Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kenyataan


__ADS_3

"Ken, kamu tahu apa kesalahan kamu hari ini?" tanya Bara masih menatap ke arah depan tanpa menoleh ke arah Ken yang duduk di sampingnya.


Langit diam tidak menjawab, ia masih memperhatikan ke arah jalanan. Langit tidak sadar jika Bara sedang bertanya padanya.


"Ken!" bentak Bara kesal.


Langit menoleh saat tuan yang duduk di sampingnya memanggil nama yang dia kira Ken anaknya. "Anda panggil saya?" tanyanya datar.


Bara membuang nafasnya secara kasar. "Kamu tidak tuli kan?!" tanya nya lagi dengan tatapan mata yang tajam.


"Tidak." sahut Langit pendek.


"Apa Daddy harus membersihkan kotoran di telinga kamu, agar kamu bisa mendengar apa yang Daddy ucapkan tadi?!" sarkas nya penuh emosi. Bara mengeram kesal. "Ken, Daddy tidak melarang kamu untuk keluar rumah. Tapi jika kamu mau keluar rumah, kamu harus meminta ijin terlebih dahulu kepada Daddy, dan kamu juga harus ada pengawal yang menjaga kamu. Bukannya kabur seperti ini!" ujar Bara menahan emosi nya.


"Dan tadi, untuk apa kamu berada di supermarket, kamu bisa kan menyuruh bibi atau pekerja lainnya untuk membelikan apa yang kamu butuhkan." lanjut Bara masih dengan nada yang kesal.


Mengetahui Ken yang diam saja tanpa ada sahutan apapun membuat Bara menjadi bertambah kesal. "Kenapa kamu hanya diam saja?!" tanya Bara.


"Aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan." sahut Langit santai.


"Apa ini otak cerdas yang kamu miliki? Sampai apa yang di ucapkan Daddy kamu tidak mengerti?!" geram Bara.


Langit menghela nafasnya malas. "Tuan, bagaimana aku mengerti apa ucapan anda itu, aku bukan Ken yang anda maksud!" kesal Langit namun masih dengan suara rendah, ia sebenarnya takut dengan laki-laki yang ada di sampingnya itu.


Bara tersenyum sinis. "Apa tadi saat kamu keluar rumah, otak mu terbentur tiang listrik, sampai kamu bisa hilang ingatan seperti itu!" kesal Bara.


"Tidak, tapi aku bersungguh-sungguh. Aku bukan Ken putra anda tuan." jelas nya dengan cepat.


"Jangan main-main ya kamu Ken. Walaupun kamu berpura-pura hilang ingatan, Daddy akan menghukum mu, dan kamu tidak akan lepas dari hukuman Daddy!" ancam Bara tidak main-main.


"Terserah apa kata anda tuan." pasrah Langit lelah, tapi dalam hatinya sungguh ia sangat takut karena laki-laki ini begitu asing dengan nya, dan dia juga terlihat sangat galak.


***


"Ibu aku kesal karena kita tidak jadi berbelanja!" ucap Bintang dengan cemberut. "Padahal kan aku mau beli sesuatu." sambung nya menggemaskan.


"Ya nanti saja ibu yang beli, sekarang bukan waktu yang tepat nak..." ucap Tari lembut merayu anaknya agar tidak kecewa.


"Ya ampun aku benar-benar takut, jangan sampai kejadian tadi terulang lagi." batin Tari merasa khawatir jika pertemuan mereka akan kembali di pertemukan lagi.


"Bu tadi aku merasa tidak enak pada tuan tadi." ucap Bintang pelan.


"Kenapa kamu harus tidak enak padanya?" tanya Tari heran.


"Karena aku sudah mengotori baju tuan itu dengan es krim ku." jelas Bintang merasa tidak enak.


"Sudahlah tidak apa-apa, kamu jangan merasa tidak enak, kita gak kenal dengan tuan itu, lagi pula kita tidak akan bertemu dengan nya lagi." ucap Tari gugup.


"Kok ibu begitu?" tanyanya heran kenapa ibunya seolah tidak peduli dengan kesalahan yang Bintang lakukan, padahal biasanya ibunya itu selalu harus meminta maaf kepada orang jika kita merasa salah. "Tapi untungnya aku sudah meminta maaf, dan beruntung tuan itu tidak memarahiku." sambung nya merasa senang bertemu dengan tuan tadi.


"Lain kali, kamu harus hati-hati, dan ingat apa kata ibu, jangan berbicara dengan orang asing." ujar Tari mengingatkan.


"Aku mengerti ibu..." ucap Bintang.


"Langit, apa kamu baik-baik saja, kenapa dari tadi kamu hanya diam saja? Apa ada sesuatu yang terjadi di toilet tadi?" tanya Tari heran dengan anaknya yang diam saja.


"Aku baik-baik saja." ucapnya pelan.

__ADS_1


"Iya kenapa kak Langit diam saja, biasanya kan kak Langit pasti timpal pembicaraan kita tadi." sambung Bintang juga heran.


"Tidak apa-apa kok, memang nya terlihat aneh ya?" tanyanya gugup.


"Emh gak sih, ya sudah kita sekarang langsung pulang saja ya." ujar Tari dan di angguki mereka berdua.


Sesampainya di rumah, Tari dan kedua anaknya langsung memasuki rumah. Ken yang baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di rumah Tari pun langsung mengedarkan pandangannya dan menyapu seluruh ruangan di dalam rumah itu.


"Aduh aku udah gak tahan..." teriak Bintang langsung menubruk tubuh saudaranya sampai terhuyung ke depan.


"Bintang... kamu mau kemana sih?" teriak Tari bertanya.


"Aku mau pipis... gak kuat Bu." jawabnya dengan berteriak. Dan brug suara pintu kamar mandi terdengar sangat keras membuat Tari dan Ken saling pandang lalu tersenyum seraya menggelengkan kepala mereka berbarengan melihat kelakuan Bintang.


"Adik mu itu, selalu saja begitu." ucap Tari. "Ibu masuk kamar dulu ya." pamit Tari cepat dan Ken pun mengangguk seraya mengikuti langkah Tari, lalu ia menghentikan langkahnya di ruangan tamu.


Yang pertama kali Ken lihat saat di dalam rumah adalah, foto-foto yang mungkin orang-orang yang tinggal di sana. Tubuh nya terpaku saat Ken melihat wajah yang sangat mirip dengannya di foto itu.


"Apa dia yang bernama Langit?" gumam nya dalam hati. "Dia mirip sekali dengan ku." sambung Ken seraya terus memperhatikan wajah anak laki-laki yang ada di dalam foto itu.


"Apa aku saudara kembar dengan mereka?" tanya Ken dalam hatinya. "Lalu, jika aku dengan mereka kembar, kenapa aku sampai terpisah seperti ini?" tanyanya semakin bingung dan ada sedikit rasa sakit yang ia rasakan di dalam hatinya.


"Jika aku memang masih saudara kembar dengan mereka, kenapa ibu itu sampai memisahkan aku dengan saudara kembar ku, dan hanya aku yang dia berikan pada Daddy?" pertanyaan demi pertanyaan saling bermuculan di otak Ken saat ini, hal ini membuat Ken semakin penasaran ada apa dengan kehidupan nya.


"Apa ibu itu adalah ibu kandung ku?" lirih nya dalam hati. "Jika memang dia adalah ibu ku, semudah ini aku menemukannya, bahkan ibu itu yang menarik dan membawa ku kesini." batin Ken terus saja berkelana.


"Ah ya Tuhan... apa ini permintaan ku yang Kau kabulkan untuk ku? bertemu dengan ibu kandung ku dengan jalan yang begitu mudah." gumamnya. "Dan sekarang aku harus bagaimana? Apa aku harus berpura-pura menjadi anak laki-laki yang ada di foto itu, berpura-pura menjadi Langit?" ucapnya dalam hati.


"Langit." panggil Tari melihat putranya hanya berdiri mematung di depan sebuah foto.


Ken tersentak karena terkejut dengan panggilan Tari yang tiba-tiba di saat dirinya sedang fokus menatap sebuah foto yang ada di hadapannya.


"Emh tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat foto kita saja di sana." jawab Ken seadanya.


"Oh, bagus kan gambar kita di sana." ucap Tari dengan tersenyum.


"Iya bagus." sahut Ken cepat.


"Kamu masih mau melihat foto kita? Ibu ke dapur saja ya, ibu mau masak untuk makan kita nanti." ujar Tari.


"Iya." sahut Ken pelan.


Tari melangkahkan kakinya menuju ke dapur, namun ia menolehkan kepalanya melihat ke arah Langit, dan saat itu juga Ken sedang menatapnya lalu dia pun tersenyum manis pada Tari, Tari merasa hari ini putra nya benar-benar berbeda lebih diam tidak seperti biasanya.


"Ada apa dengan anak itu?" gumam Tari saat dia sudah berada di dalam dapur. Lalu Tari pun menghela nafasnya panjang. "Sudahlah nanti akan aku ajak bicara, sekarang aku akan membuat masakan enak untuk keluarga ku." gumam Tari penuh semangat.


Tari mempersiapkan bahan-bahan masakan nya, namun tiba-tiba kegiatannya terhenti dia jadi mengingat saat Bintang bertemu dengan laki-laki angkuh itu. "Untung saja laki-laki angkuh itu hanya bertemu dengan Bintang, bagaimana jika dia bertemu dengan Langit. Oh Tuhan aku masih bersyukur Langit tidak di pertemukan dengan nya." batin Tari lega. "Tapi aku masih tidak tenang, bagaimana jika mereka bertemu lagi, ya Tuhan..." gumamnya pelan terdengar meringis.


"Kenapa Tari?" tanya Omah yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Eh omah... aku kaget!" ucap Tari seraya mengusap dadanya karena terkejut.


"Kamu kenapa melamun?" tanya omah penasaran.


Tari menarik nafasnya perlahan untuk menenangkan hatinya yang terkejut.


"Ada apa Tari?" tanya Omah khawatir melihat Tari sampai terkejut seperti itu.

__ADS_1


Setelah merasa tenang Tari dengan pelan menceritakan apa yang terjadi yang padanya hari ini yang membuat dirinya sangat ketakutan. Namun sebelum Tari bercerita, ia mengedarkan pandangannya ke arah pintu, ia takut jika ada anaknya yang mendengar pembicaraan mereka.


"Omah tahu? Hari ini aku menghadapi sesuatu yang sangat membuat jantungku berhenti berdetak, Bintang tadi dengan tidak sengaja di pertemukan dengan laki-laki itu omah, laki-laki yang menjadi ayah biologisnya. Aku sampai tidak mengerti dengan jalan hidup ku. Tapi untungnya saja laki-laki itu tidak bertemu dengan Langit, jika dia bertemu dengan Langit aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku dan juga anak-anak ku." ujar Tari sungguh sangat takut.


"Lalu apa dia mengenali Bintang?" tanya omah sama khawatir nya seperti Tari.


"Ntahlah, tapi tadi Bintang tidak membuka kacamata dan topi nya yang ia pakai. Semoga saja itu tidak membuat laki-laki itu menyadarinya." ujar Tari penuh harap.


Omah Mayang menghela nafasnya lega. "Ah syukur lah Tari, omah juga jadi ikut deg degan seperti kamu." ucap Omah.


"Iya, akhir-akhir ini, Tuhan sering mempertemukan aku dengan laki-laki itu. Semakin aku mencoba untuk menghindari nya, semakin aku sering bertemu dengan nya, ntah bagaimana caranya pasti selalu saja ada jalan, aku semakin takut dan harus lebih berhati-hati." ujar Tari merasa sedikit frustasi.


"Apa mungkin, Tuhan sedang mempersatukan kamu dan anak-anak mu bersama dia?" ucap Omah menatap lembut pada Tari.


"Omah, aku tidak mau bertemu dengan nya apalagi harus bersatu dengan nya." ucap Tari menggebu.


"Shut!" Omah menutup mulut Tari dengan cepat. "Tidak baik bicara seperti itu Tari." omel omah pada Tari. "Bagaimana rasa benci kamu nanti akan menjadi rasa cinta yang luar biasa pada laki-laki itu, apalagi kalian memiliki anak yang bisa saja mempersatukan kedua orang tuanya." goda omah dengan senyum di bibirnya.


"Itu tidak mungkin terjadi omah!" ucap Tari dengan cepat. "Mungkin dia sudah memiliki istri dan menjadi ibu sambung Angkasa." sambung Tari merasa tidak rela.


"Hemmm ya kamu benar Tari, sudahlah sekarang kamu lanjutkan memasak nya, nanti anak kembar mu kelaparan karena ibunya belum menyelesaikan masakannya!" titah omah memberitahu.


"Ah iya, aku sampai lupa." sahut Tari menepuk jidatnya melihat bahan masakan yang ia sediakan belum ia sentuh sama sekali karena memikirkan hal yang terjadi padanya hari ini.


Saat Omah Mayang dan Tari berbicara tadi, mereka tidak menyadari jika Ken berdiri di belakang pintu dapur, dan ia sangat jelas mendengar apa yang di ucapkan Tari pada Omah yang baru saja Ken lihat secara langsung. Tadi nya saat Tari ke dapur untuk menyiapkan makan, Ken mencoba untuk membantu nya, ia ingin tahu dan ingin mengajak Tari untuk mengobrol untuk mendapatkan sebuah informasi, namun langkahnya terhenti saat ia tidak sengaja melihat seorang nenek berjalan menuju Tari berada, Ken tidak jadi menghampiri Tari yang berada di dapur, namun ia berdiri menyembunyikan dirinya di balik pintu. Dan sungguh ini sebuah kenyataan yang membuat Ken terkejut mendengarnya.


Ken langsung menjauh dari balik pintu menuju tempat ruang keluarga, ia takut ketahuan jika ibunya itu tahu jika dirinya mendengar pembicaraan nya.


"Apa laki-laki yang ibu dan Omah itu bicarakan adalah Daddy?" tanyanya dalam hati Ken.


"Apa Daddy tadi ada di sana, mencari ku?'' lanjut Ken.


"Lalu berarti aku dan Langit adalah saudara kembar dan juga Bintang adik kembaran ku?" batinnya.


"Ibu pasti mengira aku adalah Langit dan Daddy pasti sudah menemukan Langit dan menyangka Langit adalah aku." ujar Ken menerka-nerka.


"Sekarang aku tahu, ternyata aku adalah anak kandung ibu dari Langit dan Bintang, saudara kembar ku." desah nya tidak percaya ia akan mengetahui sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh ibunya itu.


"Nak kamu tidur?" tanya Tari dengan memandang wajah Ken yang sedang menutup mata dan menopang tangan nya di atas kepala.


Ken tidak tertidur sama sekali, dia hanya masih terkejut dengan semua kenyataan yang ada.


"Kalau kamu lelah, kamu tidur di kamar saja nak." sambung Tari masih menatap ke arah Ken.


Ken membuka kedua matanya dengan perlahan dan menarik tangan nya. "Tidak, aku hanya memejamkan mata sebentar." elak Ken dengan senyuman sendu.


"Kamu istirahat saja sana di kamar, Bintang juga sedang tidur, mumpung dia sedang berada di kamar ibu, jadi ibu yakin Bintang tidak akan menggangu mu." ujar Tari dengan lembut.


Ken tersenyum tipis. "Emh baiklah Bu, aku akan masuk ke kamar." ijin Ken cepat.


Setelah masuk ke kamar Langit, Ken langsung memindai seluruh ruangan, kamar nya tidak sebesar kamar yang selalu ia tempati, namun kamar ini begitu nyaman.


"Jadi aku tidur berdua dengan adikku." gumamnya melihat dua kasur di kamar itu.


"Emh baiklah, untuk sementara ini aku akan tinggal di sini, aku yakin Langit pasti sedang berada di rumah ku, karena Daddy pasti mengira Langit adalah aku." ucap Ken.


"Aku akan mencari tahu informasi tentang kehidupan ibu dan saudara kembar ku." gumamnya mantap.

__ADS_1


Ken saat tidak sengaja mendengar pembicaraan Daddy dan kakeknya tidak semua yang Ken dengar saat itu, ia hanya mendengar jika kakek nya yang tidak suka pada nya dan Ken hanya mendengar jika Ken di ragukan sebagai anak dari Bara Daddy-nya. Ken penasaran dengan kehidupan nya yang sering di sembunyikan oleh Bara.


__ADS_2