Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kelakuan si triplet


__ADS_3

"Apa tidak ada pakaian yang lebih tertutup dari ini?!" kesal Tari ketika ia keluar dari kamar mandi.


Bara memperhatikan pakaian yang Tari pakai. "Bagus, itu cocok bila kamu pakai. Kenapa memang? Apa ada masalah?" Bara menjadi penasaran saat Tari tidak menyukai pakaian yang ia pesan.


"Cocok apa ini jelek, lihat pakaian ini terlalu terbuka seperti ini." balas Tari semakin kesal karena Bara tidak mengerti maksud Tari.


"Jangan sembarangan! Saya memesan pakaian itu di butik langganan keluarga saya, harganya mahal, dan pastinya kualitas baju itu pun sangat bagus." Bara tak terima.


Tari mendengus. "Bukan harga atau bahan nya tapi model pakaian nya!" seru Tari sebal.


"Itu sangat cocok dengan mu." balas Bara tidak sabar.


"Lihat ini!" tunjuk Tari pada leher putih nya yang sekarang banyak tato merah hasil perbuatan Bara dengan rasa kesalnya.


"Oh." Bara berpura-pura.


"Hanya oh!" kesal Tari naik darah dengan jawaban Bara yang sangat santai.


"Ya mau bagaimana lagi, sudah melekat di sana." balas nya. "Tapi itu terlihat bagus kan, itu tandanya kamu adalah istri saya." jawabnya.


"Tapi ini memalukan!" geram Tari tak tertahankan. "Lagi pula orang-orang tidak akan tahu jika kita itu suami istri, bagaimana jika ada yang berpikir tentang kita yang tidak-tidak, dan mereka memiliki pikiran yang nakal juga." terangnya tidak sabar.


"Biarkan saja, mereka yang punya pemikiran nakal nya bukan saya kan." balas Bara dengan cuek.


Dengan geram Tari pun mencoba untuk menarik nafasnya dalam-dalam. "Ah capek rasanya berdebat dengan mu, lebih baik saya makan saja." ujar Tari dengan mendaratkan bokong nya pada kursi lalu menyantap makanan yang tersedia itu.


"Ya itu lebih baik." jawab Bara mengikuti apa yang Tari lakukan.


Setelah menyantap makan siang nya Bara dan Tari pun berniat untuk cek out dari kamar hotel. Tari terus mencoba untuk menutupi leher nya sebelum keluar dari kamar mereka, dengan berbagai cara, berdiri di depan cermin melihat bagian mana saja yang masih terlihat.


"Hah." Tari membuang nafas nya dengan kasar, karena ia belum menemukan cara menutupi bagian leher yang terekspos itu.


Ketika Tari sibuk dengan apa yang ia lakukan, Bara yang melihat pun menghampiri Tari lalu ia menyampirkan jas nya yang ia pakai tadi pada leher Tari untuk menutupi bekas merah yang ia perbuat.


Menatap dalam pantulan cermin di depan nya Tari menatap siluet tubuh mereka yang terpantul di cermin itu, dan itu membuat tatapan mereka bertemu di sana.


Tari sedikit terkejut dengan sikap manis manusia bunglon itu pada nya, namun karena memang Tari membutuhkan sebuah penutup maka dengan senang hati Tari pun menerima nya.


"Sudah tertutup kan? Ayok kita keluar!" ajak Bara dengan salah tingkah dan gugup karena tatapan Tari tadi membuat nya malu.


"Ya." sahut Tari dengan pendek.


Bara menggulung lengan baju kemejanya sampai sikut dan melepaskan dasi yang ia pakai lalu melonggarkan kancing kerah nya membuat Bara terlihat lebih santai. Sedangkan Tari ia mengikatkan bagian tangan dari jas Bara itu pada lehernya agar menutupi keseluruhan tanda merah itu.


Setelah keluar dari kamar, Bara berjalan lebih dulu dan Tari mengikutinya dari belakang dengan sedikit rasa malu, saat ia mengingat bagaimana kejadian dan di dalam kamar. Pasalnya ini tengah hari, tapi mereka malah melakukan hal yang akan munculnya seorang bayi. Ha ini sungguh sangat memalukan!


Di saat Bara tengah menghampiri para penerima tamu di hotel yang bekerja di sana, Tari terus saja menundukkan wajahnya, untuk menutupi rasa malunya itu dan terus berpura-pura tidak melihat keberadaan mereka di sana.


"Kenapa kamu menundukkan wajah seperti itu?" bisik Bara tepat di telinga Tari membuat ia terkejut karena Bara datang secara tiba-tiba.


"Kenapa kamu membuat saya terkejut!" sebal Tari dengan cemberut.


"Saya tidak berniat membuat mu terkejut, kamu saja yang tidak memperhatikan saya datang ke sini." ujar Bara merasa gemas melihat wajah istrinya yang malu-malu meong. "Apa jangan-jangan kamu memikirkan kejadian di kamar tadi?" goda Bara.


"Sudah selesai kan? Ayok kita pulang." ucap Tari mengalihkan perhatian seraya melangkahkan kakinya serta menarik tangan Bara untuk pergi dari sana. "Berada di hotel seperti ini membuat mu menjadi mesum dan cabul!" gerutu Tari dengan sebal.


Bara tersenyum mendengar ucapan Tari, dan ia pun tersenyum melihat sikap Tari yang galak-galak tapi manis.


"Tuan silahkan, mobil anda sudah siap." ucap salah satu petugas hotel yang menyiapkan mobil Bara tepat di depan hotel.


"Terima kasih." ucap Bara dengan suara beratnya, petugas itu pun mengangguk dengan sopan.


"Ayok, kenapa kamu malah diam saja." melirik ke arah samping Tari menatap Bara yang hanya diam saja.

__ADS_1


"Bisa kamu lepas dulu tangan saya." pinta Bara seraya melirikan kedua matanya ke arah dimana Tari yang masih memegang tangan Bara.


Tari mengikuti tatapan Bara itu. Lalu dengan cepat melepaskan pegangan tangannya pada tangan Bara itu dengan kikuk.


"Eh. Ayok!" gugup Tari dengan cepat melangkahkan kakinya menuju mobil yang terparkir dan membuka pintu mobil itu lalu masuk dan duduk di sana. "Mentari kenapa kamu salah tingkah seperti ini, kamu tuh bukan ABG lagi." batin Tari seraya memijat pelipisnya menutupi rasa gugupnya.


Bara tersenyum tipis melihat tingkah Tari, lalu ia pun masuk ke dalam mobil melihat sekilas pada Tari yang melengos saat ia memandang ke arah Tari.


Di dalam mobil hanya sebuah keheningan, tak lama suara handphone Tari pun berdering.


Tari langsung meraih handphone itu, dan ia melihat layar handphone itu tertera nomor rumah. Segera Tari menjawab panggilan itu.


"Ya hallo, ada apa?" sapa Tari.


"Anak-anak ngamuk kenapa?" tanya Tari.


"Coba di rayu saja dulu, saya sebentar lagi akan sampai ke rumah."


Setelah memutuskan panggilan itu, Tari menghela nafas panjang. "Ada apa dengan anak-anak?" Bara menjadi penasaran mendengar kata anak-anak.


"Mereka marah dan mengamuk, karena saya belum menyiapkan makanan untuk mereka, mereka tidak mau makan." terang Tari.


"Ini gara-gara mu, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan mu." sebal Tari.


"Tenang saja, saya pasti bertanggung jawab kok jika kamu hamil." balas Bara dengan santai.


"Bukan itu Antoni!" geram Tari. "Kamu harus bertanggung jawab agar anak-anak tidak marah karena saya datang terlambat dan belum menyediakan makanan untuk mereka, ini gara-gara kamu, karena membuang waktu saya." terangnya.


"Membuang waktu? Itu bukan membuang waktu tapi Quality time kita." sahut nya tidak terima.


"Terserah apa katamu!" balas Tari sebal dengan tatapan cuek.


Suara handphone Tari pun berdering kembali, sekarang tertera nama kak Leo di sana.


"Ekhemm. Ya hallo kak." sapa Tari berdehem.


"Maaf kak, aku sedang dalam perjalanan pulang." jawab Tari dengan cepat.


"Apa kita bisa bertemu." pinta Leo.


"Untuk apa kak?"


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu." jawabnya.


Bara menepikan mobilnya lalu merebut handphone Tari ketika tahu jika yang menelpon Tari adalah laki-laki bernama Leo itu.


"Jangan mencoba untuk menelpon istri saya lagi, apalagi meminta istri saya untuk bertemu dengan anda! Tidak tahu malu!" ucap Bara dengan nada marahnya.


"Hah istri? Istri yang tidak anda anggap!" sinis Leo terdengar.


"Di anggap atau tidak, dia tetap istri saya! Anda tidak memiliki hak apapun!" Tut Bara menutup panggilan itu dengan kesal lalu menatap ke arah samping dimana Tari berada dengan tatapan mata elangnya.


"Saya bilang kamu jangan menerima panggilan apalagi bertemu dengan laki-laki singa itu, jika kamu melanggar kamu akan tahu akibatnya!" kesal Bara kepada Tari.


"Jangan mengancam seperti itu, lagi pula saya tidak ada hubungan apa-apa dengan kak Leo." terang Tari dengan cepat.


"Jangan menyebut nama dia di hadapan saya, jijik saya mendengar kamu memanggil nya seperti itu!" kesal Bara.


"Kenapa sih, kak Leo laki-laki yang baik, dia juga pengertian dan lembut kepada wanita, lagi pula dia sudah tahu jika saya sudah menikah dengan mu." heran Tari kenapa Bara begitu kesal pada Leo.


Bara diam tidak menjawab, ia tidak perlu menceritakan tentang kedatangan Leo ke kantor nya tadi pagi, yang membuat dirinya kesal.


"Pokok nya kamu harus mengikuti apa yang saya katakan!" ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


"Terserah lah!" sahut Tari lelah.


Bara memblokir nomor Leo itu agar dia tidak terus menghubungi istrinya terus menerus.


***


Mobil yang di kendarai Bara pun berhenti tepat di depan rumah mereka. Setelah keheningan di sepanjang jalan mereka lalui, dengan cepat Tari keluar dari mobil itu dan bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui anak-anaknya.


"Ibu kenapa lama sekali ibu datang?!" cebik Bintang dengan kesal.


"Kita sudah lapar Bu." rengek Ken.


"Maaf sayang." ucap Tari merasa tidak enak. "Jika memang kalian lapar kenapa tidak langsung makan masakan buatan bibi Milah? Kenapa harus menunggu ibu?" tanya Tari dengan lembut.


"Kami mau makan masakan ibu saja!" jawab Bintang berseru.


"Ya ampun, jika kalian memang sudah lapar, makan saja jangan di tahan seperti itu!" sedikit kesal juga pada anak-anak.


"Bagaimana jika kita makan di restoran saja, makanan nya pasti enak-enak." tawar Bara tiba-tiba karena mendengar anak kembarnya kesal.


"Kami tidak mau, makanan yang ibu buat lebih enak dan sehat." jawab mereka kompak membuat Tari senang karena mereka paham dan memuji Tari dengan begitu lantang. Tapi sebal juga karena mereka harus menahan rasa laparnya di saat Tari tidak bisa menyiapkan makanan.


"Ok memang masakan ibu kalian memang enak, tapi apa kalian akan menahan lapar kalian itu!" ucap Bara dengan kesal pada ketiga anaknya yang keras kepala itu.


"Biarkan saja kami lapar, jika ibu tidak mau memasak makanan untuk kami!" ancam nya dengan cemberut.


Tari tersenyum melihat tingkah ketiga anak-anaknya, mereka seperti balita saja saat merajuk seperti itu. "Baiklah jika kalian mau menunggu, ibu akan membuat makanan tercepat untuk kalian bertiga." akhirnya Tari pun harus mengalah karena tidak tega juga. "Tapi sebelum ibu membuat makanan untuk kalian, ibu ganti pakaian terlebih dulu." ijin Tari dan di angguki mereka dengan semangat.


"Ok Bu. jangan lama-lama." ucap Bintang dengan riang.


Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih tertutup Tari pun kembali ke dapur untuk memasak.


"Bu, ibu akan membuat makanan apa untuk kita?" penasaran Bintang pun bertanya.


"Ibu akan membuat pasta saja ya, supaya cepat dan kalian bisa langsung makan." jawab Tari.


"Yeay pasta, aku mau pasta yang banyak keju nya rasa carbonara ." langsung Bintang pun berseru.


"Aku sedikit pedas ya bu pastanya atau rasa bolegnese juga tidak apa-apa ." Ken pun berpesan.


"Aku mau rasa saus marinara." pesan Langit lebih rasa ke Indonesiaan yang mudah di dapatkan di Indonesia.


"Ok. Siap." Tari menyanggupi pesanan mereka.


"Saya rasa Alfredo." pesan Bara.


"Kita tadi sudah makan di hotel, apa kamu belum kenyang juga?" saat Tari mendengar Bara mengikuti anak-anak nya.


"Saya juga mau mencoba pasta buatan mu, memang apa salahnya?" Bara dengan santainya berucap.


Saat Tari akan menyahuti ucapan Bara, tiba-tiba Bintang pun menyela. "Jadi tadi Daddy dengan ibu pergi ke hotel dan makan di sana tanpa mengajak kami?" cebik Bintang dengan menatap satu persatu pada wajah Tari dan Bara. "Membiarkan kami kelaparan karena menunggu ibu yang lupa membuat makanan untuk kami!" lanjutnya.


Tari melototkan kedua matanya pada Bara yang diam saja tanpa menjawab sebagai kode untuk mencari alasan agar anak-anak tidak marah, namun bukan jawaban Bara malah memberikan senyuman nakal pada Tari membuat Tari sebal.


"Sayang tadi Daddy menjemput ibu dari toko untuk pulang, tapi tiba-tiba klien Daddy mu menelpon dan mengajak untuk bertemu di hotel. Jadi mau tidak mau kami harus menemani dulu begitu." jelas Tari dengan gugup.


"Kenapa ibu tidak menelpon kami, dan memberi tahu kami jika ibu dan Daddy ada di hotel, jadi kami bisa meminta sopir untuk mengantarkan kami ke sana." seloroh Bintang yang membuat Tari hanya bisa mangap-mangap saja.


"Daddy dan ibu sedang ada urusan orang dewasa, jadi kami tidak bisa mengajak kalian bertiga." jelas Bara menimpali.


"Sudah jangan kalian bahas ini lagi ya, kalau kalian terus membahas ini ibu kalian tidak akan bisa membuat pasta karena harus menjawab pertanyaan kalian ini." Bara pun dengan lembut meyakinkan ketiga anaknya yang terlihat kesal.


'Baru di tinggal ke hotel beberapa jam saja sudah kesal seperti itu apalagi jika pergi berbulan madu selama berminggu-minggu. Ah memikirkan bulan madu, sepertinya akan sangat menyenangkan.' batin Bara seraya senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Bara melihat tatapan Tari, Ken, Langit dan juga Bintang padanya saat ia tersadar dari lamunannya.


"Daddy mu mulai kumat gila nya." seloroh Tari dengan mengejek karena memperhatikan Bara sedang tersenyum geli.


__ADS_2