
Seminggu berlalu, kesehatan Bara pun semakin membaik, Bara pun sudah bisa pulang ke rumah nya. Tari tidak pernah berani bertemu dengan Bara untuk sekedar menjenguk, saat terakhir kalinya mendengar ucapan Bara yang membuat hatinya sakit. Tari hanya pernah bertanya pada Alvaro tentang bagaimana kesehatan tuan nya, dan pada saat itu Bara mulai membaik. Tentang Tari yang menanyakan kabar Bara tidak luput Bara mengetahuinya karena sang asisten pribadi nya selalu melaporkan apa yang ada hubungan dengan tuan nya termasuk prihal Tari yang selalu menanyakan kabar Bara.
Ada sesuatu yang menggelitik hati kecil Bara, ketika Alvaro sang asisten memberitahu tentang Tari yang selalu menanyakan kondisi kesehatannya. Namun Bara masih menutup hati nya akan perhatian Tari padanya, Bara meyakini jika Tari merasa tidak enak saja karena ia pernah menolong nya, dan Bara pun selalu menepis pikirannya untuk tidak merebut istri orang.
Pagi ini Bara sudah berada di depan kantor dengan sopir pribadinya yang mengikuti dari belakang dengan membawa tas berisi sesuatu yang penting. Wajahnya yang tampan dan tubuh nya yang tinggi terus melangkahkan kakinya yang panjang menuju ruangan dimana seorang pemimpin perusahaan berada.
Para karyawan yang kebetulan bertemu dengan nya menunduk dengan hormat seraya menyapanya dengan sopan.
"Pagi Al." sapa Bara dengan suara tegas nya melihat Alvaro sudah berada di depan ruangan dengan memegang sebuah map di tangan nya.
"Eh pagi tuan." sahut Al cepat. "Apa keadaan anda sudah membaik tuan?" tanya nya sopan.
"Ya." sahut Bara.
"Ah syukurlah tuan jika kondisi anda sudah lebih baik." ucap Al dengan lega seraya mengikuti tuan nya yang masuk ke dalam ruangan kebesarannya.
"Pak Bakri, bapak sudah bisa keluar." titah Bara setelah pak Bakri menyimpan tas berisi map laporannya.
"Baik tuan." sahut pak Bakri dengan menundukkan kepalanya lalu pergi keluar.
Sedangkan Al masih berada didalam ruangan.
"Al apa perintah saya tentang mencari informasi tentang ibunya Ken sudah kamu lakukan?" tanya Bara cepat, ia selalu penasaran dengan perempuan yang sudah memberikan dia seorang putra.
"Sudah tuan. Ini saya sudah membawa sebuah rekaman cctv yang merekam ketika anda bersama nya." jelas Al dengan menyerahkan sebuah rekaman pada Bara.
"Maaf tuan informasi ini saya dapatkan begitu lama, karena kejadian ini sudah terjadi 9 tahun yang lalu, jadi para petugas yang memberikan rekaman ini agak sulit untuk mencarinya." ujar Al menjelaskan.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah mendapatkan nya." ucap Bara melirik pada rekaman itu.
"Ini tuan." serah Al dengan cepat.
Dengan cepat Bara pun meraih benda itu, lalu ia membuka laptopnya, menyalakan dan memasukkan rekaman itu untuk melihatnya.
Dengan tatapan serius Bara memutar rekaman itu di layar laptopnya dengan rasa penasarannya, akhirnya dia akan tahu siapa dan bagaimana wajah perempuan yang sudah memberikan nya seorang putra yang sangat mirip dengannya.
Rekaman itu terus berputar menunjukkan dimana dirinya yang sedang mabuk dan di papah oleh salah satu karyawan hotel dan seorang perempuan untuk cek in ke dalam hotel mewah dimana terjadi nya kejadian dimana putranya di buat.
Bara semakin mendekatkan tatapan matanya pada layar laptopnya dengan terus memperbesar gambar dan memperhatikan perempuan yang membawanya itu.
Bara mendesah saat ia tidak jelas melihat wajah perempuan yang ada di dalam rekaman itu, karena terhalang oleh tubuh tinggi nya yang sedang di papah oleh perempuan di sisi samping kanan nya.
Bara memainkan dagu nya saat menatap pada rekaman itu. "Al coba kamu perhatikan gambar ini juga." titah Bara yang tidak bisa melihat wajah perempuan yang ada di dalam rekaman itu.
__ADS_1
Al pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh Bara untuk memperhatikan hasil rekaman cctv itu. "Apa kamu bisa mengenal siapa perempuan itu, saya tidak bisa melihat wajah perempuan itu." kesal Bara.
"Ya wajah nya terhalang oleh tubuh anda tuan." ucap Al.
"Ck." Bara berdecak kesal namun masih memperhatikan rekaman itu.
"Coba anda cek di bagian saat perempuan itu keluar dari kamar hotel yang anda tempati setelah kejadian itu terjadi." ucap Al memberi saran.
Bara pun dengan cepat mengikuti usul dari Alvaro, dan mencari bagian gambar saat pagi harinya ketika perempuan itu keluar dari kamar hotel nya.
"Ck." Bara pun berdecak kembali. Lalu menarik nafasnya panjang. Karena wajahnya masih tidak terlihat, perempuan di dalam rekaman itu keluar dengan wajah yang ditutupi dengan masker hanya menampilkan kedua matanya saja. "Dia pintar menyembunyikan identitas." gumam Bara terus menatap ke arah rekaman itu.
"Kamu harus cari dia Al, seperti nya dia mau bermain-main dengan saya!" geram Bara karena rasa penasarannya semakin menjadi, karena dia tidak bisa menemukan identitas perempuan itu.
"Baik tuan, saya akan mencari tahu tentang perempuan itu." ucap Al dengan dengan patuh.
"Tunggu cctv di tempat saat saya mabuk apa sudah kamu tanyakan?" tanya Bara mengingat.
"Sudah tuan, hanya saja cctv di sana saat itu sedang rusak jadi tidak bisa merekam siapa dan kegiatan yang anda lakukan di sana bersama perempuan itu." jelas Al sedikit takut karena sudah membuat Bara kecewa kembali.
"Sial!" umpat nya kesal. "Sekarang kamu bisa keluar." titah Bara dengan rasa kesalnya seraya menutup laptopnya dengan cepat, ia kesal tidak bisa menemukan informasi tentang nya dengan cepat.
"Baik tuan, saya permisi." ucap Al dengan sopan lalu pergi.
Bara pun menghela nafasnya frustasi. "Kenapa aku mencari informasi tentang dia, toh selama ini dia tidak meminta pertanggungjawaban ku, aku juga tidak peduli jika dia sudah meninggal atau belum." ucap Bara dengan rasa cuek nya. "Tapi aku penasaran dengan perempuan itu dan kalau saja Ken tidak meminta ku untuk mencari tentang ibunya, aku tidak akan repot-repot mencari nya." gumam Bara dengan dingin. "Dia masih hidup atau sudah mati aku tidak akan peduli!" kesal terus berulang.
Bara tidak menyadari saat ia menutup laptopnya tadi dan rekaman itu tengah memutar bagian Tari di depan hotel saat ia menunggu taksi pesanan nya, di sana saat Tari akan menaiki taksi dia membuka masker nya itu dan sangat jelas rekaman gambar wajah Tari yang terlihat di cctv tersebut dan jelas juga dengan nomor taksi yang ia tumpangi.
Namun Bara Tidak memperhatikan rekaman cctv itu sampai selesai. Bara pun menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya itu dengan rasa tidak puas di dalam hatinya.
***
"Tari apa kamu masih memikirkan tentang bagaimana caranya mengambil hak asuh atas Ken?" tanya Omah Mayang dengan serius.
"Ya aku ingin sekali membawa Ken untuk tinggal dengan kita, tapi aku masih bingung harus bagaimana caranya." keluh Tari sedikit frustasi.
"Sebenarnya kamu memiliki hak untuk mengambil Ken dari laki-laki itu, secara kamu adalah ibu kandungnya dan bukti nya sangat sudah jelas kan." ujar omah Mayang.
"Ya, tapi itu akan sulit Omah, dengan keterbatasan aku yang tidak memiliki uang yang cukup banyak dan orang yang aku hadapi adalah orang yang sangat berkuasa dan memiliki kekuatan dalam prihal kekuasaan, rasanya aku sudah pesimis sebelum maju." jelas Tari begitu begitu lemahnya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya omah memastikan.
Tari menghembuskan nafasnya. "Aku harus mencoba cara yang kedua omah." ucap Tari menatap omah dengan serius.
__ADS_1
"Cara kedua? Maksudnya bagaimana Tari?" tanya omah semakin penasaran.
"Aku sudah memikirkan cara ini omah, walaupun cara ini begitu ekstrim untuk aku jalani tapi... ini demi Ken demi putraku aku akan siap apa pun resiko yang nantinya aku akan hadapi." jelas Tari dengan mantap.
"Bagaimana caranya Tari, jangan membuat omah semakin penasaran." tanya omah gemas. "Dan jangan berbuat yang macam-macam Tari!" cegah nya tegas.
"Aku akan membuat laki-laki itu menjadi suami ku, mau atau tidak aku harus menjadikan dia sebagai suami ku! Setelah dia menjadi suami ku aku akan mencari kelemahan dia agar pihak hukum tentang pengasuhan anak bisa jatuh ke tangan ku. Aku akan membuat dia tidak bisa memiliki Ken karena kesalahannya." jelas Tari dengan geram.
"Apa kamu yakin?" tanya Omah. "Apa dia belum memiliki seorang istri?"
Tari mengangguk penuh keyakinan. "Aku yakin omah, ini demi Ken demi kebahagiaan putra putri ku." ucap Tari tidak gentar. "Aku tahu dari Ken bahwa Daddy-nya itu belum menikah. Aku tidak tahu kenapa dia belum menikah di usia nya yang sudah di bilang matang itu, aku tidak peduli, yang sekarang aku peduli kan adalah kebahagiaan Ken." ucap Tari penuh kebencian. "Aku menyesal karena sudah memberikan Ken pada laki-laki itu, dan ini saat nya untuk aku membahagiakan Ken untuk bertemu dan berkumpul dengan saudara kembarnya." sambung Tari dengan menggebu-gebu, ia selalu mengingat bagaimana sikap arogan nya laki-laki itu.
Omah menghela nafasnya panjang. "Baiklah Tari itu terserah kamu, Omah akan dukung selalu niat kamu walaupun niat kamu bisa saja membuat kamu dalam bahaya. Tapi omah akan selalu bersama kamu." ucap Omah dengan tulus.
"Terima kasih Omah, Omah lah yang selalu ada untuk ku, aku sayang omah." ucap Tari seraya memeluk tubuh Omah nya.
"Sama-sama Tari, omah juga sangat menyayangi mu." balas omah juga memeluk Tari dengan lembut.
"Tapi kamu harus ingat Tari, kebahagiaan kamu juga harus kamu dapatkan, jangan lupakan itu." ujar omah.
"Ya aku tahu Omah, tapi kebahagiaan ku adalah bisa berkumpul dengan anak-anak ku sampai aku bisa membesarkan mereka dengan berkualitas, aku yakin mereka akan sukses dengan kecerdasan yang mereka miliki. Aku akan mencari uang yang banyak agar aku bisa membayar pengacara hebat untuk aku bisa memenangkan hak asuh atas Ken padaku, setelah aku dapatkan aku akan meminta bercerai dengan dia." ucap Tari dengan semangat. "Aku akan menaklukkan laki-laki arogan itu!" sambung nya dengan penuh kebencian.
"Hemm." gumam omah Mayang pasrah dengan keinginan Tari itu. Ia tidak bisa melarang Tari, bagaimana pun Tari sangat menderita ketika dahulu, mungkin dengan dia berkumpul dengan ketiga anak-anaknya Tari akan bahagia dan mungkin mendapatkan cinta sejati untuk dia yang benar-benar mencintainya.
"Tari, dia kan tahu jika ibunya Ken itu sudah meninggal, lalu bagaimana jika dia meminta penjelasan itu pada kamu, apa yang akan kamu katakan?" tanya Omah ia ingat saat ia memberikan Angkasa pada laki-laki itu dia bilang jika Tari sudah meninggal.
"Itu masalah nanti Omah, yang terpenting sekarang aku harus mencari cara bagaimana laki-laki itu tertarik padaku, agar aku mudah masuk ke dalam kehidupannya." ujar Tari.
***
"Al tolong atur jadwal saya untuk cek kesehatan saya." titah Bara pada Alvaro yang sedang berada di dalam ruangan tengah menjelaskan agenda apa yang akan di hadiri oleh Bara.
''Baik tuan. Apa ada lagi yang anda butuhkan?" tanya Al.
"Tidak." jawabnya tanpa melihat ke arah Al, Bara sibuk dengan laporannya yang menumpuk.
"Kalau begitu saya permisi tuan." ucap Al cepat.
"Al tunggu!" cegah nya.
"Iya tuan?"
"Segera kamu cari informasi tentang perempuan itu, secepatnya!" titah nya dengan tegas.
__ADS_1
"Baik tuan, sedang saya lakukan." jawab Al cepat.
"Bagus."