Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
kepura-puraan Leo


__ADS_3

"Tuan saya sudah mendapatkan informasi yang anda inginkan." ucap sang anak buah yang tadi mendengarkan semua perkataan Leo yang sedang mabuk itu.


"Kerja yang bagus!" puji Bara dengan sangat puas. "Cepat datang ke sini, saya tunggu di ruangan saya." ucap Bara.


"Baik tuan." sahut nya.


Bara pun menunggu anak buahnya itu dengan tidak sabar, karena perkataan anak buahnya itu meyakinkan sekali jika dia mendapatkan apa yang Bara inginkan.


"Apa ada kabar yang membuat anda gembira tuan?" tanya Al melihat Bara merasa puas.


"Belum, tapi sepertinya akan dan segera." sahut Bara tanpa melihat ke arah Al.


Al mengangguk, ia pun penasaran apa yang di dapatkan oleh anak buah yang sedang mencari tahu tentang Leo itu.


Beberapa menit kemudian, seseorang yang ia tunggu pun datang, Bara yang mengetahui dia datang pun langsung menyuruh dia masuk.


"Bagaimana?" tanya Bara tidak sabar.


"Seperti yang anda curigai tuan, tuan Leo memang berpura-pura sakit karena kehilangan ginjalnya. Dia memalsukan data tentang pengangkatan ginjalnya itu, karena dia ingin menarik perhatian istri anda, agar istri anda merasa bersalah dan memberikan perhatian Nona Mentari untuk tuan Leo itu." jelas anak buah Bara.


"Dan satu lagi informasi yang saya dapatkan, dan ini mungkin akan membuat anda semakin terkejut. Ternyata kecelakaan yang menimpa anak-anak anda lalu itu adalah rencana tuan Leo, karena bagi tuan Leo anak-anak anda bersama nona Mentari itu adalah penghalang tuan Leo untuk bisa mendapatkan nona Mentari, itulah sebabnya kenapa tuan Leo merencanakan hal jahat itu." terang nya lagi.


Bara yang mendengar penuturan dari anak buah nya itu membuat Bara mengeratkan genggaman tangannya dengan kuat, ia benar-benar marah dan ingin membunuh si singa laki-laki itu.


"Apa kamu yakin dengan informasi ini?" dengan dingin Bara pun melontarkan pertanyaan nya.


"Saya sangat yakin tuan. Saya memiliki bukti, saya sudah merekam semua ucapan tuan Leo, ketika dia sedang dalam pengaruh minuman keras yang ia minum." ujar anak buahnya itu seraya menyerahkan bukti kepada Bara.


Bara menatap anak buahnya itu dengan mengambil sebuah bukti yang ia berikan padanya. Lalu ia pun memutar rekaman itu dan ia dengar dari awal sampai akhir. Ia semakin menggertakkan gigi nya dan genggaman tangannya semakin kuat.


"Ini akan menjadi sebuah bukti, tapi bukti ini harus kita perkuat, dengan mereka yang membantu Leo untuk melakukan rencana jahatnya, karena dia sedang mabuk saat kamu merekam nya, maka dia akan memiliki alasan kepada polisi, ketika kita menyerahkan semua bukti ini kepada polisi, kita benar-benar sudah siap jika apa yang dia ucapkan adalah sebuah kenyataan." ucap Bara dengan dingin.


Al dan anak buah itu pun mengangguk membenarkan.


"Sebelum kita melaporkan pada polisi, kalian harus menemui dokter yang menangani operasi bajingan itu, jika dokter itu tidak mau mengakui kejahatannya paksa atau ancam dia sebisa kalian." titah Bara tanpa hati.


"Baik tuan." ucapnya bersamaan dengan di iringi dengan anggukan.


"Saya ingin tahu sampai mana dia akan terus mencari alasan, ketika kita sudah mendapatkan bukti-bukti kejahatannya." Bara dengan rasa geramnya berucap.


"Brengsek! Bajingan itu mencari masalah dengan ku, aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang." gumam Bara penuh emosi.


*


*


*


"Jangan sentuh anak-anakku!" teriak Tari melihat ketiga anaknya berbicara dengan Leo.


Saat ini Tari tengah berada di salah satu restoran siap saji, berniat mengajak ketiga anaknya untuk makan, karena mereka selalu senang jika memakan makanan siap saji di restoran itu.


Namun Tari tidak menyangka akan bertemu dengan Leo di sana. Ntah kebetulan atau sengaja, Tari tidak mengerti.


Tari sudah tahu siapa yang merencanakan kecelakaan pada anak kembarnya itu, dan itu membuat Tari merasa terkejut ketika Bara memberitahu nya dengan bukti yang ia dapatkan. Ternyata kesibukan suaminya itu adalah mencari tahu tentang kecelakaan itu terjadi, apalagi Tari semakin terkejut jika Leo membohongi nya dengan pemalsuan data tentang kehilangan salah satu ginjalnya itu.


Tari dengan sigap menarik ketiga anaknya itu ke belakang tubuhnya untuk menjauhkan Leo dari anak-anaknya.


"Sun sun apa mereka anak-anakmu?" tanya Leo dengan santai.


"Ya, mereka adalah anak-anakku yang ingin kamu celakai!" terang Tari dengan tatapan marah.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksudkan Sun sun?" kilahnya tidak mengerti dan wajah yang polos tak merasa bersalah Leo tampilkan.


"Kak Leo laki-laki munafik! Aku tidak menyangka kak Leo akan melakukan hal yang tidak berperasaan seperti itu, aku tidak mengenal kak Leo sekarang." jelas Tari dengan menggebu.


Leo mencoba menenangkan hati nya, ia harus menjaga agar dia tetap tenang karena tidak mau jika Tari mengetahui kejahatannya, karena Leo yakin jika tidak ada yang tahu tentang apa yang ia rencanakan selama ini.


"Sun sun, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu katakan. Kamu tahu kan aku baru saja keluar dari rumah sakit karena luka operasi ku baru saja mengering." jelas Leo mengingatkan Tari akan perjuangan menyelamatkan nyawanya.


Tari terdiam menatap Leo untuk mendengar apa yang akan ia katakan selanjutnya, jika saja Tari tidak mengetahui semua kejahatan Leo selama ini dari suaminya dan tidak ada bukti sama sekali, mungkin saja saat ini Tari akan merasa sangat bersalah dan tidak enak hati pada Leo, tapi semuanya sudah jelas Leo hanya berpura-pura sakit karena ia ingin mendapatkan dirinya tanpa ada anak-anaknya, sungguh laki-laki di hadapannya itu seakan memiliki dua wajah.


"Ayok anak-anak kita pergi dari sini!" ajak Tari dengan meraih tangan ketiga anak kembarnya. "Jangan pernah berbicara dengan laki-laki itu!" larang Tari dengan tegas.


"Bu, kenapa kita pulang." rengek Bintang. "Kita kesini mau makan, lagi pula om itu baik kok Bu." terang Bintang memuji Leo.


"Nanti ibu akan jelaskan, sekarang ayok kita pulang!" ucapnya tegas.


Melihat ibunya dengan wajah yang sangat marah membuat ketiganya tidak berani untuk menolak ajakan Tari itu.


"Sun sun tunggu!" cegah Leo seraya mencekal lengan Tari untuk menghentikan langkahnya.


"Lepas!" ucap Tari dengan nada dingin.


"Tidak! Aku ingin penjelasan dari mu." ucap Leo.


"Apa yang harus aku jelaskan, dalam hati kak Leo pasti sudah merasa." balas Tari dengan nada datar seraya mencoba untuk melangkahkan kakinya dengan menepis tangan Leo yang berada di lengannya.


"Lepas! Atau aku akan teriak!" ancam Tari tidak main-main.


Leo melepaskan cekalan tangan nya itu dengan perlahan. Dan Tari pun pergi bersama ketiga anak-anaknya.


"Sial!" gumam Leo kesal.


Tanpa pikir panjang, Leo segera mengejar Tari yang belum jauh dari jangkauannya, ia tidak mau Tari marah dan membencinya, ia harus mencoba menjelaskan kepada Tari bahwa ini adalah salah paham, karena itulah satu-satunya cara agar Tari tidak menjauhi dirinya dan itu akan menyulitkan nya untuk mendapatkan hati Tari nantinya.


"Sun sun tunggu! Ini sepertinya salah paham, kamu menuduh ku tanpa bukti. Mungkin seseorang yang tidak suka dengan kedekatan kita, ingin membuat hubungan kita merenggang dan menjauh." ujar Leo mencoba menjelaskan.


Tari tidak mempedulikan ucapan Leo, apalagi ada anak-anak di sana, ia tidak mau anak-anaknya akan pusing melihat bagaimana sulit nya menjadi orang dewasa.


"Sun sun tolong dengarkan aku." ucap Leo dengan mencoba menghentikan langkah Tari yang melangkah kakinya dengan sangat cepat.


Tari menarik nafasnya dengan kasar lalu menatap ketiga anak-anaknya. "Anak-anak kalian masuk ke dalam mobil terlebih dahulu." titah Tari dengan lembut kepada anak kembarnya. Mereka pun mengangguk lalu pergi menuju mobil yang terparkir dengan seorang sopir yang menunggu di sana.


Tari menatap Leo dengan malas. "Lebih baik kak Leo tidak perlu bertemu dengan ku lagi, aku tidak mau bertemu dengan orang seperti kak Leo." ucap Tari dengan tegas.


"Kenapa seperti itu, apa salah ku padamu Sun sun?" masih Leo berpura-pura tidak mengerti.


Tari menatap Leo dengan geram karena laki-laki di hadapannya itu masih saja tidak mau mengakui, padahal perbuatannya itu begitu jahat dan tidak bisa di maafkan.


Kalau saja suaminya sudah mengumpulkan semua bukti yang cukup kuat, Leo pasti sudah mendekam dalam penjara.


"Jangan pernah menemui ku lagi!" ucap Tari dengan sangat kesal.


Merasa mulai kesal dengan sikap Tari seperti itu membuat Leo tidak bisa menahan kesabarannya.


"Kamu harus ikut denganku!" ucap Leo seraya menarik tangan Tari dengan paksa.


"Jangan menyentuh ku!" Tari pun menolak dengan paksa untuk melepaskan tangan Leo yang menariknya itu.


"Kamu harus menjadi milikku Sun sun." ucap Leo tanpa ragu.


"Tidak! Aku tidak mau, aku sudah menikah. Lepaskan aku!" paksa Tari melepaskan diri.

__ADS_1


"Diam! Kamu akan menjadi milikku! Aku tidak peduli kamu sudah menikah atau belum." ucap Leo terus menarik tangan Tari membawanya pergi.


"Tolong..." teriak Tari meminta tolong.


"Ibu..." Ken dan Langit turun dari mobil dan mengejar Leo yang membawa ibunya dengan paksa itu. Sedari tadi di dalam mobil mereka memperhatikan ibunya bersama laki-laki yang baru mereka lihat hari ini.


"Lepaskan Leo!" teriak Tari kesal.


"Tidak akan!" Leo semakin marah dengan penolakan Tari padanya apalagi panggilan nya Tari sudah berbeda saat memanggilnya.


"Ibu... Lepaskan ibu kami!" teriak Ken dan Langit.


"Anak-anak." gumam Tari dengan menggelengkan kepalanya agar tidak mendekat karena Tari takut jika Leo akan menyakiti mereka.


"Ibu kami akan menolong mu." teriak anak-anak.


"Anak-anak yang baik." ucap Leo dengan seringai di bibirnya. "Sepertinya aku tidak akan hanya mendapatkan ibunya tapi juga anak-anak mu." lanjut Leo dengan tatapan yang mulai menunjukkan kejahatannya.


"Jangan sakiti anak-anakku!" ucap Tari dengan waspada.


"Jika kamu tidak mau aku menyakiti anak-anak mu, ikuti apa yang aku inginkan." ucap Leo dengan santai.


"Ibu..." panggil Ken dan Langit ketika anak buah Leo mulai menghalangi langkah kedua anak itu.


"Jangan sakiti mereka." teriak Tari dengan takut. "Aku mohon kak Leo." pinta Tari dengan lirih.


"Kalau begitu masuk ke dalam mobil!" titah Leo.


"Ayok cepat!" teriak Leo yang kesal melihat Tari hanya diam saja menatap ke arah anak-anak nya.


"Antoni... aku mohon datang lah, selamatkan anak-anak kita." batin Tari penuh harap dengan kedatangan Bara saat ini.


"Aku menyesal karena aku tidak meminta ijin saat akan pergi bersama anak-anak." batin nya penuh sesal.


"Ayok masuk!" ucap Leo tidak sabar.


"Tapi kak Leo janji jangan sakiti anak-anakku." pinta Tari dengan rasa takutnya.


"Masuk!" tanpa mendengar permintaan Tari Leo memaksa Tari untuk masuk ke dalam mobil nya.


"Kak Leo aku mohon." pinta Tari tanpa daya.


"Tidak, aku tidak akan menyakiti mereka, tapi aku hanya ingin bermain-main sebentar dengan mereka." seringai licik muncul di wajah Leo saat ini.


"Apa maksud mu?" panik Tari melihat Leo kini dengan wajah yang berbeda.


"Hahaha, aku akan membuat Bara memilih untuk menyelamatkan mu atau anak-anaknya." jelas Leo dengan jahat.


"Aku yakin suami mu itu akan bingung untuk memilih, ketika suami mu itu sulit untuk memilih aku akan meminta dia untuk menceraikan mu dan menukar perceraian mu itu dengan anak-anak mu." jelas Leo tanpa hati.


"Kamu benar-benar jahat!" ucap Tari dengan marah.


"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu Sun sun. Apa kamu tidak melihat sisi baiknya, aku ingin kita hidup bersama dan bahagia berdua sampai kita menua nanti." ucap Leo dengan wajah penuh semangat membayangkan dia bersama Tari menjadi pasangan suami istri.


"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki seperti mu!" ucap Tari menolak dengan dingin.


"Lihat anak-anak mu." tunjuk Leo ke arah Ken dan Langit. "Apa kamu tega melihat bagaimana anak mu menderita."


"Kamu benar-benar jahat Leo!" geram Tari.


"Hahaha kamu sudah tahu kan sekarang." ucapnya dengan santai. "Jadi jangan main-main dengan ku." ancam Leo.

__ADS_1


__ADS_2