
"Bukan, Ayah. Dia cuma senior Nara di sekolah. Sekaligus pemilik cafe di tempat Nara kerja," jawab Alea menggunakan bahasa isyarat lewat gerakan tangan.
"Begitu?"
"Iya, Ayah. Masa Nara bohong."
Laki-laki paruh baya itu mengangguk. Lantas mengelus pucuk kepala sang putri. "Ya sudah, sekarang kita masuk. Ini sudah malam, tidak enak jika dilihat tetangga."
Alea mengangguk sambil tersenyum tipis. "Oke, Ayah."
Laki-laki paruh baya itu tersenyum saat membaca isyarat dari gerakan tangan sang putri. Gangguan pada indra pendengaran tentu bukanlah lagi masalah untuknya berkomunikasi. Ia memang kehilangan untuk mendengar, namun itu tidak masalah. Ketimbang harus kehilangan satu-satunya harta paling berharga di dalam hidupnya.
Sungguh, jika waktu dapat diulang sekalipun. Ia akan tetap merelakan pendengarannya, demi menjaga keselamatan sang putri. Andra tidak peduli, sekalipun bukan bukan pendengarannya saja yang harus ia korbankan, melainkan nyawa pun tidak apa.
"Lihat, Ssane. Putri yang kamu buang, kini sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan mandiri."
...🫐🫐...
Pagi kembali menyapa bumi diawali dengan hadirnya sinar hangat sang mentari. Para manusia di bumi mulai beraktivitas kembali. Jalanan mulai ramai dengan lalu lalang, mengingat weekend kembali menyapa. Termasuk di sebuah tempat yang menjadi ikonik kota Kembang. Tempat itu pasti selalu ramai dipadati oleh pengunjung jika weekend atau akhir pekan.
Area Gasibu memang salah satu spot untuk berolahraga yang cukup digemari banyak orang. Tempat ini berada di jalan Diponegoro, Citarum, berhadapan langsung dengan Gedung sate--salah satu ikonik kota Bandung. Di tempat tersebut juga tersedia lintasan lari lengkap dengan lapangan hijau. Bahkan terdapat pula beberapa orang yang sengaja menjajah kan raket untuk disewakan.
Sudah menjadi rutinitas Nara untuk berolahraga ke tempat ini. Biasanya selepas salat subuh, Nara akan langsung berangkat sambil berlari-lari kecil. Ia biasanya jogging pagi bersama Cacha atau sesekali bersama Arsen. Jika bersama Arsen, ia terkadang sampai ke alun-alun. Namun, kali ini ia jogging seorang diri. Rumah Nara memang terletak tidak terlalu jauh dari tempat tersebut.
Ketika matahari mulai muncul dari ufuk timur, Nara sudah kembali lagi ke rumahnya. Ia harus segera mengerjakan tugasnya, yaitu mempersiapkan sarapan sambil membereskan rumah. Sedangkan sang ayah bergegas berangkat kerja setelah sarapan. Selain bekerja sebagai tukang bersih bersih di SMA Angkasa, Andra, ayah Nara juga bekerja serabutan guna memenuhi kebutuhan ekonomi.
"Kok kamu nggak tinggi-tinggi, ya?" celoteh Nara sambil menyiram tanaman bunga matahari yang tumbuh di halaman rumah.
"Perasaan udah aku kasih pupuk?"
Setelah pekerjaan di dalam rumah selesai, Nara tentu akan berpindah ke sini. Ke halaman rumah yang memang dipenuhi oleh berbagai tanaman hias, buah, sayur-sayuran, tanaman obat keluarga, sampai bumbu dapur.
Hari ini Nara bagian shif siang untuk bekerja di Cafe. Jadi ia masih memiliki waktu luang untuk merawat tanaman-tanaman miliknya.
Miauuw
Miauuw
Senyuman gadis berkaos putih polos itu mengembang, saat netranya menangkap sesosok kucing gembul yang baru saja memasuki area pekarangan.
"Eh, Putih. Kamu pulang?" ia lantas berjongkok di depan kucing berbulu putih dengan corak oren tersebut. Hewan yang sering kali menemaninya berceloteh di pagi hari ketika weekend begini. Hewan berbulu halus itu adalah hewan peliharaan milik tetangga, namun sering kali bermain dengan Nara.
Miauuw
Miauuw
"Tunggu sebentar ya, aku selesain ini dulu. Buru nanti kamu aku kasih makan. Tapi, maaf, bukan royal canin yang biasa kamu makan. Adanya makanan kucing yang lebih murah harganya. Kamu mau, 'kan?" kata Nara seraya mengelus gemas pucuk kepala anabul alias anak berbulu tersebut.
Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba ada suara lain yang menginterupsi.
__ADS_1
"Ternyata selain bodoh, lo juga aneh."
Nara sontak mendongkrak menatap ke arah sumber suara itu datang. "Kakak ngapain kesini?" tanyanya dengan ekspresi terkejut.
"Lo lupa atau cuma pura-pura ?"
Gadis itu kini sudah berdiri tegak, membiarkan kucing kesayangannya melenggang pergi ke dalam rumah. "Kakak belum jawab pertanyaan aku. Kakak ngapain kesini?"
Laki-laki rupawan itu mendengus. "Jemput lo."
"Jemput aku? memangnya Kakak mau ajak aku kemana?"
"Masih muda, tapi pelupa," cibir Arganta.
'Astagfirullah, sabar, sabar,' batin Nara di dalam hati. Berbicara dengan Arganta Natadisastra memang harus memiliki kesabaran extra.
"Kemarin gue udah bilang. Mendingan lo ganti baju, terus kita berangkat."
"Berangkat kemana? Aku 'kan nggak janji mau ikut sama Kakak."
"Gue maksa," kukuh Arganta. Raut wajahnya masih flat seperti biasa. Bukan seperti laki-laki pada umumnya ketika mengajak seorang gadis jalan.
"Tapi...."
"Buruan, lelet banget." Arga berujar dengan tidak sabar.
Nara pada akhirnya menghela napas, lalu mengambil alih ember dan gayung yang tadi digunakan untuk menyiram tanaman.
Arga tampak bergeming. Mungkin tidak menyangka bahwa Nara akan mengajaknya untuk mampir terlebih dahulu. Alih-alih menjawab, Arga kemudian mengambil kunci motornya, lantas memasuki area pekarangan rumah Nara yang tampak bersih dan tertata rapih.
"Gue masuk karena ditawarin sama tuan rumah."
Nara mengangguk. Ia mempersilahkan sang leader untuk memasuki rumah sederhana miliknya. Ini adalah pertama kalinya ada laki-laki lain bertandang ke rumahnya, kecuali almarhum Seno dan Arsen.
Nara memilih berjalan di depan untuk membukakan bagi Arga. Ketika memasuki ruang tamu yang menyatu dengan dapur, diberi sekat lemari kayu sebagai partisi, Arga kemudian dipersilahkan untuk duduk. Tidak ada sofa di sana, cuma ada kursi kayu dan kursi plastik. Ada pula tikar pandan yang tersimpan di pojok ruangan.
"Kakak mau minum sesuatu?"
"Masuk, ganti baju. Gue gak suka nunggu," jawab Arga sekenanya, dengan tangan memainkan handphone.
"Oke, kalau gitu tunggu sebentar."
Setelah berkata demikian, Nara lantas memasuki sebuah pintu yang Arga yakini itu adalah kamar gadis tersebut.
Sepuluh menit sudah berlalu, selama itu pula kesabaran seorang Arganta tidak diuji. Ia sudah main game mobile lagend, meneliti ruang disekelilingnya, tetapi tetap dirundung rasa bosan. Arga memang benci menunggu, apalagi menunggu sesuatu yang tidak bermanfaat.
"Ck, lama."
Nara yang baru saja keluar dari kamar langsung melongok. Perasan ia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit waktu untuk mengganti celana training dan kaos kebesaran yang tadi digunakan. Nara juga hanya menggunakan bedak bayi, body lotion, dan lip tin untuk perona bibir. Itu saja, tidak lebih!
"Kakak saja yang tidak sabaran!" gumam Nara seraya menyusul Arga yang sudah terlebih dahulu keluar. "Kita memangnya mau kemana, Kak?"
Alih-alih menjawab, Arga malah balik tanya. "Lo bawa jaket?"
__ADS_1
Nara mengangguk. Ia kemudian menunjukkan jaket yang ia bawa. "Maksudnya jaket Kakak?"
"Hm." Arga tampak tidak berniat melanjutkan argumen setelah menerima jaket tersebut. "Naik."
Nara tahu jika mereka akan pergi menggunakan motor, jadi ia memilih outfit yang membuatnya nyaman saat berada dalam perjalanan. Apalagi motor Arga adalah CBR250RR yang memiliki diameter tinggi.
Setelah Nara siap di jok penumpang belakang, Arga lekas membawa motornya untuk membelah jalanan yang hari ini cukup padat. Sesekali laki-laki itu dengan gesit berkelit di jalanan, salip sana, salip sini, diantara kendaran lain. Seolah-olah Arga berkendara sendiri, tidak bersama seseorang di jok penumpang belakang yang sudah parno setengah mati.
Mereka berkendara cukup lama, hingga daerah area terluar kota kembang. Jalanan yang tadinya dipenuhi oleh kendaraan roda empat dan roda dua, kini mulai lenggang. Berganti dengan jalanan yang cukup sepi, tanpa padatnya lalu lalang kendaraan. Di sepanjang sisi kanan dan kiri jalan juga tidak ada lagi pemandangan perumahan dan pertokoan yang berjajar rapih, berganti dengan pepohonan rindang dan perkebunan.
Jalannya memang mulai sepi, namun pemandangan di sekitar semakin asri. Entah berapa lama mereka berkendara, sampai akhirnya motor Arga berhenti dekat pohon besar, di sebrang lahan yang di tumbuhi pohon-pohon rindang.
"Kak, kita mau kemana?"
"Turun!"
Nara menurut, walaupun mulai merasa takut. Ia lalu berdiri kaku seraya menatap sekeliling. Tempat itu terlalu sepi, tetapi tampak begitu asri. Hamparan rerumputan hijau yang ditumbuhi pepohonan rindang, menghiasi berbagai penjuru.
"Ngapain bengong, mau gue tinggal?"
Nara terhenyak. Ia pun bergegas mengekor di belakang Arga yang mendorong motornya melewati pohon besar tempat mereka berhenti. Setelah melewati pohon itu, Arga lalu memarkirkan motornya. Lalu tanpa diduga, ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan.
"Kak, motornya gimana?" bingung Alea.
"Biarin." Arga berkata tanpa berhenti.
Alea mengangguk lalu segera menyusul Arga. Cukup lama mereka berjalan di antara pohon-pohon rindang dengan permukaan tanah yang ditumbuhi rumput liar. Sampai mereka tiba di padang rumput berwarna hijau yang membentang sepanjang mata memandang.
Nara sungguh tidak percaya melihat apa yang tersaji didepannya saat kini. Selain Padang rumput, di sana juga berdiri sebuah rumah pohon yang tampak sangat kokoh. Lengkap dengan sebuah ayunan kayu.
Ini bukan dunia nyata, memainkan dunia Ghibli. Nara sempat berpikir demikian, saking un-real nya pemandangan di depan sana.
"Naik, lo bakal tahu apa tujuan gue bawa lo kesini."
Nara mengangguk. Ia kemudian kian berjalan mendekati rumah pohon uru. Arga menyuruhnya naik, itu berarti rumah pohonnya masih sangat kokoh. Maka tanpa banyak tanya, Nara kemudian mulai menaiki satu per satu anak tangga yang terbuat dari kayu.
Nara tidak naik sendiri, ada Arga yang memandu menaiki rumah pohon tersebut. Tiba pada bagian atas, mereka langsung memasuki area utama. Di dalam sana, ada sesuatu yang berhasil membuat Nara langsung terpaku.
"Sekarang lo percaya sama gue?" tanya Arganta kemudian. "Ini yang mau gue tunjukin sama lo, sejak lama."
...🫐🫐...
...TBC...
Jangan lupa like, vote, komentar dan rate 5 bintang 🌟
Ada rekomendasi novel keren juga, nih 👇
Tanggerang 15-11-22
__ADS_1