Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁴⁸UFB


__ADS_3

"Makan dulu, Nar. Kalau enggak perut lo nanti sakit."


"Hm."


"Minum juga tehnya, mumpung masih anget."


"Hm."


Respon gadis yang tengah duduk itu cukup membuat lawan bicaranya merasa sedih sendiri. Ia tidak terbiasa melihat sahabatnya seperti ini. Biasanya wajah cantik itu akan selalu riang, gembira dan berseri-seri. Bukan pucat dengan pandangan kosong seperti saat ini.


"Nara," sapa seorang pemuda yang baru saja datang seraya menenteng kantong kresek berwarna hitam.


"Eh, Seb. Darimana lo?"


"Dari warung," jawab pemuda yang mengenakan Hoodie navy dengan bawahan celana olahraga tersebut.


"Nara udah makan belum?" tanyanya, beralih kepada sosok yang sejak tadi hanya diam membisu.


"Udah," jawabnya singkat, padat, dan jelas.


"Bohong," hardik Cacha. "Belum disentuh sama-sekali noh makannya."


Laki-laki itu menghela nafas kecil mendengar faktanya. "Makan dulu, ya. Ini aku bawain makanan kesukaan kamu, nasi uduk."


Gadis berambut sebahu itu menoleh tanpa minat. Bola matanya tampak bergulir tak semangat. "Makasih, Sen. Tapi, aku belum laper."


"Lo tetep harus makan, Nara." Timpal Cacha. "Bentar lagi kita pulang. Lo mau pulang bareng Kak Arga, naik motor 'kan? Bisa-bisanya lo masuk angin kalau perut lo kosong," cerocosnya.


"Iya, Nar. Benar kata Cacha. You strong. Kamu nggak cocok lemah kayak gini. Ini bukan kamu."


Nara bereaksi. Ia menoleh, menatap sahabatnya satu per satu secara bergantian. Keduanya tidak pernah berhenti mengkhawatirkan dirinya. Memberinya support lewat kalimat yang menghibur. Akan tetapi, sejauh ini dirinya belum bisa kembali seperti semula. Sebagian jiwa dan raganya masih terguncang.


..."Makasih," ucapnya. "Kalian selalu support aku."...


"Apaan sih! Kita 'kan bestie. Lo mana tau gimana cemasnya gue pas lo hilang dari peradaban?" ketus Cacha. "Udah, sekarang lo makan. Kita pulang ke Bandung. Lo jangan sedih lagi. Para pec*ndang itu pasti bakan ketangkep secepatnya," imbuh Cacha.


"Iya. Ayo makan dulu, Nar." Arsen menyodorkan nasi uduk bawanya yang telah dibuka.


Lelaki rupawan itu dengan telaten juga mendekatkan segelas teh hangat dalam jangkauan Nara. Ia tentu tidak senang melihat sosok ceria seperti Nara terpuruk lama-lama. Toh, kakaknya di atas sana juga tidak akan suka.


"Udah?"


"Iya."


"Minum dulu obatnya. Gue udah obatin luka lo."


"Iya. Makasih."


"Pake jaket juga. Tas sama koper lo biar dibawa Fatir ke bus rombongan. Lo nggak perlu bawa apa-apa."


Gadis berambut sebahu itu berujar sambil memasangkan sebuah plester di kening sang sahabat.


"Ok, beres. Sekarang lo tinggal siap-siap. Lima menit lagi pangeran berkuda lo bakal datang." Cacha melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan. Kemudian mengecek ulang keperluan Nara.

__ADS_1


"Oi, Sen. Bantuin napa. Lo dari tadi diem-diem bae," panggilnya.


"Bantu apa?" Lelaki yang sedang mendorong koper milik Nara itu berujar. Satu alisnya terangkat ketika menatap Cacha.


"Bedak, mana bedak? Lip Tin mana? Ini muka baby gue pucat amat kayak mayat hidup."


"Cha, aku bisa sendiri." Nara buka suara. Menghalau keributan yang dibuat sang sahabat.


Gadis itu beranjak dari duduknya. Mengambil sebuah jaket untuk melindungi dirinya dari hawa dingin di luar sana. Sepasang sepatu Kompas hitam putih juga melekat di kakinya. Ia sudah siap untuk pulang.


Penampilannya memang sesederhana ini. T-shirt putih, celana hitam panjang dan jaket. Dia tidak perlu repot-repot merias diri, karena itu bukan suatu keharusan baginya.


"Aku bawa ini ke mobil dulu. Kalian siap-siap aja." Arsen berujar seraya melirik barang bawaan Nara.


"Sekalian sama koper gue napa, Sen." Cacha mengerucutkan bibirnya sebal. Sebab Arsen hanya mau membawakan koper milik Nara. "Jangan pilih kasih."


Arsen menoleh, lebih tepat menatap ke arah Cacha."Iya. Aku bawain sekalian. Puas?"


Cacha tertawa girang. "Puas dong. Kapan lagi bisa memperbudak ketos SMA Angkasa."


"Dasar," gumam Arsen sebelum berlalu pergi.


"Gak ikhlas banget komuk nya Pak ketos. Nggak dihitung pahala loh." Cacha menggerutu. Kemudian ia berbalik pada sang sahabat. "Eh, lo udah siap belum nih?" tanyanya.


"Udah."


"Gak dandan dulu?" Cacha mengamati dandanan sang sahabat dari atas sampai bawah.


"Enggak usah."


Nars menggelengkan kepala pelan. "Gak perlu, Cha."


"Sssttt. Udah, nurut aja. Biar nggak kelihatan pucat aja," kekeuh Cacha seraya mendorong punggung sang sahabat menuju meja rias.


🫐🫐


"Kakak."


Lelaki rupawan yang baru membalikan badan itu tampak meneliti penampilan gadisnya untuk sejenak. Rambutnya yang jatuh di bahu kecil gadisnya membuat penampilan kian fresh. Wajah polos gadisnya yang sempat mendung beberapa waktu lalu, kini sudah terlihat lebih cerah. Mungkin karena ada efek yang ditimbulkan oleh sapuan make up.


"Kakak?"


"Hm." Lelaki rupawan itu merespon dengan dehaman kecil. "Kita berangkat sekarang."


Nara mengangguk sambil mengekori langkah lebar lelaki rupawan tersebut. Tiba di area parkiran, ia bisa melihat rombongan anak geng SPHINIX yang sudah bersiap pulang. Mereka mengenakan T-shirt hitam dipadukan dengan jaket bomber berlogo organisasi kebanggaan mereka. Beberapa anggota juga mengenakan slayer hitam bertuliskan 'SPHINIX' di kepala mereka. Ada juga yang menggunakan Beanie hat berwarna hitam.


"Pake dulu helmnya." Arga berkata saat ia mengenakan pelindung kepala tersebut kepada sang kekasih.


Dengan telaten ia membenarkan helm tersebut supaya sang kekasih merasa nyaman ketika menggunakannya.


"Sakit?" tanyanya dengan telunjuk menyentuh luka Nara yang tertutup oleh plester.


Nara menggeleng, senyum kecil terbit di bibirnya. Ia sudah cukup membuat banyak orang cemas. Tidak terkecuali Arga, kekasihnya. Bahkan sampai saat ini Arga terlihat masih sangat mencemaskan dirinya.

__ADS_1


Arga ikut menyunggingkan senyum saat tangannya berpindah, mengelus pipi sang kekasih."Good girls. Lo cewek gue yang tangguh."


Setelah memastikan kekasihnya menggunakan safety dengan benar, dan telah duduk nyaman di jok penumpang bagian belakang, ia melirik pada anak-anak SPHINIX. Ternyata mereka juga sudah siap untuk berangkat.


"Pegangan yang erat, kita berangkat."


Nara mengiyakan titah tersebut. Kedua tangannya bergerak melingkari pinggang lelaki yang ada di balik kemudi motor Mat Gunpowder Black Metallic tersebut.


Arga telah menyalakan mesin motor. Ia kemudian memacu kuda besinya setelah memberikan tanda-tanda pada yang lain. Sepeninggalan motor yang dinaiki Arga serta Nara, anak-anak SPHINIX yang lain pun segera menyusul. Di susul rombongan bus yang mengangkut para siswa-siswi darmawisata. Mereka mulai berkendara, meninggalkan kawasan Geopark Ciletuh Pelabuhan ratu.


Hari cukup mendung kala mereka meninggalkan tempat darmawisata. Mega mendung tampak membumbung tinggi di langit. Kepekatan warnanya memberi tanda jika siap menjatuhkan riak air hujan ke permukaan bumi.


"Hujan," lirih Nara saat tetes demi tetes riak air itu mulai menyapa bumi.


Satu tangannya lepas dari pinggang tempatnya bertengger. Telapak tangan itu menengadah ke langit, seolah-olah siap menampung tetes demi tetes air mata ibu pertiwi.


"Kita berhenti di depan, Ta. Hujannya kemungkinan bakal deres." Itu suara Libra. Lelaki itu membawa motor dengan kecepatan sedang, mendekati motor yang Arga kendarai.


"Kasihan anak-anak. Cewek lo juga..." suara Libra agak teredam helm. Akan tetapi, Arga maupun Nara masih bisa mendengarnya dengan jelas. Lelaki itu menjeda kalimatnya. "....kasihan. Nanti sakit."


Nara terhenyak dalam diam. Ia tidak pernah menyangka jika seorang Genbu Galibra yang selalu terlihat membencinya, sekarang peduli. Ia pikir Libra tidak akan pernah menyukainya, apalagi mengingat peristiwa di masa lalu.


"Kita berhenti di depan." Arga berkata, lebih tepatnya memberi tahu.


"Jangan berhenti, Kak!" Namun, nyatanya ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang kekasih.


"Kenapa? Lo bisa sakit kalau kehujanan."


"Aku cewek Kakak yang tangguh." Nara menjawab, lebih tepatnya copy paste kata-kata Arga tadi. "Aku nggak bakal sakit kok. Aku malah mau melebur luka lewat hujan ini."


Lelaki rupawan itu tidak menjawab. Ia masih mengendarai motor CBR250RR miliknya dengan kecepatan sedang.


"Oke. Gue turutin mau lo."


Nara tersenyum tipis mendengar persetujuan tersebut. Ia pun kembali mengeratkan pelukannya. Lelaki dalam rengkuhan kedua tangannya ini menuruti keinginannya.


Entah berapa ego yang diturunkan oleh Arga semenjak kemarin, guna menghadapi sikap Nara. Bohong jika Nara tidak senang, karena Arga mau sedikit lebih peduli padanya. 


So, kali ini biar Nara melebur rasa sakitnya di bawah naungan hujan bersama Arga. Laki-laki yang awalnya datang membawa luka, namun kini menemani dengan sejuta penawar luka.


Dalam perjalanan menuju kota kembang, Nara mengukir sejarah bersama Arga. Dalam tiap riak hujan yang turun ke bumi, air matanya ikut bercampur di dalam sana. Semakin erat rengkuhannya, maka semakin deras tangisnya. Tapi, ada lega yang mendera setelahnya. Ada punggung tegap yang senantiasa menjadi penopangnya. Siapa lagi jika bukan Arganta Natadisastra. Laki-laki yang masih sempat menggenggam tangannya, sekalipun ia tengah fokus berkendara.


...🫐🫐...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇...


__ADS_1


...Tanggerang 07-12-22...


__ADS_2