Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kisah mentari


__ADS_3

"Kak Leo?" kejut Tari melihat keberadaan Leo ada di toko kue nya saat ini.


Leo tersenyum lembut menatap Tari dan itu menggoyahkan perasaaan nya saat ini yang sedang berusaha menutup pintu hati pada laki-laki yang dulu pernah mengisi ruang hati nya.


"Apa kabar Sun sun?" sapa Leo melihat Tari seperti terkejut.


Tari tersenyum tipis. "A...aku baik."


"Apa kamu punya waktu sebentar? Aku ingin bicara denganmu." pinta Leo penuh dengan harap.


"Emh..." Tari ragu untuk menjawab.


"Sebentar saja, aku ingin membicarakan soal kerjasama tante ku dengan kamu." sela Leo melihat keraguan Tari.


"Baiklah." Tari pun merasa tidak enak hati bila menolak ajakan Leo karena Leo laki-laki yang baik kepada nya.


"Bagaimana jika kita bicara di cafe luar." ucap Leo menawarkan mengajak Tari.


"Di sini saja ya kak, bagaimana?" saran Tari karena lebih aman jika berada di toko, jika di luar Tania akan melihatnya, walau bagaimanapun Tari tidak mau terus menerus bertengkar dengan Tania.


"Ya, baiklah." ada sedikit kecewa, namun Leo pun menerima keinginan Tari.


Tari pun mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka berbicara.


"Silahkan kak duduk." mempersilahkan Leo. "Kak Leo mau minum apa?" Tari pun menawarkan minuman kepada Leo.


"Aku kopi saja." jawabnya.


"Baiklah, sebentar ya akan aku buatkan terlebih dahulu, karena karyawan ku semua sibuk." Tari pun bergegas pergi untuk membuat minuman untuk Leo.


Tak lama Tari kembali dengan secangkir kopi dan kue buatannya di nampan. "Silahkan kak kopi nya, dan cicipi juga kue baru buatan ku." menyodorkan kopi dan kue itu ke hadapan Leo yang sudah duduk manis di sana.


"Terima kasih Sun sun." ucap Leo.


Tari menduduki kursi nya, sedangkan Leo menyesap kopi yang di buatkan oleh Tari.


"Kak sebenarnya aku juga ingin membicarakan masalah kerjasama dengan Tante kak Leo itu." sejenak Tari terdiam. "Maaf sepertinya aku akan menolak kerjasama itu." jelas Tari.


"Kenapa?" heran Leo sedikit merasa kecewa.


"Maaf, aku tidak bisa jelaskan kenapa aku menolak nya." ucap Tari dengan pelan. "Tapi sampaikan juga terima kasih aku kepada tante kak Leo karena sudah memberikan aku kesempatan, dan katakan maaf juga dariku ya." merasa tidak enak juga karena menolak kerjasama itu.


"Ya, aku akan sampaikan perkataan kamu untuk Tante ku itu, dan aku juga mengerti, apapun keputusan mu pasti itu yang terbaik untukmu, aku akan selalu mendukung mu." ujar Leo penuh dengan pengertian yang nada yang lembut.


"Namun, aku ke sini bukan hanya untuk membahas tentang kerjasama itu, tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada kamu." jelas Leo menemui Tari.


Tari tampak mengerutkan keningnya. "Membicarakan tentang apa?" Tari pun penasaran apa yang ingin Leo katakan.


"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf kepada kamu Sun sun, jika pertanyaan ku ini sedikit pribadi." terang Leo.


"Apa kamu sudah menikah?" tanya Leo dengan tatapan mata yang lembut.


Deg ... sedikit mengejutkan bagi dengan pertanyaan Leo itu. Tari masih diam.


Terdengar helaan nafas rasa kecewa dari Leo karena diam nya perempuan yang selalu ada di hati nya itu, menandakan jika benar dia memang sudah menikah.


"Tania yang memberi tahu ku, beberapa waktu lalu kami tidak sengaja bertemu." lanjut Leo dengan pelan.


"Apa benar Sun sun, jika kamu sudah menikah?" tanya Leo kembali.


Tari menarik nafasnya pelan lalu ia tersenyum memandang wajah Leo. "Ya, aku memang sudah menikah." jawab Tari dengan jujur.


Leo terdiam sesaat, dan kedua matanya mulai memerah. "Kenapa kamu tidak memberi tahu ku? Jika Tania tidak memberi tahu, apa kamu akan terus menyembunyikan pernikahan mu itu?" Leo menatap lembut namun dalam dan terlihat penuh kekecewaan yang sangat dalam.


"Apa itu penting untuk kak Leo?" tanya Tari menatap kembali pada manik mata yang sipit itu.


"Penting." sahut Leo dengan cepat.


"Untuk apa? Kita tidak memiliki ikatan apa-apa, jadi tidak masalah kan jika aku sudah menikah." telak Tari percuma saja.


"Aku mencintaimu Sun sun." ungkap Leo dengan bersungguh-sungguh.


Deg... jantung Tari seakan berdetak lebih dari biasanya. Terkejut dengan pengakuan dari mulut Leo.


"Aku ingin kamu menjadi istri ku." ucap Leo sangat yakin.

__ADS_1


"Kak Leo tahu bagaimana masa lalu kehidupan ku." sela Tari. "Aku hamil di luar nikah dan sekarang aku sudah memiliki anak." terang Tari dengan sengaja mengingatkan, Tari sudah memiliki buntut.


"Aku akan menerima masa lalu mu itu dan juga anakmu." Leo pun dengan sangat yakin mengucapkan hal itu.


"Maaf kak aku sudah menikah sekarang." Tari pun memperjelas status nya.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan mu itu?" tanya Leo menatap Tari dengan nanar dan lekat.


Tari tidak mampu menjawab. "Bahagia atau tidak itu kehidupan ku." jawab Tari dengan suara tercekat.


"Aku tahu jika kamu tidak bahagia hidup dengan nya?" telak Leo menatap tajam ke arah Tari.


Tari tersenyum sinis. "Kak Leo sok tahu." mencoba untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan.


"Aku tahu Sun sun, terlihat dari semua ekspresi mu itu." Leo pun sangat yakin jika Tari memang tidak bahagia.


"Mungkin itu salah satu nya, dan alasan kedua kenapa kamu menyembunyikan pernikahan mu itu." Leo pun kembali berucap.


Tari menarik nafasnya dalam-dalam. "Ya aku memang terpaksa menikah dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami ku, itu karena demi anak-anak." akhirnya Tari akui kepada Leo.


"Anak-anak?" tanya Leo dengan cepat.


"Ya, aku memiliki 3 anak dari nya. Anakku kembar." Jawa Tari dengan jujur.


"Apa kamu menikah dengan laki-laki yang sudah menghamili mu?" lekat Leo menatap Tari.


"Ya aku menikah dengannya, dengan laki-laki yang selama ini aku hindari."


"Kamu menikah dengannya? Bukan nya kamu pernah mengatakan jika kamu sangat membenci laki-laki itu?" Leo pernah melihat kebencian Tari kepada laki-laki yang sudah menghamilinya itu.


"Ini demi kebahagiaan anak-anak." sahut Tari dengan datar.


"Apa dia memperlakukan mu dengan buruk?" Leo semakin penasaran dengan kehidupan wanita yang ada di hadapannya itu.


"Dia memperlakukan anak-anakku dengan baik." jawab Tari tidak nyambung. 'ya setidaknya dia menyayangi anak-anakku walaupun dia tidak peduli dengan ku'


Leo terlihat menatap Tari, jawabannya itu mengarah dimana ia tidak di perlakukan dengan baik oleh laki-laki yang sudah menjadi suami nya itu.


"Kenapa kak Leo menatap ku seperti itu?" tanya Tari sedikit gugup saat tahu jika Leo menatap nya dengan sangat serius.


"Sepertinya ada yang aneh dalam pernikahan mu?" tatapan Leo masih menatap pada wajah Tari. "Jangan menyembunyikan sesuatu dari ku Sun sun, aku kini tahu kenapa kamu menyembunyikan pernikahan mu padaku." ujar Leo sangat yakin.


"Sudahlah, akui saja. Aku sangat mengenal mu." balas Leo dengan penuh perhatian.


Tari tersenyum dengan getir mengingat pernikahan antara dia dan Bara yang karena sebuah keterpaksaan, jika saja ia bisa memilih Tari ingin memilih Leo sebagai suami nya, namun ternyata author memiliki rencana, seseorang yang ingin ia hindari malah kini menjadi suaminya. Dan hidup dengan nya itu tidak ada rasa bahagia, walaupun kini dia merasa nyaman dengan Bara ketika Bara memiliki sedikit rasa peduli dan bersikap lembut padanya, tapi mungkin laki-laki itu jarang melakukan hal itu dan itu membuat Tari merasa jika dirinya memang lah bukan perempuan yang berarti untuk dia.


"Sudahlah kak, bahagia atau tidaknya pernikahan ku itu urusan ku, aku bahagia bisa melihat ketiga anak-anakku bahagia karena bisa bertemu dengan ayah kandungnya, itu yang lebih penting." dengan tegas Tari pun berucap.


"Sebuah pernikahan itu harus saling mencintai dan saling memahami itu yang namanya berumah tangga, tapi kamu..." ucap Leo.


"Tidak apa-apa, seorang ibu memang pantas melakukan hal yang terbaik untuk anak-anaknya, kak Leo tidak tahu saja bagaimana anak-anakku menginginkan kasih sayang seorang ayah, dan itu membuat ku sedih. Tapi sekarang mereka sudah bertemu dengan ayah kandungnya." sela Tari saat Leo ingin berkomentar.


Leo terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia memang kecewa tapi dia harus menghargai keputusan Tari, jangan terkesan memaksa keinginan nya sendiri.


"Ya aku paham maksud mu." jawab Leo dengan cepat.


*


*


*


Beberapa hari kemudian, saat ini Tari tengah berada di toko kue nya dan sedang sibuk membuat kue, tiba-tiba saja handphone Tari berdering, Tari pun melihat layar handphone itu.


Tari mengerutkan keningnya. "Mau apa dia Vidio call segala?" gumam Tari sebal melihat layar handphone nya tertera nama Antoni.


Dengan wajah yang terkena tepung saat membuat kue, Tari pun memencet tombol itu.


"Ada apa?" ketus Tari saat panggilan itu ia jawab.


"Galak sekali." sahut Bara kesal, terlihat jika Bara menelpon di ruangan kantornya.


"Kenapa kamu video call segala." ucap Tari tidak mau berbasa-basi.


"Kamu sedang apa?" tanya Bara.

__ADS_1


Tari tidak menjawab ia hanya mengarahkan kedua tangannya yang terbalut sarung tangan yang kotor dan mengarahkan layar handphone pada sebuah adonan kue sebagai jawaban atas pertanyaan Bara tadi.


"Sudah tahu kan?" Tari mengarahkan kembali layar handphone nya ke wajahnya yang cantik walaupun ada tepung di sana.


Bara tersenyum tipis melihat bagaimana wajah Tari yang sangat lucu dan menggemaskan ketika tepung itu mengotori nya, dan itu membuat Bara mengusap wajah nya berkali-kali untuk menyembunyikan rasa tertarik pada perempuan yang berstatus istrinya itu.


"Kenapa malah senyum-senyum begitu apa kamu sudah gila?" tanya Tari dengan heran melihat Bara akhir-akhir ini sering terlihat senyum bahkan tertawa.


"Ya aku memang gila." sahut nya santai.


"Ya, kamu memang gila, karena sudah mengaku jika kamu gila." Tari pun malas untuk berdebat. "Jika tidak ada yang penting, saya akan menutup panggilan ini." ucap Tari dengan tidak sabar.


"Tunggu!" cegah Bara cepat.


"Saya akan menjemputmu sekarang!"


"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri." tolak Tari dengan tegas.


"Pokok nya saya akan jemput kamu pulang sekarang!" seru Bara dan tidak mau di bantah lalu ia pun memutuskan panggilan itu tanpa ada jawaban dari Tari.


"Ish!!" Tari berdesis kesal. "Dasar tukang paksa!" umpat nya.


Tidak lama Bara pun datang ke toko kue Tari. "Mba ada laki-laki tampan yang cari mba, dia bilang mau jemput mba Tari." ucap salah satu karyawan Tari memberi tahu saat Tari masih sibuk menghias kue.


"Pasti dia." gumam Tari sebal.


"Ih mba Tari..., beruntung nya jadi mba Tari itu ya, di kelilingi para pria tampan." puji nya.


"Bukan beruntung tapi buat mba pusing." jawab Tari sekenanya.


"Pusing pilih yang mana ya mba hehehehe." goda nya.


"Kamu tuh." sebal Tari. "Bukan itu maksud mba tapi..."


"Ternyata kamu ada di sini? Sudah siap, ayok kita pulang!" sela Bara yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dimana Tari berada.


Tari pun mendengus. "Saya belum beres, kamu bisa tunggu di luar saja, sebentar?" usir Tari secara tidak sengaja.


"Saya tunggu 5 menit!" ucap Bara dengan tegas seraya pergi ke luar ruangan itu sebelum mendengar suara Tari sudah membuka mulutnya itu.


Tari hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. "Kamu selesaikan pekerjaan mba ya, mba harus pergi." ucap Tari pada karyawan nya itu.


"Ok mba siap!" jawabnya.


"Mba pulang ya, nanti setelah tutup toko kunci kamu pegang dulu.


"Siap mba, tenang aja." sahut nya dengan mengangguk patuh.


***


"Sebenarnya kamu akan membawa saya kemana sih?!" kesal Tari pada Bara, yang membawa Tari ke arah jalanan yang bukan jalan menuju rumah mereka.


"Ke suatu tempat." jawabnya pendek. "Tidak perlu banyak tanya!" cegah Bara saat Tari akan mengucapkan sesuatu.


Tari mendengus kesal. Tak lama mereka pun sampai di sebuah butik ternama. Bara melepaskan sabuk pengaman mobil dan akan segera keluar.


"Tunggu! Kenapa kamu membawa saya ke sini?" tanya Tari dengan menahan tubuh Bara yang akan turun dari mobil.


"Untuk membelikan mu sebuah pakaian, memang untuk apa lagi." jawab Bara santai.


"Aku tidak membutuhkannya!" tolak Tari dengan tegas.


Bara menarik nafasnya panjang. "Malam ini saya akan menghadiri sebuah acara penting bersama para rekan bisnis saya, saya akan mengajak mu ke sana." jelas Bara. "Tapi kamu jangan geer, saya mengajak kamu itu hanya untuk menghindari para kolega penting itu untuk menawarkan anak gadisnya pada saya, saya bosan di tawarkan seperti itu terus." ucap Bara namun itu alasan keduanya, alasan pertama nya ya karena memang Bara ingin mengajak istrinya itu dan ia akan memperkenalkan istrinya pada kolega pentingnya namun ia malu untuk mengakui nya.


***


"Pak Leo, saya mau mengingatkan anda, jika malam ini anda akan menghadiri sebuah acara penting dengan beberapa kolega anda." jelas sang sekretaris memberi tahukan.


"Ya aku ingat, kamu temani saya ya ke sana dan tolong siapkan jas saya untuk menghadiri acara itu." titah Leo.


"Baik pak."


"Ada perlu apa lagi pak?" tanya nya.


"Tidak, kamu bisa keluar." usir nya malas.

__ADS_1


Setelah keluar nya sang sekretaris dari ruangan nya Leo menarik nafasnya dalam-dalam, dia masih memikirkan tentang Tari, apalagi setelah ia tahu bagaimana pernikahan Tari, ia ingin sekali membahagiakan Tari, jika saja ada kesempatan untuk Leo, ia akan gunakan waktu itu untuk membuat Tari bahagia


"Sun sun, apa aku harus merebut mu darinya?" gumam Leo dengan getir. "Jika kamu menjadi milik ku, aku akan membuat mu bahagia." lirih Leo merasa sakit karena tak mampu membuat orang yang sangat ia cintai terluka, karena melihat bagaimana cara Tari saat ia bicara tentang laki-laki itu, ada kesedihan di wajah Tari.


__ADS_2