
"Sun sun." panggil nya terdengar oleh Tari.
Deg, jantung Tari tiba-tiba berdetak dengan cepat dengan langkah yang ia hentikan.
"Panggilan itu?" gumam Tari mengingat hanya ada satu orang yang selalu memanggilnya dengan nama Sun sun.
"Apa benar kamu Sun sun?" tanyanya memastikan karena Tari yang membelakangi tubuh nya.
Tari pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dimana seorang laki-laki yang memiliki tubuh tinggi dan bermata sipit yang ia kenal sedang menatapnya dengan tatapan lembut.
"Ka...kak Leo." panggil Tari pelan dan gugup.
Leo tersenyum tipis terlihat sangat senang melihat perempuan yang selama ini mengisi hatinya, namun sayang cinta yang selalu ia pendam kepada Tari.
"Aku tidak menyangka jika kita bisa bertemu di sini. Apa kabar Sun sun?" tanya dengan tatapan lembut membuat Tari gugup.
"Aku baik kak Leo, bagaimana dengan kabar kak Leo?" tanya Tari pun sedikit penasaran.
Leo tersenyum seraya tidak lepas menatap wajah Tari yang semakin cantik. "Seperti yang kamu lihat. Aku baik sangat baik." jawabnya dengan lembut.
"Ya kak Leo memang terlihat sangat baik." sambung Tari melihat laki-laki bermata sipit itu semakin tampan dan semakin terlihat dewasa.
"Emh ngomong-ngomong kamu sedang apa di sini?" tanya Leo penasaran.
"Oh aku tadi mengantarkan kue pesanan, kebetulan perusahaan ini memesan kue di toko ku." terang Tari tentang keberadaan dia di sana.
"Kamu membuka toko kue di kota ini?" tanyanya dengan semangat.
Tari mengangguk. "Iya, toko kue kecil-kecilan kak." ujar Tari merendah.
"Tapi kamu hebat, kamu bisa membuka usaha sendiri. Sepertinya aku nanti akan mampir ke toko kue kamu, bolehkan?" ijin Leo.
Tari tersenyum manis. "Silahkan kak, kak Leo bisa mencicipi kue buatanku sampai puas." seru Tari membuat Leo tertawa.
"Hahaha ya aku akan mampir ke sana dan aku akan menghabiskan kue-kue buatan mu itu!" ucapnya dengan canda.
"Ya aku tunggu kak Leo pingsan karena menghabiskan semua kue ku." tantang Tari dengan senyuman yang membuat Leo tersenyum.
"Kamu masih seperti yang dulu Sun sun." ucap Leo lembut dengan tatapan penuh membuat Tari kikuk karena tatapan Leo itu.
"Emh kak Leo sendiri sedang apa di sini?" tanya Tari mengalihkan perhatian Leo dan sedikit penasaran juga dengan keberadaan Leo di perusahaan itu.
"Aku pimpinan perusahaan ini." jawabnya dengan senyum.
"Kak Leo pimpinan perusahaan ini?" kejut Tari, terkejut karena ia baru tahu.
"Ya. Tapi aku masih baru di sini, karena sebelumnya perusahaan ini di pimpin oleh kakak ku, tapi sekarang dia memintaku untuk mengelola perusahaan ini." terdengar berat Leo untuk menanggung saat menjawab pertanyaan Tari.
"Emh begitu." gumam Tari. "Aku yakin kak Leo bisa mengelola perusahaan sebesar ini, karena kak Leo memiliki kemampuan yang sangat meyakinkan." ucap Tari menyemangati Leo.
Leo tersenyum. "Terima kasih Sun sun atas dukungan mu, tapi sayang sehebat-hebatnya aku, aku belum bisa mendapatkan seseorang yang aku cintai." ucap Leo dengan tidak bersemangat karena dirinya terlalu payah saat menginginkan seorang perempuan.
Dret...dret...dret. Handphone Tari pun bergetar sebuah panggilan telepon.
"Sebentar ya kak aku jawab dulu teleponnya." ijin Tari seraya meraih handphone itu dari dalam tasnya.
Sedikit menjauh dari dimana Leo berdiri, Tari menarik nafasnya panjang sebelum menjawab telepon itu karena yang memanggil di layar handphone itu adalah Bara.
__ADS_1
"Ya." sahut Tari.
"Dasar tidak bertanggung jawab, pergi begitu saja, kemana kamu pergi hah? Ingat ya saya sakit karena mu dan kamu pergi tanpa seijin dari saya!" terdengar suara Bara yang marah membuat Tari mendengus kesal ia harus tahan karena di sini ada Leo yang pasti mendengar percakapan mereka.
"Aku hanya pergi ke toko kue, itu pun aku sudah memberikan pesan kepada bi Milah." jawab Tari mencoba untuk sabar.
"Alasan! Cepat pulang, kamu harus bertanggung jawab. Jika tidak akan saya hancurkan toko kue kecil mu itu!" ancam Bara terdengar serius.
Tari langsung memutus panggilan itu karena kesal, Tari tidak mengerti dengan sikap Bara itu, Tari kesal dan ingin marah namun dia sadar ini masih di luar, orang tidak tahu apa yang terjadi padanya.
"Kak Leo, sepertinya aku harus pamit." ucap Tari menatap Leo dengan tersenyum menutupi kekesalan nya kepada Bara.
"Apa ada masalah?" tanya Leo terlihat cemas.
"Emh tidak begitu serius, di toko sangat ramai, karyawan ku sedikit keteteran seperti nya, aku terlalu lama berada di luar." terang Tari beralasan.
"Oh baiklah. Tapi lain kali kita bisa bertemu kan?" ijin Leo penuh harap.
"Ya." jawab Tari sedikit ragu. "Kalau begitu aku pergi ya." ijin Tari dengan cepat lalu dia pergi.
"Ok." jawab Leo seakan tidak rela.
"Sun sun." teriak Leo memanggil Tari yang sudah agak menjauh.
Leo berlari kecil menghampiri Tari yang menghentikan langkahnya. "Ini kartu namaku." ucap Leo seraya menyerahkan sebuah kartu nama. "Kamu bisa menghubungi ku jika butuh sesuatu." ujarnya.
Tari menerima kartu nama itu. "Terima kasih kak Leo. Aku permisi ya." tanpa berlama-lama lagi Tari pergi meninggalkan Leo yang masih menatapnya dengan penuh kerinduan.
Leo masih menatap kepergian Tari sampai benar-benar tidak terlihat.
"Sun sun, kamu semakin cantik setelah sekian lama kita tidak berjumpa, terakhir kalinya aku mendengar kabar mu di usir oleh keluarga mu, apa benar kabar itu?" gumam Leo mengetahui jika Tari hamil sebelum menikah.
Lalu Leo melihat pada tumpukan kue yang Tari bawa. "Siska, bawakan satu kue ini ke ruangan saya!" titah Leo pada bawahan nya.
"Baik pak." sahut nya.
"Satu lagi, kirimkan alamat toko kue ini ke nomor saya!" titah nya lagi.
"Baik pak, apa ada lagi?" tanyanya.
"Tidak." balas Leo seraya pergi.
*
*
*
flash back
Saat Bara terbangun ia menatap seluruh ruangan di dalam kamarnya itu, dia melihat tidak ada siapa-siapa di sana. Namun ia melihat obat yang sudah di sediakan oleh Tari dengan air minum yang tersedia di sana.
Bara sedikit menghangat merasa ada yang mempedulikannya,. senyum kecil menghiasi bibir Bara.
Bara mencoba meregangkan otot-otot nya yang merasa pegal karena seharian ini ia hanya diam di rumah dan tidur saja. "Kenapa rumah begitu sepi?" gumam Bara tidak mendengar keramaian yang biasa akhir-akhir ini ia rasakan.
"Mana Mentari?" tanya Bara pada bi Milah setelah ia berada di bawah mencari keberadaan Tari namun tidak ia temukan.
__ADS_1
"Nona Tari pergi tuan, nona Tari bilang dia akan pergi ke toko kue nya." terang bibi menjawab.
"Kenapa dia tidak meminta ijin saya?" tanya Bara merasa kecewa.
"Tuan Bara tadi sedang tidur dan nona Tari tidak berani membangunkan tuan." jelasnya.
Bara terdiam, cukup kecewa ternyata Tari lebih memilih pergi ke toko daripada merawatnya, dan itu membuat hati Bara terasa kesal.
Saat Bara masuk kembali ke kamar, tiba-tiba Bara menerima sebuah pesan dari orang suruhannya. Tatapan Bara terlihat mengeras pada sebuah pesan yang berupa sebuah foto dimana Tari dan seorang laki-laki yang terlihat memberikan senyuman kepada laki-laki itu.
"Beraninya dia!" geram Bara. "Apa dia tidak sadar jika dia sudah menjadi seorang istri. Bagaimana jika ada orang yang tahu, benar-benar kurang ajar, dia berani dekat dengan laki-laki setelah dia sudah menjadi istriku." sambung Bara dengan emosi.
Bara pun langsung menelpon Tari pada saat itu juga dengan kesal karena ia merasa Tari sedang mempermainkan pernikahan mereka, ya walaupun pernikahan mereka hanya sementara, Bara yang pernah di sakiti oleh orang yang ia cintai di hari bahagianya membuat Bara tidak terima di perlakukan seperti itu apalagi oleh Tari yang memang tidak dia cintai. Namun mungkin ada sedikit rasa kecewa dalam hati Bara yang sudah mulai merasakan kehangatan sebuah keluarga dengan Tari.
Sepulang nya Tari, ia langsung masuk ke rumah yang terasa sangat sepi, anak-anak sedang berada di dalam kamar masing-masing, Tari pulang sore hari, setelah ia tadi di telpon oleh Bara, dia tidak langsung pulang melainkan pergi ke toko terlebih dahulu.
Tari sebenarnya kesal dengan Bara, namun untuk apa juga Bara marah padanya toh dia hanya pergi ke toko, Tari tidak tahu jika ada seseorang yang mengikuti nya atas perintah Bara.
"Sepertinya kamu bukan ibu yang baik untuk anak-anak." tiba-tiba Bara berucap dengan nada dingin nya ketika Tari masuk ke dalam kamarnya.
Tari menghentikan langkahnya lalu menatap Bara dengan tidak suka. "Maksudmu apa berbicara seperti itu?!" ketus Tari.
"Kamu tidak tuli kan?" hardik Bara santai namun dengan tatapan tajamnya.
"Saya hanya pergi ke toko, di toko ada masalah. Lalu tiba-tiba kamu bicara seperti itu, apa maksudnya?" Tari masih belum mengerti.
"Ke toko atau bertemu dengan seorang laki-laki?" sindir Bara.
"Laki-laki? Kamu tahu darimana?" telak Tari menatap Bara dengan lekat.
"Ingat ya Mentari, apa kamu lupa kamu sekarang adalah istri saya, saya tidak suka ada sebuah penghianatan. Apalagi jika orang di luar sana tahu kamu bisa membuat nama baik saya tercoreng." terang Bara mengingatkan.
"Kita hanya sementara dalam pernikahan kita, jadi tidak masalah kan?" telak Tari kesal.
"Ingat nona Mentari, kamu seorang perempuan yang sudah pernah hamil dan melahirkan, dan kamu hamil di luar nikah, tidak akan mudah bagi laki-laki menerima jika dia tahu bagaimana kamu dulu. Seharusnya kamu bersyukur saya menikah mu." terang Bara seakan menghina Tari.
Tari terdiam matanya mulai berkaca-kaca namun ia tahan untuk tidak mengeluarkan air mata itu.
"Saya tidak mau ada kabar jelek tentang saya mengenai perselingkuhan mu itu, karena kamu masih menjadi istri saya saat ini, selama kamu menjadi istri saya bersikap baiklah, jangan menjadi wanita murahan apalagi masih dalam lingkungan keluarga saya. Kamu tahu saya adalah orang terhormat, media selalu mengawasi saya, jadi ingat kata-kata saya ini." ucap Bara dengan tegas dan menatap Tari dengan penuh.
Tari melengos, dia sungguh merasa terhina dan ucapan Bara begitu menyakitkan hatinya, bagai ada yang menusuk bagian hatinya memakai pisau tajam.
Dia hamil karena Bara, hamil di luar nikah bukan mau nya, jelas di sini Tari adalah korban, tapi kenapa laki-laki di hadapannya itu dengan mudahnya menghina seakan ini adalah kesalahannya sendiri. Bara tidak tahu bagaimana dirinya saat orang-orang tahu dia hamil sebelum menikah, keluarga mengusir nya, tetangga menghujat nya dan dia harus berjuang mati-matian saat dia harus mengandung anak kembarnya di tengah dia kesulitan mencari uang. Sungguh jika mengingat kejadian itu Tari benar-benar merasa jika hidupnya terasa menyakitkan.
"Kenapa kamu diam? Kamu merasa?" telak Bara dengan menyindir.
"Saya memang hamil di luar nikah, itu karena mu, jika kamu tidak memaksa saya waktu itu saya tidak akan mengalami hidup bersama mu seperti ini. Jika memang saya membuat mu malu, kenapa kamu menikahi saya? Jangan membawa nama anak-anak sebagai alasan mu." ujar Tari dengan suaranya parau menahan sakit hatinya.
"Jika kamu perempuan baik-baik tidak mungkin kamu berada di pub seperti itu, pasti pada saat itu kamu akan menjual diri lalu karena saya mabuk kamu menjebak saya!" tuduh Bara menyakitkan. "Kamu memang wanita murahan." tambahnya. "Kamu tidak pantas mendapatkan laki-laki yang baik!"
"Jika saya memang murahan saya akan menjual diri saya setelah kamu memaksa saya. Ya saya memang tidak pantas mendapatkan laki-laki yang baik maka dari itu saya menikah dengan anda!" telak Tari membuat Bara berpikir keras.
"Jadi maksud mu saya laki-laki yang tidak baik?" sorot matanya yang tajam menatap Tari dengan marah.
"Jika laki-laki yang baik, dia tidak akan minum minuman keras sampai mabuk-mabukan dan memperkosa seorang gadis!" cerca Tari membuat Bara merasa terhina.
"Berani kamu berbicara seperti itu?!" geram Bara.
__ADS_1
"Kenapa tidak, kita samakan? Dan satu lagi jangan menuduh orang sembarangan tanpa ada bukti, saya tidak berselingkuh dengan laki-laki manapun, laki-laki yang saya temui adalah pelanggan kue saya, jadi apa salah jika saya menyapanya?" jelas Tari dengan santai toh dia memang tidak berselingkuh.
"Saya juga sadar diri, saya hanya seorang wanita murahan, tidak ada laki-laki yang baik yang menginginkan saya!" ucap Tari dengan santai.