakan hal ini pada Daddy." jawab Ken dengan setuju, dia memang mau sekali pergi bersekolah dengan kedua saudaranya.
"Bagus, itu lebih baik, daripada kamu hanya diam di kamar saja." Tari tidak suka dengan anaknya yang tidak mau berinteraksi dengan orang lain.
Ken mengangguk. "Jika sudah berkumpul seperti ini, aku semangat untuk pergi ke sekolah." ujarnya dengan mantap.
"Bagus itu." puji Tari dengan mengelus kepala Ken. "Oh ya setelah ini ibu akan pergi menemui omah, apa kamu mau ikut?" tawar Tari.
"Hemm aku tunggu di rumah saja, aku akan menunggu Langit dan Bintang pulang dari sekolah." tolak Ken dengan lembut.
"Baiklah, ibu juga akan kembali siang nanti, ibu akan membuat makanan untuk makan siang kalian. Setelah itu ibu mungkin akan pergi ke toko kue." terang Tari pada Ken dan Ken pun mengangguk penuh.
"Ok Bu, aku senang ibu ada di sini." Ken merasa senang sekali dengan keberadaan Tari di rumah nya.
"Ya, ibu juga senang bisa berkumpul dengan kamu, Langit dan juga si manja Bintang." elus Tari membuat Ken semakin mengeratkan pelukannya kepada Tari.
"Terima kasih Bu, karena ibu mau kembali pada Daddy, dan kita bisa berkumpul secara lengkap, inilah keinginan yang selalu aku pinta pada Tuhan agar aku memiliki Daddy, ibu dan juga saudara seperti Langit dan juga Bintang." lirih Ken dengan sendu.
Tari menarik nafasnya dalam-dalam. "Seandainya kamu tahu perasaan ibu yang sebenarnya bagaimana?" batin Tari membatin.
"Kamu senang?" tanya Tari menatap lekat pada Ken.
Ken mengangguk. "Sangat Bu, aku sangat bahagia." ujarnya dengan senyuman di bibirnya.
Tari pun ikut tersenyum. "Syukurlah." gumam Tari dengan pelan menyembunyikan sesuatu yang ia rasakan.
*
*
*
"Omah apa kabar?" tanya Tari, kini Tari sedang berada di rumah omah Mayang, untuk membawa sebagian pakaiannya untuk ia pakai di rumah mewah nan megah namun terasa neraka bagi Tari.
"Tari..." seru omah senang dengan kedatangan Tari. "Kabar omah baik nak, Baga dengan kabar mu dan juga anak-anak?" tanya omah ada sedikit kerinduan pada mereka.
"Kabar ku dan juga anak-anak baik omah." jawab Tari seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan di ikuti Omah.
"Ah syukurlah Tari, omah sangat merindukan cemas pada kalian, omah takut terjadi sesuatu pada kalian." cemas Omah terlihat jelas.
"Omah tenang saja, aku dan anak-anak baik-baik saja. Maafkan aku ya sudah membuat omah cemas dan juga khawatir." lirih Tari dengan sendu.
"Omah sayang pada kalian, kalian keluarga Omah, jadi wajar omah mencemaskan kalian." ucap Omah seraya menyodorkan minuman kepada Tari.
"Terima kasih Omah." Tari meraih minuman itu lalu menyesap nya sedikit demi sedikit.
"Aku kemari mau membawa beberapa pakaian yang akan aku pakai nanti." terang Tari.
"Apa kamu akan tinggal di rumah suamimu itu?" terlihat Omah seakan tidak merelakan.
"Dia bukan suami ku yang sesungguhnya!" sebal Tari penuh penekanan. "Ya, mau tidak mau, demi kebahagiaan anak-anak ku." ucapnya terdengar kesal.
__ADS_1
"Ya, tapi memang dia suami mu sah secara agama dan hukum." urai omah mengingatkan.
"Ini hanya sementara, aku tidak mau mengakui dia sebagai suamiku!" tegas Tari tidak mau mengakui.
Omah menarik nafasnya. "Tari, sebenarnya Omah sedih sekali saat kamu dan juga anak-anak mu tinggal di rumah laki-laki itu, tapi omah harap tidak hanya anak-anakmu saja yang bahagia, tapi kamu juga."
"Ya aku juga ingin bahagia, tapi mau bahagia bagaimana, jika aku dan dia saja tidak saling mencintai, aku heran dengan dia, untuk apa menjadikan aku sebagai istrinya jika hanya untuk membuatku sakit hati. Aku salah apa padanya, ya memang aku pernah membohongi nya karena masa lalu kita, tapi jika dia ingin menikahi ku lalu memperlakukan aku seperti musuh nya untuk apa coba?" geram Tari.
"Jika dia memang sayang pada anak-anak, tidak harus memaksa ku untuk menjadi istrinya, anak-anak pasti akan mengerti." lanjut Tari penuh sesak.
"Bukan nya kamu tidak rela jika anak-anak mu memiliki ibu tiri, karena kamu tahu rasanya memiliki ibu tiri." Terang omah mengingatkan.
"Itu salah satu alasan aku untuk menerima pernikahan ini, walaupun hatiku begitu sakit dengan perlakuan dia padaku." jawab Tari mengiyakan.
"Kamu harus bersabar, kamu punya sebuah rencana untuk merebut anak-anakmu kan." ucap Omah.
Tari mendesah panjang ia merasa tidak bersemangat. "Omah, sepertinya aku akan sulit untuk mendapatkan hak asuh atas anak-anak ku darinya. Semakin aku tahu tentang dia, semakin kecil semangat aku untuk mendapatkan hak asuh nanti nya." terang nya dengan pilu.
"Kenapa seperti itu?" Omah pun jadi penasaran.
Tari pun menghela nafasnya berat. "Omah laki-laki yang sekarang menjadi suami dan ayah dari anak-anak ku bukan lah orang biasa, dia memiliki uang dan juga kenalan yang hebat. Dan aku... aku hanya seorang perempuan biasa, memiliki toko kue sederhana dan penghasilan yang jauh sekali dengan laki-laki itu. Aku malah takut, aku akan kehilangan ketiga anak-anakku." gumam Tari dengan suara bergetar memikirkan hal yang ia takutkan terjadi.
"Jika kamu takut seperti itu terjadi, omah memiliki jalan keluar dari masalah mu itu." ucap Omah dengan senyum di bibirnya.
Tari mengerutkan keningnya. "Bagaimana caranya?" tanya Tari penasaran, pikir Tari pasti ide Omah itu akan bagus.
"Kamu mau tahu?" omah pun dengan tersenyum menggoda Tari karena terlihat sangat penasaran. Tari mengangguk cepat. "Jadikan dia suami mu yang sesungguhnya." bisik Omah tepat di telinga Tari.
"Maksudnya bagaimana Omah?" bingung yang kini Tari rasakan.
Uhuk... Tari pun menyemburkan minuman yang sedang ia minum tadi setelah mendengar ucapan Omah tadi.
"Maksud omah aku harus melayani dia seperti istri nya yang sebenarnya? Begitu?" Tari pun mengerti dengan maksud Omah itu.
Omah mengangguk cepat. "Bagus kan ide omah?" tanya nya dengan menaik turunkan kedua alisnya.
"Tidak, aku tidak mau!" tolaknya cepat. "Tadi pagi saja dia sudah mengancam ku, jika aku tidak boleh membuat dia sarapan atau pun menyiapkan apapun untuk dia karena aku bukan istri nya. Dan ide Omah ini sangat gila, aku akan malu setengah mati jika aku melakukan ide omah itu, bagaimana jika dia menolaknya. Uh aku tidak mau!" terang Tari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu cara yang baik menurut omah, lagi pula suami dan istri itu ya harus seperti itu. Kalian halal, laki-laki pasti tidak akan kuat jika di goda oleh perempuan." omah pun tidak gentar untuk meyakini Tari dengan ide gilanya itu.
"Aku tidak mau omah." tolak nya secara tegas.
Omah menghela nafas panjang. "Ini ide Omah, jika kamu bisa membuat dia jatuh cinta dan merasa jika dia nyaman dengan mu itu lebih baik, tapi proses itu akan lama, maka lebih baik kamu buat dia butuh dengan kamu, dari hal apapun."
Tari mulai terpengaruh dengan kata-kata omah. "Apapun?" gumam Tari menatap lekat pada Omah.
"Ya apapun." ucap omah dengan anggukan. "Ini demi mendapat hak asuh anak-anak dengan mudah." lanjut omah.
"Baiklah, aku akan mencoba nya, aku akan merebut anak-anakku dari dia secara halus." tekad Tari penuh keyakinan.
Omah tersenyum. "Bagus Tari." omah menyemangati Tari.
"Omah akan membuat kamu dengan dia saling jatuh cinta, Omah akan meminta anak-anakmu untuk menyatukan kalian berdua, seperti nya ini hanya sebuah kesalahpahaman dan hanya butuh waktu saja." pikir Omah melihat Tari dan juga Bara yang sering bertengkar namun terlihat sangat seperti saling membutuhkan membuat Omah merasa gemas melihat mereka. Ya walaupun omah Mayang hanya sekilas mengenal Bara namun sepertinya dia laki-laki yang cocok untuk Tari, lagi pula mereka sudah menikah untuk apa juga mereka harus terpisah di tengah mereka juga ada anak-anak yang selalu menginginkan sebuah keluarga yang utuh.
__ADS_1
*
*
*
Pada malam hari Tari yang sedang berganti pakaian tidurnya terkejut karena pintu ruang ganti terbuka begitu saja, dan siapa lagi pelaku yang membuka pintu itu tanpa mengetuk pintu.
"Aaaa. Tutup!" teriak Tari yang masih belum mengenakan pakaiannya dengan lengkap, tari baru saja memakai celana tidur nya saja membuat Tari menutup bagian tubuhnya yang masih sebagian terlihat jelas oleh Bara.
Bara pun terkejut dengan teriakan Tari itu dia dengan linglung menutup pintu ruangan itu dengan cepat dengan dirinya ikut masuk ke dalam juga membuat Tari semakin berteriak.
"Keluar kamu!" teriak Tari kembali.
Bukan keluar yang Bara lakukan, dia malah dengan cepat menutup mulut Tari dengan tangan nya.
"Berisik! Bagaimana jika anak-anak kita ke sini!" kesal Bara pun terus membekap mulut Tari itu, sedangkan Tari ia terus meronta ingin di lepaskan karena bekapan Bara yang sangat kuat membuat Tari susah untuk bernafas.
"Emmmmm." Tari meronta menarik tangan Bara yang ada di mulut nya bahkan dengan kedua tangannya itu.
Sedangkan lengan Bara yang satunya tidak sadar jika berada di bagian dada Tari yang terekspos dengan jelas karena menahan Tari yang terus memberontak.
"Emmm lepas!" desis Tari.
Bara melepaskan dekapannya karena sadar Tari sudah terengah-engah.
"Gila ya kamu! Kamu mau membunuh saya hah!" teriak Tari dengan kesal.
"Hah saya tidak sengaja, lagi pula itu salahmu karena membuat saya terkejut dengan teriakan mu tadi." tidak terima Bara.
Tari mendengus kesal lalu mengikuti arah tatapan mata Bara dengan menundukkan kepalanya ke bawah tubuhnya.
Dengan cepat Tari repleks menutupi tubuhnya karena sadar jika dia belum memakai bajunya dengan kedua tangan nya seraya mencari baju yang akan ia kenakan.
"Tutup matamu itu, atau saya akan mencolok mata mu!" ancam Tari dengan galak.
Bara santai tidak terpengaruh sama sekali, lalu tersenyum sinis. "Saya sudah melihatnya. Dan bahkan sudah menikmatinya." goda Bara.
Tari kesal karena Bara malah menggodanya. Wajah Tari dan telinga Tari pun memerah karena marah dan juga malu menjadi satu. Tari mendorong tubuh Bara dengan kuat, namun Bara tidak bergeming sama sekali karena tubuh nya yang kuat.
"Dasar laki-laki berengsek!" umpat Tari kesal seraya pergi meninggalkan Bara di sana.
"Saya dengar itu!" teriak Bara ketus. "Salah kamu sendiri kenapa ganti pakaian sembarangan." teriak nya lagi.
Tari mengehentikan langkah nya lalu berbalik menatap Bara yang sedang tersenyum mengejek. "Sembarangan! Sembarangan bagaimana? Harus nya kamu sadar sekarang di kamar mu itu ada saya!" kesal nya lalu berbalik pergi dengan menutup pintu depan kuat.
"Ini kamarku, Kenapa dia yang jadi mengatur!" Bara pun tidak terima begitu saja. Lalu ia pun pergi ke kamar mandi setelah membawa handuk bersih dari ruangan itu.
"Benar-benar dia sudah membuat ku malu, dia bisa kan mengetuk pintu tadi, jangan langsung buka begitu saja." kesal Tari tidak terima. "Hah bodoh nya aku sampai lupa membawa pakaian ganti sehabis mandi tadi." gumam Tari kesal pada dirinya, ia tidak tahu jika Bara akan pulang secepat itu biasanya dia kan selalu malam, seperti yang diceritakan Ken padanya.
Sedangkan Bara yang tengah berada di kamar mandi pun tengah merendamkan tubuh nya itu. Namun saat ia memejamkan matanya terlintas pikiran nya pada tubuh Tari terlihat olehnya membuat jantung nya tiba-tiba berdetak dengan kencang saat memikirkan itu.
Repleks Bara pun melihat lengannya tadi yang sempat menempel di bagian dada Tari itu, untung saja Tari tidak menyadarinya tadi.
__ADS_1
"Ah kacau, kenapa otak ku ini!" desah Bara dengan berat.
Terlintas kembali bentuk tubuh Tari dan ukuran sumber makanan bayi itu membuat tubuh Bara mengingat kejadian dia dengan Tari, walaupun dia mabuk waktu itu tapi Bara sangat menikmati percintaan mereka itu. Bara pun melihat ke bawah yang ada di dalam air dan itu sedikit menjulang tinggi, semakin di ingat kejadian itu semakin tinggi tower di bawah sana. hahaha gaje ah, hayoloh boboin sendiri tuh tower.