Tuan Arogan Untuk Anakku

Tuan Arogan Untuk Anakku
Bara penasaran


__ADS_3

"Pede sekali dia, siapa yang akan menggodanya!" gerutu Tari dengan kesal.


"Sepertinya saya dengar ada seseorang berbicara, apa anda mendengar nya juga?" ucap Bara menyindir perkataan Tari yang tadi terdengar oleh nya.


"Sial laki-laki ini mendengar ucapan ku." batin Tari. "Mungkin dari luar." elak Tari.


"Tuan anda baik-baik saja?" tanya Al yang datang dengan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan yang pintunya sedikit terbuka.


Tari menarik nafasnya lega. "Berduaan dengan orang macam seperti dia membuat aku tidak nyaman, untung saja pak Al datang di waktu yang tepat." batin Tari lega.


"Nona Tari, anda ada di sini?" tanya Al terkejut melihat Tari ada di dalam ruangan bersama tuan nya.


Tari tersenyum. "Tuan Bara sudah menolong anak saya, saya di sini untuk mengucapkan terima kasih kepada tuan Bara." jelas Tari keberadaan dia ada di sana.


"Oh." Al mengangguk paham.


"Tuan apa anda baik-baik saja, apa anda butuh sesuatu?" tanya Al, ia meninggalkan Bara sendirian saat ia mengurus obat yang akan di konsumsi tuannya itu.


"Tidak ada." jawab Bara.


Tari yang merasa tidak nyaman pun segera berpamitan. "Emh kalau begitu saya permisi tuan Bara, saya berterima kasih sekali kepada anda, untuk kedua kalinya anda menolong saya. Saya tidak akan pernah lupa kebaikan anda." ujar Tari dengan tulus, walaupun hati kecil nya masih ada dendam pada laki-laki itu.


Bara tidak menjawab dia hanya tersenyum kecil di bibirnya, membuat Tari semakin jengkel dengan kesombongannya. Tari hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya dengan perlahan.


"Terima kasih pak Al anda datang di waktu yang tepat." ucap Tari dengan senyum simpul nya lalu Tari pun pergi meninggalkan Bara dan Al.


Bara sedikit tidak senang saat Al datang, saat dia sedang bersama Tari tadi. Bara membuang nafas nya kasar.


"Al kamu sudah membatalkan pertemuan saya dengan media grup?" tanya Bara.


"Sudah tuan, mereka terdengar sangat kecewa karena pembatalan ini." jelas Al, ia juga heran dengan tuan nya itu tiba-tiba membatalkan pertemuan itu padahal ini kesempatan yang bagus untuk bekerjasama dengan mereka.


"Antar saya pulang saja!" titah nya.


"Tapi tuan, selain pertemuan dengan media group anda juga ada undangan makan siang bersama salah satu pimpinan PT jaya group." ucap Al mengingatkan.


Bara menghela nafasnya, perasaan yang dari tadi tidak enak yang ia rasakan membuat mood Bara semakin merasa tidak nyaman, ia ingin berlama-lama saja di rumah sakit, ntah kenapa pikiran nya dari tadi ingin tahu bagaimana kondisi anak gadis itu.


"Ya sudah atur saja." pasrah Bara tidak semangat, jika ia menolak undangan itu merasa tidak enak juga karena pimpinan jaya merupakan perusahaan yang sudah bekerja sama dengan perusahaan milik nya.


***


Beberapa jam kemudian, dokter yang sudah selesai menangani Bintang di ruang operasi pun keluar.


"Bagaimana Dok?" tanya Tari cepat melihat dokter itu keluar di ruang operasi.


"Operasi nya berjalan dengan lancar, dan pasien sudah melewati masa kritisnya." jelas dokter itu sendiri tersenyum lega.


"Ah syukurlah Dok." ucap Tari lega.


"Pasien akan segera di pindahkan ke ruangan inapnya, bersyukur juga ada pendonor darah untuk anak anda sehingga anak anda bisa terselamatkan." ucap dokter pada Tari.


"Iya saya sangat bersyukur sekali dok." ucap Tari dengan tersenyum.


"Baik kalau begitu saya permisi." pamitnya.


Tari mengangguk. "Ya dok silahkan." balas Tari menarik nafasnya dengan lega.


***


Keesokkan harinya Tari tengah menemani Bintang yang sudah sadarkan diri namun masih sangat lemah.


"Sayang kamu makan ya, ibu yang akan suapi kamu." bujuk Bintang dengan sebuah mangkuk bubur untuk Bintang.


Bintang menggelengkan kepalanya. "Aku belum lapar Bu." rajuk nya.


"Tapi kamu harus makan nak. Kamu mau cepat sembuh kan?" rayu Tari kembali.


"Aku tidak mau Bu, kepala ku sakit sekali." rengek Bintang membuat Tari tidak tega.


"Kepala kamu sakit? Apa sakit sekali?" tanya Tari dengan nada yang begitu khawatir.


"Ya sakit Bu." rengek Bintang kembali.


"Ibu panggilkan dokter ya, agar kamu bisa diperiksa." tawar Tari merasa cemas.


"Tidak usah Bu, aku masih bisa menahan nya." tolak Bintang pelan.


"Serius?" tanya Tari dan Bintang mengangguk.


"Baiklah, tapi ibu akan tetap suapi kamu makan." seru Tari.


"Aku tidak mau Bu, nanti saja." rengek Bintang membuat Tari menghela nafasnya. "Ya sudah ibu tidak akan memaksamu, tapi jika kamu lapar katakan pada ibu." titah Tari mengomel.


"Iya ibu..." jawab Bintang dengan cemberut.


"Sekarang kamu istirahat saja ya, ibu akan menemani kamu di sini." ucap Tari menatap lembut pada Bintang.

__ADS_1


Bintang pun memejamkan kedua matanya untuk beristirahat. Sedangkan Tari ia menatap lekat pada wajah pucat anak perempuan nya itu.


"Kamu tahu nak, siapa yang menolong kamu di saat kamu sedang kritis? Dia ayah mu, ayah kandung mu. Tapi... maaf ibu tidak bisa memberi tahukan pada kamu." lirih Tari dalam hatinya yang sakit.


"Maaf nak, ibu begitu takut kehilangan kalian sampai ibu harus menyembunyikan kalian pada nya." tambah Tari masih dalam hatinya.


"Apa si batu Bara itu merasakan apa yang aku rasakan saat melihat Angkasa saat bertemu dengan Bintang. Kenapa ia menolong Bintang padahal ia tidak tahu jika Bintang adalah anaknya juga." pikir Tari berkelana. "Tidak! Mungkin saja si batu Bara itu hanya memiliki niat jelek padaku dengan cara menolong ku dan juga Bintang? Secara dia terlihat sangat membenci ku tapi... dia selalu menolong ku, dan bahkan dia tidak pernah meminta aku untuk membalas Budi nya." pikir Tari mulai waspada. "Ya aku harus waspada terhadap dia, jika saja dia memang memiliki niat jelek terhadap ku!"


Derrt... suara handphone Tari bergetar membuat Tari yang sedang sibuk dengan pikirannya di buat terkejut. Tari mengusap dadanya lalu dengan cepat meraih handphone itu.


"Omah." gumam Tari saat ia melihat layar handphone nya tertera nama omah.


"Ya Omah." sahut Tari menjawab panggilan itu.


"Tari maaf Omah sepertinya tidak bisa menjenguk Bintang hari ini." jelas Omah dengan nada takut.


"ada apa omah, apa yang terjadi?" tanya Tari penasaran karena mendengar ucapan omah yang bergetar.


"Tari sekarang Omah sudah ada di rumah, tadi saat Omah sudah sampai di lobi rumah sakit omah bertemu dengan dia." jelas Omah terdengar panik.


"Dia? Maksud Omah, Omah bertemu dengan si batu Bara?" tanya Tari memastikan.


"Siapa batu Bara, Tari?" tanya Omah tidak paham.


"Ya si tuan arogan Bara itu." seru Tari dengan malas.


"Ah ya ampun Tari kamu buat omah bingung saja, ada-ada saja kamu. Iya Omah bertemu dengan si batu Bara itu." jelas Omah.


"Lalu?" tanya Tari penasaran.


"Omah tidak sengaja tadi bertatapan dengan dia, dia datang menghampiri omah, omah pikir laki-laki itu bukan dia. Dan sepertinya dia tadi sedang mengingat-ingat wajah omah." ujarnya.


"Omah langsung saja pergi ketika seseorang memanggil dia, lalu omah mencari Langit untuk mengajak nya pulang dengan segera, untung saja Tari, Langit putra mu sedang membeli minuman dan tidak sampai mereka bertemu. Jika dia bertemu dengan Langit, Omah tidak tahu harus bagaimana." jelas Omah dengan takut.


Tari menghela nafas nya lega mendengar cerita Omah. "Ya syukurlah Omah, aku jadi ikut deg degan mendengar cerita Omah, untung saja pertemuan mereka tidak terjadi."


"Iya Tari maaf kan Omah ya, hampir saja sesuatu yang kita takutkan terjadi." ucap Omah.


"Ya Omah, terima kasih ya Omah selalu ada untuk aku." lirih Tari sendu.


"Itu sudah kewajiban Omah selalu ada untuk kamu, kamu jaga kesehatan jangan sampai kamu ikut sakit saat merawat Bintang, salam untuk Bintang ya dan maaf Omah belum bisa melihat keadaan Bintang di rumah sakit." ucap omah lembut penuh kasih sayang.


"Ya Omah terima kasih atas perhatian omah padaku, akan aku sampaikan pesan dari omah juga pada Bintang." ucap Tari merasa bahagia masih ada yang menyayangi nya dengan tulus.


***


Bara berlalu pergi, terlalu malas jika memikirkan seseorang tanpa dia kenali.


"Tuan Bara, sedang apa anda di sini? Apa pengecekan kesehatan kemarin akan anda jalani?" tanya dokter Richard heran melihat Bara ada di rumah sakit.


"Emh tidak, saya hanya..." Bara berpikir untuk apa dia ada disini. "Saya hanya ingin menjenguk seseorang di sini." elak nya masuk akal.


"Oh begitu, siapa? Apa keluarga anda?" tanya dokter itu penasaran.


"Emh hanya kenalan. Ya kenalan." jawab Bara kelabakan, karena dokter Ricard pasti tahu siapa keluarga Bara bila sedang sakit jadi Bara bingung harus menjawab apa.


"Oh, ok." sahut dokter.


"Kalau begitu saya duluan." pamit Bara cepat ia tidak mau jika dokter bertanya-tanya lagi.


"Ya silahkan tuan." balas dokter Richard mengangguk.


Bara pun melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Bintang di rawat setelah ia bertanya pada petugas medis yang sedang bertugas di sana, namun saat ia sedikit lagi sampai di kamar inap Bintang ia menghentikan langkahnya itu.


"Ah kenapa aku bisa berada di sini? Ini gila, kenapa aku memikirkan kondisi anak itu, dia bukan siapa-siapa ku. Alasan apa yang harus aku berikan pada perempuan itu jika dia bertanya kenapa aku bisa menemui anak itu." batin Bara tidak habis pikir dengan sikap nya akhir-akhir ini.


Bara pun mendengus gusar apa dia masuk atau tidak, lalu tiba-tiba pintu ruangan inap Bintang pun terbuka membuat Bara yang sadar segera mencari tempat untuk bersembunyi, tak lama Tari pun keluar dari ruangan itu.


Bara yang melihat dari tempat persembunyiannya pun terus memperhatikan Tari yang terlihat lelah dan terus memijat pelipisnya yang mungkin terasa penat.


Terdengar jika Tari sedang berbicara di telepon, ntah dengan siapa Bara tidak tahu.


"Ya mbak akan kesana sebentar lagi, katakan saja pada beliau jika mbak akan menemuinya." ucap Tari.


"Ya. ok" jawab Tari lalu mematikan handphone nya itu.


"Hah." Tari membuang nafas kasar. "Aku harus pergi, tapi aku khawatir meninggalkan Bintang sendirian, sedangkan aku tidak bisa meminta omah ke sini, walaupun bagaimana pun aku tidak mau sampai si batu Bara itu tahu dan mengenali Omah." batin Tari.


Tari pun pergi setelah meminta tolong kepada suster untuk menjaga Bintang. Bintang sedang beristirahat Tari pun sudah memberi tahu Bintang jika dirinya akan pergi dulu.


Tari pun melangkahkan kakinya lalu pergi dengan tergesa-gesa dan itu tidak luput dari pantauan Bara yang masih bersembunyi.


Saat Bara bersembunyi ada seseorang menepuk pelan pundak nya membuat dirinya terkejut.


"Eh maaf tuan saya mengagetkan anda." ucap seorang OB yang tadi menepuk pundak Bara.


"Ekhemm." Bara berdehem ia malu karena ketahuan sedang bersembunyi. Lalu ia pun pergi melangkahkan kakinya dengan cepat. tanpa mempedulikan tatapan bingung dari OB itu.

__ADS_1


Bara pun akhirnya memberanikan dirinya untuk menjenguk Bintang di ruang inapnya.


"Maaf tuan, apa hubungan anda dengan pasien?" tanya seorang suster yang melihat Bara akan masuk ke ruangan dimana Bintang berada, karena sebelumnya Tari sudah meminta untuk tidak sembarangan orang untuk menjenguk Bintang.


"Sa...saya Daddy nya." ucap Bara asal.


Suster yang sedang memeriksa Bintang pun melihat ke arah wajah Bintang dan membandingkan nya, dan wajah pasien itu terlihat mirip dengan laki-laki yang ada di hadapannya. "Oh maaf tuan jika saya tidak sopan, nyonya Tari meminta saya agar tidak sembarangan orang masuk ke rawat inap pasien. Jika memang anda ayahnya silahkan tuan." jelas nya mempersilahkan.


"Saya sudah selesai mengecek infusan nona Bintang, jika tidak ada yang di butuhkan saya permisi tuan." ucap suster itu.


Bara mengangguk. "Ya, biar saya saja yang menemaninya." balas Bara.


Setelah kepergian suster itu, Bara melihat ke arah Bintang yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung nya.


"Hallo nak, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa kamu masih ingat dengan saya?" tanya Bara menatap lembut pada Bintang, ntah kenapa jika berhadapan dengan anak gadis itu membuat temperamen Bara yang selalu meledak-ledak luluh lantak dengan wajah lembut yang di miliki oleh Bintang itu.


"Om? Om yang tidak sengaja aku tabrak dan es krim nya kena pakaian om ya." tebak Bintang sedikit takut.


"Tepat sekali. Jangan takut, saya tidak akan marah kok, saya kesini mau menjenguk kamu yang sedang sakit." ucap Bara berkata lembut agar anak itu tidak takut padanya.


"Om tahu aku sakit darimana?" tanya Bintang heran.


"Kebetulan kemarin saat sedang memeriksa kondisi tubuh saya dan saat itulah kamu di bawa ke rumah sakit ini, dan kebetulan darah kita sama, om yang mendonorkan darah itu pada kamu, syukurlah sekarang kamu terlihat lebih baik."


"Om yang menolong aku? Terima kasih om, om baik sekali." puji Bintang dengan wajah pucat namun berbinar itu.


"Sama-sama, om senang bisa mendonorkan darah untuk kamu, senang melihat kamu selamat." ujar Bara dengan kelegaan di dalam hatinya.


"Maaf ya, tadi om bilang pada suster kalau om Daddy kamu." ucap Bara merasa tidak enak hati pada anak gadis itu.


"Tidak apa-apa, aku malah senang om tidak malu mengakui aku sebagai anaknya om." balas Bintang dengan senyum tipis nya.


Bara tersenyum tipis. "Ibu kamu pergi?" tanya Bara basa-basi.


"Iya, ada seseorang yang ingin bertemu ibu di toko kue, mungkin mau memesan kue aku juga tidak mengerti." jelas Bintang.


"Emh begitu, apa kamu belum makan?" tanya Bara melihat bubur yang ada di meja masih terlihat utuh.


"Belum." jawab Bintang.


"Apa ibu mu tidak memberikan makan sebelum dia pergi?" tanya Bara sedikit kesal mendengar Bintang belum makan sedangkan Tari lebih mementingkan pekerjaan nya.


"Tadi ibu sudah menawarkan aku makan bahkan memaksa aku untuk makan. Tapi aku belum lapar om, bukan ibu yang tidak memberi aku makan." bela Bintang tidak mau ibunya terkesan menelantarkan anaknya.


"Om suapi ya?" tawar Bara.


"Tidak usah om aku belum lapar." tolak nya pelan.


"Kamu harus makan yang banyak lalu kamu bisa minum obat, supaya tubuh kamu segera pulih agar ibu mu tidak khawatir." rayu Bara lembut. "Apa kamu mau melihat ibu kamu sedih dengan kondisi kamu ini seperti ini terus?" ucap Bara dan Bintang pun menggeleng dengan cepat. "Om suapi ya?" rayu nya lembut dan Bintang pun mengangguk.


"Apa kamu sering di tinggal pergi oleh ibumu?" tanya Bara di tengah ia sedang menyuapi Bintang.


"Iya, tapi aku sudah terbiasa." jawab Bintang dengan mulut penuh makanan.


"Pelan-pelan." cegah Bara.


"Ibu ku hebat Om, dari kita kecil ibu lah yang banting tulang mencari uang untuk keperluan kita sehari-hari. Sebelum ibu pergi, ibu selalu menyiapkan kebutuhan kami dulu bahkan pulang kerja pun ibu selalu menyiapkan segalanya." puji Bintang pada ibunya.


"Benarkah? Memang nya ayah kamu kemana?" tanya Bara penasaran.


"Ibu bilang ayah sudah meninggal saat ibu mengandung aku dan kakak kembarku." jawab Bintang.


"Meninggal? Kakak kembar?" tanya Bara cepat.


"Iya ayahku sudah meninggal, aku dan kak Langit tinggal bersama ibu dan juga Omah saja di rumah." lirih Bintang dengan pelan.


"Maaf, om tidak ada maksud untuk membuat kamu sedih." ucap Bara tidak enak.


"Tidak apa-apa om, aku sudah terbiasa hidup tanpa ayah walaupun sebenarnya aku ingin bertemu dengan ayah ku." ucap nya sendu.


"Apa kamu tidak pernah melihat ayah kamu, seperti melihat fotonya begitu agar saat kamu merindukannya kamu bisa melihat foto ayah kamu?" ucap Bara.


"Aku belum pernah melihat bagaimana wajah ayah ku, bahkan ibu tidak memberikan aku dan kak Langit foto wajah ayah kami." ucap Bintang penuh sesal.


"Memang nya tidak ada foto ayah kamu di rumah?" tanya Bara penasaran kenapa perempuan itu tidak memberi tahukan foto ayah pada anak-anaknya.


Bintang menggeleng lemah. "Tidak ada, aku tidak tahu apa ibu memiliki foto ayah ku atau tidak. Aku dan kak Langit tidak berani meminta atau pun menanyakan hal itu, karena ibu selalu terlihat sedih dan kadang marah jika kita terus merengek ingin mengetahui bagaimana sosok ayah kami." jelas Bintang pilu.


Bara terdiam mendengarkan apa yang di katakan oleh Bintang itu. Ia jadi penasaran apa dan kenapa Tari menyembunyikan identitas ayah dari anak-anaknya itu.


"Om aku sudah kenyang." ucap Bintang. "Maaf om aku juga mau minum." pintanya, namun Bara diam saja ia malah memikirkan apa yang di ceritakan Bintang padanya.


"Om..." panggil Bintang melihat Bara yang diam saja. "Om, baik-baik saja kan?" tanya Bintang sedikit menepuk lengan Bara dengan tangan nya lemah.


"Emh ya ada apa?" tanya Bara tersadar dari lamunannya.


"Om yang kenapa, dari tadi aku lihat om yang melamun saja." cebik Bintang.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Bara sedikit malu.


__ADS_2