Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
cuek tapi peduli


__ADS_3

Melihat dan mendengar perdebatan antara Tari dan Bara, Willy pun dengan cepat mengurai pertengkaran itu.


"Tenang... tenang, saya akan jelaskan!" lerai Willy. "Sebenarnya makanan itu tidak salah, kamu Bara, asam lambung mu sedang naik mungkin dari sana faktor nya karena tidak bisa menerima makanan yang berat, dan kemungkinan makanan yang nona berikan kepada suami anda ya mungkin terasa pedas sehingga perutnya menyebabkan asam lambung semakin naik." terang dokter itu sejelasnya.


"Saya tidak tahu jika dia memiliki penyakit asam lambung itu, lagi pula saya membuat makanan memang untuk saya sendiri." ujar Tari kesal.


"Ya tapi kamu kenapa tidak bilang jika makanan itu pedas." Bara mencela.


"Kamu punya lidah dan kamu paling tahu kondisi tubuh kamu itu. Tapi malah menyalahkan orang!" kesal semakin kesal.


"Tapi tetap kamu yang..."


"Cukup!" sela Willy. "Lebih baik kamu istirahat Bara dan minum obat supaya rasa sakit mu segera menghilang. Dan ingat jaga kesehatan. Atur pola makan yang baik dan istirahat yang cukup jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa dengan kesehatan sendiri." Willy merasa Bara kekanakan dengan sikap nya itu membuat Willy menggelengkan kepalanya.


"Dan anda nona, sekarang anda adalah istrinya jadi tolong ingatkan dia untuk menjaga kesehatannya, karena dia memang sedikit keras kepala." ucap Willy kepada Tari.


"Bukan sedikit lagi tapi sangat keras kepala!" sahut Tari kesal.


"Kamu!" ringis Bara dengan kesal.


"Baiklah karena sudah selesai, lebih baik saya pulang, ingat Bara jaga kesehatan mu!" pesan Willy dan Bara hanya mendelik malas.


"Terima kasih dokter, maaf kami sudah merepotkan anda pagi-pagi." Tari merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, suami anda sahabat saya dan saya dokter pribadinya." terang Willy.


Willy pun pergi dan Tari mengantarkan nya sampai pintu. Lalu setelah selesai itu Tari pun naik kembali ke kamar walaupun dia malas karena bertemu dengan Bara.


"Kamu mau makan tidak?!" ketus Tari bertanya.


"Tidak!" tolak Bara cepat dia masih saja kesal.


Tari menarik nafasnya. "Ok saya minta maaf." ucap Tari cepat.


"Apa? Saya tidak dengar." balas Bara berpura-pura.


"Ah sudahlah lupakan saja!" sebal Tari.


Bara mendengus kesal tidak berkata-kata lagi sudah lelah berdebat dalam keadaan sakit.


"Enyahlah!" usir Bara dengan kasar. Percuma saja kehadiran Tari di sana menurut Bara.


Tari pun pergi saja, karena sakit hati dengan kasar nya Bara. Namun saat akan pergi Bara yang akan berdiri karena merasa ingin muntah dan tubuhnya yang tiba-tiba lemas ia pun sempoyongan saat berjalan membuat Tari yang melihat pun merasa tidak enak karena Tari sudah membuat Bara kesal ketika dia sedang sakit begitu.


Saat Bara melangkahkan kakinya hampir dekat dengan kamar mandi tiba-tiba tubuhnya terlihat akan terjatuh membuat Tari yang masih berada di sana pun menangkap tubuh Bara sebisa mungkin agar Bara tidak langsung terjatuh langsung ke lantai.


Brug... tubuh Tari dari belakang pun ambruk bersamaan dengan tubuh Bara yang sangat berat itu, belakang tubuh Bara menimpa depan tubuh Tari yang sangat mungil.


"Aww sakit." rintih Tari karena bokong nya mendarat langsung ke lantai dengan tubuh berat Bara yang menimpa nya.


Bara pun meringis mencoba menahan agar tidak sampai memberatkan tubuh Tari yang tertimpa tubuh nya yang tinggi namun apa daya karena tubuhnya yang lemas membuat Bara pun terjatuh begitu saja. Dengan kepala jatuh tepat di dada Tari yang empuk itu, membuat dirinya sedikit nyaman.


"Aduh badan mu berat sekali." keluh Tari menyadarkan Bara


Bara mencoba bangkit dari tubuh Tari dengan perlahan. Lalu ia berdiri. "Salah sendiri sok-sok an menahan tubuh saya." gumam Bara dengan lemas.


"Lebih baik kan, kalau tidak kepala mu akan terkena lantai. Bagaimana kalau kamu amnesia gara-gara terjatuh tadi." ejek Tari.


"Ah sudahlah saya mual, kepala saya pusing." keluh Bara malas berdebat.


Tari pun mencoba membopong Bara untuk masuk ke kamar mandi. "Kamu mau apa?" tanya Bara.


"Saya antar kamu ke dalam." jawab Tari cepat.


"Tidak usah!" tolaknya cepat.


"Tidak apa-apa, bagaimana jika kamu jatuh lagi di dalam, lebih berbahaya kan?" sela Tari.


"Tapi saya ingin..."


"Ingin muntah kan? Ayok saya antar tidak usah merasa tidak enak, saya di sini karena anak-anak." tegas Tari polos.


Tari dan Bara pun masuk ke dalam kamar mandi. "Yakin kamu mau antar saya?" tanya Bara dengan seringai di bibir nya dari wajah nya yang pucat.


"Ya tidak masalah." sahut Tari cepat.


"Baiklah." Bara pun semakin menyeringai dengan jahil.


"Eh, apa yang akan kamu lakukan?" cegah Tari dengan panik ketika melihat Bara yang akan menurunkan celana yang ia pakai.

__ADS_1


"Eh...eh...eh." Tari panik melihat Bara tanpa mempedulikan pertanyaan Tari.


"Kenapa? Tadi kamu bilang tidak masalah kan." ucap Bara santai. "Sudah jangan banyak bicara saya sudah tidak tahan. Kamu juga boleh melihat jika kamu mau." jelasnya lagi dengan menggoda Tari membuat Tari merinding lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya membelakangi Bara seraya menutup kedua telinganya.


"Dasar mesum!" gerutu Tari pelan.


"Hahaha, saya bukan mesum kamu sendiri yang mau masuk, jangan salahkan saya." balas Bara seraya terus membuang air kecil itu.


"Ah sialnya." gerutu Tari kesal.


"Sudah, buka telingamu, saya sudah selesai." terang Bara seraya mencuci kedua tangannya.


Tari pun menarik nafasnya dalam-dalam. Satu ruangan bersama Bara di dalam kamar mandi membuat nafas nya begitu tercekat.


"Sudah selesai kan, masih kuat untuk berjalan tidak?" ketus Tari dengan kepeduliannya.


"Sebentar, perut saya sakit." ringis nya lalu Bara pun muntah kembali.


"Ah merepotkan saja!" gumam Tari pelan namun terdengar oleh Bara.


"Kalau tidak ikhlas, sana pergi!" usir nya.


"Jangan marah-marah kamu bisa cepat tua!" ucap Tari membuat Bara mendengus seraya memuntahkan cairan pahit di dalam perut nya.


"Kamu muntah-muntah begini seperti orang hamil saja." seru Tari seraya memijat tengkuk leher Bara. "Apa jangan-jangan ada perempuan yang kamu hamili dan karena kamu ayahnya jadi muntah seperti ini untuk mewakili ibunya." tuduh Tari mengada ada.


"Sembarangan kamu, jangan menuduh sembarangan. Saya tidak seburuk yang kamu pikirkan. Saya tidak akan menabur benih di sembarang wanita, cuma kamu yang saya hamili." aku Bara dengan nada tidak suka.


Tari terdiam pijatan di tengkuk leher Bara pun langsung ia hentikan membuat Bara menatap Tari dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Sedangkan Tari dia bingung harus senang atau merasa terhina saat apa yang di lontarkan Bara kepadanya atas pengakuan nya itu.


"Kenapa malah bengong begitu?" heran Bara. "Seharusnya kamu senang saya sudah menanamkan benih di perut mu itu, benih saya unggul dan lihatkan hasil dari benih yang saya berikan dan kamu lahirkan itu. Anak-anak kita yang cerdas luar biasa." puji dirinya sendiri.


"Ah sudahlah jangan bahas itu lagi!" ucap Tari malas, membahas hal yang intim di dalam kamar mandi membuat Tari tidak nyaman.


"Kenapa?" tanya Bara.


Plak... Tari mengeplak punggung lebar Bara dengan keras.


"Aduh." Bara mengaduh seraya mengusap punggungnya itu walaupun tidak sampai oleh tangan nya. "Sekarang kamu sudah berani ya memukul saya!" ucapnya kesal.


"Bodo amat ah." sahut Tari cuek seraya keluar dengan telinga dan wajahnya yang memerah. "Urus diri kamu sendiri." ucap Tari menutup pintu kamar mandi dengan keras.


***


"Ini aku bawakan kamu makanan untuk sarapan. Nanti setelah makan kamu bisa minum obat." ucap Tari membawa makanan yang ia buat untuk Bara, setidak peduli nya Tari ia masih punya hati. "Tenang saja ini bubur penuh sayuran jadi sehat dan bagus untuk lambung kamu yang sedang perih." Tari pun menambahkan.


"Saya tidak mau! Bisa-bisa saya muntah lagi nanti." tolak Bara dengan kasar membuat Tari menarik nafasnya dalam-dalam secara berkali-kali.


"Ya sudah kalau tidak mau makan, jika kamu tidak mau makan kamu tidak akan bisa minum obat, jika kamu tidak minum obat sakit mu akan semakin parah, dan jika sakit mu semakin parah kamu pun akan di rawat di rumah sakit. Hidup itu pilihan kalau kamu mau sakit terus ya sudah saya tidak akan memaksa, jika kamu mau sembuh makan makanan ini lalu minum obat." Tari pun memberikan pilihan secara tidak langsung. "Saya tidak mau ya terus kamu repot kan, kita kan bukan suami istri yang sebenarnya." Tari pun menambahkan.


"Oh jadi kamu tidak ikhlas." telak Bara dengan ketus.


"Saya ikhlas merawat seseorang tapi orang seperti apa dulu. Jika orang nya tidak menurut dan keras kepala lebih baik saya pergi ke toko saja melayani semua pencinta kue buatan saya." jelas Tari dengan santai.


"Uang yang kamu dapatkan di toko kue mu tidak seberapa di banding dengan apa yang saya miliki. Jangan sombong." kesal Bara.


"Saya tidak sombong, okelah ya memang penghasilan mu jauh lebih banyak dari saya. Tapi setidaknya saya memiliki penghasilan sendiri tanpa harus meminta pada mu! Walaupun toko kue saya kecil tapi saya bisa menghidupi anak-anak saya sampai sebesar itu." ucap Tari mengena.


"Ta..." Happ!!! Tari dengan paksa menyuapi sebuah makanan ke dalam mulut Bara dengan penuh sehingga membuat Bara sulit untuk bicara.


"Kunyahlah, jangan banyak omong!" titah Tari dengan tatapan tegas.


"K... kamuh!" melotot Bara dengan mulut yang penuh makanan.


"Jangan marah-marah terus tuan Bara yang terhormat. Sekarang asam lambung mu naik, kepala mu juga pusing jangan di tambah dengan tekanan darah tinggi gara-gara marah terus." Tari terus menyuapi makanan pada mulutnya sendiri.


"Kamu itu berniat memberikan makan untuk saya atau tidak?" ucap Bara dengan menggelengkan kepalanya heran.


"Hehe saya lupa." Tari pun cengengesan malu dengan kelakuannya.


"A" ucap Bara dengan nada ketus nya seraya mulutnya ia buka.


Sehuap dua huap tiga huap. Mereka baru menyadarinya ketika tatapan mereka saling bertemu membuat Tari yang sedang memegangi sendok berisi makanan itu pun melempar sendok itu tepat pada wajah Bara karena refleks dan kikuk.


"Ah." aduh Bara seraya menatap Tari dengan tatapan tidak suka karena marah.


"Eh maaf-maaf saya tidak sengaja." ucap Tari tidak enak dengan mencoba membersihkan makanan yang ada di wajah tampan Bara itu, namun bukannya bersih tapi makanan itu malah meleber kemana-mana membuat Bara semakin mengeram kesal.


"Hehe maaf sepertinya harus menggunakan tisu basah, sebentar!" Tari pun meraih tisu basah yang ada di dalam tasnya. Lalu dia pun membersihkan wajah Bara dengan tisu basah itu dengan lembut.

__ADS_1


Saat Tari membersihkan wajah Bara dengan tisu, tatapan mata mereka pun bertemu kembali apalagi ini sangat dekat, membuat jantung Tari tiba-tiba berdetak tidak terkecuali Bara pun melihat wajah Tari yang begitu dekat membuat dirinya tidak merasa bosan, karena semakin di lihat wajah Tari itu semakin enak untuk di perhatikan.


"Bersihkan sendiri saja!" ucap Tari seraya melemparkan tisu itu ke arah dada Bara dan langsung Bara tangkap dengan sigap.


"Ini obat yang harus kamu minum!" titah nya dengan gugup dan salah tingkah seraya menaruh obat dan air minum yang harus di minum oleh Bara. Lalu Tari keluar dari kamar dengan cepat.


Bara terdiam terus menatap Tari yang salah tingkah itu, karena terlihat jelas, Bara tersenyum miring.


"Dasar perempuan, baru di tatap seperti itu saja sudah salah tingkah." gumam Bara dengan membersihkan wajah yang belepotan oleh makanan dengan menggunakan tisu basah yang di berikan Tari padanya.


***


"Ih kenapa aku jadi salah tingkah begini sih!" Tari merasa geli dengan kelakuannya tadi.


"Dasar hati sialan kenapa tidak bisa kompromi dengan otak. Kenapa juga jantung ku tadi berdetak kencang seperti itu!" kesal Tari merasa malu.


Saat Tari sedang kesal dengan kelakuannya tiba-tiba panggilan telepon dari karyawan nya.


"Ya ada apa?" tanya Tari.


"Maaf mba aku ganggu, hari ini pesanan kue banyak sekali dan salah satu pelanggan itu ingin kita mengantarkan kue pesanan ke sebuah perusahaan, kami bingung mba soalnya kami tidak bisa tinggalkan toko begitu saja." terang salah satu karyawan Tari.


"Emh tapi persediaan kue masih ada kan?" tanya Tari.


"Masih mba, di sini sedang ramai pembeli. Persediaan sudah mulai berkurang sih tapi untuk pesanan perusahaan yang memesan sudah kami siapkan." jelasnya lagi.


"Ok siang nanti mba akan kesana."


"Ya mba." sahutnya dan telepon pun terputus.


Tari menghela nafasnya. Emh bagaimana ini." gumam Tari.


Tanpa pikir panjang Tari langsung ke dapur ia menyediakan makan siang untuk anak-anaknya nanti dan juga Bara pastinya, sebelum dia tidak pergi ke toko.


Setelah selesai memasak Tari akan meminta ijin kepada Bara untuk pergi, karena ia tidak mau menjadi masalah. Namun saat masuk ke kamar Tari melihat Bara sedang tertidur lalu ia melihat obat yang sudah Bara minum, mungkin karena efek dari obat, Bara terlihat sangat lelap.


Mau tidak mau Tari pergi tanpa ijin dari Bara, masa bodo jika Bara nanti marah toh di pikirkan kembali dia tidak akan memperdulikan apapun urusan Tari yang akan pergi kemana saja.


"Bi saya akan pergi ke toko kue saya, jika anak-anak pulang tawari mereka makan, tadi saya sudah masak untuk mereka makan, dan jika tuan Bara ingin makan juga saya sudah siapkan." titah Tari sebelum ia pergi.


"Nona Tari akan pulang jam berapa?" tanya bibi.


"Emh paling sore." jawab Tari. "Ya sudah saya berangkat ya, jaga tuan Bara juga, sekarang dia sedang beristirahat, jika ada apa-apa langsung hubungi saya!" titah nya lagi.


"Baik non." sahut bibi patuh.


Menatap kepergian Tari bibi Milah terus saja menatapnya. "Nona Mentari perhatian sekali kepada tuan Bara, saya senang tuan Bara memiliki istri sepertinya. Rumah juga terasa hangat karena adanya nona Tari dan juga anak-anak." gumam bibi Milah merasa bahagia.


*


*


*


"Mana kue pesanan yang akan di antar?" tanya Tari setelah sampai di toko kue nya.


"Ini mba." serah salah satu karyawan nya menyerahkan kue pesanan yang cukup banyak.


"Banyak sekali, kenapa mereka tidak membawa kue pesanan ini sendiri?" Tari pun bertanya dengan heran dengan kue yang ia lihat.


"Mereka bilang sih di kantor mereka para pekerja di sana sedang sibuk karena akan mengadakan sebuah rapat, dan kebetulan bos mereka baru, jadi mereka sibuk mempersiapkan segala macamnya." jelasnya membuat Tari mengerti.


"Baiklah pesan mobil online yang cukup besar saja supaya muat mba bawa kue ini." titah Tari dan di oke kan oleh karyawan nya.


Untung saja kini Tari sudah ada yang bisa di andalkan dalam membuat kue-kue nya itu, karena beberapa bulan ini ia terlalu lelah jika dikerjakan sendiri.


Beberapa menit kemudian, Tari kini sudah berada di sebuah perusahaan yang cukup besar. Tari tidak tahu perusahaan apa yang pasti sepertinya perusahaan itu cukup elit dan berkelas, Tari bersyukur karena perusahaan sebesar itu mempercayakan kue buatannya untuk mereka sebagai hidangan atau cemilan di tengah rapat mereka.


"Permisi mba, saya Tari pemilik kue triplets, toko kue yang perusahaan ini pesan." terang Tari langsung tanpa basa-basi.


"Oh ya, kami memang memesan kue untuk acara rapat, syukurlah anda sudah datang mengantarkan kue pesanan kami." ucapnya terlihat lega. "Kami takut di semprot oleh bos baru kami." bisik nya pelan.


Tari tersenyum. "Saya akan memberikan yang terbaik untuk para pelanggan toko saya." ujar Tari pun sangat senang karena mereka adalah langganan toko kue yang di kelola oleh Tari.


Setelah selesai pembayaran dan kue pun sudah mereka bawa ke dalam, Tari pun pamit kepada para resepsionis itu. Namun saat ia melangkahkan kakinya seseorang memanggil namanya.


"Sun sun." panggil nya terdengar oleh Tari.


Deg, jantung Tari tiba-tiba berdetak dengan cepat dengan langkah yang ia hentikan.

__ADS_1


"Panggilan itu?" gumam Tari mengingat hanya ada satu orang yang selalu memanggilnya dengan nama Sun sun.


__ADS_2